
Bau kemanyan masih memenuhi ruang tengah rumah keluarga Zehan. Semua orang duduk tenang menyimak dengan apa yang diceritakan oleh Adi perihal Deliza, termasuk pak dokter yang jadi tidak sengaja masuk dalam kekacauan hari ini. Ia menceritakan segala yang ia tahu mengenai Deliza termasuk bagaimana roh Deliza bisa terjebak di dalam tubuh anak itu.
"Jadi kesimpulannya Deliza adalah pewaris dari keluarga Wirawan, dan orang yang menyuruhmu melakukan santet pantet pada Deliza beberapa tahun yang lalu adalah pamannya yang sekarang menjadi Dirut PT Eaglefood ? " Zehan menegaskan sekali lagi tentang pernyataan Adi. Adi mengangguk sebagai jawaban.
"Jika tujuanmu memang ingin membawa Deliza kembali lalu kenapa kamu juga mengincar bayi dalam kandungan Hasya?" kata Nayuwan datar, sambil melipat tangan dan menyilangkan kaki kanannya di atas paha kirinya.
"Bukan nyonya tau pasti apa alasanya." jawab pria itu singkat.
"Apa maksudnya kamu ingin mengambil bayi yang masih belum lahir, hah??!!!!" kali ini Zehan sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.
"Anak itu memiliki wangi yang kuat, jika saya bisa memiliki roh anak di dalam perut wanita itu, saya...saya.." Adi tidak berani melanjutkan kata-katanya ketika sepintas melihat gerak alis dan senyum tipis yang menyeringai di bibir Nayuwan.
"Heh.. mendengar kalimat terakhir mu itu aku sih ngga ada masalah" kata Nayuwan mengejek.
"Tapi... Pria yang sedang duduk di samping wanita hamil itu sepertinya tidak bisa mengampuni mu" tukas Nayuwan tersenyum lebar seperti iblis. Suasana yang sudah gelap makin bertambah suram dengan raut dingin sedingin es, semua orang kecuali Nayuwan terlihat sangat berhati-hati, bahkan mereka berusaha setenang mungkin hanya untuk bernafas.
"Bu Yuwan, aku tau orang seperti dia bukan lah orang bisa saya hukum tanpa meninggalkan resiko, jadi apa kau punya solusi untuk menyelesaikannya hingga tuntas ke akarnya?" kata Zehan.
"Tentu saja, aku bisa" sekali lagi perempuan itu menyeringai seperti iblis.
__ADS_1
"Tapi aku harus bertanya dulu pada keponakanku apa yang dia inginkan saat ini, sebelum aku memberikan orang-orang itu hukuman yang setimpal. Karena bisa bagaimanapun yang paling terluka adalah keponakanku, benarkan Deliza?" kata Nayuwan seraya membelai dagu Deliza yang tengah tertunduk. Tubuh Deliza yang sudah gemetar sejak mendengar semua kenyataan tentang ingatan dirinya di masa lalu, bagaimana orang-orang itu mencelekai dirinya hingga ia terperangkap dalam tubuh gadis kecil ini.
"Apa ua dan papa akan menuruti semua yang aku ingin kan?" kata Deliza dengan wajah tertunduh menyembunyikan kepahitan wajahnya.
"Tentu saja, apapun termasuk hal yang di luar nalar logika manusia" jawab Nayuwan
"Kalo begitu, aku ingin tetap tumbuh menjadi Deliza yang mereka kenal saat ini, aku akan mengabdikan hidupku pada keluarga Akhilendra sebagai putri mereka. Sebagai gantinya tolong Ua lindungi seluruh peninggalan dari memdiang orang tuaku dari mereka, dan bantu aku merebut kembali seluruh kekayaan Wirawan ketika aku sudah kalian anggap mampu bijaksana untuk memilikinya" pinta Deliza mengepalkan tangannya hingga tangannya nampak memutih.
"Itu mudah, lalu apa yang ingin kamu lakukan dengan orang ini?"
"Untuknya, hilangkan seluruh ingatannya mengenai diriku"
"hanya itu??"
"Tuan Zehan sudah mendengarnya kan? Jadi sudah jelas pembagian tugasnya kan?" Zehan mengangguk memahami maksud Nayuwan. Nayuwan akan membereskan hingga tuntas soal Adi, dan Zehan akan menangani dan mengawasi keluarga Wirawan sesuai dengan permintaan Deliza.
