The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 110


__ADS_3

"Sayang, bangun yuk.." Faruq membelai wajah Hasya dengan lembut "Plak!!" namun dengan cepat Hasya menepis tangan itu dengan cukup keras.


"Mau apa kamu?? Jangan macam-macam kamu Far !!" hardik Hasya histeris dengan mata menyalang. Faruq menghela nafas panjang berusaha meredakan ledakan emosinya. Faruq memang seperti itu, perangainya keras, mudah tersinggung juga emosi, dia juga bukan sosok yang selalu lemah lembut kepada istrinya, bahkan ketika bertengkar tidak segan ia juga berani memukul atau menampar istrinya, namun setelah itu ia akan segera menghujani istrinya dsngan menghujani istrinya dengan cinta, barang-barang branded, jalan-jalan keluar negeri, segala kemudahan dan kemewahan ia berikan tanpa segan, 180° berbeda dengan ketika ia sedang marah emosi atau cemburu.


"Sayang, lebih baik kamu menurut padaku" kata Faruq bernada dingin juga senyum kaku kepada Hasya.


"Faruq, cepat kembalikan aku pada suami ku !! Dengan begitu aku kan memohon pengampunan pada Zehan untuk mu" pinta Hasya sambil menangis.


"Pengampunan?? Sayang, aku ini bukan Derren si bajingan omong besar ! yang katanya ingin menghancurkan Zehan hingga menjadi abu, tapi baru segitu saja dia sudah menyerah !! Bahkan Alexa si perempuan jahanam itu malah seperti kucing rumahan ! Cih !!" kata Faruq , ada perasaan gentar saat Faruq menyeringai seperti iblis. Meski berusaha tegar tetap saja ada banyak ketakutan dan kekhawatiran yang bercampur aduk dalam diri Hasya. Terutama saat ia mengingat dengan jelas sesaat sebelum ia bekap dengan obat bius Zehan tersungkur ke lantai koridor dengan bersimbah darah dari kepalanya.


"Aku tidak tau apa alasanmy hingga melakukan semua ini. Tapi jika kamu ingin mengancam posisi Zehan di Genesis sepertinya kamu salah paham, bahkan aku tidak pernah terlibat dengan perusahaan" ucap Hasya sambil menangis dengan emosi yang membuncah.


"Justru karena kamu tidak pernah terlibat dengan perusahaan lah yang makin membuatku ingin menghancurkan suamimu. Saat pertama kali aku melihat mu saat kalian menikah dengan acara yang cukup sederhana, makin membuatku tak habis pikir. Wanita seperti mu hanya dihargai sesederhana itu. Tapi kau tetap tersenyum bahagia seakan-akan kalian sudah memiliki seisi dunia ini. Kenapa Zehan bisa sangat beruntung bisa memiliki istri seperti mu, sedang aku tidak. Aku dan Zehan sama kaya, sama-sama menempuh pendidikan yang sama tapi kenapa bajingan itu tetap lebih beruntung dari ku??! Sebnarnya apa yang kurang dari ku!? Sekarang belasan tahun berlalu ia tetap saja memiliki segala hal yang tidak aku miliki." Faruq lalu mendekati perut Hasya, merabanya perlahan, menempelkan wajahnya dengan lembut pada perut buncit Hasya. Sedang Hasya hanya bisa saat ia mendapati perlakuan tersebut, ia benar-benar merasa jijik, ngeri, aneh, bahkan seluruh tubuhnya bergetar ketakutan.

__ADS_1


" Faruq, aku.. hiikss aku mohon.. biarkan aku pulang pada suami dan keluargaku.. hiiksss.." ucap Hasya kembali merintih memohon seolah ia sama sekali tidak mendengarkan apa yang menjadi alasan pria itu hingga melakukan semua ini padanya. Iri dengkinya pada Zehan adalah sesuatu yang masuk akal bagi Hasya, namun tetap saja bukan suatu alasan untuk pembenaran ia melampiaskannya pada Hasya.


Faruq yang sedang menikmati moment perasaan bahagia karena tendangan kecil dari bayi yang masih di dalam perut Hasya pun mendongak dengan tatapan tajam,tidak senang. Ia pun mendekatkan wajahnya tepat berhadapan dengan wajah Hasya. Begitu dekat hingga Hasya bisa mencium aroma khas bau rokok bercampur mint dari nafas Faruq. Dengan cepat Hasya memalingkan wajahnya dari wajah pria itu. Ia merasa ketakutan, batinnya menjerit sekuat hati memanggil nama Zehan. Sayangnya itu tidak berlangsung lama, tangan kanan Faruq dengan cepat meraih wajah Hasya dan menekan wajahnya cukup kuat hingga Hasyapun merasakan sakit pada tulang pipi dan dan gerahamnya.


