
Sepanjang perjalanan Zesya nampak begitu riang, rute yang mereka lalui masuk ke daerah perkampungan penduduk, sawah, ladang, area perkebunan, serta beberapa sungai kecil. Hingga mereka sampai di sebuah tempat agak jauh dari pemukiman, meski masih ada beberapa rumah namun jarak satu dengan yang lain agak berjauhan.
"Aaaaaaaa" tiba-tiba Zesya dan Joon Woo terkejut terdengar sebuah jeritan seorang anak saat mereka sedang minum melepas penat mereka. Zesya dan Joon Woo pun segera bergegas mencari sumber suara.
"Ampuun pa.. ampuun...hiikkss . aaaah" rintih anak itu.
"Sia lamun teu di urus ku aing rek diurus ku saha? (Kamu kalo tidak di urus oleh ku, kamu mau diurus sama siapa?)" geram seorang bapak-bapak.
"Enyak pak ampun... hampura.. hiiks hiks.." tangis anak itu.
"Sia dasar kurang ajar !" PLAK !! Satu tamparan keras mendarat di pipi anak itu, hingga sudut bibirnya sobek dan mengalirkan darah segar.
BRAAKK !!! tanpa permisi setelah Zesya dan Joon Woo memastikan sumber suara, Joon Woo langsung mendobrak salah satu sebuah rumah, namun dibanding sebuah rumah mungkin lebih pantas di sebut saung atau bugug, karena memang benar-benar tidak layak huni.
"GOBL*G SAHA MARANEH ?! WANI NGARUKSAK IMAH AING !!" teriak seorang bapak yang berada di dalam rumah itu. Dari mulut tercium bau mulut bercampur bau miras yang sangat menyengat. Zesya melihat keadaan sekeliling dalam gubug tersebut, benar-benar kotor, kumuh, bau busuk dari sampah, bau pesing bercampur bau miras. Netranya seketika terbelalak ketika melihat seorang gadis kecil terbujur lemah dengan keadaan mengenaskan baju yang compang camping, meski tubuhnya kotor, Zesya masih bisa melihat sisa memar di kaki dan lengannya, ditambah darah segar yang masih mengalir di sudut bibir anak itu.
"Kak Joon Woo, tolong kakak urus orang tua biadab itu !" titah Zesya. Joon Woo, mengangguk segera menganangi pemabuk itu. Tidak butuh waktu lama atau tenaga berlebih untuk Joon Woo menumbangkan serta mengikat tangan pria itu, karena memang keadaannya dia sudah mabuk karena miras. Setelah selesai lantas Joon menyeret pria dan memangku anak itu keluar gubug. Sementara Joon Woo menghubungi bantuan untuk mengirimkan mobil ke tempat mereka berada sekarang, Zesya mendekati dan memperhatikan anak kecil yang tergolek lemah dihadapannya.
"Ampun pak.hhiiiiikks ampun..." igau anak itu.
__ADS_1
"Tenanglah kamu sudah aman" bisik Zesya sembari menyentuh lembut pelipis anak itu.
Selang tiga jam bantuan tiba, cukup lama, namun wajar karena medan yang mereka tempuh untuk mencapai lokasi Zesya berada cukup sulit untuk dijangkau kendaraan normal. Sekitar jam 11 malam, Zesya dan yang lainnya baru tiba di rumah. Hasya yang sudah menunggu mereka dengan panik segera menghampiri Zesya saat anak itu turun dari mobil yang menjemputnya. Ternyata Zehan juga sudah pulang dari Surabaya rupanya.
"Nak kamu ngga apa-apakan? mana yang luka?" tanya Hasya panik. Sedang Zehan masih memperhatikannya dengan memangku tangan didad*nya.
"Zesya ngga apa-apa Ma," kata Zesya agak risih dengan perlakuan berlebihan mamanya. Namun tidak bisa ia tolak karena itu adalah suatu kewajaran.
