
Seluruh acara berlangsung lancar dan hikmat. Diankhir acara mereka tentu saja melakukan sesi foto-foto, ada juga yang berusaha mencari peluang siapa tau bisa langsung kerja di perusahaan milik orang tua laiinya.
"Tante, Tania ke mana ya, aku mau ajakin foto-foto lagi" tanya Gisel salah satu teman Tania juga sudah cukup akrab dengan Irma.
"Oh tadi sih bilangnya mau ke toliet, tunggu aja Sel, sebentar dia pasti kembali" Gisal pun duduk di kursi kosong di sebelahnya Deliza dengan agak canggung. Bagaimana tidak di meja itu ada Zesya dan keluarga, dan hampir satu angkat mereka itu tahu kalau Gisel sudah naksir Zesya sejak kelas sepuluh, tepatnya saat Zesya menjadi partnernya saat jaman MOS atau Masa Orientasi Siswa saat itu. Meski bukan seperti MOS jaman baheula tapi tetap saja terkadang para kakel itu membuat permainan yang meski menyenangkan tetep saja kejahilan khas kakak kelas pada adik kelasnya tetap ada.
Tidak berselang lama Tania datang sambil tersenyum lantas langsung menyapa Gisel yang terlihat canggung berada di sana.
"Sel.."sapanya ramah.
"Dari mana aja sih, gue kan nungguin lho tau" Gisel langsung saja mendumel menutupi rasa gugupnya. Padahal jika memang tidak nyaman Gisel bisa pergi begitu saja saat Irma menyuruhnya menunggu Tania dari toilet.
"Gue abis dari toilet, beser gue gara-gara gugup tadi"
"Eh ke sana yuk, kita belum banyak lho ambil foto-foto lho."
"Boleh ayok,,"
"Hmmm,, Tan,, ajak Zesya juga dong" pinta Gisel takut-takut.
"Ok, bentar ya"
Tidak berapa lama Tania pun kembali dengan merangkul tangan Zesya yang tentu saja ada perasaan "nyut" dalam diri Gisel. Cemburu? Sudah pasti, tapi mau bagaimana lagi Gisel tetap tidak bisa lebih akrab dengan Zesya meski mereka dulu ada dalam satu struktur organisasi OSIS, padahal seharusnya posisi Gisel sebagai sekretaris bisa memuluskan jalannya untuk lebih dekat dengan Zesya. Namun sayangnya pemuda itu benar-benar membangun tembok yang sangat tinggi di luar kepentingan organisasi.
Selesai sesi fotbar-fotbar tiba-tiba Zesya berbisik pamit pada Tania bilangnya mau ke toilet, Tania yang sedang mengobrol dengan teman yang lainpun hanya mengangguk mengiyakan saja tanpa melihat kemana sebenarnya Zesya pergi.
"Eh abi ini lo mau lanjut kemana Tan?" tanya Gisel yang memang berdiri di samping Tania dan Via.
"Apalagi, kalo bukan kuliah paling otewe jadi nyonya Zesya Akhilendra Hirawan" sahut Via.
"Apaan sih? Ngga kok ngga , tapi emang pasti lanjutin kuliah cuma masih bingung mau ke mana" sanggah Tania,
"Alaahh,,," cibir Via. Gisel memang ikut tertawa tapi sejujur ada perih saat Via seolah tidak peduli dengan apa yang dirasakan olehnya, sedangTania sibuk menjaganya agar Gisel tidak salah paham.
"Cek,, Cekk satu dua.. cek." semua orang dalam ballroom itu langsung melihat ke arah podium. Di sana sudah ada Zesya.
"Ekhem,, mohon perhatiannya sebentar teman-teman." Zesya memulai narasinya.
"Anak itu mau ngapain mah?' tanya Zehan pada istrinya, Hasya hanya menghendikan bahunya karena memang tidak tahu apa-apa.
__ADS_1
"Ekhem,, pertama-tama perkenalkan nama saya Zezya Akhilendra Hirawan, putra tertua dari papa saya Zehan Akhilendra HIrawan dan Mama saya Jung Hasya Ophelia. yang Al hamdulillah pada kesempatan ini bisa hadir walau katanya papa saya harus menunda peresmpian gedung barunya tapi tidak jadi masalah untuk acara putra kesayangannya ini" Zehan pun berdiri lalu sedikit membungkuk canggung saat Zesya menyilakannya untuk tampil sesaat. "Seperti saya katakan tadi saya adalah anak laki-laki, dan al hamdulillah keadik perempuan saya juga bisa hadir dalam moment ini. Terima kasih kalian sudah bersedia dandan dari subuh" grrrrrr gelak tawa dari hadirin memenuhi ruangan tersebut.
