
Terlihat tangan Deliza mengapal keras. Rahangnya mengeras menahan gemeletuk giginya saat Joon Woon menjelaskan semua yang ia dapatkan dari hasil penyelidikannya selama ini.
"Lalu kenapa kakak tidak langsung saja menghancurkan mereka?" ucap Deliza menggeram, air matanya mengalir deras dipipinya. Ia benar-benar tidak menyangka akhir masa lalu hidupnya sangat mengenaskan seperti itu, sampai-sampai ia tidak memiliki tanah kuburan tubuhnya sendiri hanya karen pamannya ingin menghilangkan jejak segala perbuatan jahatnya kepada tubuh Deliza.
"Sayang, aku bukan tidak ingin langsung melakukan bals dendam. Tapi tetap saja aku harus tau dulu apa yang jadi keinginan mu. Jadi gunakan lah aku seperti keinginan hati m, dan aku dengan senang hati akan melakukan semuanya untuk mu,, hummm?" Deliza terdiam sejenak. Ia bukan hanya kesal, tapi juga kecewa, marah, serta tidak habis pikir kenapa pamannya bisa melakukan hal sekeji itu. Padahal mungkin bisa saja Dliza memberikan perusahaan peninggalan keluarganya untuk di kelola olehnya seperti yang sudah dijalankan selama ini.
"Kak, kalo begitu tolong rebut kembali perusahaan peninggalan orang tuaku bagaimana pun caranya. Tapi kakak tidak perlu sampai membvnvh mereka semua yang terlibat tapi buatlah mereka memohon untuk mati. Tapi meski mereka memohon kematian mereka jangan kakak biarkan mereka mati, buat mereka tetap hidup dalam kesengsaraan yang tiadak ada akhirnya" titah Deliza dengan penuh emosi.
"Jika itu yang kamu inginkan tentu akan aku lakukan sebaik mungkin" sahut Joon Woon seraya menyeka air mata yang masih mengalir di pipi gadis yang sangat dicintainya itu.
...****************...
Lewat jam sebelas malam Joon Woon dan Deliza baru kembali ke rumah. Di ambang pintu terlihat Hasya sudah menunggunya dengan raut kecemasan khas seorang ibu. Melihat hal itu Deliza segera menyongsong sang Mama, lalu ia menangis sejadi-jadinya. Sebagai seorang ibu yang sudah merawat Deliza beberarapa tahun ini merasa sangat iba dan kasihan pada nasib anak gadisnya itu. Hasya mengusap-usap lembut punggung Deliza tanpa berucap sepatah katapun. Ia tidak berusaha menenangkan Deliza dengan kata-kata "kamu yang yang sabar ya nak, ini semua ujian untuk kamu" tidak. Hasys tidak melakukannya ia tetap membiarkan Deliza menangis sepuasnya dalam rangkulannya. Meski ia tahu pasti Joon Woon sudah tentu melakukannya tadi. Pun dengan Zehan dan Zesya hanya bisa melihat saja. Zesya lalu mendekati Joon Woon yang berdiri tidak jauh di belakang daru tempat ibu dan anak itu saling berbagi kekuatan.
"Jadi bagaimana?" tanya Zesya terlihat serius.
"Nona menginginkan perusahaannya kembali, dan juga..."
"juga?" Zehan mengulang kata terakhir yang diucapkan Joon Woon.
"Juga ingin balas dendam" alih-alih bertanya Zesya dan Zehan justru menunjukan raut kelegaan.
__ADS_1
"Nona menginginkan semua orang yang terlibat itu menderita meski mereka meminta kematian nona bilang saya harus tetap membuat mereka tetap hidup"
"Heehhh.. dasar psikopat" Zesya sedikit mengekeh.
"Kalo begitu, untuk selanjutnya aku serahkan soal itu pada mu, apa kamu sanggup??" tanya Zehan.
"Tentu saja tuan, karena memang saya hanya menunggu jawaban dari nona. Akan saya perlihatkan kepada mereka betapa mengerikannya ketika kematian sulit mendatangi mereka" ucap Joon Woon dingin. Zehan dan Zesya tersenyum puas mendengar jawaban dari pemuda itu.
