
"Waaahhh !!!!" ungkap Deliza kagum dengan suguhan panorama yang mulai memperlihatkan pesonanya, sambil menoleh pada Joon Woon yang duduk di sampingnya saat bianglala yang mereka naiki mulai bergerak ke atas, begitu pun dengan Tania manik matanya tidak berhenti berbinar.
"Kak, nanti kalo aku udah dewasa, aku mau kakak ngelamar aku di atas bianglala ya, atau di gondola biar momentnya makin berkesan. Tania sedikit terkejut disertai rasa tidak percaya Deliza bisa dengan gamblang meminta hal seperti itu pada Joon Woon.
"Nanti juga kamu akan terbiasa melihat hal-hal semacam ini dari mereka" ucap Zesya saat melihat raut heran dan bingung dengan tingkah adiknya.
"Ah,,, " Tania menoleh pada Zesya lantas tersipu malu karena isi hatinya ketahuan oleh Zesya.
"Dari pada terus mempertanyakan hubungan mereka seserius apa, bagaimana dengan mu sendiri? Apa hari ini kamu merasa senang" tanya Zesya sembari melipat tangan dengan tatap mata mengarah pada Deliza dan Joon Woon yang asyik dengan dunia mereka sendiri.
"Aku? Tentu saja aku sangat senang. Ini pertama kallinya lagi aku ke taman ria setelah papa meninggal." kata Tania agak sendu.
"Maaf, bukan maksud aku"
"Tenang aja aku baik-baik aja kok. Tapi aku memang merasa bagahia kok. Makasih ya" ucap Tania tersenyum lebar seraya menoleh pada dan beradu tatap dengan Zesya yang juga tersenyum padanya.
"Kak, menurut kakak berapa lagi, A Zesya bisa sadar sama perasaannya sama kak Tania?" tanya Deliza lirih saat ia menyandarkan kepalanya pada bahu Joon Woon.
"Entahlah.. setau saya tuan muda itu orangnya saklek kalo memang sudah tertarik pada sesuatu, tapi dalam prosesnya itu butuh waktu sampai ia benar-benar yakin. Intinya tuan muda itu orang yang sangat perhitungan dalam segala hal" jawab Joon Woon menatap jauh ke cakrawala senja.
"Kakak sendiri apa udah yakin sama perasaan kakak sama aku?'
"Justru terkadang saya masih takut jika nona suatu saat akan berpaling dari saya. Terlebih saya ini tidak memiliki apa-apa, jika bukan karena kebaikan keluarga nona saya bukanlah siapa-siapa."
"Heiii apa ini?? Bahkan sebeluma ada aku pun kakak sudah lebih dulu menjadi bagian keluarga A Zesya. Bahkan sampai sekarang aku masih belum mengingat semua masa lalu."
"Tidak usah, tidak usah cari tau. Dengan begitu yang ada dalam ingatan hanya ada kenangan keluarga tuan muda dan ingatan bersama saya" Joon Woon menoleh pada Deliza yang sedang menatapnya dengan raut pilu. Manik matanya mulai berkaca-kaca. Joon Woon segera mengusap pelupuk mata Deliza sebelum bulir air mata gadis itu menetes. Perlahan wajah mereka semakin mendekat karena terbawa suasana romantis ketinggian bianglala.
"EKHEM !!!" sepasang muda mudi itu seketika berhenti saat bibir mereka hanya berjarak tinggal beberapa mili lagi untuk saling berpagut. Zesya berdehem kencang dengan sengaja untuk membuyarkan suasana romantis Deliza dan Joon Woon yang hampir saja berciuman depan matanya dan Tania. Joon Woon segera melipat kembali bibirnya begitu mendengar peringatan dari Zesya. Joon Woon hampir lupa jika dalam bianglala itu masih ada tuan mudanya dan juga Tania. Padahal sebelumnya mereka masih memperbincangkan tentang kelanjutan Zesya dan Tania.
"Iiiiiicchh Aa apa-apaan sih" Deliza mencak-mencak tidak terima gagal berciuman.
"Kalian ngga lupa di sini masih ada kami di sini kan?? Atau emang kalian sengaja mau pamer ?!"
