
Suara Zesya memang merdu, sangat cocok ketika ia menyanyikan lagu "melamar-nya Badai romantic". Tiap baitnya menggelitik lembut seperti ada ribuan kupu-kupu beterbangan dalam rongga perut tiap yang mendengar terutama ditelinga para gadis.
"Di ujung kegelisahanmu, Kupandang tajam bola matamu,Cantik dengarkanlah aku Aku tak setampan Don Juan , Tak ada yang lebih dari cintaku, Tapi saat ini ku tak ragu, Ku sungguh memintamu, Jadilah pasangan hidupku, Jadilah ibu dari anak-anakku" para murid terlebih para siswi mulai ikut bernyanyi bersama
"Membuka mata dan tertidur di sampingku, Aku tak main-main, Seperti lelaki yang lain,Satu yang kutahu, Kuingin melamarmu...."
"Aku tak setampan Don Juan, Tak ada yang lebih dari cintaku" para gadis kembali bergemuruh histeris karena Zesya turun dari kursinya, berjalan dengan gaya cool memasukan satu tangan ke saku celananya entah siapa yang ia tuju karena di sana ada di tempat yang zesya tuju Ada beberap gadis tiga diantaranya Via, Gisel, dan Tania. jelas mereka makin histeris gemas menerka-nerka siapa gadis yang sedang ditembak Zesya saat ini.
"Tapi saat ini ku tak ragu,Ku sungguh memintamu...." dan tepat di depan Tania Zesya berhenti sejenak, begitupun dengan petikan gitar yang mengiringinnya pun ikut berhenti sejenak. Zesya menarik nafas panjang sebelum ia melanjutkan kemali lirik lagunya.
"Jadilah pasangan hidupku.." lanjut Zesya sembari berlutut dan kotak kecil berisi sebuah kalung pada Tania "Jadilah ibu dari anak-anakku, " suara-suara histeris luapan keharuan ikut bahagia dan gemas kembali memenuhi ruangan tersebut "Membuka mata dan tertidur di sampingku, Aku tak main-main, Seperti lelaki yang lain"sedang Tania hanya bisa tersenyum sambil menangis bahagia saat menerima pinangan tak terduga dari Zesya.
"Satu yang kutahu,Kuingin melamarmu,..Huh....Oh.............." siapa yang tidak terharu mendapat kejutan semanis itu.
"Jadilah pasangan hidupku. Jadilah ibu dari anak-anakku, Membuka mata dan tertidur di sampingku (di sampingku), Aku tak main-main (main-main).. Seperti lelaki yang lain ... Satu yang kutahu..Oh ..... satu ..yang kumau.. Kuingin... melamarmu hooOoOoo......" Zesya menatap lembut pada Tania yang berkaca-kaca.
"Ya tuhan anak itu..." ucap Hasya ikut terharu juga gemas dengan hal sedang di lakukan putranya itu.
"Anak siapa dulu dong?" Zehan mencoba ingin pamer.
"Emang papa dulu waktu lamar mama kayak gitu mah?" tanya Deliza dengan raut menyepelekan papanya.
"Hih !! mana ada papamu begitu jaman dulu. Nikah aja kayak dikejar satpam"
"hah?! gimana maksudnya mih.."
__ADS_1
"Papamu itu..."
"Mah,, gimana kalo akhir tahun kita umroh yuk?" cepat-cepat Zehan memblok kalimat istrinya, Hasya dan Deliza tentu saja langsung meledek sekaligus terpingkal dibuatnya.
"Paham kan nak?" ledek Hasya.
"Paham sangat mam"sahut Deliza tergelak.
"Jadi, sekitar 5 bulan lalu saya sudah melamar Tania, namun saat itu Tania belum memberikan jawaban pasti kepada saya. Saya tau usia kami memang masih sangat muda. Emosi kami juga mungkin belum sematang orang tua kami. Tapi saya percaya berjalan seiringnya waktu kedewasaan itu akan timbul dengan sendirinya. Saya bisa memantapkan hati seperti ini mungkin karena saya bisa banyak belajar dari orang tua saya. Ketika mereka meyakin sesuatu maka tidak salah untuk dikejar dan dipertahankan. Jadi... di hari ini, di depan semua orang sekali lagi aku bertanya padamu, Tania Rie Hashimoto, bersediakah kamu menerima ku, menjadi yang pertama dan kupastikan mmenjadi yang terakhir dalam hidupku. bersediakah kamu menikah dengan ku?" Zesya mengungkapnya dengan segenap hati yang tulus.
