
"Kamu dari mana Sya? Kenapa ponsel kamu tidak akhif hah?!" gerutu Zehan sedikit meninggikan suaranya di seberang sana hingga Hasya harus sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Jalan-jalan cari angin ke Senayan, ponsel sengaja ke pencet ke airplane mode" jawab Hasya seadanya dengan enggan.
"Sya, apa kamu ngga tau aku khawatir banget sama kamu hah?!" bentak Zehan saat mendengar respon istrinya yang seolah menanggapinya malas.
"Iya iya maaf." Zehan terduduk sambil mengacak rambutnya yang sudah berantakan saat mendengar ucapan maaf dari Hasya namun seolah maaf yang hanya agar dirinya tidak mengomel lagi. Ia mendengus dengan kasar hingga terdengar jelas oleh Hasya di sebrang sana.
"Kali ini aku maafkan, dan jangan ulangi lagi."
"Iya " jawab Hasya singkat. Sejujurnya Hasya memang agak malas untuk berdebat dengan Zehan saat itu. batinnya terasa terlalu letih jika harus menjelaskan semuanya pada Zehan.
"Baiklah, ini sudah malam, cepat mandi, sholat isya lalu tidur"
"siap komandan! perintah akan saya laksanakan ! tut tut tut!"tanpa berpamitan Hasya langsung menutup sambungan telponnya. Lalu ia menghempaskan tubuhnya diatas tempatnya. Lalu ia menaruh lengannya diatas matanya. lantas ia mulai menangis. Diam-diam Zia mengintip dari celah pintu. Iapun menyadari jika kehidupan rumahtangga kakaknya sedang dalam bahaya.
...----------------...
"Kak..." suara lirih Zia membuat Hasya terkejut dan segera memalingkan wajahnya ke arah lain sekaligus menghapus air bekas air matanya.
__ADS_1
"Zi" Hasya bangun dari posisinya semula lalu duduk menyambut Zia dengan senyuman yang dipaksakan.
"Kakak baik-baik aja kan?" tanya Zia sembari menyentuh bahu kanan Hasya dengan lembut dan menatap Hasya dengan iba. Hasya hanya tersenyum, namun getar di matanya jelas tidak berbohong pada Zia. Zia yang mengerti akan hal itu langsung memeluk Hasya tanpa bertanya lagi dan seketika tangis Hasya pecah begitu saja saat Zia memeluknya.
"Hhiiiikkkkss aku baik-baik aja Zi... SRRHIIIIKKKSS" ucap Hasya dengan suara lirih bercampur tangisannya.
"Hikkss maafin aku Kak," ucap Zia ikut menangis.
"Aku ingin mengatakan aku baik-baik saja Zi Hikks aku ingin.. Hikkss Tapi rasanya semua ini hiks sudah ingin meledak.Hikss Aku benar-benar marah Zi. " ungkap Hasya dalam pelukan Zia. Zia ikut mengisak sambil menepuk-nepuk dan mengelus punggung Hasya.
"Kamu tau Zi hiks. Rasanya aku ingin kembali di masa aku merawat kakak mu dulu, hiks Yang meski sikapnya terkadang angkuh, sering berteriak tidak jelas, suka memerintah seenaknya tapi dia masih memperhatikan ku dan aku merasa bahagia Zi," ungkap Hasya dalam tangisnya.
"Semua ini pasti gara-gara perempuan ular itu" ucap Zia kesal.
"Kakak Zehan tidak akan berselingkuh dari mu kak" ucap Zia memotong arah pembicaraan Hasya yang mulai curiga kakaknya memiliki wanita lain diluaran sana. Hasya kemudian terdiam entah harus berkata apalagi, kepalanya penuh dengan berbagai pertanyaan dan dugaan tak menentu.
"Kak, nanti saat kak Zehan pulang aku akan coba bicara padanya. Kakak sekarang mandi lalu istirahat, aku mau pulang sudah jam 8, kasian Judis kalo aku tinggal lebih lama lagi" Hasya menatap Zia dengan mata sembabnya seraya mengulas senyum tipis dan mengangguk seruan adik iparnya itu.
Setelah itu Zia keluar dari kamar Hasya dan menuju ruang tengah untuk mengambil tas lalu bersiap pulang. Siapa sangka dia harus bertemu Alexa yang baru pulang entah dari mana dengan beberapa kantong belanjaan kebutuhan anaknya. Zia menatap sinis pada Alexa sembari memangku tangan di dad*nya lalu berjalan ke arah Alexa yang nampak ke repotan.
__ADS_1
" Wah nyonya besar baru pulang habis berbelanja" Alexa tak terlalu menanggapi sindiran Zia kepadanya.
"Harusnya kau tau diri heh wanita ular !" ucap Zia lagi saat mereka sudah saling berhadapan.
"Aku lelah Zi, kamu ngga lihat belanjaan untuk anak ku ini sangat banyak" gerutu Alexa berusaha acuh tak acuh.
"Aku bingung kenapa kamu memaksakan diri untuk tetap tinggal di rumah ini. Padahal kami berusaha tidak melaksanakan balas dendam terhadapmu dan suamimu."
"Aku tau, aku salah di masa lalu. Dan aku juga berterima kasih pada Kakak mu karena masih mau membantu ku padahal aku sudah menyakitinya hingga begitu parah."
"Lalu kenapa kau masih tinggal di rumah ini ??"
"Zi, kasihani lah anak ku, anak ku butuh perlindungan. Selama suami ku berbaring di rumah sakit" bola mata Alexa mulai berkaca-kaca. Namun malah semakin membuat Zia ingin muntah saat melihatnya. Di saat yang bersamaan Zia melihat kiss mark di leher belakang Alexa yang sepintas mungkin tidak terlihat karena tertutup scarf juga rambut Alexa. Yang tentu saja membuat Zia menyunggingkan senyum sinis pada Alexa.
Zia lalu berjalan lebih mendekati Alexa lalu berbisik " Ternyata kelakuanmu masih sama saja Alexa. Di saat suami mu masih terbaring koma kamu masih bisa mencari kesenangan dengan orang lain. Menjijikan" bisik Zia dengan penuh penekanan dan dengan cepat menarik scarf yang melingkar di leher Alexa yang ternyata ia gunakan untuk menutupi kiss mark yang bertebaran diarea lehernya.
Alexa yang terkejut dengan apa yang dilalukan Zia namun dia tidak bisa mencegahnya karena kejadian itu terlalu cepat untuk ia hindari. Alexa menelan saliva untuk membasahi kerongkongannya yang terasa tercekat.
"See?? ckckckck!! " ucap Zia seraya melenggang pergi meninggal Alexa yang masih tertegun mengusap lehernya yang terasa agak perih karena scarf yang di tarik tiba-tiba oleh Zia barusan, lalu ia berbalik badan di saat yang bersamaan Zia membuang scarfnya seolah itu adalah barang yang sangat menjijikan.
__ADS_1
"Sial !" pekik Alexa dengan tubuh bergetar, rahang yang mengeras serta tangan yany mengepal saat melihta punggung Zia menghilang di balik pintu utama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...