
Hasya masuk ke dalam rumah diikuti Kevin yang berjalan di sisi kanannya sedang bi Ani mengikuti di sisi kirinya.
"Zi.." sapa Hasya saat memasuki pintu utama.
"Kak Hasya ! Kakak dari mana aja ? Kenapa ngga bilang sma Bi Ani kalo mau keluar? Ponselnya kakak juga kenapa ngga ak..?" sambut Zia mulai memberondong Hasya dengan berbagai pertanyaan.
"Zi.. satu-satu yang mana dulu nih?" Hasya memotong kalimat Zia yang seperti runtuyan gerbong kereta.
"Ok, maaf. Kakak dari mana?" kata Zia akhirnya setelah bisa mengontrol emosinya.
"Tadi niat-niatnya jalan-jalan doang tapi ketemu bapak Kevin ya udah ngaffe terus pulang" Zia mendelik tajam pada Kevin yang langsung memundurkan setengah tubuhnya.
"Kenapa ngga pamit sama bi Ani?"
"Pamit kok, tapi mungkin Bi Ani ngga denger soalnya tadi Rexa lagi rewel banget. Terus kakak nulis pesan kakak tempel di pintu kulkas." Zia langsung pergi ke dapur namun tidak menemukan pesan yang dimaksud Hasya.
"Di mana kak? Ngga ada ini?" ucap Zia mencari-cari note yang Hasya maksud.
"Masa sih? " Kemudian Hasya mendekati kulkas dan hendak menunjuk note yang ditempelnya tadi ternyata memang benar-benar tidak ada. Merasa heran ia kemudian mencarinya hingga ke penjuru dapur.
"Kok aneh ya? Aku yakin kok Zi, aku tempel notenya di pintu kulkas." ucap Hasya dengan raut wajah bingung. Iapun nampak berpikir sejenak dan feelingnya tiba-tiba terarah pada tempat sampah yang berada di dekat washtafel cuci piring.
"Kakak ngapain ngubek-ngubek tempat sampah?" tanya Zia sedikit bingung. Dan-
"Ketemu !!! Nah kan kakak bilang apa? Kakak yakin kok tulis pesan terus nempelinnya di pintu kulkas." ujar Hasya sembari menjentik-jentikan jari telunjuknya di area bibir dan dagu. Mendengar hal itu tentu saja Zia langsung curiga pada Alexa. "Pasti ini ulah licik si wanita ular itu" batin Zia.
__ADS_1
"Ok mungkin ketebak angin, jatoh terus dikira sampah."
"bisa jadi sih" sahut Hasya seraya mengangkat bahu dan alisnya.
"Terus ponsel kakak kenapa mati?"
"Ponsel aku nyala Zi, aktif terus ko.." ucapan Hasya terhenti saat melihat ponselnya dalam keadaan airplane mode.
"Kenapa kak?" selidik Zia.
"Mode pesawat Zi" ringis Hasya merasa bersalah. Zia yang mendengarnya langsung cengo dan menepuk jidatnya sendiri lalu menghela nafas dengan menyungging satu sudut bibir atasnya. Kevin yang mendengarnya hanya mengulum senyum saja merasa semesta berpihak padanya agar dia bisa berduaan dengan Hasya tanpa gangguan dari siapapun termasuk Zehan, suaminya sendiri.
"Ya udah kakak telpon kak Zehan gih, dari tadi kak Zehan uring-uringan khawatir kalo istrinya ada yang nyulik" sindir Zia pada Kevin yang terlihat sedang menyungging senyum kemenangan.
"Pck ! Iya iya.. Vin aku tinggal bentar ya" pamit Hasya.
"Oh ok deh, makasih ya"
"Pck ! Apaan sih santai aja. Tapi lain kali kalo mau jalan-jalan kontak aku aja, biar ngga sendirian kaya tadi. Bahaya, ya udah aku balik ya" pamit Kevin, dan Hasya pun mengangguk dengan mengulas senyum manis untuk Kevin. Saat hendak mengantar Kevin tiba-tiba ponsel Hasya berdering yang tentu saja dari sang suami tercinta. Dia pun mengisyarat minta maaf tidak bisa mengantar Kevin karena harus segera menjawab panggilan dari suaminya. Kevin hanya tersenyum seraya menggangguk.
"Udah kakak angkat aja, Pak Kevin biar aku yang antar sampai depan." kata Zia. Lantas Hasyapun masuk ke kamarnya. Setelah kakak iparnya benar-benar masuk kamar Zia mengikuti Kevin sambil melipat tangan di dad*nya jelas ia bermaksud untuk mengintimidasi Kevin.
