
"Istri saya bagaimana dok?" tanya Faruq terlihat cemas.
"Al hamdulillah istri Bapak sudah kembali tenang, namun kita harus segera membawanya ke rumah sakit bersalin. Karena biasanya pasien ibu hamil yang mengalami gejala eklampsia harus segera dilakukan persiapan persalinan. Karena jika tidak bisa membahayakan nyawa ibu dan anak dalam kandungannya" jelas Dokter Hendra.
"Baiklah dok, lakukan yang terbaik untuk istri saya" kata Faruq tertunduk lemas dan terlihat sangat menyesali semua perbuatannya terhadap Hasya. Hanya karena obsesinya terhadap kehamilan istrinya nyawa Hasya malah dalam bahaya. Dan jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Hasya dan anak dalam kandungannya sudah pasti ia pun tidak akan pernah selamat dari Zehan.
Di rumah sakit lain Zehan sudah melewatu masa kritisnya dan sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Sementara itu gelaran pesta resepsi Hejun dan Melinda hanya berlangsung satu hari ini. Sebenarnya saat mengetahui Zehan dilarikan ke rumah sakit juga Hasya yang juga tiba-tiba menghilang Hejun ingin segera membubarkan acaranya. Namun paman Yohan menolaknya, bukan ia tidak khawatir pada Zehan dan Hasya namun ia juga harus memikirkan tentang keluarga besannya. Akhirnya mereka melanjutkan acara hingga selesai. Sesuai jadwal lepas ashar acara selesai, mereka pun bergegas ke rumah sakit bahkan mereka tidak sempat mengganti pakaian mereka terlebih dahulu.
"Joon, bagaimana Zehan?" Zia terlihat panik.
"Tuan sudah selesai di operasi, kata dokter beliau akan segera dipindahkan dari ruang intensiv setelah siuman." terang Joon Woon
"Hhaaahh,,, syukurlah" Gibran terduduk lunglai saat mendengar keadaan Zehan yang kemungkinan besar sudah melewati masa kritisnya.
"Hasya.. Di mana Hasya Joon? Keni dan Zesya juga di mana?"Bibi Lyn kembali panik setelah menyadari hanya ada Joon Woon dan Deliza saja yang berada di sana.
"Nyonya Hasya diculik seseorang, Tuan muda dan Bang Keni sedang memeriksanya" kata Joon Woon dengan raut gelisah.
"Baiklah kalo begitu kita tunggu kabar dari Zesya, anak itu tentu sudah punya rencana sendiri,"
"Tapi pah, Zesya itu masih kecil" Zia memotong kalimat Gibran
__ADS_1
"Zia, yang belia itu hanya angka umurnya saja, meski begitu kami jyga tidak akan tinggal diam. Tapi kamu harus percaya padanya.. hmmm?" Zia terdiam, hati kecilnya ia mengiyakan apa yang dikatakan suaminya barusan, yang belia itu hanya usia Zesya bukan pola pikirnya. Zia lalu memeluk Deliza yang duduk di ujung kursi ruangan tersebut. Tidak berapa lama kemudian belangkar yang membawa Zehanpun keluar menuju ke ruang perawatan VIP yang sudah mereka siapkan.
...----------------...
Derit pintu terbuka, seseorang wanita mengendap-endap mendekati tempat tidur Hasya yang tengah tertidur. Namun ia terkejut ketika melihat Hasya ternyata sudah terbangun.
"Bu bidan, tolong bantu saya, saya ingin pulang" rengek Hasya. Dalam keadaannya yang seperti sekarang hanya itu yang bisa ia lakukan, ia tidak mau membahayakan anak dalam kandungannya jika ia salah bertindak. Akan lebih baik ia menunggu sambil berusaha meminta pertolongan pada siapapun. Perempuan yang dipanggil bu Bidan oleh Hasya itu pun kembali mendekati pintu dan hanya melihat dua orang pengawal yang berjaga didepab pintu, lalu ia menutupnya kembali.
"Saya membantu ibu tapi ceritakan semuanya terlebih dahulu, karena saya tidak bisa begitu saja ikut campur dalam perkara rumah tangga seorang pasien," ucap Ernia dengan suara pelan.
