
" Saya Henry, saya tadi sempat membantu operasi pasien. Begini Tuan, awalnya operasi berjalan lancara, pengangkatan fibroid kista dan Myom dari rahim pasien juga sesuai prosedur. Tapi ..."
"Tapi..??" jantung Zehan makin berdetak lebih kencang ia benar-benar takut jika mendengar sesuatu yang burui menimpa Hasya saat menjalani operasi.
"Pasien situasi yang tidak terduga, saat kami akan menyelesaikan operasi tersebut, tiba-tiba pasien mengalami pendarahan yang seharusnya tidak terjadi, pasien mengalami kejang serta gagal pernasafan, kesimpulannya meski tadi sudah melewati masa pasien kritis, namun belum karena pasien sempat mengalami gagal pernafasan, istri Tuan saat ini mengalami koma, dan kami... benar-benar minta maaf karena belum bisa memastikan kapan pasien akan siuman. Untuk itu kami sekarang memindahkan istri tuan ke ruang ICU, untuk saat ini itulah yang bisa kami terangkan kepada Tuan mengenai kondisi pasien" terang dokter Henry dengan sangat hati-hati menerangkan kondisi Hasya saat ini, meski iapun hanya menerangkan secara gamblang garis beras kondisi pasien, tanpa terlalu banyak menggunakan berbagai istilah medis yang mungkin hanya akan membuat wali atau keluarga pasien malah akan kebingungan tanpa mengerti apa yang diterangkannya.
Alih-alih merasa marah atau kecewa, Zehan justru menunjukan riak penuh penyesalan dan rasa bersalah tergambar jelas diraut wajah Zehan. Ia sama sekali tidak menyalahkan pihak rumah sakit karena penjelasan dokter Henry cukup masuk akal, ditambah ia juga tahu jika Hasya memiliki anemia, yang bisa saja itulah yang menjadi pemicu kondisi Hasya menurun hingga mengalami kejang dan gagal pernafasan.
"Apa saya boleh menemui istri saya Dok?"
"Tentu saja, mari saya antar" mereka berduapun beranjak dari koridor tersebut menuju ruang ICU di mana Hasya dirawat agar kondisinya dapat terpantau secara intensiv sebagai pasien koma pasca operasi. Tanpa mereka sadari dari balik dinding Kevin ternyata ikut mendengarkan apa yang Zehan dan Dokter Henry bicarakan mengenai kondisi Hasya saat ini.
Zehan sudah memakai APD khusus agar bisa memasuki ruangan ICU tersebut. Ruangan itu terasa sunyi meski terdengar suara yang berasal elektrokardiogram,alat yang biasa digunakan untuk mengukur dan merekam aktivitas listrik pada jantung. Seorang perawat terlihat memperhatikan dirinya yang berjalan lunglay pembaringan perempuan yang sedang ia jaga. Setelah selesai melakukan pengecekan iapun keluar meninggalkan Zehan yang sudah berdiri di sisi kanan tempat tidur istrinya.
"Sya, kenapa jadi begini?? hikss.. Kalo kamu masih marah hiksss sama aku, tolong jangan hukum aku seperti ini Sya. hikss..." rintih Zehan berlutut di bibir tempat tidur Hasya sambil menggenggam tangan Hasya.
"Aku harus jawab apa pada anak kita Sya, kalo dia bertanya tentang mu hikkss.. Aku mohon bangunlah Sya, kamu juga udah janji sama aku hikss buat ngasih kesempatan sama aku Sya hikss hiksss.." Zehan benar-benar sudah tidak bisa lagi membendung lagi air matanya, emosinya pecah begitu melihat kondisi Hasya yang terbaring lemah.
"Tuan Zehan.." suara Dokter Henry membuyarkan situasi saat itu. Zehan kemudian berdiri sembari menyeka air matanya.
__ADS_1
"Iya Dok"
"Maaf, bisa kita bicara di luar saja, mungkin sambil minum kopi" ajak dokter Henry.
"Sayang, aku keluar dulu ya, nanti aku ke sini lagi" Zehan lalu mengikuti langkah dokter Henry keluar dari ruang ICU tersebut.
...****************...