"Kan udah gue bilang Tania mah bakal jadi nyonya Zesya lepas lulus sekolah mah" kata Via sengaja berbicara begitu pada Gisel yang masih terpaku tidak percaya dengan apa yang sedang disaksikannya saat ini.
"TERIMA !! TERIMA !! TERIMA !! TERIMA !!!" semua orang bergemuruh meminta Tania agar menerima pinangan Zesya, gadis itu menatap binar mata ketulusan Zesya lalu melirik pada Irma yang sedang menyeka air mata bahagianya.
"aemmmm,, " suara Tania terdengar bergetar, juga terdengar suara sisa isakannya,
"Sejujurnya, I.. i do not expest is.. but,, exactly... im ,, speechless,, dengan apa yang dilalukan Zesya kepada saya hari ini. Dan jika saya mengatakan saya bingung rasanya itu bukan sesuatu yang masuk akal karena ya... Zesya memang melamar saya secara pribadi beberapa bulan lalu, dan saya berjanji akan memberinya jawaban setelah acara kelulusan, makanya saya tidak menyangka Zesya akan melakukan hal semacam ini. Karena Zesya yang saya kenal atau Zesya yang kalian kenal itu adalah seseorang yang dingin sampai-sampai bahkan teman-teman juga menjulukinya "Kulkas 10 pintu" gelak tawa kembali riuh rendah.
"Ehh,,, yang mau .. aku katakan sama kamu.. di.. depan.. hehhhhh" tanya tertawa tipis sambil menyeka sisa air matanya.
"Ekhmm.. Zes, aku ini bukan perempuan baik, aku juga masih sangat kekanak-kanakan diusiaku yang hampil 19tahun ini. Kamu juga tau sendirikan aku ini masih suka merengek pada Mama ku, aku juga ngga bisa masak masakan seenak tante Hasya, aku juga suka jajan ini dan itu, dan yang paling penting,, jika aku bersedia menikah dengan kamu, bukan aku yang merawat kamu, tapi justru kamulah yang harus merawat ku dengan segala kekuranganku itu. Kamu tetep ngga apa-apa?"
"Tania, kamu lupa yah, semua hal yang kamu sebutkan tadi aku kan udah tau, suara ngorok kamu lagi tidur aja aku tau kok"
"Soal itu ngga usah dibahas bisa ngga pak? Soalnya agak malu-maluin gitu?" ringis Tania tetap tersenyum namun malah mengundang gelak tawa orang-orang.
__ADS_1
"Ya makanya cepetan jawab, sebelum aku bongkar semua kebiasaan buruk kamu saat kita tinggal bersama"
"HHAHH ???!!!" ungkap semua orang hampir bersamaan.
"Padahal meski tanpa diancampun aku bakal tetep bilang "yes i do",, dasar nyebelin" ucap Tania tertunduk tersipu malu.
"Wah kayaknya kita bakal sibuk nih Ir,, " goda Hasya pada sahabatnya yang kini akan menjadi besannya.
"Iya lho Sya, aku ngga nyangka bakal dapat mantu secepat ini." ucap Irma sambil mengusap linangan air mata bahagianya.
Sementara Gisel, ia berlari keluar dari ballroom meninggalkan gempita di dalam sana. ia sendiri bingung kenapa harus merasa sesakit itu saat melihat Zesya melamar Tania, padahal mereka juga tidak memiliki hubungan apapun. Perasaannnya juga selama ini memang bertepuk sebelah tangan tapi kenapa tetap seperih ini rintihnya.
"Lo ngga apa-apa Sel?' tanya Fardan yang ternyata mengikutinya.
"Lo ngapain ngikutin gue Dan?" Gisel balik bertanya sambil mengisak.
"Ngga apa-apa, pengen aja. Emang ngga boleh?" Gisel hanya menoleh menatap pemuda jangkung berkaca mata itu dengan perasaan yang tidak menentu.
"Jangan liatin gue kayak gitu, tar lu jatuh cinta sama gue, tar gue jadi kesenengan lho?" Gisel yang awalnya mulai terharu seketika menjadi kesal dan kekih. "ISssHH !!" desis Gisel seraya menghentakan kaki lalu pergi meninggalkan Fardan dengan wajah ditekuk, namun ia juga mengakui candaan Fardan barusan mampu mengurangi kesakitan hatinya.
"Tungguin dong Sel,heii jangan marah,,"
"Au ah !"
aahhh indahnya cinta monyet masa remaja.
__ADS_1