"Dengar baik-baik sayang, menurutlah selagi aku memperlakukanmu dengan sabar, meski kamu tidak bisa menerima alasanku kenapa aku begitu menginginkanmu, aku tidak peduli. Sebentar lagi akan ada seorang perawat dan dokter yang membantumu untuk bersiap. Kita akan segera meninggalkan negara ini. Jadi lebih baik ucapkan kata selamat tinggal pada negeri tercinta mu ini" ucap Faruq datar dan dingin, benar-benar ia adalah seorang sosiopat yang obsesif akan sesuatu yang menurutnya harus ia miliki, tidak peduli salah atau benar atau tidak milik siapa. Baginya segala hal yang menarik itu ia harus mendapatkannya dengan segala cara.


...----------------...


Dua jam sebelum aksi penyelamatan Hasya.


"Ma, lepaskan aku ma!! Aku harus mendapatkan kembali istriku ma, Faruq si4lan!! Awas kau b4jingan !!" umpat Zehan sambil berusaha keras melepaskankan ikat belt yang membelenggu kedua tangannya.


PLAKK !!! Satu tamparan keras hingga membuat wajah Zehan berpaling dari kanan ke kiri sekaligus membuat Zehan terdiam begitu saja.

__ADS_1


"Sudah sadar belum??! Kalo belum sini aku tampar lagi pipi kakak sebelah biar ngga berat sebelah.!!" kata Zia dengan penuh emosi. Namun sebelum melakukan hal itu tentu saja sudah Gibran tahan terlebih dahulu. Ia berusaha keras menahan tubuh istrinya yang menggeliat geliat berusaha membebaskan dirinya dari tangan Gibran yang melingkar dipinggangnya.


"Lepasin mas!! Lepasin aku !! Biar aku hajar sampai mati laki-laki itu !!" ronta Zia, wajahnya merah padam menandakan kemarahannya yang sedang memuncak.


"Lepaskan dia Gib, aku memang pantas menerima tamparan dari Zia bahkan Zia membunvhku pun sepertinya hukuman itu masih kurang untuk ku." ucap Zehan lirih tertunduk menyembunyikan air mukanya.


Suasana sedikit tenang, meski masih terdengar erangan Zia yang meminta untuk dilepaskan, serta isak tangis dari bibi Lyn. Dalam keadaan seperti itu pintu kamar rawat inap VIP itu kembali terbuka. Nampak Zesya diikuti Hejun, Keni dan Joon Woon dibelakangnya, sekilas tampilan Zesya hari ini benar-benar persis seperti papanya sebelum ia bertemu Alexa apalagi Hasya. Zehan sedikit terkejut sekaligus bangga dengan tampilan gurat wajah Zesya yang terlihat lebih serius itu, benar-benar seolah Zesya adalah cerminan dirinya di waktu masa muda. Dingin, Kaku, serius yang menjadi misterius.


"Kalo memang papa sudah merelakan Mama menikah dengan pria lain silahkan papa pergi sendiri dengan keadaan seperti itu, aku sih tidak keberatan kalo harus punya papa baru" ucap Zesya sambil duduk tenang, gestur tubuhnya tengil dengan sengaja memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya serta kaki kanan yang menopang kaki kirinya. Zehan hanya melempar tatapan sinis pada Zesya namun tidak berani berkata apa-apa, disamping itu ia sebenarnya tengah merasa sakit yang berdenyut hebat dikepalanya. Tapi seberusaha mungkin ia tahan karena gengsi jika harus meraung saat itu juga.


"Tuan luka anda kembali berdarah" kata Hejun dengan mata membola.


"Ya tuhan Zehan, lihatlah ini." teriak bibi Lyn histeris begitu melihat darah merembes ke baju pasien yang tengah dikenakan Zehan. Ia pun segera menekan tombol merah untuk memanggil para dokter dan suster yang berjaga saat itu. Zesya mengerutkan dahinya serta mengeraskan rahangnya begitu melihat rembesan darah Zehan yamg sedang dibersihkan oleh perawat yang langsung datang saat bibi Lyn menekan tombol didekat tempat tidur papanya. Zesya kemudian berdiri kemudian melangkah menuju pintu hendak keluar, namun berhenti tepat satu langkah di depan pintu.

__ADS_1


"Pa, untuk kali ini biar Zesya saja yang menyelamatkan mama. Tugas papa adalah harus cepat sembuh, karena jika saat mama kembali melihat keadaan papa semenyedihkan seperti ini, itu akan membuat mama merasa bersalah. tolong pikirkan adik ku yang berada dalam kandungan mama." ucap Zesya kemudian melangkah menjauh tanpa mendengar jawaban dari papanya diikuti Hejun, Joon Woon, Keni dan Gibran.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2