The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 23


__ADS_3

Deren menghempas jasnya ke tempat tidur, dan membuang dasi kupu-kupunya ke sembarang arah. Kemudian ia menghempaskan bok*ngnya ke atas kasur lantas menyugar rambutnya dengan frustasi.


"Aaaaarrgghhh berengs*k !! Kenapa dia mesti muncul sekarang Aaaaarrrrghh !!!" geram Derem kemudian yang menghempaskan tubuhnya lalu menatap langit-langit kamar hotel. Isi kepalanya seolah mau pecah memikirkan segala hal yang mungkin terjadi setelah kemunculan Zehan secara tiba-tiba yang sekaligus menghancurkan moment indah yang sehasusnya banyak terjadi saat pesta tadi.


Alexa keluar dari toilet dengan hanya mengenakan handuk saja dengan rambut yang digulung oleh handuk juga. Semerbak wangi segar parfume lembut milik Alexa menyebar ke seluruh ruangan kamar tersebut. Kemudian ia mendekati tubuh Deren yang tengah berbaring menutup mata sambil memijat pelipisnya dengan tangan kirinya.


"Sayang, "Alexa dengan manja mendekati leher Deren, lalu ia menaruh kepalanya di dada pria itu.


"Hentikan Lexa!" ucap Deren dengan nada sedikit meninggi saat perempuan itu membuka satu persatu kancing kemejanya. Namun alih-alih berhenti Alexa malah membuka kancing dan resleting celana Deren lalu mengelus lembut sesuatu di balik celana boxer hitamnya Deren.


"LEXA !!" bentak Deren, namun Alexa seolah tak peduli. Tangan lembutnya kini sudah berada di dalam celana boxer Deren dan mulai memainkan sesuatu milik pria itu. Perlahan tensi pria itu menurun, perhatiannya kita beralih pada sentuhan lembut Alexa pada miliknya. Alexa sedikit menurunkan celana boxer Deren lalu mengeluarkan sesuatu yang mulai menegang di sana.


Tangan Deren meraih dagu perempuan itu hingga membuat perempuan itu mendongak ke arahnya lalu dengan perlahan ia mencium bibir Alexa. Beberapa menit kemudian mereka sudah saling ******* bibir masing-masing. Alexa kini sudah duduk di atas pangkuan Deren dengan posisi mengangkangi pria itu. Kemudian mereka saling menempelkan kening mereka dan saling mengambil nafas setelah ciuman panas mereka barusan.


Perlahan Deren menarik handuk yang masih membelit tubuh perempuan itu. Alexa menggigit bibirnya merasakan kejutan-kejutan dari setiap perlakuan Deren saat lelaki itu bermain-main dengan dad*nya.


"Kamu sudah membangunkan adik kecil ku, kamu harus bertanggungjawab Lexa" ucap Deren lirih namun penuh nada penekanan.


"Itu memang tujuan ku, puaskan aku Deren, tapi ingat harus hati-hati ada anak kita di dalam sini" ucap Alexa sembari mengantarkan tangan Deren ke perutnya yang masih rata.


...----------------...


Jam 2 pagi, Hasya terbangun karena merasa haus, namun ia terheran karena Zehan tidak ada di tempat tidurnya. Padahal biasanya lengan pria itu selalu melingkari tubuhnya. Ia lalu memakai sandalnya hendak menuju dapur karena air di kamarnya ternyata lupa ia isi. Sesampainya di dapur ia mengambil gelas dan mengisi pitcher teko yang ia bawa dari kamar.


"Sya, kamu bangun?" tanya Zehan sembari meletakan dagunya ada bahu kanan Hasya.


"Astaga Tuan" pekik Hasya terkejut sembari mengelus -elus dad*nya.


"Maaf, aku membuatmu terkejut." ucap Zehan yang ternyata sudah berdiri tepat di belakang Hasya. Deru nafas Zehan lembut menerpa pipi Hasya.


"Tuan haus?" tanya hasya sembari menolehkan sedikit kepala, melihat Zehan melalui sudut matanya. Zehan hanya menggeleng Saja.


"Lalu tuan mau apa?"


"Ingin kamu"

__ADS_1


"Gombal.."


"Sya kita percepat pernikahan kita, atau kita menikah dulu resepsi aku akan buatkan yang lebih megah." namun Hasya menggelengkan kepalanya kemudian berbalik pada Zehan lalu mengalungkan tangannya ke leher Zehan.


"Kenapa?" tanya Hasya dengan tatapan menggoda.


"Aku ingin cepat-cepat menghamili mu, puas?!" mendengar jawaban Zehan yang bernada kesal mengulum tawanya.


"Tinggal 2bulan Mas.." ucap Hasya yang baru kali ini memanggil Zehan dengan sebutan lain.


"Mas??" Zehan melirik dengan salah tingkah.


"Iya, mulai hari ini aku panggil Mas? Ngga mau?" goda Hasya.


"Mau" sahut Zehan cepat, tersenyum-senyum aneh. " Kalo begitu mari kita tidur lagi, besok mas mu ini harus bekerja" ucap Zehan sembari menggendong Hasya ala-ala bridalstyle ke kamar mereka.