"Tapi tapi.." kata Hasya masih tidak percaya.
"Yang terluka bukan aku ma, tapi anak itu" tunjuk Zesya pada anak yang sedang tertidur dalam dekapan Joon Woo. Seketika netra Hasya terbelalak, mulutnya yang menganga ia tutupi dengan kedua tangannya begitu ia melihat keadaan mengerikan anak yang sedang dibopong oleh Joon Woo.
Zehan masih menunggu penjelasan Zesya.
"Tanpa Zesya jelaskan dengan detail papa pasti bisa langsung memahami bagaimana keadaannya. Dan tolong papa urus orang tua biadab itu, tanpa melibatkan orang luar" ucap Zesya sambil melangkah masuk tanpa menoleh lagi ke arah papanya.
"Ciih anak itu !" Zehan sedikit merasa sebal dengan sikap rogan anaknya sendiri, yang terlalu paham bagaimana cara memanfaatkan kekuasaan papanya dalam menangani masalah seperti ini.
"Benar-benar buah jatuh tidak jauh dari pohonnya ya?" ucap Gibran yang juga berada di sana. Zehan tidak menjawab karena memang benar itu adanya.
__ADS_1
"Tuan lalu harus saya apakan pria itu?" tanya Joon Woo dengan sikap kakunya.
"Masukan dia ke tempat rehab saja, jika setelah itu tidak ada tanda-tanda jika ia merasa bersalah. Aku yakin kamu tau apa yang harus kamu lakukan." kata Zehan dengan wajah datar juga tatapan dingin pada pria yang masih terikat itu.
"Baik Tuan, saya mengerti" setelah memberi hormat Joon Woo dan yang lainnya pun undur diri.
"Heh..! Untung orang itu bertemu dengan kita Tuan" Kata Gibran sambil menyungging senyum di sudut bibirnya.
"Maksudmu?" toleh Zehan.
" Ya.. Jika orang itu bertemu dengan istri Tuan Gavin, sudah dipastikan orang itu tidak akan lagi ada dimuka bumi ini, perempuan itu tidak akan memberi kelonggaran sedikitpun pada orang yang tega menyiksa anak kecil hingga sebegitu mengerikannya. Kita semua tau seberapa kejam perempuan itu." Zehan hanya tesenyum sambil mengernyih mendengar perkatan Gibran yang seperti pujian untuknya
"Tentu saja aku harus menunjukan sikap murah hati pada anak ku, biar bagaimana anak itu akab terlalu cerdas jika aku langsung melakukan sesuatu dengan terlalu kasar. Aku harus memiliki hati yang lebih lapang,bukan??" kata Zehan menyombongkan diri. Sedang Gibran harus kehilangan kata-katanya saat mendengar Zehan memuji dirinya sendiri, padahal ia tahu pasti jika tuannya itu pada dasarnya sama saja kejamnya dengan wanita yang sedang mereka bicarakan saat ini. Jika dipikir lagi, baik Zehan maupun Gavin adalah sama-sama orang yang memiliki hati yang dingin, sikap yang kaku, namun mereka bisa tunduk pada wanita yang mereka cintai. Jangankaj berselingkuh kemanapun istrinya pergi kalo bisa mereka akan terus mengekorinya. Gibran sangat mencintai Zia, namun beruntungnya Zia adalah wanita yang sangat manja kepadanya. Sedang Hasya meski penurut tapi wataknya tetap keras dan masih memiliki sisi kejam dan licik. Sedang Nayuwan, sudahlah tidak usah dijelaskan lagi bagaimana buruknya perangai perempuan itu.
Sementara itu di kediaman Nayuwan.
"**HAATCIIUHHH !!! KURANG AJAR SIAPA YANG BERANI MEMBICARAKAN KU?!! HAAAATCIIIUH!! HAAATCHIIIH !!!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ**...
__ADS_1