The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 114


__ADS_3

Zehan membuka matanya yang masih mengantuk, namun suara tangis Zefanya di sisi tempat tidurnya mereka rupanya sudah sedikit banyak mengusir rasa kantuknya. Zehan melihat sekilas pada jam dindimg yang sudah menunjukan jam hampir setengah lima subuh, ia melihat bergantian wajah-wajah polos yang tengah tertidur pulas. Sejak kepulangan Hasya dari rumah sakit terkadang mereka berdua memang suka tidur bersama seperti sekarang.


Inilah kenapa Zehan sengaja tidak menempatkan Zefanya pada box bayi, selain agar memudahkan Hasya untuk menyusui juga agar mereka bisa tidur bersama seperti sekarang. Sebelum Hasya pulang dari rumah sakit Zehan sudah menyuruh Bi Ani untuk mengubah posisi tempat tidur mereka menjadi tanpa menggunakan spring box atau dipan. Selain itu Zehan juga menyuruh untuk menambahkan satu kasur lagi, serta memasang bedrail atau bisa disebut pagar pengaman kasur ini dapat menutup pinggiran kasur sehingga ia tak perlu khawatir baby Zefanya akan terjatuh ketika tidur. Cepat-cepat Zehan ke toilet untuk membasuh wajahnya, lantas mengambil satu kantong ASIP yang Hasya simpan di kulkas khusus penyimpanan ASI. Zehan lalu memasukannya kantong ASI tersebut pada termos yang berisi air panas agar ASInya cepat menjadi hangat. Setelah hangat Zehan lalu memasukannya ke dalam dot.


Tubuh Zefanya makin berisi, bahkan tangan dan pahanya berlapis-lapis seperti roti bantal. gembul menggemaskan. Meski begitu Zehan atau Hasya tidak terlalu khawatir Zefanya menjadi obesitas, karena pas lahirpun Zefanya memang sudah bongsor selain itu Zefanya hanya makan dan minum ASI saja dengan kuat.


Hasya menggeliat geliat meregangkan tubuhnya lalu bangun terduduk dengan mata setengah terbuka sambil menguap, di susul Zesya dan Deliza yang juga terbangun karena alarm tubuh mereka sudah terbiasa bangung jam segitu, lantas segera mandi sholat baru kemudian bersiap memeriksa keperluan sekolah mereka. Biasa Zesya dan Deliza sejak jam enam kurang lima belas menit sudah beranngkat ke sekolah. Mereka seperti itu agar tidak ada alasan terlambat masuk sekolah karena macet ibu kota.


"Mas kok ngga bangunin aku?" tanya Hasya dengan suara serak khas orang baru bangun. Sedang Zesya dan Deliza setelah roh mereka benar-benar terkumpul semua segera beranjak bangun lalu mencium pipi adik mereka bergantian baru kemudian pergi ke kamar mereka masing-masing untuk memulai hari mereka sendiri.


"Ngga apa-apa sayang,.. lagian kamu males kan udah gadang gara-gara Zefanya rewel terus kan?" jawab Zehan lembut seraya mencium kening istrinya. Hasya menengadah sambil tersenyum saat menerima ciuman selamat pagi itu. Sudah menjadi kebiasaan mereka saling mencium kening orang yang bangun paling terakhir, meski lebih seringnya mereka saling bergantian tanpa peduli siapa yang terakhir bangun.


"Kalo gitu aku mandi dulu ya,," kata Hasya berdiri sambil menguncir rambutnya yang mulai panjang. Zehan segera meletakan Zefanya yang sudah kembali tertidur karena kekenyangan diatas kasur dengan hati-hati. Kemudian dengan cepat ia menarik tubu Hasya yang segera menuju ke kamar mandi.


"Iihh mas ngapain sih, aku mau mandi mas.." kata Hasya sambil berusaha melepaskan lengan Zehan yang melingkar diperutnya yang sudah hampir kembali langsing seperti sedia kala.