...****************...
Hari-hari damai pun berlalu terasa begitu cepat. Tapi suasana pagi itu terasa lebih riweuh dari biasanya. Deliza juga terlihat cantik dengan kebaya dan kain batik berwarna biru muda, sang hairstyling sengaja menata rambutnya gadis itu dengan gaya rambut pull_through braid. Yaitu teknik menata rambut mirip dengan gaya kepang klasik lainnya, namun yang berbeda adalah akhir dari penataannya kepangan di tarik keluar perlahan untuk memberi kesan rambt terlihat lebih tebal dan bervolume lalu di permanis dengan sedikit aksesoris beberapa mutiara di sela-sela rambutnya.
Dan Zesya sang bintang utama hari ini juga terlihat lebih tampan dengan gaya rambut textured hair, menampilkan jidat paripurnanya, ia hanya mengenakan stelan kemeja putih dan celana bahan berwarna hitam, serta jas almamater tahun angkatannya. Disekolah Zesya masing-masing angkatan memang memiliki warna almamaternya sendiri-sendiri mungkin agar kesan dari sekolah mahal dan elitnya makin kuat. Zesya melihat ke cermin sekali lahi untuk memastikan tampilannya hari ini sempurna, lantas ia pun segera turun dari lantai atas.
Mama terlihat sedang menuangkan susu untuk papa Zehan, sedang Deliza sedang menguyah rotinya dengan pelan dan elegant.
"Jadi perempuan bangsawan lu hari ini?" sapa Zesya pada adiknya.
"Sesuai tema hari ini lah, luxury and elegant" sahut Deliza makin memamerkan manner seorang bangsawan.
"Yang punya acara perasaan gue deh"
__ADS_1
"Ya terus... Mama" rengek Deliza akhirnya mengadu pada Hasya .
"Kalian ini iihh,,, biarin aja sih Zes, adek mu itu udah bersiap dari sehabis sholat subuh itu biar tampil cantik di acara kamu hari ini."
"Iya ,, iya.." ucap Zesya sembari mengambil roti ke piringnya.
"Oiya mbak-mbaknya,, misal mau makan nasi atau sarapan yang lain bisa minta sama bi Ani aja" kata Hasya kepada orang-orang salon yang membantu Hasya dan Deliza berdandan sedari pagi. Bahkan mereka yang jumlah enam orang itu sudah menginap dari kemarin malam.
"Iya bu, terima kasih" kemudian beberapa dari mereka segera pergi ke dapur sesuai anjuran Hasya.
"Nanti siapa yang ikut sama saya?" tanya Hasya pada Mbak Arni MUA hari itu.
"Saya bu, " jawab Arni cepat.
"Lho?? Ngga asitennya aja?"
"Ngga apa-apa bu"
"Oh ya sudah kalo begitu, ya sih seneng-seneng aja mau siapa yang nanti ikut, kalo mbak Arni yang turun langsung saya ya lebih seneng lagi" kekeh Hasya. Arni pun mengangguk tersenyum sambil mengunyah rotinya. Seusai sarapan merekapun segera bergegas menuju venue ala-ala wisuda makanya mereka berpenampilan serapih itu. Memang ya beda beda jaman beda juga cara untuk merayakan kelulusan sekolah. Kalau jamannya Hasya dulu perpisahan lebih dimeriahkan oleh acara pensi atau pentas seni yang di isi oleh siswa/i sekolahnya, atau mengundang artis dengan iuran para orang tua murid. Pengumunan murid teladan, juara umum, dll. Sedang acara yang lebih khusus kelas tiga atau biasa disebut juga promnight digelar pada malam harinya sebagai pamungkas penutupan dari acara perpisahan. Tapi sekarang acaranya memang terkesan lebih formal dengan ala-ala wisuda, kemudian di esok harinya acara pensi baru akan di gelar. Agak kurang seru sih tapi ya mau bagaimana lagi itu kan sudah sesuai kesepatakan bersama komite dan para orang tua murid.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1