The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 63


__ADS_3

Suasana sepi menyelimuti kamar Galuh. Sejak mengantarkan ibunya kemarin gadis itu hanya mengurung diri di kamar, sesekali ia menengok keadan ibunya yang terbaring karena tiba-tiba saja darah tingginya kumat. Pikirannya mengawang, mengingat awal pertemuannya dengan Zehan hingga kejadian hari kemarin. Gadis itu ternyata sudah benar-benar jatuh cinta pada Zehan, hingga ia sulit melupakan sosok pria itu.


"Luh, " panggil ibunya lirih dari kamar. Segera Galuh bergegas menuju kamar ibunya yang letaknya tepat disamping kamar Galuh.


"Ibu mau minum?" tanya Galuh penuh perhatian.


"Tolong bantu ibu ke kamar mandi nak, ibu mau pipis" Galuh lalu membantu ibunya untuk duduk sebentar lalu membantu ibunya berdiri kemudian memapahnya ke kamar mandi yang letaknya agak di belakang. Setelah selesai Galuh kembali membaringkan ibunya dengan hati-hati.


"Maafin ibu ya nak, kamu jadi harus bolos kerja, karena harus merawat ibu" ucap ibunya muram.


"Yang penting ibu sehat, lagian kan aku kerja di minimarket si ua ini, justru Galuh bakal dimarahi si ua kalo ngga rawat ibu lagi sakit begini" Ibu Fitria lantas memeluk putrinya itu, dengan lembut ia membelai rambut dan punggung gadisnya itu.


Ya, Galuh memang bekerja di Minimarket milik kakak almarhum ayahnya. Tapi meski begitu Galuh saat bekerja ia tetap diperlakukan seperti pegawai lainnya yang berjumlah 4 orang. Minimarket tersebut cukup besar dan cukup lengkap. Meski ini adalah sebenarnya toko grosiran. Namun Pak Hasan mengkonsep tokonya itu menjadi seperti minimarket pada umumnya, hingga tokonya hampir tidak pernah sepi pembeli baik itu eceran, maupun grosiran untuk warung-warung kecil di sekitaran kampung bahkan dari luar desa merekapun banyak yang sudah menjadi langganan, disamping karena tempatnya rapi, bersih pelayananya juga ramah, untuk hargapun relatif lebih murah dari pada minimarket yang juga menjamur di sekitar sana.


"Nak,, ibu doakan semoga kamu dapet suami yang tepat, yang sayang sama kamu, yang bisa jagain kamu semisal ibu nanti udah ngga ada" ucap Ibu Fitria saat tengah memeluk putrinya itu. Mendengar ucapan sang ibu, Galuh makin membenamkan dirinya dalam dekapan perempuan berusia 46tahunan itu. Tanpa bisa dibendung air matanya mengalir deras. Di satu sisi ia sedih mendengar kata-kata ibunya, di satu sisi hatinya memang tengah terluka karena mengingat seorang pria beristri yang membuatnya jatuh cinta sekaligus membuatnya patah hati di waktu yang bersamaan.


"Hiks.. ibu jangan ngomong begitu. Hikss...ibu pasti panjang umur, sampai nanti anaknya Galu punya anak lagi" ucap gadis itu di sela-sela tangisnya. Ibu Fitria hanya tersenyum lalu mencium pucuk kepala gadis semata wayangnya itu. Galuh keluar dari kamar sang ibu dengan mata sembab, meski perasaannya masih berantakan tapi ada sedikit kelegaan setelah ia menangis dalam dekapan ibunya.

__ADS_1


Sementara Zehan terlihat sedang memperhatikan istrinya yang sedang terlelap. Setelah labu infusnya kemarin Hasya hanya menginap semalam saja sesuai anjuran dokter, dan baru akan menjalani pemeriksaan lanjutan setelah masa haidnya selesai. Hasya terlihat menggerak-gerakan kepalanya mungkin ia akan segera terbangun dari tidurnya. Perlahan ia membuka matanya, lalu mengerjapkannya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam netranya.


"Kenapa kamu bangun yang?" tanya Zehan dengan suara pelan.


"Aku mau minum" segera Zehan mengambilkan segelas air putih yang sudah tersedia di sana.


"Zesya mana mas?" tanya Hasya setelah meminum air yang diberikan Zehan dengan lembut.


"Ada sama Bi Rani"


"Maamaa..." seru Zesya sedikit berlari. Hasya menyambutnya dengan merentangkan kedua tangannya.


"Mama jangan sakit lagi kaya kemarin ya" rengek Zesya saat dalam dekapan Hasya. Hasya hanya tersenyum saja.


"Sya kamu udah pernah cek ke dokter?"


"Aku.. akuu..."

__ADS_1


"Takut?!" Hasya mengangguk.


"Nanti setelah masa period kamu selasai kita ke Singapure"


"Kalo kita berdua ke sana, Zesya gimana mas?"


"Papa dan mama jangan khawatir kan bisa kakek nenek nemenin Zesya di sini ma, kalo mama khawatir Zesya sendirian, yang penting mama cepet sembut, terus ngga pingsan-pingsan lagi, Zesya takut kalo mama nantinya malah ngga bangun-bangun lagi, Zesya ngga mau punya mama tiri huaaaaaaa aaaaaaa hiksshuaaaaa" ungkap Zesya pada akhirnya tangisnya pecah saat memeluk mamanya.


"Uluh uluh cup cup anak mama bisa manja juga.." Hasya malah meledek putranya yang menangis histeris.


"Mama mah" gerutu Zesya sambil menyedot kembali ingusnya.


"Iih jorok ah" kata Hasya dengan suara lirih


"Hmm bodo amat,, pokoknya mama harus sembuh, Zesya ngga mau punya mama tiri, ngga mau juga punya papa tiri. Yang Zesya mau itu adek bayi hikksss" Hasya tersenyum julid terheran dengan semua yang diungkapkan anak itu. Mau dikatakan dewasa buktinya dia masih memiliki sisi manja dan kekanak-kanakan seperti sekarang. dikatakan kekanakan kata-kata halus yang dituturkannya terkadang terlalu sadis untuk diucapkan seorang anak yang baru kelas 1 SD. Zehan yang duduk di tepi tempat tidur hanya tersenyum simpul saja Meski Hasya tengah sakit, namun ia juga merasa bersyukur semarah-marah Hasya faktanya wanita itu masih sangat mencintainya. Dan dia juga sangat bersyukur karena wanita ini dengan hebatnya bisa mendidik putranya hingga tidak membenci ayahnya meski di sama-masa keemasannya ia terpaksa harus tumbuh tanpa pendampingannya. Zehan lantas merangkul Hasya dan Zesya bersamaan, memeluk mereka berdua dengan segenap perasaan kasihnya. Di saat yang bersamaan juga Zehan mencuri-curi kesempatan untuk mencium kening dan puncak kepala anak dan istrinya dengan penuh rasa syukur dan haru.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2