"Dia bukan suami saya bu, dia adalah teman suami saya, saya juga tidak mengerti kenapa dia melakukan semua ini kepada saya." ungkap Hasya dengan mata-mata berkaca-kaca.
"Apa?! ekhem.." pekik Ernia hampir meninggikan suaranya karena sakimg terkejutnya dengan apa yang diungkapkan Hasya barusan.
"Saya tau Bu Bidan tidak mungkin mengeluarkan saya dari sini dengan mudah. Tapi ada cara agar saya bisa keluar dari sini dengan aman" ucap Hasya.
"Bagaimana caranya?"
"Ibu bawa ponsel?" Ernia mengangguk.
"Ah benar, kenapa saya tidak kepikiran untuk menghubungi polisi" kata Ernia sambil mengluarkan ponsel hendak menghubungi 119, namun tangan Hasya segera mencegahnya.
__ADS_1
"Jangan lalukan itu bu, karena mungkin nantinya nyawa ibu yang nanti dalam bahaya." Ernia pun mengurungkan niatnya untuk menghubungi polisi.
"tolong foto diri saya lalu kirim pada nomor telpon yang saya berikan pada ibu, itu nomor kontak ipar saya Zia, dan juga sharloc tempat ini, tapi lakukan saat ibu sudah tidak di Area rumah sakit ini." Ernia pun menggangguk paham dan segera melakukan apa yang disuruh oleh Hasya. Tiba-tiba saja handle pintu bergerak, Hasya dan dan Ernia saling bertarapan dan menelan saliva masing-masing. Segera Hasya kembali berbaring berpura-pura tidur sedang Ernia berpura-pura mengecek cairan infus yang kebetulan tinggal sedikit lagi. Dugaan mereka tepat, yang masuk ternyata Faruq dengan membawa buket bunga lily berukuran sedang.
"Bagaimana keadaan istri saya bu?" tanya Faruq tanpa curiga. Ernia menyeringai jijik saat Faruq menanyakan keadaan Hasya yang terlihat tengah terlelap.
"Keadaan istri bapak jauh lebih tenang, kita beruntung karena tidak ada tanda-tanda pembukaan dini efek dari kejang-kejang kemarin. Namun saya sarankan ibu tetap di rawat beberapa hari lagi untuk memastikannya pak, mengingat HPL ibu juga sepertinya mungkin hanya berselang satu atau dua minggu lagi." kata Ernia berusaha setenang mungkin saat menjelaskannya pada Faruq.
"Baiklah kalo bu Bidan, dan saya sangat mengucapkan banyak terima kasih karena dari kemarin ibu sudah sangat membantu kami." ucap Faruq seraya membelai anak rambut yang ada dipelipis Hasya.
"Sudah menjadi tugas saya pak, kalo begitu saya izin pamit pulang ke desa pak, jika sudah di sini in sya allah ibu akan baik-baik saja. Lagi pula ada dokter Hendra juga. mungkin sebentar lagi beliau ke sini. Saya ke sini hanya sekedar memeriksa saja sekalian pamit pak"
"Ini tidak banyak bu, tapi mudah-mudahan bisa membantu untuk membeli vitamin untuk ibu-ibu hamil di sana" ucap Faruq sambil berdiri menyalami Ernia juga sembari memberikannya sebuah amplp coklat dengan isi sepertinya cukup tebal.
"Tidak usah pak, saya melakukannya dengan ikhlas, sudah menjadi bagian dari tanggung jawab saya sebagai bidan untuk memastikan keselamatan ibu hamil dan bayi."
"Tolong terima Bu, saya yakin istri saya akan kecewa kalo ibu menolaknya" Ernia nampak bingung, namun ekor matanya tidak sengaja menangkap isyarat dari Hasya agar ia menerimanya, supaya ia bisa cepat menghubungi Zia.
"Baiklah pak, terima kasih banyak, jika nanti ibu sudah melahirkan tolong hubungi saya" pinta Ernia dengan tulus.
"Baik bu, saya akan segera menghubungi ibu jika istri saya sudah melahirkan" setelah berpamitan Ernia pun tetap berusaha tenang agar tidak mencurigakan meski sejujurnya hatinya mencelos khawatir, ia merasa kakinya seperti sudah tidak lagi menapak bumi saking ia ketakutan ketahuan oleh Faruq dan para pengawalnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...