
Deren pun tak kalah sengit dengan emosi Alexa saat melihat kedekatan diantara Gavin dan Zehan,
"Ciih penjilat!" ucap Deren mencelos dan mendengus geli, tapi dari wajahnya jelas menyiratkan emosi yang hampir meluap. Dan saat ia bertatapan dengan Zehan. Tidak bisa terelakan lagi tatapan tajam dan sinis mereka saling beradu memancarkan aura permusuhan yang kental, seakan mereka sudah siap jika harus membun*h satu sama lain saat itu juga. Deren mengepalkan kedua tangannya hingga buku-bukunya memutih dan sedikit gemetar. Jika ia tidak ingat ini adalah pesta pertunangannya dengan Alexa, sudah pasti ia akan menyeret dan mengusir Zehan ke luar dari ballroom acara miliknya, karena ia tahu pasti mantan sahabatnya itu datang hanya untuk memprovokasi dirinya, ia pun tahu persis apa alasan Zehan langsung mendatangi meja Gavin dan istrinya. Itu adalah sebuah bentuk peringatan untuk dirinya. Ia sendiri menyadari hal itu, meski belakangan Deren sudah berhasil hampir membuat posisi mereka hampir seimbang namun dengan Zehan sengaja mempertontonkan "keintimannya" dengan seseorang seperti Gavin Harraz Widjaya, yang bisa ia simpulkan jalannya untuk mendepak Zehan dari posisi ketua di Genesis grup akan mengalami hambatan.
Kedekatan diantara mereka tentu akan menjadi sorotan para direksi serta akan ikut meningkatkan harga saham Genesis Grup di pasaran, yang imbasnya sudah pasti para direksi atau para pemilik saham gabungan di Genesis akan berpikir kembali jika ingin mendepak Zehan begitu saja, karena jika sampai perusahaan Zehan bergabung dengan FJC Bamantara grup tentu akan membuat saham di Genesis grup penurunan atau mungkin hancur yang pastinya akan menyebabkan kerugian besar bagi mereka.
...----------------...
Acara kembali dilanjutkan meski suasananya sudah tidak semenarik di awal sebelum kedatangan Zehan, Hasya, Zia dan Gibran. Hasya meneguk anggun jus jeruknya. Sesekali ia menoleh ke arah panggung, ada getar tidak percaya diri saat ia melihat kecantikan Alexa saat sedang berdansa bersama Deren di atas panggung sana. Sebuah tangan mengelus lembut punggung tangannya hingga membuatnya sedikit terkejut.
"Sayang maaf aku tidak bisa mengajakmu berdansa di sini, aku janji kita akan berdansa sepuasnya ketika di rumah nanti" ucap Zehan lirih dan sontak membuat telinga memerah dan meremang sekujur tubuhnya.
"Kakak, jangan ganggu kakak iparku. Misi kita belum tuntas malam ini" celetuk Zia setelah melihat reaksi Hasya setelah dibisiki oleh Zehan.
Gibran dan Gavin terlihat sedikit asyik sendiri dengan proyek yang baru-baru ini mereka garap bersama, Zehan bukan tidak tahu mengenai proyek ini, namun dari awal hingga tahap ini Gibran lah orang paling banyak memberi kontribusi tidak etis baginya jika tiba-tiba sekonyong-konyong melibatkan diri secara langsung.
"Oiya pak Zehan, kalian bertemu di mana? Saya kok rasanya familiar ya dengan wajah-wajah calon istri bapak ini?" ucap Nayuwan mengungkapkan rasa penasarannya setelah ia menilik-nilik lebih lekat wajah Hasya.
"Bisa dikatakan kami dijodohkan oleh Zia" kata Zehan.
"Maksudnya?"Nayuwan merengut sembari menyadarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
__ADS_1
"Jadi kami bertemu saat saya sedang menjalani pengobatan di Hongkong satu tahun lalu. Zia yang putus asa karena tidak ada perawat yang kuat menahan saya ketika saya mengalami depresi berat ia akhirnya mengambil Hasya dari sebuah agensi yang menurut kata teman-temannya mungkin seorang PLRT di sana bisa lebih tahan banting untuk menghadapi mental saya saat itu. Dan seiring waktu kami pun saling jatuh cinta" ungkap Zehan menjelaskan dengan singkat.
"Ooowwhh so sweetnya,," ucap Nayuwan gemas.
"Eeh,,, tunggu..!! Hongkong? Kamu kenal dengan Aniq?" tanya Nayuwan tiba-tiba. Hasya kemudian mengangguk dengan wajah sedikit ragu.
"Oowhh Ya ampun, pck ! Aku ingat sekarang. Pantas saja aku merasa familiar dengab wajahmu,, wait wait.." Nayuwan riweh mencari-cari ponselnya kemudia membuka akun media sosialnya yang berlogo F, lalu membuka sebuah galeri, kemdian menskrol-skrol foto-foto yang ada di dalam galerinya. Gavin dan Gibran yang tadi asyik sendiri kini ikut menyimak dan memperhatikan gerak-gerik riweuh bumil satu ini.