"Kyaaaa,, mas ih turunin" pekik Hasya sambil tertawa, namun Zehan tidak memperdulikannnya, Dia terus membopong Hasya hingga ke kamar mereka, setelah sampai Zehan meletakan Hasya dengan lembut, menatapnya lembut penuh kasih sayang, dan itu membuat Hasya malu hingga memalingkan wajahnya ke arah lain demi menghindari kontak mata dengan pria yang kini tengah mengungkungnya.


"Sya" panggil Zehan.


"Aku juga sayang mas" Hasya membenamkan diri pada pada pelukan Zehan dengan nyaman. Perlahan merekapun memejamkan mata kemudian terlelap kembali.


...----------------...


Pagi-pagi Hasya sudah bangun, seperti biasa ia membantu Bi Ani menyiapkan sarapan untuk Zehan., Sementara bi Ani membersihkan rumah dengan dibantu 3 pelayan yang lainnya. Khusus keperluan Zehan, Hasyalah yang menyiapkan semuanya itupun setelah Hasya merengek pada Zehan. Tunggu?! Kenapa hanya Zehan? Karena memang sekembalinya mereka ke tanah air, mereka langsung tinggal di Mantionnya Zehan pada paman dan bibinya menyuruh mereka untuk tinggal di sana saja dulu. Mereka masih khawatir dengan kondisi Zehan. Setelah bernego akhirnya mereka diizinkan untuk langsung tinggal di Mantion dengan syarat, pak Edy dan Bi Ani harus ikut mereka. Dan secara tekhnik mereka memang membutuhkan bantuan bi Ani dan pak Edy.


Dari luar terdengar deru mobil terhenti, mungkin Gibran dan Zia tebak Hasya sambil terus memasak sarapan untuk Zehan yang masih terlelap.


"Pagi kakak ipar," sapa Zia sembari menaruh tasnya di atas meja makan.


"Eh sudah datang, duduklah. Mana Gibran, non?" tanya Hasya sambil terus mengaduk-aduk nasi goreng yang tengah ia buat untuk sarapan.


"Lagi ambil sesuatu yang mau di bahas sama kak Zehan katanya, mungkin soal RUPS di Genesis hari ini" jawab Zia sembari mendekati calon kakak iparnya, kemudian melongo nasi goreng yang hampir siap.


"Kak,.."

__ADS_1


"Saya, non"


"Pck !" Zia mendecak sebal saat Hasya masih memanggilnya dengan sebutan "non"


"Kenapa?" Hasya menoleh pada Zia dengan raut bingung.


"Berhentilah memanggilku non, Zia aja kak"


"Tapi tapi "


"Ngga ada tapi-tapian, kalo ngga aku ngambek" ucap Zia dengan nada mengancam, bibir yang mengerucut serta tangan yang lipat di depan dad*nya.


"Eeihh kok gitu?" Hasya menoleh pada Zia yang sedang berdiri disampingnya dengan berlagak ngambek membelakanginya.


"Hoalah Hoalah,,, Aku mengerti.. Zi, sayang tolong siapkan piring di meja sayang, sementara aku akan membangunkan kakakmu"Zia yang mendengar itu tersenyum lalu berhambur dengan gems memeluk Hasya yang masih menganduk aduk nasi goreng yang tengah ia buat.


Gibran tersenyum melihat pemandangan yang menyenangkan itu. Pun dengan Zehan yang sedari tadi berdiri bersandar di dinding tidak jauh dari tempat itu sambil menyilang kaki dan tangannya tersenyum bahagia. Iya baru menyadari satu hal, bahwa saati ia dulu masih bersama Alexa, Zia cukup menjaga jarak dengan mereka, boro-boro bercanda seperti tadi Zia lebih sering menghindari mereka, bahkan dengan dirinya Ziapun menjadi menjauh namun hari ini Zehan bisa merasakan kehangatan antar kakak beradik yang dulu sempat hilang.


"Syukurlah" gumam Zehan tersenyum hangat.


"Eh mas udah bangun, ayo kita sarapan" sapa Hasya dengan senyum ceria. Zehanpun berjalan mendekati mereka.


"Ciee ciee, udah panggil Mas ya sekarang?" goda Zia sembari menyendok nasi goreng untuk suaminya.


"kalo gitu tolong jangan panggil saya panggil tuan, masa ke tuan Zehan mas, ke saya masih tuan, kan kurang etis Sya" pinta Gibran.


"Hmm.. "Hasya melirik pada Zehan sembari mengambil piring makan untuk sarapan Zehan. Zehna mengangguk.


"Boleh, tapi jangan disamain" ucap Zehan datar.


"Baiklah,, mulai sekarang saya panggil tuan Gibran dengan panggilan abang. Maaf saya ngga bisa kalo harus panggil nama" semua orang mengulum tawanya, ya biar bagaimanapun Hasya harus tetap menghormati Gibran yang usianya beda 3tahun darinya. Gibran tersenyum mengangguk tanda setuju, mulai sekarang Hasya memanggilnya dengan panggilan abang, terdengar manis mengingat dirinya hanya sebatang kara, dan kini seolah-olah ia memiliki seorang adik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2