The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 72


__ADS_3

Hasya masih mengisak dalam pelukan anak perempuan itu, meski ia masih bingung dengan situasinya saat itu namun entah bagaimana ada perasaan yang begitu hangat menyelimuti hatinya saat ia memeluk gadis kecil itu. Tiba-tiba tempat tersebut menjadi bias karena cahaya menyilaukan menerangi tempat tersebut hingga Hasyapun harus menyipitkan matanya sambil mengangkat tangannya untuk mengurangi bias cahaya tersebut.


"Ma, sudah waktunya mama pulang, mama jangan marahan terus sama pap..." namun suara anak itu makin mengabur dari pendengaran Hasya. Seolah ia masuk ke dalam sebuah lorong waktu untuk beberapa saat, iapun merasakan tubuhnyabseperti terlempar menjauh dari pusat cahaya yang tadi sempat menyilaukan matanya.


Zehan yang tengah terlelap seketika terbangun karena merasakan gerakan dari jari tangan istrinya yang sedang ia genggam. Ia pun memperhatikan dengan seksama apa benar Hasya sudah benar-benar tersadar dari komanya. Kali ini netranya terbuka lebar saat melihat kepala Hasya sedikit bergerak, serta bola mata yang bergerak ke sana kemari seolah berusaha sedang membuka kelopak matanya. Cepat-cepat ia menekan tombol Nurse Call Sistem yang merupakan bel pemanggil perawat atau dokter jaga di Rumah Sakit tersebut. Tidak menunggu lama dua perawat dan satu orang dokter langsung menghampiri dan langsung memeriksa keadaan Hasya. Setelah memastikan semuanya dalam keadaan normal dokter itu menghela nafas lega. "Syukurlah" gumamnya. Setelah mencatat laporan pemeriksaan pasien dokter itu kemudian menyuruh para perawat untuk mengganti melepas beberapa alat yang dipasang di tubuh dan juga mulut Hasya dan hanya menyisakan cairan kristaloid atau cairan infus, yang digunakan untuk mengembalikan keseimbangan elektrolit, mengembalikan pH, menghidrasi tubuh, dan sebagai cairan resusitasi. Serta cairan koloid, jenis infusan ini memiliki molekul yang lebih berat. Cairan ini dapat diberikan pada pasien yang menderita sakit kritis, pasien bedah, dan juga sebagai cairan resusitasi.


"Al hamdulillah pak, istri bapak sudah dalam keadaan normal" ucap Dokter itu sambil mengalukan stetoskop pad lehernya. Mendengar hal itu Zehan merengut seraya mengintip keadaan Hasya yang masih memejamkan matanya namun terlihat lebih tenang.


"Tidak usah khawatir pak, istri bapak sekarang tengah tertidur, Insyaallah besok pagi, ibu sudah bisa menyapa bapak" terang dokter itu lagi.


"Dokter yakin?" Zehan seolah masih ragu dengan penuturan dokter tersebut. Dokter itu mengangguk dengan mengulas senyuman di bibirnya.


"Untuk itu kami juga memberitahukan jika istri bapak sudah bisa dipindahkan ke ruangan rawat inap biasa mulai malam ini" mendengar hal itu tangis Zehan langsung pecah lantas ia sujud syukur dihadapan pembaringan Hasya. Beberapa saat kemudian ia mendekati tubuh Hasya dan mencium keningnya dengan lembut.


"Terima kasih Sayang, hikss...kamu sudah mau kembali kepadaku.. hikksss.." ungkapnya lirih di telinga Hasya. Namun tangis Zehan tiba-tiba berhenti saat merasakan sebuah tangan membelai rambutnya dengan lembut.


"Dasar cengeng" ujar Hasya dengan suara lemah, mendengar hal itu Zehan kembali menangis dalam pelukan Hasya tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Semua kalimatnya menguap dalam isak tangis penuh rasa syukur karena ia merasa bahwa Tuhan masih memberikannya sebuah keberuntungan dengan memberikannya kesempatan Hasya kembali kepadanya untuk kesekian kalinya. Kali ini ia bener-benar berjanji pada dirinya sendiri dan kepada Tuhan. bahwa ia tidak akan lagi menyia-nyiakan keberuntungannya sebagai seorang suami. Ia juga berjanji akan lebih mendengarkan istrinya, dari pada orang lain.


Kini ia pun pada dasarnya sebuah pernikahan bukan hanya bermodal cinta, tapi juga kepercayaan pada pasangan serta komunikasi yang sehat dari hati ke hati. Barulah peran komitmen, tanggungjawab serta hak dan kewajiban dalam berumahtangga bisa berjalan harmonis, hingga mewujudkan sakinah, mawadah, dan warrohmah.


................


