The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 8


__ADS_3

Selesai acara makan malam Hanna di antar kembali oleh Zia hingga tempat tinggalnya, namun dengan mobil Gibran, sedang mobil Zia sudah di bawa pulang oleh supir Gibran.


"Ya udah kita pulang ya, maaf kita ngga turun dulu udah malem banget" ujar Zia sembari menurunkan kaca mobilnya setelah Hanna berdiri di depan gedung apartementnya.


"Ok, tapi lain kali wajib mampir ya"


"Siap, lain kali pasti kita mampir" Hanna pun mengangguk dengan mengulas senyum lebar seraya sedikit melambai tangan saat mobil Zia mulai berlalu meninggalkan dirinya sendiri.


"Sepertinya aku harus lebih kerja keras lagi, Zia aja yang memiliki suami sekaya itu masih bekerja apalagu aku yang memang bukan siapa-siapa" guman Hanna memotivasi dirinya sendiri.


************


Hasya diantar oleh Zia menuju kamar kakaknya, Zehan. Sebuah ruangan cukup besar. Hasya mengedarkan pandangannya menyusuri tiap inci kamar tersebut, dahinya mengerut ketika melihat sebuah tempat tidur sepertinya baru saja di pasang di sana berukuran singlebed dengan posisi agak agak menyerong berlawanan dengan posisi tempat tidur Zehan.


Ia memperhatikan Zehan yang tengah tertidur pulas, yang kata bibi Lynn Zehan memang akan tertidur pulas setelah meminum obatnya. Meski agak risih karena harus satu ruangan dengan Zehan tapi mau tidak mau Hasya harus bersedia tidur di sana. Alasannya Zia menempatkan Hasya berada dalam satu ruangan dengan Zehan, supaya Hasya bisa mengawasinya 24 jam. karena sebelumnya Zia menempatkan 2 orang perawat yang akan berganntian menjaga Zehan, namun tidak ada satupun yang mampu bertahan dengan amukan Zehan ketika sedang kumat.


Hasya meraih kopernya lalu mengeluarkan kaos dan celana tidur panjang, dua buah handuk, peralatan mandi serta skincarenya. Ia lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya setelah setelai dengan rambut yang masih di gulung rambut ia menuju meja rias yang juga sepertinya masih baru juga. "Hahhh dasar orang kaya, bahkan dalam beberapa jam mereka bisa menyediakan hal semacam ini, tapi kalau dipikir-pikir sepertinya ruangan ini memang sengaja diubah agar bisa ditempati oleh kami berdua" gumam Hasya sembari memperhatikan kembali dekorasi dadakan yang dibuat oleh Zia beberapa jam yang lalu. Itulah alasannya Zia mengajak mereka makan malam di luar sebelum mereka ke rumah tujuannya hanya mengulur waktu agar bisa menyediakan beberapa keperluan Hasya. Padahal bisa saja Hasya disatukan denga PLRT yang lainnya. Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam lebih sedikit, Hasya kemudian membaringkan dirinya di atas tempat tidur baru itu, ia memutuskan untuk berhenti memikirkan segala hal yang terjadi hari ini dan segera tidur.


Keesokan harinya, Hasya menggeliat, menguap khas orang baru bangun tidur, namun terhenti ketika ia merasakan seseorang sepertinya tengah memperhatikannya. Perlahan ia membuka satu matanya mengintip sekitarnya.


"oohh **** !!" ia terkejut begitu mendapati seorang pria di atas tempat tidurnya tengah menatap dirinya sembari bersedekap menyandar pada headboard, wajahnya yang nampak kaku dan dingin menunjukan ketidaksukaannya atas keberadaan Hasya dikamarnya.


"Tuan sudah bangun?" tanya Hasya tertunduk sembari duduk bersimpuh di atas tempat tidurnya.

__ADS_1


"ZIAA !!! " teriak pria itu, suaranya terdengar cukup keras hingga membuat Hasya sedikit beringsut ngeri. Hanya menoleh ke arah pintu kamar. Dari balik pintu datang seorang wanita paruh baya yang semalam Hasya temui, beliau adalah bibi Lynn yang sepertinya tengah bersiap pergi ke suatu tempat.


"Mama, siapa dia?? Dan di mana Zia? Kenapa malah mama yang masuk ke sini." ujar pria itu masih dengan wajah kesalnya.


"Zia dan Gibran hari ini pergi ke Taiwan untuk beberapa hari," jawab bibi Lynn. "What??" pekik Hasya mengernyih seraya berusaha menelan salivanya.


