
"Lho lho.. Aa berantem?" tanya Hasya dengan alis bertaut. Deliza menggangguk takut-takut.
"hiks..hiks.. " Deliza mulai menangis sambil menunduk ketakutan.
"Eeh.. Kok teteh nangis.. cup cup.. sini sini,, cerita sama mama sebenarnya ada apa tadi di sekolah?" Hasya duduk di samping Zesya dengan raut lebih serius.
"Hikss.. tapi mama janji jangan hukum Aa, karena Aa ngga salah ma" kata Deliza mengisak. Hasya hanya mengangguk mengiyakan seraya mengusap air mata putri kecilnya itu.
"Jadi.. hiks.. tadi di sekolah aku kan mau makan bekel di kantin sekolah bareng Aa juga Salma temen aku. Hiks.. terus tiba-tiba dateng A Sultan temen kelasnya Aa. Aku,Salma dan Aa makan bekel kan di kantin. Posisinya Aa duduk samping aku, sedang Salma sama depan-depanan sama aku dan disampingnya ada anak lain, aku ngga tau anak itu kelas berapa, tapi mungkin kakak kelas enam soalnya badannya sedikit lebih tinggi dari Aa, cowok." kata Deliza mulai bercerita sambil sesekali terjeda bekas tangisnya.
__ADS_1
"Lagi enak-enak makan gitu, A Sultan yang kucluk-kucluk datang nyamperin kita tapi sambil gebrak meja kita ma. Aa noleh tuh. Mama kan tau kalo aa natap orang itu sinis banget. Tapi Aa sampe situ ngga ngapa-ngapain ma, cuma noleh doang terus nerusin makan bekel lagi. Gitu juga yang duduk samping Aa, tetep lanjut makan. Tapi tiba-tiba A sultan malah narik aku terus cium pipi aku Ma. Aku reflek nampar A Sultan, begitu sadar aku langsung minta maaf. Tapi A Sultan malah mau nampar balik Aku. Tangan A Sultan ditahan sama anak cowok yang duduk depan aku. Eh Aa-Aa itu malah didorong sama A Sultan sampe kejengkang Ma" Deliza terus bercerita sambil berdiri dihadapan Hasya.
"Aku sama anak-anak yang lain teriak kaget kan ma. Eh gitu si A Sultan balik lagi ke ngeliat aku terus tangannya udah kaya mau mukul aku gitu. tapi lagi-lagi berhasil ditahan sama Aa. Terus mereka beratem ma. Aku langsung lari ke parkiran nyari ka Joon sekalian laporan sama guru, pas dateng lagi ternyata A Sultan sama temen-temennya lagi ngeroyok Aa sama Aa yang bantuin aku pertama" Hasya terbelalak begitu mendengar hampir keseluruhan cerita dari Deliza. Dan langsung memeriksa keadaan Zesya dan ternyata benar. Ada beberapa luka memar di wajah, lengan, paha dan kaki putranya itu.
"Ka Joon sama guru-guru misahin kan Ma, tapi A Sultan tetep aja nantangin Aa buat berantem padahal dia keadaan lebih parah dari Aa" namun raut kekhawatirannya berganti dengan raut ngeri sesaat setelah memeriksa keadaan Zehan yang memarnya tidak seberapa sebenarnya, karena raut wajah ngeri itu ternyata tidak ia tujukan untuk putranya itu tapi lebih ke membayangkan bagaiman keadaan anak yang berkelahi dengan Zesya.
"Tapi anak itu ngga sampe kenapa-napa kan?" Hasya mengernyih.
"Bukan gitu A" Hasya serba salah.
__ADS_1
"Gini, mama tanya begitu karena tau Aa itu bisa bela diri. Aa kan selama ini latihan terus sama Joon Woon belum lagi sama papa, Mama yakin kalo luka memar kamu cuma segini anak itu paling ngga mukanya hancur karena lebam. Iya kan?" Hasya menekankan kalimatnya. Ya tentu saja kedua anaknya itu terdiam. Dia tau Zesya adalah anak yang cukup tenang, cuek, raut wajahnya juga hampir selalu terlihat kaku seperti Zehan, tapi dibalik semua itu Zesya seperti bom yang siap meledak ketika ada yang mengganggunya dengan berlebihan. Apalagi kali ini yang diganggu adalah adik perempuan kesayangannya. Hasya sudah bisa membayang bagaimana situasi saat itu.
"Kalian diam, artinya yang mama katakan tadi benar, bukan? Kalo begitu besok saat papa kalian sudah pulang, kita jenguk anak itu"
"Tapi ma ..!! " kalimat Deliza tertahan saat Zesya sudah meraih tangannya kemudian Zesya menggelengkan kepalanya, yang mengartikan sudah jangan dibantah lagi, jika dibantah mama mungkin akan lebih marah lagi.
Zesya paham kenapa mamanya kemudian lebih khawatir dengan anak itu. Karena ia juga menyadari saat berkelahi tadi anak itu sebenarnya sudah memohon ampun dan meminta maaf. Tapi karena Zesya sudah naik pitam ia jadi sulit mengontrol emosinya. Dan itulah alasan kenapa ia belajar bela diri. Agar dia lebih bisa mengontrol emosinya dan lebih bisa bertanggungjawab atas semua hasil perbuatannya. Meski dalam hal ini ia hanya ingin membela adiknya. Tapi bukan sikap ksatria juga kita lawan sudah tumbang, memohon ampun bahkan minta maaf tapi ia masih menghajarnya. Jika memang ia ingin dianggap bisa melindungi adik-adiknya terlebih dulu ia harus bisa mengontrol emosinya.
Joon Woon melirik pada Zehan dari ujung matanya. Sikapnya selalu begitu saat ia memperhatikan Zesya, berdiri kaku seperti seorang prajurit, wajah tanpa ekspresi, serta tatapan dingin. Ia hampir jarang tersenyum. Meski terkadang ia ikut tersenyum saat melihat Deliza mengganggu Zesya dengan tingkahnya yang menggemas juga imut menurutnya. Deliza memang seperti itu, setelah ia bertemu dengan Nayuwan beberapa waktu lalu. Ia seperti seseorang yang terlahir kembali. Dengan pembawaan yang selalu bersemangat dan selalu tersenyum ceria. Ia seperti anak kelinci yang tidak bisa diam hanya disatu tempat saja. Dia juga sangat polos, tidak jarang apapun yang sedang dipikirkannya menjadi sesuatu yang lucu meski ambigu. Dan tentu saja selalu berhasil membuat Hasya dan Zehan menghela nafas karena kehabisan kata-kata mereka. Harus diakui kehadiran Deliza membawa warna dan kehangatan tersendiri bagi keluarga Deliza.
__ADS_1
Dan saat Joon Woon melihat Deliza berlari ke arahnya sambil menangis meminta tolong agar menolong kakaknya yang sedang dikroyok tentu saja ia langsung tergerak, bukan karena ia ingin melerai perkelahian itu tapi karena Deliza yang mendatanginya sambil menangis. Ketika sudah sampai di tempat kejadian senyum puas pun menyeringai di bibirnya, karena Zesya menghajar anak itu sampai tidak berdaya. Terlebih saat mengetahui alasan perkelahian itu karena anak itu sudah kurang ajar pada majikannya, ingin rasanya ia ikut menghajar anak itu, namun urung karena jika ia ikut campur anak itu bukan hanya masuk rumah sakit tapi sudah bisa dipastikan masuk ke liang lahat saat itu juga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...