The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 83


__ADS_3

Hasya sejak pulang dari toko hanya berbaring saja di ruang tengah, rebahan sambil nonton tivi atau malah lebih tepatnya tivi yang menonton Hasya yang sedang memainkan ponselnya. Di ruangan sebelah yang biasa mereka pergunakan sebagai mushola. Sayup-sayup terdengar Deliza sedang melafalkan ayat yang sedang ia pelajari lalu bergantian dengan Zesya.


"Bi,.." panggil Hasya pada bi Rani yang sedang mengepel di depannya. Bi Rani memang suka mengepel dua kali dalam sehari di pagi hari, dan di sore hari setelah ia beres memasak untuk makan malam, karena jadwal makan malam di rumah itu jam 5 sore.


"Iya bu." Bi Rani menghentikan kegiatannya.


"Bisa beliin saya martabak manis ngga?"


"Atuh ya boleh pisan bu" Hasya tersenyum sumbringah lantas merogoh dompetnya yang berada di dalam tasnya yang ia taruh di kursi single didekatnya, ia kemudian mengambil beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan lalu memberikannya pada Bi Rani,


"Bibi beli empat loyang ya..Satu loyang untuk bibi, satu loyang untuk guru ngajinya anak-anak, nanti bibi tanya guru ngajinya Zehan mau toping apa? Untuk anak-anak satu loyang bagi dua aja kalau toping mereka beda-beda, kebanyakany nanti ngga abis,sayang. Nah satu loyang lagi untuk saya, satu loyang minta jadi dua toping bi, ketan kelapa, sama keju coklat." beruntung Bi Rani punya kebiasaan mencatat. Jadi sambil menyimak diapun mencatatnya pesanan majikannya.


"Ada lagi bu?"


"Sama eh es kepala muda. Gulanya gula merah tanpa susu ya bi"


"ada lagi bu?"


"Udah itu aja bi, makasih ya" kata Hasya.


" Kalo begitu saya selesaiin pelan saya ya bu, baru habis itu saya ke depan " Hasya mengangguk sambil tersenyum.


Keesokan harinya.


Nadia sedang sibuk membereskan beberapa notulen hasil meeting kemarin, semua sudah rapi tinggal diserahkan pada Zehan tapi saat ia beranjak ia melihat Zehan keluar dari ruangannya.

__ADS_1


"Bapak mau keluar? " tanya Nadia.


"Iya, saya mau beli siomay di bawah?"


"Kalo begitu biar saya suruh OB saja untuk membelinya." tawar Nadia.


"Tidak usah, saya suka mengobrol dengan mereka selagi menunggu mereka menyiapkan pesanan saya." tolak Zehan lantas iapun segera menuju lift. Nadia sedikit berpikir lagi-lagi tingkah Zehan seperti ini. Bagus sih, terasa lebih manusiawi, bahkan terlalu manusiawi untuk ukuran seseorang yang memiliki julukan "icebergman". Namun ia abaikan saja mungkin suasana hati Zehan memang sedang dalam keadaan sehangat itu. Ia pun kembali pada pekerjaannya.


Zehan nampak lebih santai dengan balutan kemeja biru muda, dengan kerah tanpa dasi serta bagian lengannya digulung 3/4 bagian. Di perusahaan Zehan terutama di kantor pusat memang sesantai itu, tidak wajib melulu harus memakai pakaian formal, memakai kaos polo pun tidak masalah atau bahkan baju olahraga pun tidak masalah. Namun para pegawai tentu saja tidak serta merta seperti itu, tetap saja sebebas apapun kantornya mengenai pakaian, mereka tetap tahu diri dengan tetap memakai pakaian yang sopan dan sesuai situasi bahkan tidak jarang beberapa pegawai membawa baju ganti kalau-kalau disaat situasi tertentu misal ada audit buyer atau suplayer atau ada meeting besar seperti RUPS, mereka akan berpakaian formal layaknya pekerja kantoran pada umumnya, karena bagaimanapun penampilana para pegawai juga terkadang bisa menjadi cerminan sebonafit dan seefisien apa tempat mereka bekerja.


Tiba di lobi Zehan, kali ini dia iseng ingin meminjam microphone pengumunan.


