The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 75


__ADS_3

Pagi menjelang siang, Zehan sudah sangat sibuk dengan tumpukan berkas yang harus ia periksa dan ia tandatangani. Suasana kantor tetap sama seperti biasanya sibuk dengan hiruk pikuk pekerjaan masing-masing.


"Tok tok.." seorang gadis belia masuk dengan membawa dokumen ditangannya.


"Maaf pak, ini adalah data mengenai tender pembibitan proyek wilayah selatan yang bapak minta hari kemarin, maaf saya baru bisa menyerahkan semuanya hari ini. Karena orang-orang dari bagian humas di sana baru menyerahkannya. Dan ini adalah data orang-orang yang ikut dalam sub-tender." jelas gadis itu. Dia adalah pengganti sementara Sekertaris Zehan yang sedang cuti melahirkan selama beberapa bulan. Yang tentu saja jika pekerjaannya baik akan langsung diangkat menjadi asisten sekertarisnya. Zehan bergeming dari posisinya semula, ia hanya menoleh sekilas saja saat gadis itu menyerahkan dokomen itu kepadanya, kemudian ia kembali tenggelam dalam kesibukannya. Setelah gadis itu undur diri kembali ke mejanya, Zehan segera mengambil ponselnya dan menghubungi Gibran. Setelah beberapa saat menunggu saluran teleponenya barulah tersambung.


"Halo tuan maaf, tadi saya sedang menyetir."


"Tidak apa-apa. Apa kamu sudah menyelediki apa yang aku minta tempo hari?"


"Ah,, soal itu.. Sepertinya kecurigaan Kevin benar, tapi saya perlu memastikannya lagi. Tapi sepertinya kita perlu melakukan "sidak" jika perlu."


"Hmmm sepertinya celurut itu lupa meski mereka memiliki racun, namun bau mereka sangat menyengat."


"Kalo begitu bagaimana jika besok saya yang akan melakukannya ke Bogor?" usul Gibran.


"Baiklah kamu bisa urus semuanya, bersihkan hingga tuntas dan bersih hingga mereka bahkan tidak bisa beranak binak lagi di tempat ku" perintah Zehan.


"Baik tuan, saya mengerti."


Zehan meletakan ponselnya di atas meja, lalu ia beranjak dari kursinya. Kemudian ia berdiri di depan kaca. Dari balik jendela tersebut ia bisa melihat kesembrautan jalanan ibu kota. Zehan lalu melihat ke arah arlojinya.


"Kalian bodoh jika ingin bermain curang dengan ku" gumam Zehan.


Di rumah Zesya juga terlihat sibuk membantu ibunya berkemas, karena hari ini adalah hari terakhir mereka di Jakarta. Mereka harus tetap kembali ke Ciwidey, pertama karena memang Hasya belum ingin mengalihkan usahanya pada orang lain, yang ke dua beberapa minggu lagi Zesya akan mengikuti UAS kenaikan kelas, barulah setelah itu Zesya akan menentukan akan tetap bersekolah di sana atau membujuk Hasya untuk pindah kembali ke Jakarta.


"Ma, mama kapan Zesya punya adek bayi?" tanya Zesya tiba-tiba. Hasya melirik dengan ujung matanya.


"Pengen punya ade, tapi ngga bolehin papanya buat kerja malam" ucap Hasya dalam hati.

__ADS_1


" Kamu bantu doa aja, biar nanti papa yang ngerjain"


"Papa ngga pulang-pulang dong mah kalo kerja di kantor terus?"


"Mau jawab bener takut gimana? kalo ngga dijawab pasti nanya mulu" ucap Hasya lagi dalam hati.


"Sayang, misal mama yang jelasin proses pembuatan dede bayi kan ilmu mama kurang tuh, nah mending Zesya cek di ensiklopedia atau jurnal kesehatan repr*d*ksi aja gimana? Nanti mama beliin bukunya" usul Hasya.


"Hmmm iya deh, kalo gitu.. Jadi kapan kita ke toko bukunya ma?"


"Nanti ya sekalian ke pulang ke Ciwidey, gimana??"


"Ok mah" Hasya tersenyum lebar karena selamat dari pertanyaan-pertanyaan menjebak. Selalu dengan cara inilah Hasya bisa memenuhi rasa penarasan Zesya yang sangat tinggi. Dering gawainya tiba-tiba bernyanyi "Teh Yuwan" nama yang tertera di layar ponselnya.


"Halo.. Assalamualaikum teh" Hasya membuka percakapan sambungan selulernya.


