
Begitu menyadari Hasya benar-benar meninggalkan kediamannya Zehan bergegas menyusulnya, namun saat akan melangkah dengan cepat Alexa menjegalnya dengan menahan lengan kanannya.
"Biarkan dia pergi Ze, untuk apa kamu menyusulnya ! Bisa besar kepala dia." seketika tatapan sinis Zehan menghunus pada Alexa. Perlahan Alexa melemahkan cengkraman tangan pada lengan Zehan.
"Sudah cukup Lexa!! Kamu sudah melampaui batasan mu terhadapku !!" ucap Zehan dengan penuh nada penekanan dan emosi yang tertahan.
Terlambat. Hasya sudah keburu melajukan mobilnya tanpa bisa Zehan menahannya.
"Tuan, kejarlah non Hasya, Tuan,, hikss, bawa dia pulang kembali. Jangan sampai tuan menyesal...hiks..!" kata Bi Ani sambil terus menangis di dekat daun pintu. Pak Edi segera memberikan kunci mobil lainnya tanpa harus menunggu perintah dari Zehan. Melihat hal itu ia baru menyadari semua. Ada perasaan sesak menjalar di dadanya saat melihat bi Ani menangis karena kepergian Hasya. Hatinya makin kelu dan mulai menyesali dia terlalu cepat mengambil kesimpulan tanpa memeriksa ulang kebenarannya. Pikirannya terlalu gelap saat dibutakan oleh rasa cemburu, hingga pada akhirnya dia lebih mendengarkan hasutan Alexa daripada mempercayai Hasya yang terus saja diam seperti membenarkan semua tuduhan itu.
Padahal jika ia pikir-pikir lagi, kediaman Hasya wajar saja. Karena apapun yang Hasya katakan pada saat itu akan terasa sia-sia saja. Hasya tidak memiliki bukti untuk menyanggah semua yang tertangkap dalam foto-foto tersebut. Toh memang benar hari itu Hasya dan Kevin memang bertemu dan sempat mengobrol hingga akhirnya Kevin mengantarkan Hasya pulang.
Sepanjang jalan Zehan terus memukuli stir mobilnya, ia benar-benar merasa buruk karena tidak berpikir jernih. Tepat di sebuah belokam menuju jalan besar ia melihat mobil Hasya baru saja berbelok, ia sedikit menaikan kecepatan mobilnya tanpa peduli dia sudah berasa di kawasan di luar kompleksnya yang sepi. Hingga.."Ckiiiittt Brak !! " ia pun tidak sengaja menanbrak abang becak yang hendak menyebrang !! " Oowh SHIITTT!!" pekiknya sambil terburu-buru membuka sabuk pengamannya dan bergegas melihat keadaan abang tukan becak tersebut.
"Bapak baik-baik saja." tanya Zehan sedikit panik.
"Ngga apa-apa,," ucap abang becak itu takut-takut.
"Syukurlah. Pak maaf...saya sedang terburu-buru, saya tidak membawa banyak uang cas, ini ada lima ratus ribu untuk ganti becak bapak rusak." mendengar hal itu abang becak yang masih syok hanya bisa melongo bingung entah harus berbuat apa. Dan Zehan kembali ke mobilnya namun para warga sudah mengerubungi mereka dan mustahil Zehan bisa kabur dari sana begitu saja. "PcK !! " dia makin frustasi karena ia melihat mobil Hasya makin menjauh dari tempatnya sekarang. Ia kemudia segera merogoh ponselnya dan memanggil pak Edi ke lokasinya saat itu.
"halo pak Ed, tolong ke depan kompleks ya sekarang juga !" perintah Zehan tanpa menjelaskan apa-apa pada pak Edi.
__ADS_1
"Pak, saya tau uang itu masih kurang untuk ganti rugi, Hmm ini kartu nama saya. sebentar lagi orang saya ke sini. Saya minta maaf , saya mohon tolong biarkan saya pergi sekarang. Saya harus mengejar istri saya. Jika bapak masih belum percaya pada saya, saya titipkan kunci mobil saya ini kepada bapak. Ok" lagi-lagi abang becak itu hanya terdiam cengo begitu pun dengan orang-orang di sana. Zehan menyipitkan matanya saat mobil Hasya makin menjauh.
"Ada yang bisa antar saya !! Saya beri Lima ratus ribu !" teriaknya frustasi. namun tidak ada yang peduli. Kemudian mata elangnya melihat tukang ojol yang baru saja menurunkan penumpangnya dan tanpa berpikir panjang lagi ia segera naik di jok belakang ojol tersebut dengen terburu-buru.
