The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 106


__ADS_3

"Wah lumayan itu, mana katanya disana itu lumayan lengkap dan murah lho bu. "..."Syukur aku dateng ke sini jadi bisa belanja gratisan kualitas premium kan kalo di mall itu"


"Berkah ya kalian berdua.." kata seorang ibu-ibu yang terlihat berbinar saat menyalami Hejun dan Melinda, karena meski Zehan ada di podium namun antrian yang ingin menyalami pengantin tidak boleh boleh berhenti karena antriannya sangat panjang mengular.


Hejun dan Melinda menyambut semua doa-doa pernikahan mereka yang benar-benar diluar nalar mereka.


"Yang kelima, setelah event happy married selesai, dibulan berikutnya akan diadakan sunatan masalah di daerah kecamatan mempelai wanita, infomasi lanjutan kami akan konfirmasikan dengan pihak-pihak yang terkait nantinya. Nah para pegawai yang mau menikah silahkan segera konfirmasi ke pihak HRD departement masing-masing." Jelas Zehan dan membuat semua orang tidak berdecak kagum dengan apa yang mereka dengar hari ini.


"Mas, kaki pegel" bisik Hasya pada Zehan.


"Mohon maaf, saya tidak berlama-lama karena istri saya mudah lelah, untuk Hejun dan Melinda saya doakan baarokalaahu laka wabaaroka 'alaika wajama'a bainakumaa fii khoirin. Semoga Allah Memberkahimu di waktu bahagia dan memberkahimu di waktu susah, dan semoga Allah menyatukan kalian berdua dalam kebaikan, aamiin." Zehan memeluk pinggang istrinya agar ia bisa bertahan untuk beberada menit lagi.


"Untuk kalian berdua. Sebagai tanda permintaan maaf saya karena membiarkan gossip tidak baik kepada Melinda selama beberapa waktu, kalian saya berikan 1 bulan penuh untuk masa berbulan madu, mengenai tempatnya silahkan kalian tentukan sendiri, soal biaya dan lain-lain kalian tidak usah pikirkan. Tugas kalian adalah bahagia. Wassalaikum wr wb" tutup Zehan lantas memapah Hasya perlahan turun dari panggung.


"Masya Allah Mel, selamat ya. Beruntung banget kamu, dapet suami ganteng, keluarganya tajir udah gitu ga pelit lagi." ucap Bu RT rada rempong sambil memeluk singkat Melinda sebelum beralih menyalami Hejun yang sudah bersiap untuk menyalaminya. Paman Yohan dan Bibi Lyn tersenyum simpul mendengar pujian yang terdengar seperti nyinyiran itu. Tapi mau bagaimana lagi mereka juga terbiasa menerima hal itu makanya jika mereka hendak melakukan suatu kebaikan misal contoh kecil seperti berkurban mereka cenderung meminta pada pihak panitia tidak menyembutkan nama mereka kecuali melakukan doa saat serah terima hewan kurban kepada ustadz atau kiyai yang bertanggungjawab sebegai pengelolanya.

__ADS_1


Semua bergantian mengucapkan selamat pada pasangan raja dan ratu yang berbahagia hari ini. Celoteh ibu-ibu dan para hadirin berbaur, meski begitu tetap saja masih ada berpbedaan antara undangan VIP dan undangan warga sekitar dari pihak Melinda. Meski begitu mereka tetap menikmati acara tersebut. lantunan dari beberapa artis ibu kota turut mencairkan suasana dan semakin memeriahkan acara, tidak ada yang tidak terlarut dan kebahagiaan. Stand stand makanan juga tidak kalah sibuk dengan stand voucher, silih berganti mereka dengan cepat mengganti wadah prasmanan yang kosong terlebih mereka juga harus menyiapkan untuk para tamu yamg ingin membawa pulang hidangan tersebut.



Deliza sudah terlihat kelelahan itu terlihat karena dia terus bergalutan pada bi Rani yang memang sudah seminggu ini sengaja di panggil untuk menjaga anak-anak. Hasya belum bisa menyerahkam anak-anaknya pada baby sitter, apalagi pada orang-orang yang tidak ia kenal baik. Usia Zehan dan Deliza memang bukan usia untuk pengawasan Baby sitter, tapi karena usia kandungan Hasya yang sudah makin membesar tetap harus ada yang membantu untuk mengawasi mereka. Dan khusus untuk acara kali ini Bi Rani-lah yang Hasya tunjuk karena yang lain sibuk dengan tugas mereka masing-masing.


Zesya terlihat lebih tampan berkali-kali lipat dengan memakai tuxedo seragaman dengan ayahnya. Aura tuan mudanya makin terpancar, dengan tinggi sebahu Hasya makin terpampang nyata garis keturunannya. Bahkan ibu-ibu rombongan Melinda mengira dirinya adalah artis yang baru saja debut. Zesya menghela nafasnya, ia senang tapi juga merasa kalo energinya seperti terkuras habis.