"Hah !! Ketemu!! Benerkan??! Ini kamu?!" ungkap Nayuwan dengan mata berbinar kegirangan menunjukan layar ponselnya kepada semua orang di meja itu, memamerkan foto-foto dirinya bersama tema-temannya sewaktu di Hongkong yang tengah makan besar di sebuah restoran buffet ala korea. Mereka saling menatap bergiliran setelah meliha ada Hasya di sana yang kebetulan duduk tepat disebelah Nayuwan.
Hasya sendiri terlihat terperangah, karena ia memang lupa dengan hari itu.
"Jadi ibu Nayuwan sebelumnya pernah bekerja di Hongkong?" tanya Gibran ikut penasaran.
"Tuan tukar tempat aku pengen ngobrol-ngobrol" usir Nayuwan dengan tingkah menggemaskan pada Gavin kemudian merekapun bertukar tempat. Hasya yang tadinya canggung kini bisa lebih rilex setelah mengetahui Nayuwan pernah bekerja di Hongkong sebagai TKW seperti dirinya. Perlahan kepercayaan diri Hasyapun mulai kembali. Zia yang ikut nimbrung seperti tidak kehabisan kata tanya saat melihat mereka membahas satu persatu foto-foto yang ada di galery media sosial milik Nayuwan.
"Mereka cocok ya?" celetuk Gibran saat melihat 3 wanita yang ada dihadapannya saling bercengkrama seolah mereka memiliki dunia mereka sendiri.
"Ya begitu lah perempuan kalo sudah ketemu yang sefrekuensi langsung nyambung, padahal istri saya termasuk orang yang sulit untuk bersosial dengan orang baru" kata Gavin.
"Saya baru tahu, jika ibu Nayuwan pernah jadi TKW, saya hanya tau cerita beliau seorang pengusaha wanita yang bisa membuat seorang Presdir Gavin tunduk. Padahal kita tau pak presdir ini bukan orang mudah terhadap wanita. Sudah terkenal sebagai Manusia es." ucap Gibran seraya terkekeh.
__ADS_1
"Saya mungkin manusia es, nih gunung es yang sesungguhnya" unjuk Gavin dengan telapak tangan kanannya.
"Iya kah?" Zehan ikut penasaran.
"Saya kadang seperti pengemis agar istri saya mau minta tolong sama saya, segalanya ia bisa sendiri, terlalu mandiri. Yaaa kecuali untuk satu hal istri saya masih membutuhkan saya tanpa saya harus ceramah mengingatkan kalo apa-apa boleh kok minta tolong.."ungkap Gavin menggantungkan kalimatnya.
"Apa itu pak?" tanya Gibran dengan alis hampir saling menaut.
"Pembuahan janin dede bayi diperutnya, hahahaa" ucap Gavin kemudian tertawa lepas.
"Aah kirain apa.." ucap Zehan ikut tertawa namun dengan mimik wajah seolah kecewa dengan jawaban Gavin.
"Satu hal pak yang saya bisa nasehatkan kepada Bapak berdua. Mereka bertiga adalah sosok wanita mandiri yang mampu melakukan segala hal sendirian. Mereka ngga ada rasa takut ditinggalkan oleh kita ketika sudah kecewa bahkan mungkin tanpa segan meninggalkan kita jika sudah sangat sakit." ucap Gavin seraya menatap lembut pada istriny yang sedang berbincang seru ngalor ngilur dengan Zia dan Hasya yang tiba-tiba saja sudah menjadi sangat akrab.
Alexa menatap keakraban orang-orang itu dengan berbagai emosi yang berkecamuk dalam dirinya. Terutama saat melihat Zehan terus memberikan perhatian yang tulus pada wanita yang tentu tidak ia kenal itu. Di relung hatinya ada rasa cemburu menyirat melihat betapa lemah lembutnya Zehan memperlakukan perempuan itu. Ia melirik sekilas pada Deren yang kini sudah larut dalam perbincangan bersama teman-temannya.
Dari kejauhan Alexa diam-diam menatap sosok Zehan yang memang ia kenal sebagai sosok pria yang hangat kepada pasangannya. Dia menatap lekat-lekat kepada pria itu dengan emosi yang campur aduk. Ada rindu, sayang, sakit, cemburu saat melihat Zehan bersenda gurau dengan gadis itu. Semua perasaan itu membuat batin Alexa tersiksa karena penyesalanpun sudah tidak berguna sama sekali untuknya. Kini ia hanya mampu merutuki kebodohan dirinya sendiri karena sudah melepaskan Zehan. Dan semua itu tentu saja disadari Zehan dan Zia, mereka saling memberikan isyarat melalui gerak alis mereka lantas tersenyum puas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Mas Zehan sama Mbak Hasya, girang bener main saljunya, serasa dunia cuma milik berdua aja yang mas..😆😅