
Seorang suster tengah membantu Hasya berganti pakaian, mereka bersiap untuk segera meninggalkan rumah sakit tersebut untuk menghindari kejaran Zehan tentunya. Hasya keluar dari toilet dengan menggunakan dress hamil berwarna lilac muda, meski tanpa riasan dan rambut yang diberi jepitan sederhana namun aura kecantikannya benar-benar bersinar menyilaukan mata semua orang terutama Faruq. Pria itu terdiam terpesona melihat keanggunan yang terpancar sempurna dari Hasya, kini sepertinya ia sudah benar-benar jatuh cinta pada istri temannya itu.
" Sayang, maaf sepertinya aku benar-benar tidak akan bisa merelakanmu kembali ke sisi suamimu yang selalu beruntung itu"bisik Faruq tepat disamping telinga Hasya. Yang sontak tentu saja membuat wanitu itu kembali bergidik ngeri dan jijik dengan sekelabat bayangan terburuk yang mungkin terjadi. Namun kali ini Hasya menatap tajam menyalang pada Faruq.
"Mungkin kamu pikir suamiku saat ini mungkin tengah berjuang mempertahankan nyawanya yang entah sisa tinggal berapa. Tapi harusnya kamu juga ingat bahwa aku masih memiliki seorang putra yang kekuatannya tidak berbeda dengan papanya, Zehan !" dengus Hasya balik berbisik dengan nada sinis sedetik sebelum Faruq menjauhkan wajahnya dari telinga Hasya. Rongga dadanya naik turun karena luapan emosi, sedang manik mata mereka sama-sama bergerak kemudian berisboro di sudut ekor mata masing-masing, saling melemparkan tatapan sinis, emosi yang pekat, terlihat jelas kesan ketidaksukaan dari mereka satu sama lain dengan alasan yang berbeda.
Pintu kamar diketuk tanpa dipersilahkan seorang pria yang terengah-engah seperti sedang dikejar seseorang, sekilas saja dari pakaiannya Hasya sudah bisa sudah menebak dengan pasti jika pria itu pasti adalah seorang pengawal yang terlatih.
"Ada apa?!" Faruq melempar tatapan bengisnya melalui ekor matan pada orang itu.
" Maaf tuan,.." belum sempat ia menjelaskan satu pengawal lagi terlempar dan tersungkur ke sudut ruangan rawat inap VIP tersebut.
"KURANG AJAR !! SIAPA YANG BERANI MEMBUAT KERIBUTAN INI ?!!" geram Faruq mengepal tangan seraya membalikan tubuhnya, namun belum juga siap, satu bogeman mentah dari Derren sudah menghantam wajahnya terlebih dahulu.
"Derren !! Apa yang kamu lalukan bangs*t !!" umpat Faruq.
"Lu yang apa-apaan?! Udah tua masih aja bertingkah !" "Bugh" satu pukulan keras sekali lagi menghantam wajah Faruq.
"Munafik !!! " Faruq pun membalas pukulan Derren dengan meninju perut dan pipi Derren, hingga membuat Derren tersungkur membentur sudut sofa di sana. Kesempatan itu digunakan anak buah Faruq untuk menangkapnya. Sedang Faruq yang sudah gelap mata langsung menghajar Derren habis-habisan. Kesempatan itu juga Hasya gunakan untuk melarikan diri dengan cara mengendap-ngendap, namun sayang belum sempat ia meraih handle pintu rambutnya sudah dijambak oleh Faruq.
__ADS_1
"Aahkk !!" Hasya memegangi rambutnya sambil memekik kesakitan. Keributan tidak berhenti hanya sampai di situ, beberapa petugas rumah sakit yang tidak sengaja melihat kejadian itu juga itu ditangkap dan dihajar oleh anak buah Faruq. Akibat insiden itu pihak rumah sakit pun segera memanggil polisi.
"Tuan helikopternya akan siap salam 10 menit !" kata seorang pengawal lainnya yang baru datang melaporkan tugasnya. Namun ia sedikit tercengang dengan keadaan didalam ruangan tersebut. satu orang terkapar dengan luka-luka lebam memenuhi wajahnya. Sedang tiga orang lainnya duduk di sofa dengan raut ketakutan.
"Sepuluh menit itu terlalu lama berengsek !!" maki Faruq.
"Huahahhaahahaa, bahkan tuhan pun tidak memihak pada niat jahat mu Faruq!!" Derren tertawa kencang mengejek Faruq yang sedang kebingungan supaya ia bisa dengan cepat pergi membawa lari Hasya dari rumah sakit tersebut.
"Diam kau berengsek !!" dengus Faruq makin kesal seraya menendang perut Derren sekali lagi dengan kencang. Faruq mengacak rambutnya kemudian mengacak pinggang, ia sudah terjebak sekarang, tidak mungkin mereka bisa lari dari kejaaran polisi jika memakai mobil, cara satu-satu agar bisa pergi dari sana hanya dengan menggunakan helikopter.
"Devan, dimana Anton ?!" tanya Faruq pada Devan, pengawalnya yang pertama kali muncul tadi.