__ADS_1
"Maafkan saya tuan muda, saya yang salah terbawa suasana" cepat-cepat mengakui kesalahannya. Deliza membuang mukanya yang cemberut kesal.
"Kali ini aku maafkan lain kali_"
"Makanya lain kali kalo nemenin orang pacaran itu Aa juga bawa pacar Aa biar ngga ganggu orang pacaran" potong Deliza bersungut-sungut sambil melipat tangannya tanpa melihat wajah kakaknya. Zesya ingin menyahuti lagi namun Tania sudah terlebih dulu mencegahnya dengan memegang lengan Zesya sambil menggeleng sebagai isyarat untuk mengalah pada adiknya itu. Meski sejujurnya ia sendiri cukup terkejut karena hampir saja melihat adegan seperti tadi pagi.
Empat lima menit sudah mereka menikmati suguhan pemandangan saat menaiki wahana bianglala. Meski Deliza sempat merasa kesal tapi berkat keindahan panorama senja dan ketampanan serta rangkulan Joon Woon, dengan mudah suasana hatinya teralihkan kembali. Setelah seharian yang menyenangkan, mereka pun pulang setelah menikmati makan malam di kawasan jakarta selatan.
Sesampainya di rumah, Zesya segera turun dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Tania. Sedang Joon Woon yang duduk di bangku kedua pun turun terlebih dahulu, karena harus mengangkat dan menggendong Deliza yang sudah tertidur pulas karena kecapean setelah seharian itu puas bermain menghabiskan hampir seluruh energinya. Joon Woon izin untuk masuk terlebih dulu agar bisa segera meletakan Deliza di kamarnya agar bisa tidur dengan lebih nyaman.
"Ngga ikut masuk?" tanya Tania yang melihat Zesya malah bengong melihat punggung Joon woon yang semakin jauh dari mereka seraya bersandar ke pintu belakang mobil yang tertutup.
"Aaahhhh,, aku ngga bisa bayangin misal suatu saat Deliza menikah" sahut Zesya seolah mengabaikan pertanyaan Tania.
"Tapi kayaknya baik kamu ataupun Om tante ngga bakal terlalu merasa kehilangan, karena kemungkinan besar Kak Joon Woon kan ngga bakal ajak Deliza pergi jauh-jauh kan?"
"Papa malah sudah mulai menyiapkan perusahaan baru untuk nantinya bisa dikelola bang Joon setelah nanti nikah sama Deliza, tapi bukan di sini."
"Memang Deliza itu sudah pasti akan menikah dengan kak Joon Woon?" Tania mengernyitkan dahinya agak bingung.
"Kalo memang seperti itu kenapa sedih?"
"Aku hanya tidak suka sesuatu yang tidak utuh saja"
"Maksudnya?"
"Ahh.. Sudahlah,, sudah terlalu larut,, kapan-kapan kita bahas lagi" ucap Zesya sembari beranjak dari tempatnya bersandar, Tania hanya menghedikan bahunya tanpa membahas lebih jauh. Mereka pun berjalan beriringan saat akan masuk ke dalam rumah lalu berpisah begitu mereka sampai di muka pintu kamar masing-masing.
Beberapa minggu berlalu sejak saat itu, renovasi rumah Tania ternyata lebih cepat selesai dua minggu dari tenggat semula, Irma dan Tania terlihat sedang mengepak barang-barang mereka, meski tidak banyak tetap saja mereka butuh waktu hampir seharian untuk merapikan barang. Ekspresi Hasya terlihat murung saat membantu Irma mengepak barang ke dalam koper.
"Ir, emang ngga bisa ditunda beberapa hari lagi gitu?" Hasya kembali membujuk Irma. Wanita berkulit sawo matang itu menghela nafas lalu menoleh pada Hasya sambil tersenyum, dengan lembut ia menyentuh punggung tangan wanita yang duduk di sebelahnya.
