The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 93


__ADS_3

Sore itu sepanjang perjalanan menuju rumah keluarga Sultan, anak yang mengganggu Deliza namun pada akhirnya malah babakbelur kena hajar Zesya yang tidak terima adiknya diganggu. Zehan melihat dari spoin dalam mobil,


"Zes, Kamu masih tidak mau minta maaf pada Sultan?" Zesya hanya melengoskan wajahnya ke arah luar kaca jendela mobil yang tertutup.


"Nak, kamu seorang laki-laki bertindak lah seperti seekor serigala, bukan seekor anjing" seketika Zesya melempar tatapan tajam ke arah kaca spion namun dari gerik matanya sepertinya ia paham arah kata-kata Zehan barusan.


"Dan kamu Deliza, papa yakin tidak selamanya kamu hanya ingin menjadi kucing anggoora saja dibelakang kakakmu kan? Papa yakin kamu tau, apa yang harus kamu lakukan terhadap anak itu" raut Deliza juga ikut berubah seketika saat Zehan memberinya nasehat atau malah memberinya isyarat agar ia harus bisa membalas perbuatan anak itu dengan caranya sendiri agar dirinya bisa lebih bisa menjaga dirinya sendiri. Dan apa yang dikatakan oleh Zehan tidak sepenuhnya salah, karena suatu saat Deliza pasti harus atau malah ingin mengejar mimpi dan cita-cita yang tentu saja Zesya tidak akan selalu ada bersama dengannya terus seperti sekarang.


"Iya pa, aku mengerti"


Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di halaman parkir sebuah rumah, cukup besar dan mewah untuk ukuran rumah tinggal di sebuah perkampungan.


Hejun sudah turun terlebih dahulu dari mobil terlebih dahulu bahkan sebelum Zehan melepaskan sittbeltnya, Joon Woon juga sudah bersiaga di depan mobil yang dikendarai oleh keluarga bossnya itu. Beberapa orang tetangga yang memiliki keingintahuan yang besar terlihat seperti sedang pemburu berita yang profesional, beberapa bahkan sengaja mengintip situasi dari balik duranta erecta atau tanaman anak nakal yang biasa dijadikan pengganti pagar besi.


Zehan segera membuka pintu mobil lantas mengambil tangan Hasya dengan hati-hati, dengan Joon Woon membukakan pintu belakang untuk Deliza dan Zesya.


"Makasih kak Joon" Joon Woon tersenyum manis pada Deliza. Begitu turun dari mobil Deliza melihat ke sekelilingnya, namun entah kenapa Deliza merasakan sesuatu aura yang berbeda begitu ia melangkahkan kakinya mengikuti ke dua orang tuanya. Tubuhnya terasa dingin, hingga Zesya yang memegangi tangan Deliza bisa merasakan getaran menggigil dari tubuh adiknya itu.


"Del, kamu ngga apa-apa?" Zesya terlihat cemas. Deliza menggelengkan kepalanya, namun raut wajahnya yang begitu tertekan seperti sedang menahan sesuatu itu tidak bisa berbohong.


Zehan menuntun Hasya menuju teras rumah tersebut agar segera bisa menemui keluarga Sultan, anak yang berkelahi dengan Zesya tempo hari. Tepat sebelum Zehan akan menekan bell, pintu rumah itu sudah lebih dulu oleh seorang perempuan paruh baya kira-kira berusia 50tahuna.


"Eh aya tamu ning?? Mangga mangga lebet bu pa, " sambut perempuan itu dengan ramah kepada Zehan,


"ohh ia bu,, tapi maaf sebelumnya perkenalkan saya Hasya Mamanya Zesya teman sekolahnya Sultan, dan ini suami saya, ini anak saya Zesya dan itu putri saya Deliza." Kata Hasya sedikit sungkan memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Oiya? Duh maaf saya tadi terlalu kaget, sampai lupa memperkenalkan diri."imbuh perempuan itu


"perkenalkan Saya Sumarni mamanya Sultan." sambung perempuan itu sambil menyalami Hasya, Zehan, Deliza dan Zesya satu persatu.