"Lalu siapa dia?" tanya pria itu ketus sembari melempar tatapannya ke arah Hasya yang sempat melihat ke arah mereka, dengan perasaan takut dan terkejut ia kembali menundukan wajahnya ke arah kedua lututnya.


"Mulai hari ini dia yang akan merawatmu, 24 jam, kecuali saat dia ambil libur mungkin."terang bibi Lynn.


"Aku tidak butuh Ma!" bibi Lynn mengacuh Zehan yang masih mencak-mencak karena kehadiran Hasya pagi itu.


"Gadis baik, kamu pasti terkejut" sapa bibi Lynn sembari duduk di samping Hasya.


"Kamu pergilah ke toilet duluan, cuci muka mu dulu sebelum nanti kamu akan membantu Zehan membersihkan diri, lalu menyiapkan Zehan untuk sarapan." ucap bibi Lynn lagi sembari mengusap juga menoleh menatap Hasya dengan ramah. Sepintas Hasya seperti bisa merasakan sentuhan tulus seorang ibu yang beberapa tahun ini ia rindukan. Hasya mengangguk lantas segera beranjak dari tempat tidurnya sembari mengambil peralatan sanitasinya.


"Tunggu, jangan gunakan toilet ku, aku tidak suka" hardik Zehan. Hasya pun mengepalkan tangannya yang akan meraih handle pintu toilet. Ia pun menuju pintu keluar dan segera mencari toilet. Di luar kamar ternyata sudah ada pembantu lain menyambut dirinya, sedikit lebih tua darinya, dengan sopan perempuan itu mengarahkannya ke toilet lain di rumah besar itu.


"Ma, aku tidak butuh ma, aku bisa mengerjakan semuanya sendiri" Zehan kembali memprotes keberadaan Hasya yang tiba-tiba berada di kamarnya.


"Ngga bisa Sayang, dia harus di sini, dia akan membantu segala keperluanmu selama Zia dan Gibrab pergi."


"Kan ada Mama," rengek Zehan.

__ADS_1


"Tidak bisa sayang, Mama harus pulang, kasian Papamu, di Indonesia dia sekarang sedang sendirian, kalau tiba-tiba papa mu jantungnya kumat gimana?" Zehan mendengus kasar memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Ze, " Bibi Lynn mendekati Zehan sembari mengangkat wajah putra angkatnya itu dengan lembut.


"Mama tau kamu sangat terluka karena Alexa, tapi bukan berarti kamu harus terus terpuruk sayang"


"Tapi aku ngga butuh Ma!!!" bentak Zehan bersikukuh. Manik mata bibi Lynn berkaca-kaca ketika mendapati reaksi Zehan yang berlebihan bahkan berani membentak dirinya, Bibi Lynn pun beranjak menjauhi Zehan yang masih ngambek.


"Lihat Ze, kamu bahkan mulai berani membentak mama, ya mama tau mama bukanlah mama kandung mu, tapi apa harus kamu membentak mama seperti itu Ze" bibi Lynn mulai berakting seolah ia terluka karena dibentak Zehan barusan. Perlahan wajah kesal dan kaku Zehan mulai memudar lalu berganti dengan raut wajah bersalah pada bibi Lynn, perempuan yang sudah merawatnya selama hamoir 22tahun.


"Ma.. bukan..mak.."


"Sudahlah Ze, mama mengerti kamu sudah dewasa, artinya kamu sudah tidak butuh mama lagi, lebih baik mama pulang ke Indonesia dan merawat papa kamu" potong bibi Lynn sembari mengusap air matanya dan sesekali terdengar mengisak. Zehanpun menjadi merasa bersalah karena sudah membuat Bibi Lynn menangis.


"Ma..buk..kan.."


Sudahlah Ze, mama tau kamu ini sangat mandiri. karena kamu sudah mandiri, maka hari ini mama akan pulang. Mama kecewa sama kamu Ze" lagi bibi Lynn memotong kalimat Zehan sembari setengah berlari menuju pintu.


"BRUUKK !!" terdengar bunyi keras menghantam lantai, tanpa menoleh Bibi Lynn bisa melihat Zehan yang jatuh dari tempat tidurnya saat akan mengejar dirinya. Namun dengan terpaksa bibi Lynn tetap meninggalkan Zehan meski Zehan terus memanggil dirinya sembari meratap seperti anak balita yang ditinggal ibu pergi ke pasar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1



__ADS_2