"Sya, aku banyak makasih banget sama kamu. Aku juga banyak banget hutang budi sama kamu. Jujur aku juga bener-bener seneng selama tinggal di sini. Keluarga kamu juga memperlakukan ku dan Tania dengan sangat baik. Tapi ngga mau kalo itu semua malah jadi merusak pertemanan kita. Aku ngga mau dianggap jadi teman yang memanfaatkan temannya. Lagi pula kan kan aku cuma pindah aja, dan pindahnya juga ngga jauh-jauh,, humm ?" Irma mencoba memberi pengertian pada Hasya. Ya begitulah wanita terkadang sifat dan sikap kekanakan serta egoisnya suka muncul, terlihat jelas saat berhadapan dengan sesuatu yang ia anggap berharga.
__ADS_1
"Ya udah deh, tapi kamu nanti jangan susah ya kalo aku telepon atau chat"
"Ya ampun Sya, kita ini bukan abege lagi lho" kekeh Irma sambil kembali melipat beberapa bajunya.
"Biarin,"
"Uuuuuhhh gemes banget sih " ujar Irma sambil menjembel pipi Hasya lantas merangkul leher Hasya.
"Percayalah Sya, dibanding kamu. Aku yang sangat beruntung bisa dipertemukan lagi dengan kamu" ucap Irma lirih di telinga Hasya.Haysa pun tersenyum meski air matanya terus saja meleleh di pipinya.
Semua barang sudah masuk ke dalam mobil Irma jok kedua dan jok belakangnya sengaja dilipat agar bisa menaruh semua barang di sana. Ternyata beberapa bulan tinggal di rumah Hasya membuat barang mereka yang semula hanya beberapa stel baju, kita beranak binak hingga menjadi beberapa koper dan sisanya lainnya di masukan kedalam sebuah karton lumayan besar.
Tania mulai menyalami dan merangkul satu persatu penghuni permpuan di rumah itu untuk berpamitan, tapi sejak pagi Tania tidak sekalipun melihat Zesya. Padahal meski mereka akan bertemu lagi di sekolah tetap saja ia ingin berpamitan secara langsung juga berterima kasih karena selama dirinya tinggal di rumah itu, Zesya juga memperlakukannya dengan cukup baik, meski sikap dinginnya lebih dominan.
"Tania pamit dulu ya Tante" ucap Tania sembari mengambil tangan Hasya lalu memcium punggung tangan wanita itu.
"Iya sayang, jaga diri baik-baik ya, jaga mama kamu juga, terus kalo ada apa-apa jangan segan buat ngasih tau tante, atau Deliza, atau Zesya. kalo kamu segan sama om Zehan mah ya" ucap Hasya seraya melonggar pelukannya. Tania hanya mengangguk tersenyum sebagai jawaban kepada Hasya. Lalu ia bergeser pada Deliza yang berdiri di sebelah Hasya sambil masih celingukan mencari sosok Zesya.
"kakak cari A Zesya ya?" Tania yang ketahuan hanya tersipu malu.
"Tenang aja Kak, aku pastiin yang jadi menantu perempuan keluarga Akhilendra itu kakak. Aku yang bakal jagain A Zesya biar ngga bisa macem atau mikir buat cari pemepuan lain selain Kakak."
"IIhh apaan sih, kakak kan cuma mau pamitan aja"
"Halah " ledek Deliza, Tania menjawil gemas hidung bangir gadis remaja itu.
"Kapan-kapan kita double date lagi ya, setelah waktu itu, ternyata ngga buruk juga kalo main bareng-bareng, harus aku akui juga main bareng begitu emang lebih seru kalo rame-rame" lanjut Deliza.
Keluarga Hasya melambai tangan saat mobil Irma mulai melaju meninggalkan halaman rumah mereka.
"Ahhhhhh,,, " Hasya menghela nafas,
"Jadi agak sepi ya mah" kata Deliza memahami arti dari helaan panjang Hasya barusan.
__ADS_1
"Heu_eh" Hasya mengiyakan Deliza.
"Ngomong-ngomong ini kakak kamu kemana sih dari mama ngga liat batang hidungnya?" omel Hasya. Deliza hanya mengangkat bahu dan kedua tangannya sebagai tanda bahwa ia juga ngga tahu kemana perginya Zesya seharian ini.