"Iya bu, tidak apa-apa."


"Silahkan duduk dulu bu, kebetulan Sultannya sedang mandi, mau minum apa? panas atau dingin?"


"Ah tidak usah repot-repot bu"


"ah kalo begitu saya buatkan teh manis saja kalo begitu cocok dengan suhu yang mulai dingin"


"Ah.. kalo begitu maaf kami jadi merepotkan ibu"


"eehh maaf bu tunggu sebentar,"


"Iya kenapa bu?" Hasya lalu memberi isyarat pada Zehan untuk memberikan sekeranjang buah-buahan segar yang memang di bawa untuk Sultan.


"Aduhh kenapa repot-repot bawa buah tangan segala. Di jenguk aja Sultan mah pasti udah seneng, tapi haturnuhun di tampi nya bu" Hasya tersenyum manis seraya mengangguk halus.


"Ah cuma buah-buahan saja bu," Sumarni lantas membawa keranjang buahnya ke belakang. Tidak lama kemudian munculah seorang pria, namun pria itu terlihat terlalu muda jika dia adalah suami bu Sumarni.


"Eh ada tamu?" kata pria itu sambil menyalami tamunya satu persatu sambil memperkenalkan diri. Pria itu bernama Hardi, ia adalah anak pertama bu Sumarni. Dengan kata lain dia adalah kakak tertuanya Sultan,


" Oh ini yang namanya Zesya? Hebat kamu dek, bisa buat babakbelur adik saya hahha?" kekeh pria itu. Tapi meski ia tertawa tetap saja terkesan sarkas untuk sebuah candaan.

__ADS_1


"Untuk itu pak, kami datang kemari untuk menjenguk melihat bagaimana keadaan Sultan, karena biar bagaimana pun Zesya itu adalah seorang yang belajar bela diri. Yang tentu pukulannya akan berbeda dengan yang tidak terlatih" balas Zehan.


"Oh pantas saja, Sultan sampai seperti itu, adeknya bisa bela diri toh, adek belajar apa memangnya sampai bisa membuat Sultan seperti itu padahal dia juga saya ajari silat lho."


"Zesya baru belajar Taekwondo di hari senin, karate di hari selasa, rabunya silat, kamis judo, kalo jumat libur, sabtu dan minggu kadang muay thai kadang juga berlatih anggar, hmm suka-suka papa sama Joon Woon Hyung yang ajari, Zesya manut aja selama tidak mengganggu kegiatan belajar di sekolah Om" jawab Zesya berusaha bersikap ceria dan menggemaskan seperti anak seumurannya yang masih suka terlalu ceplas ceplos. Hejun dan Joon Woon sampai mengernyih saling melempar lirikan tidak percaya dengan tingkah anak itu.


"Joon, anak itu lagi kerasukan jin mana?" bisik Hejun.


"kamu nanya? kamu bertanya-tanya" jawab Joon Woon dengan bibir yang mengkriring.


"Aaiishh dasar gila" Hejun mendesis sebal begitu mendengar jawaban Joon Woon.


Tak lama kemudian Bu Sumarni kembali ke ruang tamu dengan membawa baki yang berisikan minuman lemontea manis hangat diikuti seorang wanita mungkinan pembantunya juga Sultan anak yang berkelahi dengan Zesya.


"Eh Di, udah pulang?" kata ibu Sumarni sambil memindahkan suguhan dari baki ke meja tamu.


"Baru sampai bu" jawab pria itu singkat.


"Udah kenalan sama keluarga ibu Hasya?"


"udah bu, barusan sebelum ibu dateng" jawabnya ketus. Jujur saja, tangan Hejun rasanya gatal sekali ingin menghajar pria itu karena sudah berlaku kasar pada ibunya. Padahal ibunya sangat ramah dan bersahaja.


"Sultan ayo nak, salim dulu, itu temanmu datang jenguk lho" meski terlihat enggan dan terpaksa namun Sultan tetap menuruti kata-kata ibunya, setelah selesai Sultan segera mendekati ibunya lagi tanpa merubah ekspresi cemberutnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2