"Sebelum kepada inti alasan saya kenapa berdiri di samping kursi yang juga sudah ada sebuah gitar di sana, saya ingin terlebih dahulu mnegucap banyak terima kasih kepada bapak kepala sekolah kita bapak Fauzi yang sudah bersedia menampung dan memberikan kami guru-guru pengajar dan pembimbing yang sangat kompeten di bidang pelajarannya masing-masing."suasana yang asalnya menjadi riuh mendadak sunyi kembali. "Untuk ibu Asih ibu wakil kepala sekolah kita, saya juga mengucap banyak terima kasih jujur kami akan sangat rindu risol dan bubur sumsum buatan ibu yang setiap jumat ibu bagikan kepada kami semua. Kepada para wali kelas terima kasih sudah berusaha menjadi pendamping kami sebagai perwakilan orang fua kami selama di lingkungan sekolah. Tolong ya pak bu, semua kenalan kami selama ini jangan dijadikan dendam" kekeh Zesya. "Untuk Pak Jejen, Pak Hanif, dan Pak Lucky kapan-kapan kita tanding futsal ya pak, tapi kami pastikan saat itu kami bisa mengalahkan bapak bertiga. Oh hampir lupa bu Aryanti ibu guru paling imut, ibu guru idola para jomblo moga ibu segara menikah dengan pak Yogi, ayo pak nanti keburu di serobot murid bapak yang jomblo lho" kembali suasana menjadi ruih.
"Ekhem,, canda ya pak biar ngga sendu- sendu banget. Untuk bapak ibu guru yang tidak saya spill tolong jangan merajuk ya pak bu, apalagi sampai ngambeknya macam adik saya nomor dua kalo lagi PMS duh pak jangan deh pak bu. Bukan saya tidak mau menyebutkan satu persatu tapi saya dan teman-teman dari ekskul FB atau Film Broadcasting sudah menyiapkan sebuah film pendek untuk itu semua. Untuk itu mari kita saksikan bersama" lampu proyektor pun menyorot pada layar yang terkembang di podium. Lantunan lagu peterpen yang berjudul "Semua tentang kita" mendayu merdu, mengawali pemutaran tentang rangkuman kegiatan sekolah mereka pun mulai diputar lalu ada juga potongan lagu monokrom-Tulus, Terlalu manis-slank, Kisah kasih di sekolah-Chrisye ada juga Kita selamanya-bondan, ,Kemesraan ini-Iwan fals, Sahabat sejati-so7, Ingatlah hari ini dan di tutup lagu Sampai jumpa-endank Soekamti. Semua lagu tersusun apik ke dalam setiap partnya.Teryata ada banyak sekali moment yang tertumpul dari awal mereka masuk pengenalan sekolah hingga part kenalan di luar sekolah pun ada, ada juga yang sedang pacaran di taman sekolah. saat mereka belajar, saat mereka mengadakan lomba, dan masih banyak lagi moment seru yang ditampilkan dalam film pendek berdurasi hampir lima belas menit itu. Semua hadirin berdiri dan memberi tepuk tangan yang meriah dengan perasaan yang becampur aduk. Haru, sedih, malu, ada juga yang emosi tapi paling kencang nangisnya, saat anak-anak ekskul FB naik keatas podium untuk memberi penghormatan terakhir pada para guru mereka.
"hhhhhh" Zesya menghela nafas membenahi perasaannya yang juga ikut hanyut dalam film pendek itu.
"Ekhem,, Baiklah sebelum saya akhiri moment ini, saya juga ingin menyampaikan mungkin beberapa tahun ke depan saya pribadi tidak bis ikutan reuni karena saya akan melanjutkan pendidikan saya ke luar negeri jadi mungkin ini adalah kesempatan saya untuk berpamitan kepada kalian semua." ballroom kembali bergemuruh terutama para gadis yang mengidolakan Zesya langsung saja bergosip selain memuji ketampan Zesya jidat yang tampil paripurna.
"Ehhh,, mungkin ini adalah moment yang kurang tepat tapi mungkin jug adalah moment yang cukup tepat untuk" Jreeennggg Zesya dan dua temannya mulai memetik senar gitarnya lalu memainkan chord dari Melamarmu- Badai romantic. Sontak saja langsung membuat para gadis bersorak histeris.
Di ujung cerita ini
Di ujung kegelisahanmu
Kupandang tajam bola matamu
Cantik dengarkanlah aku
Aku tak setampan Don Juan
Tak ada yang lebih dari cintaku
Tapi saat ini ku tak ragu
Ku sungguh memintamu
Jadilah ibu dari anak-anakku
Membuka mata dan tertidur di sampingku
Aku tak main-main
Seperti lelaki yang lain
Satu yang kutahu
Kuingin melamarmu
__ADS_1
Aku tak setampan Don Juan
Tak ada yang lebih dari cintaku
Tapi saat ini ku tak ragu
Ku sungguh memintamu
Jadilah ibu dari anak-anakku
Membuka mata dan tertidur di sampingku
Aku tak main-main
Seperti lelaki yang lain
Satu yang kutahu
Kuingin melamarmu
Huh
Oh
Jadilah ibu dari anak-anakku
Membuka mata dan tertidur di sampingku (di sampingku)
Aku tak main-main (main-main)
Seperti lelaki yang lain
Satu yang kutahu
Oh satu yang kumau
Kuingin melamarmu ho...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1