
Tiga minggu berlalu, berkat rengekan Hasya pada suaminya, acara yang seharusnya masih 2 bulan lagi itu akhirnya bisa terselenggara dengan waktu persiapan hanya dalam waktu sesingkat itu. Dan tentunya membuat semua orang kalang kabut terutama WO yang ditunjuk Zehan untuk acara tersebut, Bahkan keluarga besar Akhilendra turut serta membantu dalam persiapannya, tapi karena ketebatasan waktu tamu undangan yang awalnya diperkirakan hingga tiga ribu undangan, jadi hanya sekitar seribu lima ratusan saja. Sebagian besar tentu adalah tamu dari keluarga Akhilendra yang menjadi wakil atau wali dari Hejun, meski dalam islam seorang laki-laki tidak membutuhkan wali namun bagaimana pun, mau itu Hejun, Gibran, Keni, Joon Woon sudah menjadi bagian dari keluarga tersebut sejak mereka dirawat oleh paman Yohan dan bibi Lyn. Bagi mereka paman dan bibi adalah orang tua mereka sejak mereka memutuskan untuk mau dirawat oleh kedua orang tua itu.
Zehan menatap Hasya yang sudah siap dengan riasannya, ia tampil cantik dengan balutan gaun berwarna nude dengan sedikit aksesoris menghiasi kepalanya, sederhana namun makin memancarkan aura cantik dari wanita yang sedang berbadan dua itu. Pun dengan Zehan tampil menawan dengan balutan taxido yang senada dengan gaun Hasya.
"Kenapa mas? Kok ngeliatin akunya sampe begitu banget? Ngga cantik ya?" kata Hasya, raut khawatir jelas terpampang nyata diwajah wanita itu. Zehan lantas mendekatinya sambil tersenyum lembut kepada Hasya.
"Kamu bahkan mungkin lebih cantik dari pengantin hari ini" kata Zehan seraya mencium kening Hasya.
"Mana ada yang begitu?" Hasya berusaha menyembunyikan wajahnya yang mungkin merona karena pujian yang dikatakan suaminya itu.
"Ayo, kita ke tempat ijab qabulnya Hejun, kalo sampai telat dia pasti minta yang aneh-aneh" kata Zehan sambil menyodorkan lengannya untuk diambil oleh Hasya. Hasya hanya terkekeh dengan perkataan suaminya itu, seakan-akan Hejun akan tantrum jika sampai telat ijabqabul.
Melinda tampil manglingi, begitu cantik dengan balutan kebaya putih dengan ekor yang sedikit menjuntai memberikan kesan lebih tinggi dan langsing pada tubuhnya yang memang sudah proporsional. Dan Siangko modern yang menjadi mahkotanya pun makin menanmbah kesan mewah namun tetap elegan. Siangko yang ia kenakan tetap memiliki cadar meski tidak menutup wajah seluruhnya. Pada umumnya, Siangko ini terbuat dari emas atau perak dan panjangnya 30 cm menjuntai ke bawah di depan wajah. Mahkota pengantin adat Betawi yang memiliki cadar dengan warna emas atau perak terbuat dari manik dan ujungnya di beri seikat benang wol untuk mengikatnya, Namun Siangko yang dikenakan Melinda seluruhnya dari perak senada dengan kebayanya hari ini, meski begitu mahkota siangko yang dikenakan Melinda tetap dibuat ringan agar tidak membuat pusing kepala.
Siangko juga melambangkan kesucian seorang gadis yang terjaga dengan baik. Tidak hanya itu, dari Siangko yang digunakan, status sosial pengantin dapat dikenali. Bila pengantin menggunakan Siangko, biasanya yang menikah merupakan orang kalangan menengah ke atas.
Hejun sempat terpana saat gadis itu duduk di sampingnya, wangi ronce melati seketika memenuhi ruang penciuman Hejun.
__ADS_1
"Ekhemm,, udah jangan diliatin aja bang" goda Joon Woon, yang berdiri di sisi kanannya Hejun sedang duduk yang menghadap ke wali sang pengatin wanita. Tapi wajar saja jika pemuda itu sulit memalingkan tatapannya dari wajah gadis yang sudah duduk berdampingan dengannya. Wajah Melinds yang memang sudah cantik alami, makin terpancar dengan riasan korean makeup looks yang sangat khas dengan konsep riasan wajahnya yang natural dan fresh berhasil memberi kesan segar dan lebih muda.
