
Galuh baru saja kembali ke meja kasir setelah selesai menyelesaikan tugasnya memeriksa dan tiap barang yang berjejer rapi di rak minimarket tempat ia bekerja.
"Selama..t da..tang" kalimatnya tercekat begitu melihat ketampanan sosok pria yang baru saja masuk ke dalam minimarket tersenyum sekilas lalu segera menuju rak yang berjejer.
"Tissue, kecap, .. " tengah sibuk mencari barang, Galuh dengan ramah mendekati pria itu.
"Ada yang bisa kami bantu kak?" ucap Galuh ramah disertai senyum paling manis.
"Ah kebetulan,, saya mencari mentega, saus tiram, gula pasir, sirup melon" jawab pria itu sambil membalas senyuman Galuh. Aiih deretan gigi putih yang tersusun rapi untuk sepersekian detik membuat Galuh membeku terpesona dengan senyuman yang menyilaukan itu.
"mbak? Teh?" Zehan memanggil manggil Galuh yang terjebak dalam halunya
"Eh iya kak, tunggu sebentar sebentar. " sahut Galuh bersemangat langsung mencarikan barang-barang yang diminta Zehan. Reifan keluar dari pintu gudang setalah merapikan barang-barang stokan, netranya langsung tertuju memperhatikan Galuh yang sedang sibuk sendiri di rak belanjaan lalu segera menuju meja kasir.
Beberapa menit kemudian Galuh kembali kepada Zehan dan langsung memasukan semua yang dibutuhkan Zehan ke dalam keranjangnya.
"Ada yang lain lagi kak?"
"Kayaknya ngga deh, makasih ya" ujar Zehan berterimakasih sambil tersenyum, ia punsegera berlalu menuju ke kasir untuk membayar semua belanjaannya. Tidak membuang kesempatan secepat kilat Galuh segera menyambar mesin kasir, dengan sigap melayani Zehan yang berbelanja.
"Buseet ni cewek mulai caper !" kata Reifan kaget karena Galuh dengan cepat mengusirnya dari meja kasir.
"Total semuanya jadi tiga ratus empat puluh tiga ribu dua ratus rupiah kak," Kemudian Zehan menyerahkan empat lembar uang seratus ribuan pada Galuh.
"Mau isi pulsanya sekalian pak?"
"Ngga usah mbak " jawab Zehan lagi-lagi dengan senyum yang melelehkan hati Galuh yang sekeras baja.
"Gagal niyee" bisik Reifan meledek Galuh.
"Ini kak struk dan uang kembaliannya" Zehan hanya mengangguk dengan tanpa menghilangkan senyumannya itu.
__ADS_1
"Brukk !!" tiba-tiba Galuh terduduk lemas dibelakang meja kasir.
"Luh, ku naon maneh?"( Luh, kamu kenapa?) Reifan panik memburu Galuh yang terduduk lemas.
"Ganteng banget, nama wangi parfumenya ngga ilang-ilang ... kiiiiinggg(mirip suara kucing)"Reifan memutar bola mata jengah setelah mendengar penuturan Galuh.
" Gawe gawe sateh !! Hudang tong sare wayah kieu !!" (Kerja kerja kamu tuh!! Bangun jaangan tidur saat ini) omel Reifan.
"Tapi kan emang bener ganteng" sewot Galuh
"Heueuh lah " jawab Reifan singkat mengacuhkan Galuh yang cemberut karena diacuhkan olehnya.
...****************...
"Yeeeyy ice kriim" seru Zesya saat membuka kantong belanjaan papanya.
"Bagi Judisnya A " seru Hasya yang sedang sibuk membawa ayam dan ikan yang sudah ia bumbui halaman belakang rumah di bantu bi Rani. Gibran dan Zia sibuk juga sudah siap dengan tunggu arang kelapa yang sudah membara, sedang paman dan bibi duduk memperhatikan semua anggota keluarga bersama besan mereka. Papa dan mama Hasya.
"Mas tolong kecapnya kasih mentega sama saus tiram"
"pake gula garam lagi ngga?"
" Ngga usah mas, ayam dan ikannya udah aku bumbuin tadi."
"Ok" Zehan kemudian langsung meracik bahan olesan sesuai permintaan Hasya.
"A, kata mama kalo Judis ranking lagi mau kasih ade buat aku lho" pamer Judis sambil menjilati es krim coklatnya. Raut wajah Zesya seketika murung, karena ia tahu pasti tentang hubungan papa dan mamanya yang belum benar-benar berbaikan. Ia mendelik tajam ke arah pasutri yang membakar ikan dan ayam, sesaat kemudian ia sudut bibirnya tersungging tipis seolah sudah memiliki rencana untuk pasutri tersebut. " Pokoknya kalo Judis punya ade dari Onty dan uncle, Zesya juga harus punya adek dari papa dan mama, harus !" ucap Zesya dalam hati.
Hari itu semua orang bersenang-senang tidak ada yang menangis lagi seperti beberapa hari yang lalu saat orangtua Hasya mendatangi Hasya untuk pertama kalinya setelah sekian tahun.