Beberapa hari kemudian Hasya sudah terlihat jauh lebih bugar, ia juga sudah bisa ke toilet sendiri, meski begitu Zehan tetap membantunya. Pagi menjelang siang sekitar jam sepuluh lewat beberapa belas menit ketukan di pintu kamar mengusik ketenangan Zehan yang sedang mengupaskan jeruk untuk Hasya. Zehan kemudian segera beranjak untuk mengecek siapa yang datang. Namun wajahnya menunjukan reaksi jengah begitu melihat tamu yang datang di pagi itu.

__ADS_1


"Siapa yang?" tanya Hasya sedikit meninggikan suaranya.


"Hantu belaung" sahut Zehan.


"Mana ada hantu belaung ganteng kayak aku" sanggah Kevin dengan muka tengil bercampur senyum meledek pada Zehan. Namun meski begitu kini mereka sudah akur dan perlahan mulai bisa berteman meski bukan teman pada umumnya. Dan tetap saja tingkah mereka menunjukan "bromance" unik yang justru membuat gemas orang-orang yang melihat mereka.


"Gimana hari ini Sya ?" sapa Kevin seraya meletakan buket bunga tulip yang cantik.



"Al hamdulillah, luka bekas operasiannya udah mulai kering, rencananya lusa kita mau balik ke Indonesia, aku sudsh sangat rindu dengan putraku di rumah" ungkap Hasya dengan raut sumbringah, lalu tanpa di minta tolong Zehan lantas mengambil bunga yang masih berada dipangkuan Hasya kemudian meletakan bunga tersebut di nakas samping tempat tidur Hasya.


"Syukurlah, aku senang mendengarnya"


"Secepatnya.. kenapa kamu takut, akan rindu pada ku?" goda Kevin. Zehan yang hanya menanggapinya dengan mengernyih julid dan mengatakan "najis" dengan suara lirih namun tetap bisa di dengar oleh semua orang, yang tentu saja membuat Hasya dan Kevin mengulum tawa mereka begitu melihat ekspresi Zehan.


"Oiya, Ze bisa kita bicara sebentar, ini ada kaitannya dengan proyek yang sedang kamu kerjakan saat ini." Zehan melirik penuh selidik pada Kevin yang tiba-tiba saja membicarakan soal proyek yang sedang ia garap saat ini.


"Sayang aku tinggal ngobrol bentar sama Kevin ya?" pamit Zehan setelah Hasya mengangguk Zehan kemudian mencium kening Hasya dengan lembut lantas Zehan dan Kevin pun pergi menuju caffetaria rumah sakit.


"Jadi apa yang mau kamu bahas soal proyek yang sedang aku kerjakan?" tanya Zehan to the point setelah pesanan mereka tersaji.


" Sebenarnya bukan masalah besar untuk ku, tapi entahlah untuk mu."

__ADS_1


" Cepat katakan saja, jangan bertele-tele."


"Apa dalam proyek mu juga ada pengelolaan budidaya pembibitan tanaman?" untuk sejenak Zehan tampak termenung untuk sesaat.


"Tentu saja, karena proyek ini adalah prasarana untuk pengembangan daerah agro wisata yang sudah pasti akan berkaitan dengan pembibitan, seingatku sebelum aku ke sini, beberapa jenis tanaman sudah mulai didistribusikan kepada bapoktan penerima bibit yang sudah diberi penyuluhan terlebih dahulu."


"Apa kamu ingat jenis tananam yang akan didistribusikan?"


"Untuk sementara ini hanya sayuran seperti bibit jenis kubis, wortel, tomat, dan beberapa jenis berry-berry-an"


"Kamu yakin hanya itu?" selidik Kevin.


"Untuk sementara hanya itu, terlalu banyak varietas juga malah akan membingungkan petani. Jadi kami lakukan bertahap, lagi pula dalam sistemnya para penyuluh dan petani yang tergabung setuju dengan hal itu karena kita akan memulainya dari nol lagi. Kenapa demikian karena kita akan menggunakan semua dengan organik, tanpa bahan kimia tapi akan tetap mengusahakan harga di pasaran tetap stabil. Makanya untuk menjadi semua itu proyek sub Tanaman dilakukan secara bertahap dan berkala." Kevin menyimak dengan serius, dan Zehan sudah tentu bisa menangkap hal janggal dari ekspresi mantan rivalnya tersebut.


"Jadi siapa yang bertanggungjawab atas pengelolaan dilapangan?"


"Kalo hal itu baiknya aku tanyakam dulu pada Gibran atau Hejun untuk memastikan. Ya.. kamu lihat sendiri aku ke sini untuk menemani Hasya berobat yang otomatis beberapa waktu ini aku tidak terlalu fokus pada pekerjaan di kantor"


"Mentang-mentang boss" celetuk Kevin.


"Iya lah, meski aku ini sangat jujur dalam berbisnis, tapi ya terkadang nepotisme itu lumayan berguna untuk di situasi sekarang ini. Aku kan jadi fokus merawat Hasya."


"Ciih dasar pamer" lagi Kevin mendecih julid pada pada Zehan yang terlihat sedikit jumawa dengan kedudukany sebagai Presdir perusahaan besar nomor 3 se-Asia Tenggara.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2