
Zehan makin tertunduk saat mendengar kata demi kata yang diucapkan Nayuwan. Kalimat sederhana namun terasa menusuk baginya. Rasa sesal mulai mendera dalam batinnya, ia mulai menyadari semua ini bukan kesalahan siapa-siapa, bukan juga kesalahan Alexa yang membuat Hasya kini pergi meninggalkannya. Tapi ini adalah murni kesalahannya sendiri. Terlintas beberapa waktu sebelum Alexa masuk kembali dalam kehidupan mereka, hubungan mereka memang mulai merenggang, alasannya sederhana saja. Zehan kurang peka, kurang bisa jadi pendengar yang baik untuk Hasya, padahal sebaliknya setiap ada masalah Zehan selalu membawanya ke rumah tanpa membiarkan Hasya mengerti apa yang menjadi masalah suaminya.
"Aku dan suami ku sama-sama pekerja. Sama-sama memiliki perusahaan bahkan dulu sebelum menikah kami seperti Tom & Jery yang selalu bisa berdebat bahkan hanya karena sekedar hal sepele seperti kapan harus cut loss misalnya. Karena kita berdua sama-sama orang yang ogah rugi tentu harus bisa memasang strategi yang tepat." Zia sedikit menyengir saat Nayuwan sampai membahas soal saham. Ia menjadi serasa seperti sedang mendapat kuliah singkat.
"Mas bisa tanya sama orang-orang di perusahaan saya, seperti apa kalau kami sudah berdebat. Tapi ketika sudah luar perusahaan ya kami biasa saja. Begitu pun saat kami setelah menikah, di perusahaan kami bisa saja seperti orang yang akan saling membunuh, tapi ketika sudah memasuki area halaman rumah artinya semua beban itu harus di kesampingkan dulu, karena rumah itu tempat bercengkrama, tempat mengobrol yang santai, tempat bercanda, tempat saling mengekspresikan diri, tempat paling nyaman, tempat berlindung dari semua polusi, barulah bisa rumah itu tempat untuk pulang." Nayuwan lalu kembali duduk ke tempat duduknya semula.
"Kalian pikir aku atau Gavin itu tidak punya masa lalu? Aku ceritakan sedikit tentang kami agar bisa menjadi gambaran untuk kalian berdua. Sebelum menikah dengan ku Gavin sudah pernah bertunangan namun kandas di tengah jalan. Tapi bukan karena salah satu dari mereka ada yang berkhianat, tidak. Tapi karena Calon istrinya meninggal beberapa waktu sebelum mereka menikah. Dan itu cukup meninggalkan luka yang cukup dalam, suamiku bahkan hampir terjebak dalam perasaan bersalah sesaat sebelum kami menikah, perasaan takut jika ia menikah denganku mendiang calon istrinya akan kecewa dan merasa dikhianati. Namun di satu titik saat aku koma dia menyadari bahwa masa lalu dan masa depan adalah hal yang berbeda. Namun tetap akan menjadi bagian hidupnya dan akhirnya dia mantap melamar kemudian sekarang masih betah saja jadi suamiku padahal aku kalo sudah marah seperti singa kelaparan." lagi-lagi Zia yang menyimak sejak awal mengernyih ngeri membayangkan bagaimana pasutri ini ketika dikantor dan membahas RUPS.
"Sedang aku, aku seorang janda korban perselingkuhan, gaslighting, KDRT berselimut love bombing, berbuah trauma bonding. Aku bahkan pernah mencoba berkali-kali mencoba bunuh diri karena merasa aku ini tidak pantas bahagia, tidak layak untuk siapapun. Mentalku hancur hingga aku depresi. Jika kalian bertanya bagaimana aku bisa seperti sekarang, jawabannya karena anak-anak ku. Aku berhasil keluar dari bayangan masa lalu yang mengerikan itu, lalu perlahan mulai bisa memaafkan diri sendiri, mengampuni diri sendiri, lalu berproses memaafkan diri sendiri hingga pada akhirnya aku bisa melepaskan semuanya. Karena hal paling penting dari semua itu kamu harus lebih dulu menyadari seberapa dalam lukamu itu, lalu setelah itu kamu harus berani mengakui bahwa semua masalah hari ini timbul akibat dari bagian lukamu itu sendiri. Karena jika tidak, ya seperti sekarang kamu menjadi sosok yang memiliki krisis kepercayaan pada pasangan mu. Dan jika apa yang aku ungkap benar, lalu untuk apa kalian menikah mas?" ucap Nayuwan sembari meraih tangan Zehan.
