The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 112


__ADS_3

"Brak!!" pintu kamar rawat inap Zehan terbuka tanpa aba-aba, semua orang terkejut melihat ke arah pintu, Hasya tertegun sebentar sebelum orang-orang berhamburan menyambutnya setelah melihat sosok Hasya dengan jelas.


"Mas baik-baik aja?" tanya Hasya setelah terbebas dari sesi tanya jawab khawatir dari keluarga. Zehan tidak menjawab apa-apa tapi ia langsung berhambur memeluk Hasya sambil menangis histeris seperti anak kecil yang baru kehilangan mamanya beberapa saat, emosi haru lega namun juga masih bercampur kemarahan menjadi satu. "Kau berani mengganggu istri dan hampir mencelakai bayi dalam perut istriku. Meski ke ujung neraka, aku tidak akan membiarkan mu hidup tenang Faruq!" kata Zehan dalam hati saat memeluk Hasya.


Beberapa hari kemudian setelah pemeriksaan terakhir Zehanpun sudah bisa pulang dari rumah sakit,


"Sayang, kemarilah" kata Zehan seraya menarik tangan Hasya dan mendudukannya diatas pahanya, tangannya melingkar menahan tubuh Hasya yang sedikit lebih berisi agar tidak jatuh. Hasya yang terduduk lalu menunduk begitu Zehan mengecup bibirnya cepat "cup"


"Maafkan aku ya," kata Zehan menatap mata Hasya, Hasya menggeleng lalu melabuhkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Mas udah ribuan kali lho minta maaf, udah ya, ini bukan salah mas,, lagi pula Zesya dan yang lain sudah bergerak cepat untuk menyelamatkan aku kan, aku juga udah di sini.. hmm??"


"Zesya,, anak itu seperti benar-benar anak ku ya" Hasya yang mendengar hal itu langsung bangun menjauhkan wajahnya dari tubuh Zehan dengan wajah cemberut.


"Terus kalo bukan lalu anak siapa? Bukan cuma sifat tingkah laku, sampe muka dia itu plek ketiplek niru mas semua, boleh dibilang dia itu Mas Zehan versi mini" kata Hasya merajuk sebal.


"Hahaha.. iya sayang.. jangan marah"


"ngga tau ah "


"Sayang, ngomong-ngomong.. yang didalam sana memang ngga kangen papanya ya?" Hasya cukup mengerti apa yang dimaksudkan Zehan, dia hanya menggeleng kecil seraya mengulum senyum, namun tetap saja rona kemerahan tidak bisa ia sembunyikan. Perlahan Zehan meraih dagu Hasya, lalu mencium bibir istri dengan lembut.


"Sya.. aku.." sebelum kalimat Zehan berlanjut Hasya sudah terlebih dahulu mencium dan ******* bibir suaminya.

__ADS_1


"Aku sangat merindukanmu Mas, semua yang ada pada mu aku sangat merindukannya. Bibirmu," Hasya mengecup bibir Zehan cepat, "tanganmu," iapun mencium punggung tangan suaminya, "Aku juga sangat merindukan belaian dan kehangatanmu Mas" goda Hasya tersenyum manja pada suaminya.


Zehan menciumi kening Hasya, lalu ke kelopak matanya, kedua pipinya. Lalu menjelajahi setiap senti leher Hasya dengan hidung mancungnya, menghirup semerbak wangi segar parfume Hasya.


Hasya memejamkan matanya, membiarkan dirinya terbang terbuai oleh sentuhan Zehan. Suasana tenang, sayup sayup terdengar alunan musik instrumental yang memang setiap malam Hasya biasa putar makin menghanyutkan gelora mereka yang semakin menggebu. Gerakan mereka yang demikian bergairah makin menenggelamkan mereka dalam setiap pagutan bibir mereka.


"Aku benar-benar mencintai mu Sya.." kata Zehan di antara desah nafas yang terengah-engah. " Dan.. selamanya.. kau akan terus menjadi milik ku,, selamanya.."


Hasya menjawabnya dengan menciun Zehan lebih kuat, mencengkram bahu suaminya, seperti ingin menyatukan dirinya ke dalam diri Zehan. Menyatukan segala hal yang ada pada dirinya ke dalam diri Zehan hingga tidak bersisa.


"Aku juga mencintaimu mas, sangat amat mencintaimu.." bisik Hasya tersengal-sengal. "Aku milik mu Mas, dan.. Aaahhkk.... selamanya se..per..ti itu..."