"Pak tolong ikuti mobil brio putih itu" perintahnya saat memakai helm di kepalanya. Bapak ojol yang bingung namun tetap mengikuti arahan Zehan dan pergi meninggalkan abang becak dan orang-orang yang juga bingung dengan keadaan itu.
Tidak lama kemudian Pak Edi tiba di sana. Di sambut oleh para warga juga abang becak yang masih kebingungan karena diberi kunci mobil oleh Zehan. Melihat hal itu pak Edi hanya bisa menggeleng sambil tersenyum. Lalu mendekati abang tukang becak dan para warga.
...****************...
Ojol yang di kendarai oleh Zehan terpaksa harus berhenti karena jalur yang dilewati Hasya sudah akan memasuki arah jalan tol. Zehan menyuruh ojolnya untuk menempi. Beberapa kali ia menghela nafas dengan payah.
"Hmm pak, apa kita akan melanjutkan atau bagaimana?" tanya kang ojol dengan hati-hati karena melihat kekusutan diwajah penumpangnya itu. Zehan menyibak rambutanya frustasi, lalu menatap ke arah kan ojol dengan tatapan sendu.
"Maaf pak, saya sudah lancang membawa bapak ke tempat ini tapi sepertinya bapak butuh menenangkan diri bapak dulu sebelum pulang. Agar semuanya tidak lebih berantakan lagi, lebih baik bapak dinginkan dulu, setelah itu baru kita pulang" Zehan melirik sekilas pada kang ojol teesebut, lalu ia kembali menghela nafas panjang sembari menatap pada air danau tenang yang sesekali beriak oleh angin yang nerpanya.
Zehan mengikuti saran kang ojol agar ia menenangkan diri dulu sejenak di tempat tersebut. Perlahan ia mulai bisa menguasai dirinya.
"Maaf lho pak, bukan saya mau ikut campur atau sok tahu. Tapi terkadang di jaman sekarang ini apa yang kita lihat dan kita dengar tidak selamanya itu adalah kebenarannya. Makanya kita harus bisa melihat dua sisi sebelum menarik kesimpulan agar tidak menyesal. Karena bisa saja mungkin itu hanya pengalihan dari kebenaran yang sebenarnya" kata kang Ojol itu sembari memberikan Zehan sebotol minuman dingin padanya.
__ADS_1
"Makasih pak." ungkap Zehan sembari memutar tutup botol minuman yang diberikan oleh kang Ojol tersebut, lalu meminumnya. Setelah ia meminumnya Zehan mengekeh namun juga mengisak seakan mendapat pencerahan dari kamg ojol itu.
"Hahh !! Sniiff... ekhem... kalau boleh tau nama bapak siapa, dan... bapak lulusan apa?" tanya Zehan dengan wajah yang sudah tidak terlalu suram.
" Oh nama saya Denta pak, kebetulan sedang S1 tekhnik mesin pak." jawab Denta menyambut uluran tangan Zehan untuk berkenalan.
"Punya pengalaman kerja?"
"Sempat magang tapi hanya 6 bulan saja. Lalu diputus pak. Saya sudah melamar ke banyak perusahaan tapi ya mungkin belum rezeki saya. Dari pada nganggur lebih baik ya ngojol saja. Setidaknya motor pemberian almarhum ayah saya tetap bisa membantu mengepulkan asap dapur ibu saya pak." Zehan tersenyum getir begitu mendengar penuturan kang ojol tersebut.
" Makasih ya Den, berkat kamu saya sudah merasa lebih tenang sekarang. " ucap Zehan sembari melihat kearah Dengan dengan mengulas senyum tipis.
"Sama sama pak."
"Tapi kamu rugi waktu dong karena jadi nemenin saya di sini"
"Ngga apa-apa pak, saya kebetulan tadi memang niat mau pulang"
"Hahhhh.. pck... baiklah mari kita pulang sebentar lagi adzan magrib baiknya kita sudah di rumah sebelum adzan" ungkap Zehan beranjak dari kursi taman di ikuti oleh Denta.
"Oiya.. Ini kartu nama saya. Besok jam 9 tepat kamu datang ke alamat tersebut dengan membawa CV kamu. Jangan telat !" ucap Zehan dengan nada sedikit penekanan. Denta berkesiap hingga mulutnya menganga saat membaca nama perusahaan yang tertera serta jabatan Zehan sebagai CEO perusahaan tersebut.
__ADS_1
"Ayo Den, jangan melongo begitu kesambet kamu nanti" teriakan Zehan membuyarkan pikirannya lalu ia tersenyum sambil menangis dalam hatinya ia berkali-kali mengucap syukur seakan-akan ia telah menemukan harta berharga yang bisa memberikannya secercah harapan mengangkat kehidupan keluarganya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...