Sesekali Melinda juga memberikan senyuman kepada mereka yang memuji kecantikannya. Berbanding terbalik dengan Hejun yang malah terlihat agak pucat, keringat dingin nampak membulir membasahi pelipisnya saat pak penghulu mulai bertanya beberapa hal sambil memberinya nasehat. Ia benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaan gugup yang melandanya. Padahal sebelum Zehan sempat memberinya sedikit masukan agar dia bisa lebih tenang saat mengucap ijabqabul.
"Tenang saja nak, saya kira pak Baskara sepertinya sudah jinak" seloroh Pak penghulu, semua orang terkekeh dengan goyunan pak penghulu begitu pun Hejun dan Pak Baskara yang sudah bersiap berjabatan tangan untuk ikrar ijab qabul.
"Baiknya kita latihan dulu, biar lebih lancar" sambung pak penghulu, Hejun menarik nafas dalam, menegapkan tubuhnya, berusaha menahan gemetar tangannya.
"Tenang,, istighar tarik nafas" Hejun tertegun sesaat saat calon mertuanya memberi nasehat. Berusaha tersenyum Hejun mengangguk dengan sungguh.
"Ananda Hejuniardi Ardana bin Wira, saya nikahkan dan saya nikahkan ananda dengan anak kandung saya. dengan Seperangkat perhiasan seberat dua puluh dua gram, uang tunai dua puluh dua juta, dibayar kontan !"
"hajjiig" kata Hejun langsung menyembunyikan wajahnya yang merah padam. Ingin sekali rasanya ia mengubur dalam-dalam dirinya dalam tanah saat itu.
"Jun, ember sekalian bawa, jangan cuma Kompan ahahahaha" Keni makin meledeknya.
"Jun, buat apa kamu mau beli minyak tanah ya"
__ADS_1
"butuh corong merah sekalian ngga Jun" dan masih banyak lagi ledekan lainnya yang membuat suasana makin pecah dengan gelak tawa jika menginngatnya.
"Ekhemm... "Pak penghulu menarik nafas berusaha menenangkan dirinya serta para hadirin agar kembali fokus pada prosesi ijab qabul.
"Baca bismillah nak, dan istighfar.." Hejun kembali ke posisi semula.
"Siap ya" Kemudian dengan satu tepukan pak penghulu pada tangan Hejun dan pak Baskara yang sedang berjabatan kembali ijab qabul diikarkan.
"Ananda Hejuniardi Ardana bin Wira, saya nikahkan dan saya nikahkan ananda dengan anak kandung saya. dengan Seperangkat perhiasan seberat dua puluh dua gram, uang tunai dua puluh dua juta, dibayar tunai !!"
"Saya terima nikah dan kawin putri Melinda Dwi putri Aryani binti Baskara, dengan maskawin seperangkat perhiasan seberat dua puluh dua gram, dan uang tunai dua puluh dua juta rupiah dibayar. TUNAI !" kata Hejun mantap.
"Bagaimana para saksi?? Sah??!!"
"Saahhh !!!" Koor dari para saksi yang hadir akhirnya membuat Hejun dan Melinda bisa menghela nafas lega meski pada sesi latihan sempat gagal karena terselip kata "kompan".
Kemudian Hejun dengan malu-malu menyematkan cincin bertahtakan berlian di jari manis Melinda, lantas mencium kening istrinya beberapa detik. Melinda pun menyematkan cincin perak dijari manis Hejun lantas menciun tangan suaminya dengan takjim. Baru setelah mereka menandatangani buku berwarna hijau. Para juru kamera profesional terlihat sibuk mengabadikan tiap moment pernikahan mereka.
__ADS_1
"Terima kasih kepada para saksi dan para hadirin yang telah hadir untuk mengikuti rangkaian acara dengan begitu hikmat.. tanpa berlama-lama kita akan ke acara selanjutnya..,.." MC menutup acara ijab qabul untuk kemudian ka acara selanjutnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...