----------------


"Sakit maass.. " pekik Hasya ketika rasa sakit yang menjalar ketika kontraksi kembali ia rasakan.


"Iya sayang, tahan sebentar lagi ya" pinta Zehan frustasi.


"Rasanya aku seperti mau mati mas,,.. rasa.. sakitnya berbeda dengan .. saat.. aku.. uukh.. mau melahirkan Zesya.. uhk.."racau Hasya makin membuat khawatir juga terselip rasa bersalah, ia jadi membayangkan bagaimana kesulitannya Hasya melahirkan Zesya seorang diri.


"Dokter apa tidak sebaiknya di ceasar saja" kata Zehan tiba-tiba.


"Ngga mau mas !! Aku pengen.. lahiran.. normal !!" sahut Hasya.

__ADS_1


"Tapi sayang, aku ngga tega lihatnya.." Zehan mulai menangis namun Hasya seolah tidak peduli dengan kata-kata iba suaminya.


"In Sya Allah ibu kuat pak. Fase pembukaannya sudah pembukaan 8," kata Dokter mencoba menenangkan Zehan. Sementara itu Hasya berusaha untuk mengatur nafasnya, agar ia memiliki cukup tenaga saat mengejan nanti. Sesekali ia mengerutkan dahinya saat kontraksi kembali terjadi.


Dokter sudah berdiri diantara kaki Hasya yang menggantung pada penopang khusus untuk melahirkan.


"Iya ibu siap -siap ya.. Hitungan ketiga tarik nafas dalam dalam.. lalu dorong" dokter mulai memberi aba-aba pada Hasya ketika seluruh pembukaannya sudah sempurna.


"Huh .. huh.. eeeekkh.... hosh hosh.. eeekhhhh" tangan Hasya menggenggam erat lengan suaminya saat ia mencoba mengikuti arahan dari dokter. Ada rasa perih saat kuku-kuku Hasya menancap pada lengan Zehan.


"Sesakit itu kah sayang??" batin Zehan. Air matanya terus mengalir, dzikir dan doa pun terus ia lantunkan.


Jam 4 subuh lewat 15 menit.


"OOWEEE.. OOWEEE..OWEE.." suara keras dari tangis bayi merekapun makin menderaskan air mata Zehan, ia langsung bersujud syukur, sesaat bayi setelah bayi mereka lahir. Dokter segera meletakan bayi mereka diatas perut Hasya, lantas beberapa saat kemudian Hasya seperti mengeluarkan yang lainnya dari dalam perutnya, yang ternyata itu adalah ari-arinya juga segera keluar mengikuti sang bayi. Dokterpun segera memotong tali ari-arinya dan membersihkan sekena sebelum membungkusnya dengan kain bedong yang lembut.


"Kamu hebat sayang.. hikss. kamu memang wanita kuat.. hiiks.." ucap Zehan seraya mencium kening istrinya, lalu menyeka keringat yang membanjiri kening Hasya.


"Silahkan bayinya diadzani dulu pak" Zehanpun segera meraih bayi yang masih merah itu.


"Ooweee.. Ooweee.." Zehan terus menatapnya untuk beberapa saat, lantas iapun segera menghadap ke arah kiblat sesuai arahan suster, iapun mengumandangkan adzan dengan lembut pada telinga bagian kanan dan iqomah akan dikumandangkan pada telinga bagian kiri bayi mereka. Alhamdulillahnya ia tidak melupakan saat pengucapan 'hayya alas salaah' ia harus mengucapkan di telinga kanan pada saat adzan maupun iqomah. Sementara ucapan 'hayya alal falaah' harus diucapkan di telinga kiri pada saat adzan dan iqomah. Begitu selesai ia segera menyerahkan bayi itu pada Hasya yang sudah duduk menyandar bersiap untuk memberikan isapan pertama pada bayi mereka agar ia lebih tenang setelah disusukan meskipun ia tahu jika kolostrum atau cairan yang pertama dikeluarkan oleh kelenjar payudara mungkin baru akan keluar di hari esok atau hari berikutnya hingha hari ke 3-5 setelah persalinan. Namun ia tetap menyusukannya agar menstimulasi supaya kolostrum ASI setelah persalinan cepat keluar, Kolostrum berwarna kuning keemasan itu sangat berharga karena tingginya komposisi protein dan sel-sel hidup yang sangat bermanfaat untuk bayi mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2