The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 121


__ADS_3

"Sayang bagaimana menurutmu soal Tania?" tanya Hasya pada Zehan suatu malam.


"Anaknya baik, sopan, pintar juga" jawab Zehan sambil mengetik terus melanjutkan kegiatannya memeriks beberapa file dilaptopnya.


"Misal dia jadi mantu kita gimana pah?"


"Kalo papah sih oke aja, dengan catatan anak-anak itu memang saling suka secara alami, soal jodoh anak-anak jangan kita ikut campur."  kata Zehan mencoba mengingatkan istrinya.


"Ya mama juga maunya gitu kok, makanya mama nyuruh Irma buat tinggal di sini selama rumahnya di renov" Zehan hanya tertawa sedikit mendengar istrinya berkelit, padahal niat hatinya sudah sangat ketahuan.


"Papa ngga larang mama buat deketin mereka, ya sok aja. Cuma inget kita aja menikah atas dasar cinta yang tulus,"


"Tapikan secara tidak langsung kita bisa nikah itu karena niat awalnya Zia pengen balas dengan sama Alexa makanya dia niat banget deketin kita berdua."


"Ya memang betul, tapi kan situasinya kita dan anak-anak itu berbeda mah"


"Sama aja pah, liatin aja. Mama bakal bikin Zesya jatuh cinta sama Tania." ucap Hasya berapi-api. Zehan hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat kebucinan istrinya pada anak gadis temannya itu.


Sementara itu Tania baru saja dari dapur saat Zesya baru saja pulang sehabis main dengan teman-temannya. Hampir saja mereka bertabrakan saat tanpa sengaja mereka bertemu akan naik tangga menuju kamar mereka masing-masing. Mereka saling beradu tatap beberapa saat sampai akhiirnya mereka saling menghindar karena canggung. Kemudian Taniapun naik tangga duluan diikuti oleh Zesya dibelakangnya. Ketika saat akan membuka pintu kamarnya tiba-tiba Zesya menarik tangan Tania.


"Tania tunggu!!" cegah Zesya, refleks gadis itupun menoleh lalu melihat ke arah tangannya yang sedang dipedangi Zesya.


"Ya? Kenapa Zes?" tanya Tania polos namun wajahnya jelas menunjukan semu merah karena tangannya tengah digenggam oleh Zesya.


"Hmm.. hari ming.."

__ADS_1


"Kak Tania !" panggil Deliza berteriak memanggil Tania.


"Bocah kampret !!" gerutu Zesya memekik sendiri saat teriakan Deliza memotong sekaligus membuyarkan suasana mereka. Tania yang terkejut pun cepat-cepat mengepiskan tangan Zesya yang masih memegangi pergelangan tangannya.


"Hari minggu ini ada acara ngga?" tanya Deliza bersemangat seperti biasanya.


"Ng... Ngga sih, kenapa emang?" Tania beusaha bersikap senetral mungkin dihadapan Deliza, bisa tengsin abis kali ketahuan dia lagi nahan gugupnya.


"Kalo gitu, temenin aku main ke taman ria ya, mumpung Ayang aku lagi di rumah."


"Lah, nanti kakak ganggu acara kalian dong?"


"Ngga lah, justru kalo kakak mau ikut, A Zesya ngga bakal jadi obat nyamuk kayak biasanya. Bete tau kak, kalo diawasin sama makhluk jomblo yang satu ini" Tania menutupi bibirnya yang terkekeh saat mendengar penuturan Deliza.


"Kalo Zesyanya ngga keberatan kakak ikut, boleh deh." jawab Tania megulum senyum seraya mencuri-curi pandang pada Zesya yang sedang memerhatikan wajahnya dengan ekspresi datar.


"Lagian masih bau kencur pacaran mulu kerjaannya" ucap Zesya melirik dingin pada sang adik.


"Bau kencur ? Bukannya Aa ya yang masih bau kencur ?" Deliza membalas tatapan Zesya. Zesya menghempas nafas lalu masuk ke kamarnya dengan perasaan jengkel. Lagi pula niatnya untuk mengajak Tania ke taman ria sudah tersampaikan meski sebenarnya ia ingin mengajak sendiri gadis itu.


