
Zehan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi cafe sambil menikmati ice coffe americano-nya.
"Kenapa dengan wajah mu itu? Apa Hasya belum memberikan mu jatah di malam hari?" sontak Zehan melempar delikan sinis pada pria yang duduk di sebrangnya itu, karena ia menyerang langsung tepat sasaran.
"Hei hei sepertinya tebakanku benar..hahhahahaha" ledek Kevin makin menjadi.
"Wah?? kau nampaknya sekarang mulai makin menjadi ya?" kata Zehan tanpa merubah raut wajahnya. Sedang Kevin terkekeh julid dengan puas.
"Kenapa lagi? Apa Hasya masih marah padamu?"
"Ini karena bocah itu? Aku jadi gagal menghabiskan malam panjang dengan istriku." ungkap Zehan, terlihat jelas jika Zehan memang tengah kesal saat ia mengeraskan rahangnya namun sepertinya ia tidak bisa berbuat apa-apa "bocah" yang sudah merusak malam indahnya.
"Bocah??" Kevin berpikir sebentar kemudian ia tertawa terbahak-bahak, karena si perusak moment itu sudah pasti adalah Zesya putra semata wayangnya Zehan.
"Sudah berhenti meledek ku, suatu saat kau akan merasakan bagaimana terganggu oleh anakmu sendiri, tapi kamu tidak bisa marah karenanya" kata Zehan sambil mendecih juga menyeruput kembali ice americanonya.
"Ok ok..hahhahaa"
"Tuan maaf saya datang terlambat." kata Gibran yang datang dengan Hejun dan Keni.
"Tidak kok, kami juga baru beberapa menit," sambut Kevin yang terlihat santai menyilang kakinya. Mereka bertiga pun duduk satu meja dengan Zehan dan Kevin. Dua orang saja sudah membuat riuh suasana cafe terutama para wanita yang tidak bisa tidak untuk melihat ke arah mereka, dan kini di tambah 3 orang lagi yang juga visualnya tidak bisa diabaikan begitu saja.
"Maaf kak, saya ijin mengganggu, saya menyampaikan pesan dari kakak yang duduk di sebelah sana" sela seorang waiter.
"Terima kasih mas" kata Kevin, kemudia waiter itupun segera meninggalkan meja itu karena ia sendiri merasa tertekan dengan visiual kelima tamunya yang agak kurang sopan itu. Kurang sopan karena ketampanan mereka sedikit agak berlebihan untuk orang Indonesia pada umumnya. Kevin pun lalu membaca secarik kertas yang diberikan waiter tadi lalu ia tersenyum simpul. "jika ada waktu, tolong hubungi nomor ini 085-896-432-xxx" ucapnya dengan suara sedikit keras, hingga membuat wajah si pemilik pesan itu seperti udang rebus karena malu.
"Untuk mu saja Vin" ledek Zehan.
"Pck sayangnya aku sedang PDKT dengan seorang wanita cantik baru-baru ini." tolak Kevin. Lalu ia melirik pada Gibran, Hejun, dan Keni bergantian tentu saja dengan tampang julidnya.
__ADS_1
"Maaf pak Kevin, saya punya istri yang cantik, dan kakak ipar yang siap membun*h saya kapan saja jika saya berselingkuh" kata Gibran segera setelah melihat tampang julid Kevin yang cukup menyebalkan. Pria itu makin mengembangkan senyum simpulnya. Karena setelah mengenal lebih dekat ruang lingkung Zehan dan lainnya, menggoda mereka berempat yang kaku adalah hal paling menyenangkan untuk Kevin.
"Saya terlalu sibuk" "saya juga, boro-boro bisa berkencan menyesuai jadwal tidur saya dan pekerjaan saya saja saya masih kesulitan" terang Hejun dan Keni bergantian.
"Wah.. wah kalian semua kompak ya.." ledek Kevin kembali tertawa puas.
"Sudah berhenti bercandanya," hardik Zehan. Mereka pun sedikit terlihat serius kali ini.
"Cih ,, dasar kaku" kata Kevin sambil menyeruput matcha latte melalui sedotannya.
"Jadi apa semua sudah kalian selesaikan dengan rapi?" Zehan terlihat agak serius kali ini.
"Berkat informasi tambahan dari pak Kevin, kami bisa menyelesaikannya dengan lebih mudah dan cepat tanpa perlu melihatnya orang luar" sahut Keni mode serius.
"Orang luar? Maksud kalian?" Kevin menautkan kedua alisnya.