"Tuan muda butuh sesuatu" sejujurnya Zesya merasa risih dengan panggilan tersebut apalagi di depan umum seperti ini. Tapi Zesya bisa apa selain menunjukaj tatakrama dan etika kelas atas. Padahal Zesya sudah sering mengatakan pakai panggilan yang lain. Tetap mereka kadang menurut kadang tidak.


"Jika perlu apa-apa tuan muda bisa mengatakannya saya."


"Ngga usah Om, mama bisa ngomel-ngomel kalo apa-apa aku dibantu terus. Tolong awasi aku saja om. Aku mau belajar mandiri" Keni mengangguk, ia tidak tersinggung dengan penolakan Zesya. Karena sendiri tahu Zesya memang seperti itu. Selalu menolak untuk diperlalukan istimewa padahal jika ia mau apapun bisa ia lalukan dengan kekuasaan dan kekayaan ayahnya itu. Namun Hasya berhasil menjadikannya seorang tuan muda yang bisa memiliki etika tinggi, terlebih pembawaannya yang calm makin menetralkan sikapnya. Iya juga tidak segan menolong siapapun, karena Hasya selalu mengatakan jika memang perlu dibantu, bantu saja apapun latar belakang mereka. seperti apa penampilan luar mereka, karena ptinsip Hasya siapapun ia, ia tetaplah seseorang manusia yang harus selalu diperlalukan seperti manusia. Soal apa niatan mereka terhadapnya disanalah Hasya mengajarkan Zesya untuk selalu bisa membaca karakter mereka namun tetap sikap Zesya harus selalu tulus.


Acara masih berlanjut namun Hasya sudah menyerah ia memutuskan untuk kembali ke kamar hotel. Hasya pamit pada pasangan pengantin, papa dan mama mertuanya juga kepada orang tua Melinda, rasa pada panas dipinggangnya sudah semakin terasa jika dipaksakan ia takut terjadi apa-apa pada kandungannya. Zehan memenami istrinya kembali ke kamar hotel. Namun ketika mereka baru memasuki lorong koridor menuju kamar hotel mereka "BBUGH!!" satu pukulan keras menghamtam bagian belakang leher Zehan. "Aaaaaaaaaaa !!!!" Hasya berteriak histeris begitu melihat Zehan tersungkur keras ke lantai kordidor dengan darah segar mengalir deras dari daerah belakang kepalanya. Namun belum sempat ia meminta tolong satu sergapan tangan bersarung langsnung membekap mulut dan hidungnya dan seketika membuat Hasya pimgsan karena ternyata sebelumnya sarung tangan orang itu sudah dibubuhi obat bius. Setelah memastikan Hasya benar-benar pingsang barulah orang itu membawa Hasya keluar hotel tersebut.

__ADS_1


Di acara pesta yang masih meriah Deliza terlihat seperti gelisah sendiri. Joon Woon yang menyadarinya segera menghampiri gadis kecil itu.


"Non.."


"Kak Joon Woon di mana mama dan papaku?" tanya Deliza dengan raut cemas


"Tapi bilagnya pamit ke kamar hotel duluan. Nyonya lelah katanya" kata Joon Woon mencoba membaca raut wajah gadis kecil yang melihatnya dengan tatapan nanar dan khawatir.


"Ada apa Del?" tanya Zesya.


"Entahlah lah A, tapi perasaanku tidak enak" kata Deliza. Tiba-tiba salah seorang pengawal Keni mendekatinya lalu berbisik sesuatu padanya. Tanpa melontarkan sepatah kata apapun seketika raut wajah Keni berubah menjadi syok terkejut dengan sirat kemarahan yang siap membuncah dan langsung keluar dari ballroom tersebut dengan setengah berlari.


"Perintahkan agar menjaga acara ini tetap seperti ini hingga acara selesai, buat seperti tidak terjadi apa-apa, bawa beberapa anak buah Kak Joon Woon kita ikuti mereka" titah Zesya kepada Joon Woon. Joon Woon segara mengatur posisi anak buahnya. Dari kejauhan Hejun bisa melihat sesuatu yang tidak beres namun tetap ia tidak bisa meninggalkan acara begitu saja.


"Tetap lanjutkan acaranya Jun, percayakan semuanya pada mereka" paman Yohan berguman sembari tetap tersenyum pada para tamu undangan yang menyelemati mereka. Hejun menelan salivanya dan sebentar pada paman Yohan, meski sekilas Hejun tetap bisa menangkap raut khawatir pada pria paruh baya tersebut. Namun kenapa? Ada apa hingga Joon Woon memberikan komando pengamanan. Jelas ini bukan sesuatu yang beres pikirnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2