The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 44


__ADS_3

Hasya merebahkankan tubuhnya di sofa panjang di depan tivi, sambil memakan cemilannya. Sedang Zesya masih sibuk dengan PR sekolahnya. Hasya sebenarnya beruntung memiliki seperti Zesya, ia anak yang cukup mandiri untuk ukuran anak sebayanya, ia juga tergolong anak yang pintar dan cepat tanggap dalam pelajarannya. Dalam olahraga juga Zesya cukup aktif, namun karena perangainya yang cenderung pendiam dan lebih suka menghabiskan waktunya dengan melukis dia jadi kurang bisa bersosialisasi dengan teman-temannya. Meski begitu ia tetap memiliki teman bermain, kadang-kadang.


Hasya sedang memilih-milih channel diantara sekian ratus channel yang tersedia. Tapi ujung-ujung paling mentok pada acara drama korea atau acara-acara variety show komedi. Kemudian ia berhenti di satu channel yang sedang menayangkan acara talk show saat Zesya tiba-tiba saja tertarik pada tayangan itu. Hasya awalnya cuek saja sambil memakan cemilannya karena memang acaranya seperti acara talk show motivasi pada umumnya. Tamu acaranya pun sudah ia kenal yang memang sudah sering wara wiri di media sosial.


Namun mendadak ia berhenti mengunyah saat sang pembawa acara berkepala pelontos itu memanggil nara sumber terakhirnya. Mendadak ia merasakan sesak di dad*nya. Hasya kemudian segera mengalihkan channel acara tersebut pada chanel yang lain, tapi Zesya tiba-tiba langsung merebut remote tivinya lalu mengembalikan pada channel sebelumnya.


"Kaya yang ngerti aja bocil " cetus Hasya bermaksud membuyarkan konsentrasi anaknya itu.


"Suttt diem ma, justru karena Zesya ngga ngerti, Zesya harus nonton" jawab Zesya. Mendengar hal itu diam-diam Hasya memalingkan wajahnya ke arah lain. Agar putranya tidak melihat ekspresinya saat ini. Harus Hasya akui ada perasaan getir dan iba saat melihat penampilan Zehan yang terlihat kurang terawat dengan jambang dan kumis yang memenuhi sebagian wajahnya meski tidak mengurangi ketampanan lelaki itu, tapi di satu sisi Hasya tetap merasa kecewa karena hingga kini Zehan belum bisa menemukan keberadaan dirinya. Padahal ia sudah sangat rindu dengan orang tuanya. Meski sesekali Hasya datang ke rumah orang tuanya, namun Hasya hanya bisa melihat mereka dari jauh tanpa bisa menyentuh mereka. Dan itulah syarat yang diberikan oleh Nayuwan jika ingin rencananya berhasil.


"Jadi apa alasan bapak Zehan saat mendirikan rumah sakit gratis dan menyediakan advokasi untuk orang-orang yang kurang mampu?" tanya sang pembawa acara.


"Alasannya sederhana saja. Saya ingin bermanfaat bagi banyak orang, Karena saya tidak mungkin untuk membagikan uang kepada setiap orang, maka mendirikan rumah sakit gratis dan advokasi di daerah yang memang agak sulit aksesnya saya rasa masyarakat akan lebih bisa manfaatnya."


"Saya dengar dulu anda juga pernah mengalami kecelakaan tunggal yang mengakibatkan lumpuh setengah badan?"


"Ya benar, dan saya beruntung karena keluarga saya memiliki cukup uang hingga saya bisa berobat keluar negeri"


"Tapi katanya anda malah merasa bersyukur karena hal itu?"


"Ya bagaimana tidak, karena jika bukan karena kecelakaan itu saya tidak mungkin menikahi is.. "JLEB " layar tivi tiba-tiba menjadi gelap.


"Iih mama kok dimatiin, kan Zesya lagi nonton ma," keluh Zesya.


"Udah malem nak, udah hampir jam 10 malem ih" ucap Hasya beranjak dari sofanya menuju kulkas, berusaha bersikap seolah ada dosa pada Zesya.


"Ck !! Issh mama nih" kata Zesya menggerutu namun pada akhirnya iapun beranjak lalu menuju kamarnya untuk tidur.