...****************...
Beberapa hari berlalu kehidupan keluarga kecil Zehan sudah kembali seperti normal seperti biasanya. Deliza juga sudah pulih dengan cepat, ia sudah bisa menjahili kakaknya lagi. Sedang keluarga Sultan mereke memilih untuk meninggal pulau Jawa setelah mengetahui semua kebenarannya dari Zehan dan Nayuwan. Mereka menerima tawaran Nayuwan untuk tinggal di Sulawesi.
__ADS_1
Hasya, paman Yohan, bibi Lyn, dan anak-anak baru saja selesai makan malam. Ya mimggu ini giliran Paman Yohan dan bibi Lyn untuk menjaga Hasya dan anak-anak selama Zehan bekerja di Jakarta. Mau bagaimana lagi Hasya bersikeras sebelum acara tujuh bulanan ia tetap tidak mau tinggal di mantion dulu dengan alasan suasana di kampung itu lebih tenang, di samping itu polusi udara juga tidak terlalu parah seperti di Jakarta. Mau membantah tapi apa yang menjadi alasan Hasya cukup masuk akal.
Namun meski begitu hari-hari mereka semakin indah, setelah kejadian tempo hari. Meski sikap Zehan menjadi lebih protektif tapi Hasya menyukainya. Kehamilannya yang sekarang benar-benar terasa lebih ringan dibandimg ketika hamil Zesya dulu. Ah Zesya sikap anak itu juga sekarang lebih ceria sejak kehadiran Deliza, ia yang sekarang lebih manuasiawi sebagai anak seumurannya, meski isi kepalanya tetap saja beberapa tingkat di atas anak sebayanya. Dan Deliza ia harus sedikit berusaha untuk lebih menormalkan sikapnya, agar terlihat lebih alami seperti anak yang masih duduk di bangku sekolah kelas tiga. Namun sikapnya akan berubah sedikit lebih dewasa pada Joon Woon, malah Deliza sudah terang-terangan menunjukan perasaannya pada pemuda itu, sedang Joon Woon setelah ia tahu kebenaran mengenai jati diri Deliza, ia harus berusaha keras menahan diri hingga usia Deliza dewasa. Karena ia tidak mau terkesan seperti seorang fedofil, orang yang memiliki kelainan mental karena menyukai anak kecil.
"Lagi belajar apa A?" tanya bibi Lyn pada Zesya
"Cuma lagi lihat-lihat neraca pertumbuhan saham papa, Oma" kata Zehan sambil melirik bibi Lyn dan Paman Yohan yang duduk di sofa ruang keluarga.
"Wah hebat, cucu Opa masih kecil tapi mainannya bursa saham" kekeh Paman Yohan.
"Biar bagaimanapun sebagai anak tertua, dan sebagai anak laki-lakinya papa, Zesya memang harus pandai dalam hal ini kan opa? Kalo tidak perusahaan papa busa hancur kalo Zesya tidak bis mengelolanya dengan baik. Zesya tidak khawatir tentang keluarga kita Opa, karena Zesya yakin harta kekayaan papa itu masih bisa cukup untuk beberapa generasi ke depannya. Tapi nasib orang-orang dibalik perusahaan bisa berdiri kokoh hingga hari ini mereka mau kerja di mana kalo perusahaan papa bangkrut?" Paman Yohan benar-benar dibuat terperangah mendengar penuturan pemikran Zesya yang sudah semendalam itu mengenai perusahaan papanya.
"Sepertinya Zehan akan bisa pensiun dini kalo Zesya sudah sedewasa ini mengenai perusahaan" kata Paman Yohan seraya menepuk-nepuk bahu Zesya dengan bangga. Bibi Lyn haya melirik sekilas sambil tersenyum kemudian melanjutkan kembali membuka-buka halaman majalah fashion yang dibelinya pagi tadi di mini market.
"Ngga ah Opa, demi menjag mental healty Zesya, Zesyamau menikmati masa kecil dan masa remaja Zesya dengan normal seperti anak-anak seumuran Zesya."
"Cih anak ini" gumam paman Yohan.
"Iya deh si paling anak kecil" ledek paman Yohan sambil menguyel-nguyel pipi berlemak milik Zesya.
__ADS_1
"Iish Opa mah" Zesya ngambek, bbirnya menyerucut lima senti
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...