"Suruh dia bersiap, dan suruh heli mengubah pendaratannya ke gedung hotel Fairmont !!" ucap Faruq tiba-tiba merubah rencananya. Mereka pun segera bergerak dengan membawa serta Derren yang sudah kepayahan, dan seorang petugas tadi sebagai sandra agar mereka bisa keluar dari rumah sakit tersebut agar bisa melewati para petugas lainnya yang pasti berjaga diluar ruangan tersebut.
Diam-diam Derren mengirim pesan pada Zesya, Zesya pun segera memerintahkan Keni untuk melajukan mobilnya agar lebih cepat lagi.
Dari kejauhan terlihat Faruq sedang memangku Hasya, diikuti mungkin seorang perawat, juga beberapa anak buah Faruq yang menyeret tubuh Derren yang pinsan, petugas medis yang mereka bawa sebagai sandra. Dengan kecepatan tinggi Keni kemudian membanting stir mobilnya untuk memblokade Faruq yang hendak menuju mobil yang didalamnya sudah terdapat Anton yang siap sedia dengan mesin menyala.
CEKIIIIITTTT !!! Brruaaakk !!! Mobil yang dikemidukan Keni menabrak bagian kap mobil dan sedikit menggeser posisi mobil itu. Anton yang berada didalamnya sedikit oleng akibat guncangan tabrakan tersebut. Faruq yang melihatnya mematung sesaat, kedua tangannya menggenggam erat tubuh Hasya yang berada dalam gendongannya.
__ADS_1
"Sudah kukatakan bukan? Meski bukan suamiku, putraku pasti datang menyelamatkan ku!" ucap Hasya menyeringai tipis sambil menatap dengan tatapan mengejek pada Faruq.
"Apa kamu tidak akan sakit hati jika aku menembak mati anak mu itu sekarang demi membawamu pergi dari sini sayang" sahut Faruq, kemudian ia menurunkan Hasya namun tetap memeluk erat pinggang wanita itu. Lantas ia pun mengeluarkan sepucuk senjata api lalu mengarahkannya pada Zesya yang sedang setengah berlari menuju ke arah mereka.
"Lihatlah kematian anakmu Sayang"
"DORRR !!" suara cetusan yang sangat keras memekakan telinga saat peluru dari pistol itu ditembakan. Namun sayangnya peluru tersebut ternyata malah mengenai perut Hejun yang sengaja menjadikan tubuhnya sebagai tameng menyelamatkan Zesya. Keni segera menghampiri Hejun yang mulai bersimbah darah, meski mereka di area parkiran rumah sakit tetap saja tidak ada seorang pun yang berani mendekati mereka saat ini. Bahkan polisi pun hanya berjaga dari radius sekitar 50 meter dari tempat kejadian.
Tanpa perintah dari Zesya Joon Woon diikuti beberapa anak buahnya segera berlari menghampiri Faruq dan anak buahnya. Layaknya film action perkelahian antar para pengawal terlatihpun terjadi disana.
Hasya tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, dengan sekuat tenaga ia menginjak kaki Faruq, disaat itulah ia berlari sekencang-kencangnya bersama perawat yang mendampinginya tadi kembali ke arah rumah sakit. Kesempatan itu Zesya gunakan untuk mendatangi Faruq yang terlibat kebingungan karena Hasya berhasil lari. Dengan hanya beberapa pukulan dan tendangan saja Faruq sudah bisa berhasil ditumbungkan oleh Zesya. Keni yang baru kembali setelah mengantarkan Hejun untuk langsung di tangani rumah sakit segera menghampiri Zesya yang sedang menghajar Faruq dengan membabi buta, hingga pria itu jatuh tersungkur pada asal area parkiran. Keni berjongkok sambil menyeringai pada Faruq saat ia memeriksa keadaannya.
"Ckckck .. Saya kira tuan Faruq adalah orang yang punya kekuatan yang melebihi kekuatan tuan Zehan, sampai berani-beraninya melawan tuan Zehan bahkan berani menculik istrinya yang sedang mengandung. Hah!! ternyata hanya segini saja!" nyinyir Keni,bibirnya menyungging tipis sambil menepuk nepuk pipi Faruq yang lebam karena terkena beberapa pukulan dari Zesya.
"Tuan, saya ingatkan satu, setajam apapun peluru tuan pada akhirnya tuan akan mati ketika peluru tuan habis. Lihat baik-baik" kata Keni sambil menunjuk pada Zesya yang masih menyorotnya dengan tatapan masih ingin menghajar Faruq.
"Dia itu tuan kecil kami, usianya masih belasan tahun, tapi meski begitu tetap saja ia bisa menghajarmu hingga sepayah ini. Pikirkanlah apa yang akan tuan Zehan lakukan padamu setelah ini" Keni kemudian beranjak dan memerintahkan anak buahnya untuk membawa Faruq dan anak buahnya untuk di bawa ke kantor polisi yang tentu saja hanya sebagai formalitas belaka. Sejatinya orang-orang seperti Faruq yang memiliki kuasa dengan uang mereka akan terbebas begitu saja. Dan ketika perkara sudah dianggap selesai giliran kekuatan dibawah tanahlah yang mengambil kendali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1