"Pak Kevin masih suka banget sama kak Hasya ya?" pertanyaan Zia sontak menghentikan Kevin yang akan membuka pintu mobilnya. Sebelum berbalik ia sempat membuang nafasnya terlebih dahulu agar tidak terbawa emosi dengan sikap Zia yang provokatif.
"Tidak ada yang salah bukan, selama aku tidak menggangu pernikahan Kakakmu dan Hasya, toh perasaan itu adalah milikku" kata Kevin dengan tenang.
__ADS_1
"Tapi pak, Kak Hasya itu.."
"Sudah menikah? Aku tau, tapi perasaanku aku tidak mencegahnya. Makanya aku hanya berdiri sebagai sahabat yang berusaha selalu ada untuknya. Tidak lebih"
"Tapi tetap saja bapak sebaiknya tidak menemui kak Hasya diam-diam seperti tadi." ketus Zia merengutkan kedua alisnya.
"Aku tidak sengaja bertemu Hasya di Senayan. Aku sendiri habis menemui seorang nasabah ku yang kebetulan juga owner tempat caffe Hasya sedang menyendiri. Sama sekali kami tidak janjian untuk bertemu."
"Ok, aku terima alasan bapak, tapi bagaimana ji"
"Jika ada orang yang mempublisnya di media sosial? Begitu??" Zia diam seriba bahasa dan hanya mendelik tajam pada Kevin.
"Jika terjadi hal demikian aku tinggal klarifikasi saja, selesai ! Lagi pula aku percaya kekuatan keluargamu bisa menutup mulut media apapun di negeri ini" Zia makin mengeraskan rahangnya karena apa yang dikatakan oleh Kevin benar adanya. Keluarganya sangat amat mampu untuk menutup semua pemberitaan di media manapun dengan hanya sekali perintah.
"Tapi sebaliknya, bagaimana jika Hasya ternyata tidak sedang baik-baik saja? Bagaimana bentuk pertanggungjawabanmu hah?!" ucap Kevin sedikit emosi. Karena sebelum Kevin memutuskan untuk menenumui Hasya di caffe tadi sekilas ia bisa melihat jika perempuan yang dicintainya itu sedang menangis.
"Maksud bapak apa?!" sahut Zia sedikit menyolot pada Kevin.
"Apa kamu yakin Hasya sedang baik-baik saja? Apa kamu yakin saat ini Hasya sedang bahagia? Jika kamu merasa Hasya baik-baik saja karena selalu terlihat ceria maka kamu belum sepenuhnya mengenali siapa Hasya." untuk sesaat Zia terdiam karena merasa tertampar dengan apa yang dikatakan oleh Kevin tidaklah salah. Zia memang cukup dekat namun sejujurnya mereka belum saling memahami satu sama lain. Terlebih belakangan Zia memang sangat jarang berkunjung ke kediaman Zehan karena muak jika harus bertemu dengan Alexa.
"Dari sikapmu sepertinya dugaanku tidak salah jika pernikahan kakakmu dan Hasya sedang tidak baik-baik saja. Aku tidak akan ikut campur untuk urusan itu. Tapi katakan pada kakakmu, laki-laki yang mencintai Hasya dengan tulus bukan hanya dia. Masih ada aku, karena bukan tidak mungkin suatu saat aku akan merebutnya dari sisi Kakakmu jika kakakmu sampai menyakitinya. Luka ditubuh bisa sembuh dengan hanya betadin, tapi jika hatinya yang terluka dengan cara dan obat apa yang bisa kalian berikan untuk mengobatinya" Zia benar-benar dibuat tidak berkutik. Mulutnya seolah terkunci, batinnya seolah tertohok oleh kata-kata yang diucapkan oleh Kevin. Dan membiarkan Kevin membuka pintu mobilnya namun sepersekian detik Kevin kembali berbalik pada Zia yang masih terdiam mencerna semua kalimat yang Kevin ucapkan padanya.
"Oya, tolong katakan pada kakakmu, jangan lupakan Hasya adalah perempuan mandiri ynag terbiasa melakukan segala hal sendirian. Dia sudah terlatih untuk survive dalam keadaan sesulit apapun, hanya kehilangan harta kakakmu saja itu tidak akan membuat langkahnya berhenti untuk meninggalkan kakakmu jika egonya sampai terluka, di saat itulah aku akan mengejarnya kembali. Dan aku tidak akan membiarkan kakakmu untuk bisa memilikinya lagi. Camkan itu !!" ucap Kevin lantas masuk ke dalam mobilnya dan menutup pintu mobilnya sedikit membantingnya hingga membuat Zia termenung sedikit terkejut.
"Sial aku benar-benar kecolongan! Semua ini gara-gara kehadiran wanita ular itu di rumah ini" gerutu Zia sendiri saat melihat mobil Kevin melaju keluar gerbang mantion tersebut.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...