"Terkadang untuk beberapa hal kami tidak melibatkan yang berwajib, kami membereskannya dengan cara kami. Lebih efesien dan tentunya tidak menghabiskan terlalu banyak waktu untuk melakukan pembersihan" kata Hejun
"Dunia bisnis itu abu-abu Vin, jika kamu terlalu bersih juga kamu tidak akan mampu bertahan dengan serangan orang lain. Cara satu-satunya adalah dengan cara memposisikan diri kita berada di posisi strategis. Tapi apa yang kami lakukan masih tahap normal." kata Zehan ambigu.
"Maksudnya?"
"Maksud Tuan Zehan apa yang kami lakukan untuk menyelesaikan masalah di perusahaan kami masih terbilang masalah sepele karena hanya membersihkan jentik-jentik yang ingin mencoba menetas. Tapi ada yang berlaku lebih kejam dari pada itu, semua orang di dunia kami juga tau bagaimana dingin orang itu ketika menyesalkan sebuah masalah." Kevin agak bingung dengan siapa yang dimaksud oleh Keni.
"Jadi ada orang yang lebih brutal dalam melakukan pembersihan? itu maksud kalian?"
"Tentu saja. Mereka bahkan sangat terkenal sebagai pasangan anjing gila dari neraka jika sudah menggabungkan kekuatan mereka. Kau pikir para pembesar itu bisa hidup nyaman dengan cara apa? Hanya saja, mereka memang itu tetap taat aturan untuk urusan hukum, pajak dan lainnya." kata Keni.
"Hmmm rasanya aku bisa menebak siapa mereka?" Kevin mengetuk bibirnya dengan telunjuknya seolah ia sedang berpikir rumit.
__ADS_1
"Tidak mungkin Pak Kevin tidak mengetahuinya, meski pak Kevin baru akan masuk ke dunia kami, tapi orang-orang perbankan sudah pasti mengenal mereka. Secara otoritas mereka juga cukup memegang kendali." sela Gibran
"Apa yang kalian maksdu itu ada Pak Gavin dan ibu Nayuwan?" kata Kevin dengan wajah polos.
"Siapa lagi? Dan harus Pak Kevin tau, dibanding suaminya, Pak Gavin, istrinya itu lebih kuat dibanding siapapun. Ada yang mengatakan bahwa Ibu Nayuwan memiliki semacam kekuatan supranatural atau semacamnya, turun temurun dari keluarganya." sambung Hejun.
"wah menarik" Kevin terkesima dengan cerita mereka bertiga.
"Ya sebelum menikah dengan pak Gavin, perempuan terkenal dengan ambisinya,karena ia memulai semuanya dari nol. Dan kabarnya juga ia bahkan diangkat menjadi adik oleh beberapa mafia, itulah sebabnya beberapa tahun ini pergerakan mereka di negara kita seperti dibawah air." sambung Zehan terdengar gusar.
"Kau sepertinya punya kekesalan terhadap wanita itu, Ze?"
Kevin kembali menggoda Zehan.
"Bagaimana tidak?! Perempuan itulah dalang yang membantu Hasya bersembunyi dengan rapi padahal selama ini dia berada tidak jauh dengan ku. Jika bukan karena campur tangan perempuan itu sudah tentu Hasya bisa aku temukan dengan mudah."
"Hari ini aku banyak terhibur oleh mu kawan?" kata Kevin sambil menepuk-nepuk bahu Zehan tentu saja jangan lupakan tamoang tengilnya saat meledek Zehan.
" hAh .. aku masih tidak percaya kalian bisa seakrab ini?" ungkap Gibran menyandarkan punggungnya.
"Tentu saja, aku harus menjadikannya teman, meskipun bisa saja dia jadi musuh dalam selimutku" sindir Zehan ketus.
"Aku tidak tertarik menjadi selingkuhan istri mu, tapi jika kau menyakitinya lagi, aku pastikan aku akan meminta bantuan Nayuwan agar bisa menyembunyikanku dan Hasya agar aku bisa hidup tenang dan bahagia"kata Kevin dengan gaya tengil sengaja menantang Zehan.
"Ciih, dasar rubah licik !" geruru Zehan.
"Tuan jika sekarang ada perang di sini tuan akan memilih siapa?" bisik Hejun meski suaranya itu tetap bisa didengar semua orang. Gibran menghela nafas sambil memangku tangannya. Lalu melihat ke arah Zehan dan Kevin secara bergantian.
"Kau ingin tau?" Hejun mengangguk polos.
__ADS_1
"Tentu saja aku memilih istriku" ungkap Gibran dengan raut mengece Hejun, sedang Hejun hanya mengernyih julid tidak percaya dengan jawaban ipar bossnya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...