"Dih masuk kamar,, dasar bocah. "ejek Deliza saat melihat kakaknya melengos begitu saja masuk ke kamarnya. Deliza pun kembali ke pada Tania yang sedang memperhatikan keributan kecil kakak beradik itu.


"Besok kita berangkat jam sembilan ya kak, biar ngga terlalu macet." ucap Deliza ramah memastikan waktu kebrangkatan mereka di hari minggu nanti.


"Ok,, Oiya Del, memang tiap kamu jalan keluar sama Kak Joon Woon, Zesya udah pasti ikut gitu?" tanya Tania sedikit penasaran.

__ADS_1


"Ngga selalu sih, kalo dulu-dulu mah ngga, sekarang-sekarang aja, papa agak protektif, katanya lebih baik mencegah dari pada nanti nyesel. Padahal kalo aku jalan sama kak Joon juga paling nonton, jalan ke caffe, atau muncak ke gunung kalo Kak Joon lagi ngga ada tugas dari papa, itu juga masih ditemenin beberapa pengawal lain. Au ah, aku sih ngga masalah, yang penting bisa jalan ama ayang kalo dia lagi ngga sibuk."


"Kamu pacaran sama Kak Joon Woon udah lama?"


"Kalo deket mah ya deket dari aku kecil, cuma mungkin kalo dulu mah kak Joon Woon kayak ngemong aku. Tapi kan ada peribasaha Jawa yang bilang "tresno jalaran soko kulino"seiring waktu cinta tumbuh karena terbiasa. Nah kayak gitulah aku dan Kak Joon Woon akhirnya mengakui perasaan msing-masing, meski secara teknis aku sih yang mepetin Kak Joon Woon terus. ehehehhe" Deliza langsung menutupi wajahnya yang malu saat mengingat kelakuan dia saat dulu terhadap Joon Woon.


"Terus tante dan Om ngga marah gitu? Ya... soalnya biasaanya kan ada..semacam keterbatasan ketika anak boss dekat dengan bawahan orang tuanya" kata Tania hati-hati. Deliza menggeleng-geleng dengan mata puppynya


"Ngga lah, kan Om Gibran dulu itu pengawal yang merangkap asisten pribadi papa, mungkin karena situasi yang kayak aku terus jatuh cinta sama tante Zia, mereka nikah deh."


"Heh ?! Emang iya?" Tania sedikit terkejut saat mengetahui Gibran dulunya adalah pengawal sekaligus tangan kanan Zehan.


"Nanti-nanti deh aku cerita soal mereka. Intinya di keluarga papa itu ngga ada mandang tingkat status. Mamaku aja dulunya kan mantan TKW, tapi karena itulah mama papa bisa nikah.


"HEEEHH ??!!" Tania lebih tercengang lagi ketika mendengar Hasya dulunya seorang mantan TKW. Bagaimana tidak, penampilan Hasya dan prilaku wanita itu menggambarkan wanita yang elegant, meski memang ia juga terheran keluarga konglomerat tinggal di cluster perumahan yang dikelilingi tetangga, padahal bukan rahasia umum jika para konglomerat itu tinggal perumahan mewah di kawasan elit yang sangat private.


"Lah emang Tante Irma ngga pernah cerita ya?"


"Mungkin ngga pernah cerita, tapi belum sempet, kamu kan tau sendiri kalo mamanya kakak sibuk banget belakangan ini, apa-apa dikerjain sendiri. Padahal kakak juga tau Tante dan Om mau bantuin, tapi kakak paham kok kenapa mama banyak nolak bantuan dari om dan tante. Kita numpang di sini aja sebenarnya udah sgen banget." ucap Tania mencoba memahami sikap mamanya.


"Hmm.. iya sih,," Deliza jadi merasa tidak enak hati.


"Gimana kalo malam ini kamu tidur di kamar kakak, kakak penasaran banget sama kisahnya mama papa kamu" ajak Tania dengan pancaran keinginin tahuan yang besar.


" Penasaran apa penasaran bangeeett?" goda Deliza sembari mencondongkan wajahnya

__ADS_1


"Penasaran bangeeeeettttt" sahut Tania, merekapun tergelak bersama. lantas bersama-sama masuk ke kamar Tania melanjutkan gibah mereka di sana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2