"Al hamdulillah teh, teh maaf ya aku belum bisa ke tempat teteh"


"Ah ngga apa-apa atuh neng, teteh mah telepone teh cuma kangen aja, sama penasaran kamu udah pulang ke Indonesia atau belum?


"Udah teh, ini udah ada 3 hari aku di Jakarta"


"Hmm kamu sibuk ngga hari ini?"


"Ngga sih teh, apa teteh mau ke sini? Hehehe"


"Uuh dasar, harusnya kamu yang berkunjung su.."


"Ya kan sikonnya atuh teh, yang ada Mas Zehan ngomel-ngomel kalo aku keluar ngga sama dia, teteh kan tau suami ku itu macam apa protektifnya"

__ADS_1


"Dasar, possesiv ! Ya udah teteh ke sana sekarang kalo emang kamu ngga sibuk mah, teteh kebetulan ada di daerah deket-deket mantion kamu. Tapi mungkin rada riweuh soalnya teteh baru jemput sekolah si Kembar Gio dan Gava"


"Iya teh aku tunggu, kebetulan si Zesya juga dari tadi ngga ada temennye, soalnya kan Judis ada les katanya"


"Siapin cemilan yang banyak ya"


"Siap teh" kemudian Hasya menutup sambungan teleponnya


"Ayok Zes, bantu mama siapin cemilan dan buah-buahan buat wawa Nayuwan dan si kembara Gio-Gava"


"Asyiikk !! Zesya jadi ada temen main lagi" seru Zesya kegirangan.


Hasya sebenarnya berbohong pada Zehan dengan mengatakan bahwa Nayuwan tidak pernah menemuinya. Justu Nayuwan lah yang paling sigap membantu apapun kondisi Hasya saat masa pelariannya. Zesya dan si Kembar juga cukup akrab, namun terkadang obrolan ke tiga bocah itu terlalu di luar ekspektasi logika orang tuanya. Dan jika sudah seperti itu tentu saja mereka akan memberi makan anak-anak mereka dengan buku materi dan jurnal-jurnal ilmu pengetahuan yang tepat. Dengan begitu, meski Hasya dan Nayuwan terkadang tidak bisa menjawab secara tepat namun mereka berdua mampu mengarahkan anaknya untuk mendapatkan ilmu dari sumber yang tepat. Baik itu ilmu dunia, ataupun ilmu agama.


Zesya bahkan lebih hafal tafsir Al Quran dibandingkan Hasya yang hanya bisa membacanya saja. Tapi Hasya tidak minder apalagi ketika Zesya sekali waktu memperbaiki bacaan tartilnya. Karena ia sadar diri, anaknya itu memiliki lebih banyak ilmu dibanding dirinya. Ia justu sangat amat bersyukur karena Allah menganugrahkannya seorang anak yang cerdas juga insyaallah shaleh.


Selang hampir tiga puluh menit berlalu, sebuah ranger rover hitam terparkir di garasi tempat tinggal Hasya. Perempuan itu sudah bisa menebak siapa yang datang. Selain suara mesin mobil,tentunya karena ramai celoteh anak-anak, yang pastinya itu adalah Nayuwan and the Twins.


" Assalamualaikum bu hajah" seru Nayuwan saat melihat Hasya akan menyambutnya.


"waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, wawa cantik," sahut Hasya berhambur memeluk Nayuwan.


" eh Gio dan Gava udah gede ya, masya allah, ini yang namanya adil ya teh, yang satu mirip ayahnya, yang satu mirip bundanya." kata Hasya dengan antusias menguyel-uyel pipi anak-anak itu bergantian"


"padahal dulu tth kira ngandung satu, eh ternyata mereka kembarnya satu plasenta, al hamdulillah walau dempet-dempetan di dalam rahim mereka sehat dan tidak ada kekurangan apapun, padahal sempet mau digugurin soalnya takutnya lahir kurang sempurna, tapi ya sekali lagi Allah maha baik dan Maha mengetahui apa yang terbaik untuk umatnya. Terutama untuk teteh dan anak-anak. Ah kan teteh jadi curhat."


"Atuh ngga apa-apa teh, bagi-bagi pengalaman, siapa tau nanti nular sama aku punya anak kembar kayak teteh kan lucu" jawab Hasya. Mereka pun saling berseloroh mengorol ngalor ngidul ya mau bagaimana lagi.. khasnya perempuan jika saling bertemu ya begitu. Selain mengemil makanan tentu saja terkadang mengemil kata-kata hingga lupa waktu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2