"Mas,, semua berproses, aku tidak tau bagaimana kaliam bisa menikah, tapi aku tau hal. Menyembuhkan luka karena dikhianati oleh orang yang sangat kita cintai itu tidak mudah. Tapi ketika kamu sudah memutuskan untuk menjadikan seorang wanita sebagai pasangan hal mu. Artinya kamu sudah bisa meletakan segala hal dari masalalu mu, dan akan mencari kebenaran dengan bukti sendiri bukan dari kata orang. Artinya kamu sudah siap membiarkan perjalanan ini menjadi kisah cinta yang baru, kisah tentang kalian berdua, tanpa ada lagi campur tangan pihak ketiga. Sampai di sini kamu faham mas?" kata Nayuwan saat ia menggenggam kedua tangan Nayuwan. Tepat di saat itu air mata Zehan menetes perlahan dari pelupuk matanya. Melihat hal itu Nayuwan malah mengulas senyum manis pada Zehan, dengan satu tangannya menepuk-nepuk lembut punggung Zehan.
__ADS_1
"Menangislah mas, Lelaki juga sangat boleh menangis, menangis bukan berarti kamu lemah mas" Zehan yang memang sudah sesak akhirnya menangis sejadi-jadinya. Nayuwan lalu memberi isyarat pasa Zia agar merangkul kakaknya itu.
Hampir Setengah jam Zehan menangis dalam pelukan adiknya. Di sini Zia baru benar-benar bisa melihat sosok kakaknya yang ternyata sangat rapuh. Ia bahkan menangis hingga sesenggukan. Ada perasaan iba, kasihan, bercampur lega saat melihat kakaknya bisa menumpahkan segala emosinya saat ini. Perlahan Zehan mulai bisa menguasai dirinya. Nayuwan lalu menuangkan lagi teh hangat pada gelas teh milik kakak beradik itu.
"Minumlah teh melati jahe itu, agar kalian bisa merasa lebih segar juga untuk menenangkan otot-otot kalian yang sudah tegang dari tadi." ucap Nayuwan lembut aura mistis yang tadi menyelimutinya juga perlahan menghilang, suasana tempat tinggal Nayuwan juga seketika berubah terasa lebih hangat dan menyenangkan.
"Kenapa? Kalian merasa heran dengan feel suasana tempat ini yang terasa tiba-tiba lebih hangat dan lebih nyaman?" Zehan dan Zia saling melirik satu sama lain.
"Maksud Teteh?" tanya Zia bingung.
"Yang merubah feeling tempat ini terasa lebih hangat dan nyaman itu diri kalian sendiri. Bukankah perlahan beban dalam diri kalian sedikit berkurang setelah kalian sama-sama saling menyadari di mana letak kesalahan kalian?" Zehan nampak termenung sesaat, lalu mengangguk mengiyakan apa yang dimaksudkan Nayuwan.
__ADS_1
"Jadi apa sudah bisa kami tau dimana Hasya berada teh?" tanya Zehan dengan wajah memelas.
"Tadikan aku sudah bilang, aku tidak memberitahu kalian alamat pasti. Aku hanya kan memberi kalian clue saja."
"Baiklah tidak masalah, artinya kami bisa mempersempit wilayah pencarian kami." Nayuwan menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Zehan tentang dimana keberadaan Hasya saat ini.
"Pertama dia masih berada di daerah Jawa barat, kedua dia sudah berganti nama serta sedikit mengubah pemampilannya. Ingat pepatah gajah diseberang lautan terlihat, semua di pelupuk mata tidak kelihatan, begitu juga tempat tinggal Hasya, hanya saja kiasnya menjadi berbeda, lagipula bukankah tempat persembunyian paling aman adalah tetap berada dalam jangkaunan mata kita. benarkan mas ?" goda Nayuwan.
"Cluenya sudah aku berikan. Sisanya tergantung pada usaha kalian secepat apa bisa menemukannya. Semoga berhasil." ucap Nayuwan tersenyum lebar lalu menghirup wangi teh melati jahe kemudian menyeruput dengan perlahannya dengan elegan membiarkan Zehan dan Zia sibuk dengan pemikiran mereka sendiri.
"Misi ngalilieur batur batur berhasil !!" pekiknya tersenyum jahil.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...