Di sekolah Zesya terlihat lebih murung, Erin yang baru saja menghabiskan bekalnya lalu mendekati Zesya dengan membawa jeruk pontianak hasil panen kebun keluarganya, buah jeruk yang tersisa tinggal 2 butir saja setelah ia bagi-bagikan pada teman sekelas dan guru-gurunya.
"Zes, ini untuk kamu" kata Erin menyodorkan buah jeruk dengan tangan kanannya. Zesya kemudian menegakan tubuhnya lalu menoleh pada Erin yang masih menyodorkan buah jeruk berwarna hijau itu kepadanya.
"Kamu kasih aja buat yang lain, aku lagi ngga mau apa-apa" kata Zesya lalu kembali meletakan kepalanya di meja.
" Rin, kamu pernah ngga ditinggal mama pergi lama?" tanya Zesya tiba-tiba. Erin hanya menggeleng, lalu tanpa di suruh ia duduk di kursi kosong disamping Zesya.
"Memang mamanya kamu lagi pergi ya?" Zesya menggangguk dengan raut sedih.
"Emang mamanya kamu pergi ke mana? kamu kok ngga ikut? Kalo Erin pasti selalu ikut kemanapun mama pergi"
"Mama bilangnya mau berobat, tapi sejak kemarin papa juga ngga ada telepon ngabarin mama aku"
__ADS_1
"Kita berdoa yuk, biar mamanya Zesya cepet sembuh dan cepet pulang" lalu Erin menengadahkan kedua tangannya kemudian mulai membacakan al fatihah dan doa untuk orang tua. Setelah selesai mereka berdua sama-sama mengusap wajah mereka.
"Kita kan udah berdoa, Erin yakin mamanya Zesya cepet sembuh.. Nih buah jeruknya kamu makan ya" kata Erin kemudian anak itu beringsut dari tempat duduknya karena bu guru sudah kembali masuk sesaat setelah bel penanda istirahat berbunyi kemudian merekapun kembali melanjutkan sesi pelajaran yang masih tersisa satu jam lagi sebelum pulang.
Paman Yohan sudah berdiri di depan mobilnya saat menjemput Zesya siang itu. Zesya yang melihatnya segera berlari dan menghampiri kakeknya.
"Halo cucu Opah, gimana sekolah hari ini? Seru?" namun Zesya hanya menggeleng saja dengan wajah sedih.
"Lho,, cucu opah kok merengut begini? Kenapa?"
"Zesya.. hiikss. Zesya... hiikkksss kangen mama Opah,, hiiiksss" ungkap Zesya sambil menggisik matanya. Paman Yohan segera memeluk tubuh mungil cucunya, karena ia sebenarnya sudah tahu mengenai kondisi Hasya yang tengah koma.
"Zesya... Cucu Opah yang paling ganteng, Zesya harus sabar ya.. Doain mamanya cepet pulang ya"
"Iya opah.. tapi kenapa Zesya ngga boleh videocall-an sama mama.. hiikkss. Zesya cuma mau lihat keadaan mama opah.. hikkkss.. Zesya ..." tangis Zesya makin histeris hingga menarik perhatian beberapa murid dan orang tua murid yang menjemput anak-anak mereka.
"Iya nanti kita Videocall-an sama mama dan papa ya, tapi Zesya jangan nangis kaya gini dong, malu tuh diliatin temen-temennya. Nanti malah dikira opah mau nyulik kamu lho?" rayu paman Yohan. Zesya lalu melihat ke sekelilingnya yang ternyata memang benar mereka tengah jadi pusat perhatian. Buru-buru Zesya menyeka air matanya sambil berusaha menghentikan tangisannya.
"Nah begitu dong, nangisnya di rumah aja" kata paman Yohan kemudian mengacak-acak puncak kepala cucunya itu, lantas menggendongnya masuk ke dalam mobil. Paman Yohan menghela nafas berat sesaat setelah menutup pintu mobil, ia kembali memikirkan cara agar bisa mengalihkan perhatian Zesya saat ini.
"Tok tok" Zesya mengetuk kaca mobil karena paman Yohan malah berdiri saja setelah menutup pintu mobilnya, mendengar hal itu iapun segera menuju pintu mobil lainnya. Setelah menyalakan mesin, paman Yohan lantas melajukan mobilnya menuju pulang ke rumah.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...