Flashback
__ADS_1
Siang itu Zesya sedang membantu mamanya di toko, sesekali ia menatap ke arah pintu toko berharap mendapat kejutan seperti beberapa minggu lalu. Harus ia akui, ia sedikit merasa kesepian setelah Judis pulang ke Jakarta. Selesai merapikan beberapa pot tanaman hias ia kembali duduk di tempat nyamannya, sebuah sudut dekat jendela yang seolah menjadi bingkai pemandangan di luar sana. Tempat untuk baginya menghabiskan waktu dengan melukis dan membaca atau dengan kegiatan lainnya. Sebenarnya Zesya memiliki banyak teman seusianya, namun karena perangainya yang sedikit lebih pendiam ia jadi jarang bermain bersama teman sebayanya jika setelah pulang sekolah bukan karena sombong tapi memang ia lebih suka membantu mamanya di toko jika senggang ya melukis atau membaca. Hasya memang memiliki segalanya tapi Hasya tidak memberikan akses bebas untuk putranya bermain game di ponsel ataupun dilaptop. Baginya interaksi langsung bisa membentuk dasar kepekaan sosial Zesya maknya sering pula Hasya menyuruh Zesya untuk mengajak teman-teman Zesya untuk bermain bersamanya di rumah atau di sekitar toko, meski sering juga Zesya menolaknya dengan alasan capek.
Ditengah kebosanannya itu tiba-tiba bell pintu toko berbunyi. "Kelincriing" Zesya menoleh ke arah sumber suara. Seperti biasa Diana dengan sigap menyambut ramah para pengunjung toko dengan senyuman manisnya.
"Wilujeng sumping selamat datang di toko kami pak bu" sambut Diana ceria dan hangat. Wanita paruh baya itu mengangguk sambil tersenyum tanpa menjawab salam gadis tersenyum netranya terlalu sibuk mencari sesuatu di toko tersebut. Melihat hal janggal tersebut Zesya seakan Dejavu dengan kejadian ketika pertama kali bertemu dengan papanya beberapa minggu lalu. Zesya lantas turun dari kursinya kemudian mendeketi kedua orang tua tersebut. Namun sebelum mendekat "Prang !!" suara keras pot keramik yang bertabrakan dengan lantai karemik cukup mengejutkan semua orang yang ternyata berasal dari pot yang dibawa oleh Hasya dari tempat pembibitan.
"Mama papa " pekik Hasya menutup mulutnya, matanya membulat sempurna, namun mulai terasa perih saat manik matanya terendam airmatanya.
"Hasya.." Mama Hasya segera menoleh ke arah Hasya yang masih mematung seolah masih tidak percaya bahwa mama papanya memang sedang benar-benar berdiri di depannya. Tangis Hasya pecah sesaat setelah ia berhambur memeluk kedua orang tuanya.
"Mah, pah maafin teteh Hikss. teteh minta maaf mah pah.. hikkss" air matanya mengalir deras saat ia memeluk kedua orang tuanya itu.
"Teteh meni teungteuingeun ka mama teh..! hiiiiiks" (Teteh sangat tega ke mamah teh!!) cecar perempua paruh baya itu saat menangkap pelukan Hasya.
"Enya mah,, teteh salah, teteh gagabah maen kabur wae,, teteh teu mikir panjang kumaha kahareupna,, hampura teteh,, lain maksud teteh ngaapilainkeun mama jeung papa, tapi lantaran situasi na mah jeung teteh teu wani nyarita ka mama jeung ka bapa sabab era,, hampura teteh mah pah...hiiikksss hampura teteh"( Iya mah, teteh salah, teteh gegabah main kabur aja, teteh ngga mikir panjang gimana kedepannya, maafin teteh, bukan maksud teteh mengacuhkan mama dan papa tapi lantaran situasinya mah, teteh juga ngga berani cerita ke mama dan papa karena malu,, maafin teteh mah pah, hiiikss maafin teteh) tangis Hasya makin membuncah saat ia makin membenamkan tubuh dalam pelukan kedua orang tuanya. Pun begitu dengan papa Hasya yang itu menangis karena kerinduan pada putri sulungnya itu.
"Udah nak udah.. Ssniiff,, papa dan mama udah maafin kamu jauh sebelum kamu minta maaf" ucap papa Hasya sambil mengusap punggung putrinya yang terus bergetar karena tangisannya.
"Papa dan mama juga minta maaf ya sayang, karena papa dan mama kurang peka terhadapmu, dan selalu mengganggap mu anak yang kuat, kami lupa kamu tetap putri kami yang rapuh, yang tetap butuh kami sebagai rumah untuk pulang. maafkan kami karena selalu mengganggap teteh baik-baik saja"
Diana yang mengerti situasinya ia kemudian meninggalkan ruangan toko menuju tempat pembibitan meninggalkan mereka berempet, ia cukup mengerti situasi bossnya itu.
Setelah mereka sedikit tenang barulah mereka mengingat bahwa tujuan mereka selain ingin bertemu Hasya juga ingin bertemu Zesya. cucu mereka.
"Oiya nak, mana cucu kami itu? kami juga ingin melihatnya. Ah atau jangan jangan.. anak itu yang ..."
"Iya nek, ini aku Zesya, anak semata wayang mama Hasya dan papa Zehan" sahut Zesya tersenyum lebar lalu berhambur memeluk kakek dan nenek dari mamanya.
flashback off
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1