The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 57


__ADS_3

Siang itu Zesya riang bernyanyi di dalam mobil, alasannya tentu saja karena yang menjemputnya adalah sang papa tercinta. Dengan papanya mulai sering menjemputnya ke sekolah, anak-anak yang dulu pernah satu TK dengan Zesya kini tidak pernah mengolok-ngoloknya dengan sebutan anak simpanan, entah dari mana anak-anak itu bisa mendapatkan kata-kata itu untuk mengolok-olok Zesya.


"Pah, boleh mampir dulu ke Minimarket yang di sana itu ngga? Zesya pengen ice cream sama sossis kenjler." tunjuk Zesya bersemangat.


"Tapi makan ice cream dan sosisnya nanti sore aja ya, pas jam makan cemilan, kalo makan sekarang mamamu marah" nasehat Zehan.


"Siap Boss, laksanakan" sahut Zesya seraya menegapkan tubuh dan membusungkan dadanya serta memberi hormat pada Papanya. Zehan tersenyum dan terkekeh saat ia menoleh ke arah putranya yang sedang duduk di sampingnya. Manik mata coklat terang milik Zesya terlihat berbinar saat tersinari cahaya yang sesekali menyorot ke arahnya. Menurut Zehan, Zesya termasuk anak yang agak sulit untuk di pahami karakter aslinya. Kadang ia bisa bersikap dan berpikir dewasa, namun kadang-kadang ia juga masih suka tantrum karena suatu hal. Terkadang ia bisa berubah menjadi sangat pendiam hingga bisa menimbulkan aura ngeri jika ia sedang ada dikeadaan ini. Terkadang ia bisa juga jadi jahil, manis, imut, ceria dan kekanakan terlebih jika sedang bersama Judis. Tapi itulah anak-anak emosinya masih sangat labil, dan Zehan masih tetap bersyukur bisa menemukan Hasya meski agak sedikit lambat karena masih tetap bisa menemani masa pertumbuhan Zesya hingga putranya itu kelak dewsasa.


"Pah, kapan papah ngasih aku ade"


"Heh??" Zehan sangat terkejut begitu mendengar pertanyaan Zesya.


"Papa kapan ngasih aku Ade?" Zesya menoleh pda papanya disertai senyum yang melebar.


"Kamu jangan aneh-aneh A"


"Kok aneh-aneh? kan wajar Aa minta ade, masa minta tetangga buat bikinin Aa ade" ucapnya asal


"Sembarangan!!"


"Ya makanya"


"Nak, gimana papa mau kasih kamu ade, sedang papa bobo aja masih sama kamu tiap malem"


"Papa sih ngga bisa romantis"


"A.."


"Hmm kamu child mode on aja bisa ngga?"


"Tapi Aa pengen punya ade pah" Zesya mulai ngambek.


"Sayang, kamu tau kan kondisi papa dan mama saat ini?"


"Iya tau, tapi aku tetep pengen punya ade pah" Zehan menghentikan mobilnya tepat di parkiran mini market tempo hari. Sambil masih menaruh kedua tangannya di atas stir mobil Zehan menoleh, menatap putra yang terlihat murung. Lantas tangan kanannya mengelus kepala bocah itu.


"Papa tau, Aa ingin papa dan mama segera berbaikan, tapi tidak mudah.. Yang terpenting sekarang keluarga kita sudah berkumpul. Papa janji, nanti kalo kondisinya sudah membaik, papa akan beri kamu banyak adik. Ok??" Zesya menoleh ke arah Zehan dengan bibir masih manyunnya, lalu mengangguk.


"Mau ikut turun atau menunggu di mobil ?"

__ADS_1


"Di mobil aja pah"


"Ya sudah tunggu di sini ya" ucap Zehan sambil mengacak-acak rambut anaknya dan mencium pipi chubi putranya itu.


Zehan memakai kaca mata hitamnya lalu keluar dari mobil lalu berjalan beberapa langkah menuju pintu minimarket tersebut.


"Selama..t da..tang" sambut Galuh yang kebetulan sedang berjaga di meja kasir itu. Zehan menoleh sambil tersenyum pada perempuan yang menyambutnya itu. Yang tentu saja membuat perut gadis itu terasa penuh oleh ratusan kupu-kupu yang berterbangan di rongga perutnya. Tidak lama kemudian Zehan datang dengan keranjang belanjaannya yang penuh dengan beberapa es krim san dan sosis siap makan.


"Mau biskuit coklat ini kak sekalian, beli dua gratis satu." tawar galuh sambil terus mengscan barcode belanjaan Zehan, Zehan hanya menggeleng tak lupa dengan senyumannya.


"mau isi pulsa sekalian kak?" tanya Galuh sekali lagi, siapa tau pria tampannya mau menyebutkan nomor teleponenya.