"Ekhem.. Selamat siang semua. Saya Zehan. Hari ini saya siapapun yang makan siang di kafetaria dan pedagang kaki radius 500 meter dari kantor, kalian bisa makan dan minum disana sepuas kalian tanpa harus membayar alias gratis !! Sekali lagi semua pegawai termasuk OB dan juga kang Parkir serta staff keamaan, kalian juga boleh menikmati semua menu yang ada juga boleh membawa pulang untuk keluarga kalian jika kalian mau. Ketentuannya hanya kafetaria kantor dan para pegadang yang sudah saya tandai saja dan berlaku hingga hari Sabtu jam dua siang. Terima kasih." begitulah isi pengumumunan Zehan yang tentu saja membuat girang semua pegawai. Terutama para pegawai yang sudah mulai isi dompetnya mulai mendekati kritis karena sudah pertengahan bulan, artinya mereka bisa berhemat kemudian menyisihkannya untuk akhir bulan dengan tenang, untuk tiga hari ke depan mereka tidak perlu khawatir bagi yang opportunis tentu saja sekalian untuk makan malam mereka.


Nadia yang mendengar pengumuman itu kemudian baru paham untuk apa Zehan memberinya tugas untuk membuatkannya stiker tempel, ternyata untuk ini. Nadia makin kagum dengan kebaikan hati bossnya itu. Setelah Zehan bertemu kembali dengan istrinya, sikap Zehan memang perlahan menghangat malah sudah hampir jarang dia mendapat omelan dari boss-nya itu. Kalau dulu saat sebelum Zehan masih terus mencari keberadaan Hasya, suasana kantor tak ubahnya seperti neraka. Suram penuh ketegangan serta tekanan. Jika bukan karena gaji dan bonus yang cukup besar, mungkin sudah lama Nadia mengundurkan diri sebagai sekertarisnya Zehan.


"Ma, mama pusing lagi?" tanya Deliza yang baru saja pulang dari sekolah dan langsung mampir ke toko.


"Iya De, tapi udah mendingan kok." kata Hasya mencoba menenangkan kekhawatiran putrinya itu.


"Ma, apa mama ngga sebaiknya ke dokter aja? Udah lebih dari seminggu lho? Papa juga baru pulang besok kan?" sela Zesya. Hasya yang awalnya tidak terlalu peduli akhirnya mengalah pada anak-anaknya,


"Baiklah, mama akan ke dokter tapi tunggu papa ya, kan kalo mama ke dokter sama papa kalian juga ngga akan was-was, iya kan?" bujuk Hasya. Zesya yang semakin dewasa hanya menghela nafas. Biar bagaimanapun apa yang dikatakan Mamanya ada benarnya, setidak jika papa mereka yang menemani mama mereka, baik Zesya atau Deliza akan sedikit merasa lebih tenang karena Hasya bersama orang yang memang seharusnya menemani mamanya dalam situasi seperti ini.


"Kalo begitu biar Liza telphone papa. Ma"

__ADS_1


"Baiklah, mari kita telphone papa" kata Hasya mengambil ponselnya lalu segera menghubungkannya pada Zehan.


"Halo sayang," sapa Zehan di seberang sana.


"Halo mas, mas lagi makan siang di mana itu? Kok kayak di warung bakso?" tanya Hasya penasaran.


"Iya, Mas lagi di kedai bakso, kamu udah makan siang Sya?"


"Mama dari kemarin sakit pa, semua yang mama makan pasti dimuntahin lagi" teriak Deliza tanpa aba-aba.


"Lho kamu sakit Sya? Udah ke dokter? Kalo gitu mas pulang malam ini juga" kata Zehan agak panik.


"Ngga mas, kamu udah sering bolos, boss itu harus memberi contoh jangan sewenang -wenang sama jabatan. Tetap harus tunjukan wibawa dan tanggungjawab sebagai pemimpin " cegah Hasya.


"Tapi Sya."lalu kemudian Zesya merebut ponsel mamanya.


"Papa tenang aja, mungkin mama cuma kena asam lambung, tapi kalo bisa besok papa langsung ke sini ya, soalnya mama bilang baru mau ke dokter kalo sama papa"


"Kalo begitu papa pulang malam ini juga, kalian jaga mama kalian baik-baik, Ok?!"


"Siap pah !"


"Coba kasih ponselnya sama mama kamu dulu sayang" pinta Zehan. Lalu Zesya mengembalikan ponsel itu pada mamanya.


"Sya, malam ini aku pulang, lagian aku boss nya, nanti tinggal minta Hejun atau Gibran yang handle kalo cuma sehari, tapi kesehatan kamu itu lebih penting! Sudah ya, sampai ketemu nanti malam" Hasya hanya mengangguk tanpa bisa membantah lagi kata-kata suaminya. Kalau Zehan sudah berkata seperti itu ya artinya Hasya hanya bisa manut saja dari pada kena omel lebih panjang lagi.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2