__ADS_1


"Maafkan mama nak" gumam Hasya yang masih berdiri di depan kulkas dengan lelehan air mata di pipinya.


...****************...


" Wah lagi pada ngumpul nih?" Zehan melenggang masuk ke area ruang tivi rumah Zia. Di sana terlihat semua orang tengah berkumpul menyaksikan talk show Zehan yang baru disiarkan pada malam itu.


"Iya dong, kitakan fans beratnya kamu Ze" Zehan tersenyum kecil saat mendengar Alexa menggodanya.


Alexa, Derren, Gibran, Zia, bibi Lyn, dan paman Yohan memang sudah sangat berdamai, bahkan Derren kini sudah menjadi anak angkat paman Yohan dan bibi Lyn setelah kedua orang tuanya meninggal 3 tahun lalu dalam semua kecelakaan pesawat saat pulang dari umroh. Zehan menatap satu persatu orang yang ada diruangan tersebut, riuh rendah sesekali bercanda tawa namun tetap saja batinnya hampa dan kesepian.


"Gib, kamu besok jadi ninjau lokasi perkebunan di Bandung Selatan?"


"Jadi Tuan"


"Kalau begitu biar aku saja."


"Oh baik, biar nanti saya siapka.."


"Udah ga apa-apa Gib, mungkin Zehan butuh refresh" kata Derren.


"Oiya sayang, kamu sudah dapet bocoran lagi dari Nayuwan mengenai keberadaan Hasya.?" tanya bibi Lynn, Zehan hanya menggeleng dengan raut wajah sedih.


"Ze, maafin aku ya" ucap Lexa.


"Udahlah, ngga apa-apa. Anggap aja aku lagi kurang beruntung aja, karena harus berpisah dengan istriku sementara waktu. Karena aku kurang bersyukur . Doakan saja semoga kami cepat disatukan kembali" tutur Zehan menatap kosong pada layar kaca Tivi yang sedang menayangkan talk show dirinya di hari kemarin.


"Ze.."

__ADS_1


"Pck udahlah, lagian semua udah berlalu. I believe one day my luck will definitely come back to me. we are now just waiting for the time."


"Tapi aku kangen banget kak"


"Sayang.. "hardik Gibran.


"Yang kangen dia itu bukan cuma kamu, tapi kita semua sayang" kata bibi Lynn sembari menggenggam erat tangan Zehan.


" Kita doakan saja, semua di mana pun Hasya berasa selalu berada dalam lindungan Tuhan, dan berada di lingkungan orang-orang yang baik, jadi dia bisa menjadi hidupnya dengan lancar." paman Yohan menghangatkan suasana.


"Amiin amiin.. Ya robbal alaamiin hiks" sahut Zehan mengusap air matanya.


"Kalo gitu aku pulang dulu ya udah malem juga"


"Lho ngga nginep Ze, udah larut begini lho, bahaya"


"Aku tadinya mau nginep cuma kayanya aku butuh cari angin Ma," Paman Yohan menganggguk kecil pada bibi agar membiarkan Zehan melakukan apa yang dia mau untuk menenangkan pikirannya.


"Ya udah tapi langsung kabari kalo udah sampe"


"Iish mama, kaya rumah kak Zehan jauh aja" sahut Zia.


"Ya udah begitu sampe aku kabari mama, muach aku pulang ya.. bye." pamit Zehan.


"Ati-ati jangan ngebut Ze," seru Derren. Zehan hanya melambai tanpa berbalik badan lalu menghilang dibalik pintu utama.


"jleb" pintu mobil sudah tertutup Zehan terdiam sesaat sambil memijat keningnya.

__ADS_1


"Sya, aku kangen kamu.. hiikkksss kangen banget.. hiikss" gumam Zehan pilu, sungguh ia merasakan tersiksa dengan kerinduannya yang amat sangat pada Hasya saat ini, namun apa daya semua petunjuk tambahan yang diberikan Nayuwan tetap saja belum membuahkan hasil untuknya menemukan di mana keberadaan istrinya itu. Kemudian setelah ia bisa menguasai dirinya, iapun segera menstater mobilnya dan melaju ke arah rumahnya yang hanya berjarak 30 menit dari kediaman Zia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2