"Ngga usah mbak itu aja" tolak Zehan ramah.


"Yah gagal" gumam Galuh dalam dalam.


"Total dua ratus lima belas ribu delapan ratus rupiah kak"


"Bisa pakai kartu mbak? Kebetulan saya cas saya kurang sepertinya" setelah Zehan mengeluarkan dompetnya.


"Oh boleh kok kak" Kemudian Zehan mengeluarkan debit prioritasnya. Galuh yang melihat hal itu langsung melirik sekilas pada Zehan yang berdiri di depannya sambil melihat lihat beberapa coklat di depannya.


"Kakak lagi KKN ya di dekat sini ya?"


"Ah bukan, tapi mengerjakan proyek pengembangan daerah sini mbak"


"Hmm pantesan"


"Kenapa gitu mbak?"


"Wajahnya asing tapi belakangan sering ke sini jadi mudah dikenali" Zehan kembali menoleh sembari melempar senyum hangat pada Galuh, sehangat perasaannya saat ini. Gadis itu rupanya sudah benar-benar jatuh cinta pria tampan dihadapannya.


"Ini kak" Galuh menyerahkan struk dan kartu milik Zehan.


"Ok, makasih mbak,, permisi" pamit Zehan.


"Silahkan datang kembali" Zehan hanya tersenyum sambil memasukan kartunya ke dalam dompet, namun tanpa di sadarinya, Zehan malah menjatuhkan dompetnya di halaman minimarket tepat saat ia akan masuk ke dalam mobilnya. "bugh" Zehan menarik pintu mobilnya lalu segera bergegas pulang.


Selang sepuluh menit berlalu Reifan baru saja kembali sehabis mengantarkan barang pesanan pada customer minimarket, saat ia memarkirkan motor dan melepas helmnya. Netranya langsung tertuju pada benda yang tergeletak begitu saja di halaman parkir minimarket. Setelah di dekati ternyata sebuah dompet yang dilihat sekilas saja sudah bisa ditebak seberapa kaya pemilik dompet ini.

__ADS_1



Reifan lalu memungutnya dan memeriksa keadaan dompet tersebut. Dari kondisinya sepertinya dompet itu belum lama terjatuhnya. Galuh yang sejak tadi memperhatikan Reifan merengut heran karena sejak pemuda itu masuk mengabaikan panggilannya.


"Ooy kesambet jurig budeg nyak maneh?" teriak Galuh tepat di telinga kiri Reifan.


"Iiish maneh, ngereureus ih" gerutu Reifan


"Ya lagian, dari tadi dipanggil-panggil ngga nyaut-nyaut. Sibuk naon maneh?" tanya Galuh kepo.


"Tadi pas balik urang manggih dompet di luar" kata Reifan sambil menaruh dompet tersebut di meja dekat dengan mesin kasir.


"Wah, dompet mahal ieu mah Rei, coba tinggali biasana na dompet kitu mah sok aya kartu nama na mun weuh KTP mah"


"Tapi maneh jadi saksi nyak, urang ukur neangan kartu nama atawa KTP nu boga ieu dompet ?"


"Heueuh mun aya nanaon mah urang jadi saksi" lantas Reifan pun membuka dompet tersebut, sayangnya tidak ada KTP, namun saat mereka seakan tidak ada hentinya takjub dengan isi dompet minimalis itu, karena terdapat beberapa uang dollar US, black card, beberapa kartu debit, SIM A, dan SIM C dan beberapa kartu nama dengan nama yang sama.


"Zehan Akhilendra Hirawan," ucap Reifan membaca nama di kartu nama yang terdapat di dompet tersebut. Bola matanya kembali membulat setelah membaca jabatan yang tertera di sana. "President Director"


"Kumaha ieu Luh?" tanya Reifan dengan suara bergetar. Wajah Galuh sama-sama melongo saat itu, ia juga bingung juga ada rasa takut, tapi untuk apa takut toh mereka hanya menemukan dompet tersebut bukan mencurinya. Setelah berpikir beberapa saat lalu Galuh mengambil ponselnya, dengan tangan bergetar lalu ia menekan nomor yang tertera di sana.


"tuuttt ... tuuuuttt. tuuuuuut..ttuuuuut"


"Halo " mendadak bola mata Galuh makin membulat sempurna juga mulut yang menganga ketika ia mengenali suara pria di sebrang sana.


"Halo? "


"Ha.. halo pak,, apa benar ini dengan bapak Zehan Akhilendra Hirawan?" tanya Galuh dengan perasaan sesak di dadanya.


"Ya saya sendiri? Maaf ini dengan siapa...?" "Bruukkk" namun sebelum Galuh sempat mengatakan perihal dompetnya gadis itu sudah keburu pingsan duluan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



neng Galuh,, 😉


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2