"Aku kangen kamu" kata Zehan mengecup cepat bibir istrinya.


"Aku masih bau mas, belum sikat gigi"


"Aku juga belum"

__ADS_1


"Terus kalo belum mau ngapain emang" bibir Hasya membebek mengulum senyum.


"Udah dibilang aku kangen" tangan Zehan semakin aktif menjalar di punggung dan tengkuk Hasya. Sedang wajahnya kini turun menuju leher Hasya, menjelehajahi tiap senti bahu hingga dada Hasya dengan hidungnya.


"Mas..." suara Hasya terdengar bergetar. Dalam satu gerakan, Zehan sudah berhasil membopong Hasya dalam gendongannya.


"Kita mandi bareng yuk" ajak Zehan sambil memberikan wings eyes pada istrinya itu. Hasya hanya terkekeh kecil dengan tingkah genit suaminya itu, meski tanpa Hasya jawabpun Zehan sudah membawanya masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Zefanya yang tertidur pulas di tengah-tengah kasur yang sudah terpasang bedrail.


...----------------...


"Apa Faruq sudah keluar dari penjara?" tanya Zehan pada Keni. Di sana juga ada Hejun, Joon woon dan Gibran.


"Jangan sampai kejadian kalian terkecoh seperti kejadian Alexa" Keni dan Hejun tertunduk mengingat kejadian itu. Bagi mereka kejadian itu seperti aib yang tidak bisa hilang dari mereka.


"Tidak akan tuan. Cukup satu kali kami kehilangan buruan kami. Lagi pula, sekarang kami juga dibantu beberapa hacker untuk memantau pergerakan pak Faruq dalam skala lebih jauh lagi. Semua alat komunikasi dan transaksi sudah kami sadap."


"Besok lusa bawa dia ke blackhome. Kalian paham?"


"Kami mengerti Tuan." jawab Keni singkat. Lalu ia sedikit membungkukan tubuhnya lantas keluar dari ruangan tersebut diikuti Hejun dan Joon Woon.


"Faruq, kau berani menyentuh istri ku, maka lihat saja akibat dari perbuatan mu itu, Faruq bedebah !!" rutuk Zehan, sorot matanya jelas memancarkan aura kematian.

__ADS_1


"Tuan, tikus yang berusaha menggali lubang juga sudah ketahuan, hanya tinggal menunggu perintah saja." kata Gibran setelah dari tadi sibuk dengan laptopnya.


"Segera eksekusi" titah Zehan tanpa mendengarkan penjelasan lebih lanjut dari Gibran.


"Tender pembangungan Grand Mount juga akan segera digelar,."


"Kita absen, tapi pastikan NG Construction mendapatkan tender tersebut." potong Zehan.


"NG Construction... boleh saya tau alasannya, kenapa NG Construction yang harus mendapatkannya" tanya Gibran berkerut kening seraya membenarkan kaca mata bacanya.


"Entahlah,. Tapi intuisiku mengatakan, NG Construction lah kontraktor yang tepat untuk tender itu."


"Apa karena di lahan itu ada sebuah pohon yang sulit ditebang."


"Salah satunya itu, tapi aku Yakin, Presdir Nayuwan akan sangat menyukai hadiah yang kita kirimkan untuknya" ucap Zehan tersenyum banyak arti sembari menatap cakrawala dari balik jendela kantornya.


"Baiklah Tuan, kalo begitu saya pamit untuk meeting mengenai pelimpahan data yang sudah kita dapatkan mengenai Mega proyek Grand Mount ke NG construction" kata Gibran kemudian sedikit membungkuk sebelum ia keluar dari ruangan Zehan. Zehan hanya mengangkat tangan kirinya sebagai tanda menyilahkan.


"Baiklah Faruq, mari kita dengar apa yang kamu inginkan sebenarnya dari istriku hingga kau berani mengkhianatiku" gumam Zehan makin menatap tajam langit sore yang berwarna jingga kemerahan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2