
Deru mobil sudah terdengar dari kejauhan bahkan sebelum mencapai gerbang Hasya sudah bisa tahu jika mobil itu adalah mobil yang dikendarai pak Edy dan Zehan. Gadis itu melirik sekilas pada jam dinding yang menunjukan waktu lewat dini hari sekitar pukul 1 lewat 15 menit. Hasya segera berlari menuju ruang tamu kemudian membukakan pintu Mansion sebelum pak Edy menekan kunci pasword mansion tersebut.
"Itik terbang!!" latah pak Edy. Sontak saja membuat Hasya menutupi mulutnya yang terkekeh dengan jari-jari tangannya yang lentik.
"Di mana ada itik pak ?" kekeh Hasya meledek pak Edy yang meringis karena malu.
"Ah si Non bisa aja" Hasya hanya menggelengkan kepalanya seraya meraih tangan Zehan lalu menciumnya, lalu setelahnya ia meraih jas yang tengah di genggam Zehan. Melihat hal itu pak Edypun segera pamit karena ia pun sudah merasakan tubuhnya sangat lelah, karena selain menjadi supir keluarga Zehan diapun membuka bengkel motor yang namanya sudah cukup terkenal karena layanan service dari para montirnya yang memang ramah, cekatan dan teliti ditambah dengab kelengkapan onderdilnya yang orsinil membuat bengkelnya lumayan terkenal di daerah tersebut. Jaraknya tidak sampai 20 menit dari gedung perusahaan Zehan jika berjalan kaki.
Dengan dalih demi menjaga kebugaran pak lebih suka berjalan kaki atau memakai sepeda saja untuk menuju bengkelnya tersebut. Tapi bukan Zehan namanya yang tidak tahu dengan maksud pak Edy berlaku seperti itu, ia tahu persis supirnya itu sangat sederhana, ia hanya tidak mau di anggap sok ngeboss oleh karyawannya kalau ke bengkel datang dengan mobil milik Zehan. Dan faktanya jika pak Edy mau, beliau kapan saja bisa berhenti jadi supirnya Zehan, padahal bukan sekali dua kali Zehan menawarinya untuk pensiun namun tetap ditolaknya. Bukan karena aji mumpung atau semacamnya. Namun bagi pak Edy tetap bekerja di rumah Zehan adalah bentuk rasa terima kasihnya kepada keluarga Zehan. Karena jika bukan keluarga Zehan yang dulu memberinya pekerjaan sebagai supir maka kehidupan sangat berkecukuoan hari ini mungkin akan sulit ia dapatkan di zaman sekarang. Bahkan impiannya untuk bisa berhaji dengan istrinya pun tercapai berkah ia bekerja di rumah keluarga tersebut.
"Kamu kok belum tidur sayang?" tanya Zehan sembari melepas kaus kakinya setelah pak Edy sudah tidak terlihat lagi.
"Aku ngga tenang kalo mas belum pulang" cicit Hasya dengan wajah sedikit merengut menunjukan kekhawatirannya. Melihat hal itu Zehan menarik nafas dalam lalu menghembuskannya
"SHhhaaahhh,,, kemarilah aku udah kangen seharian ngga peluk kamu Sya" ujar Zehan sembari merentangkan tangannya.
"Ogah Ah mas bau" ucap Hasya sembari menjepit hidungnya dan tangan yang satunya lagi mengibas-ngibas pelan.
"Pck !! kamu ya!!" dengan gemas Zehan bangkit lalu memangku Hasya lalu membopongnya ke kamar mereka.
"Mas turunin iihh," Zehan tidak peduli dengan Hasya yang menggeliat geliat dalam bopongannya. Ia terus berjalan hingga di depan pintu Zehan memberi isyarat pada Hasya untuk membukanya. Setelah sampai di tepian ranjang mereka Zehan pun menurunkan Hasya dengan perlahan. Lalu ia mengukung Hasya dengan kedua tangannya.
"Sya aku ngga bisa nunggu sampai 2 bulan lagi,, besok lusa pokoknya aku harus segera ijab kabul" tembak Zehan.
"Ta- tapi mas nanti non Zia marah loh" cicit Hasya sedikit memundurkan tubuhnya menghindari Zehan.
"Yang mau nikah itu kita bukan Zia. Sudah pokoknya 2 hari lagi kita menikah. Aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi untuk menahan hasratku padamu memang kamu ngga kasian apa?" rengut Zehan dengan wajah memelas. Hasyapun hanya cengir kuda sembari meringis memahami apa yang dimaksud oleh Zehan.
"Hmm .. kalo gitu mas yang bilang sama non Zia ya, aku nurut aja" ungkap Hasya dengan rona wajah memerah karena malu. Zehan pun tersenyum lebar kemudian langsung mendaratkan sebuah kecupan di pipi Hasya dengan gemas.
"Ok besok aku bilang pada Zia," ucap Zehan tersenyum puas. Hasya hanya menjawab dengan anggukan dengan wajah yang masih tersipu-sipu karena terus ditatap dengan penuh cinta oleh Zehan.
__ADS_1
"Mas mandi gih, aku udah siapin airnya tadi, tapi jangan lama-lama nanti masuk angin" sekali lagi lagi Zehan mengecup Hasya namun kali ini dibibir mungil gadis itu yang sudah pasti membuat gadis itu sedikit menggeram seperti anak kucing. "Iish mas Zehan bau!" pekiknya. Zehan hanya tertawa mendapat reaksi menggemaskan itu.
...----------------...
Pagi harinya, seperti biasa Zia datang ke Mansion Zehan untuk sarapan bersama, namun kali ini suasana semarak oleh perdebatan kakak beradik itu.
"Tapi kak..." Zia merengut kesal atas keinginan kakaknya pagi itu.
"Ngga ada tapi-tapi, soal berkas-berkas bisa menyusul kemudian." ucap Zehan datar tanpa merubah riak wajahnya yang terlihat sangat serius.
"Sudah -sudah.. Lebih baik sekarang kita sarapan dulu setelah sarapan kalian lanjutkan lagi perdebatannya,, tidak baik ribut-ribut di depan makanan seperti ini" sela Hasya sembari membawa semangkuk besar sop iga sapi, sesuai dengan request-an Zia kemarin yang sangat ingin makan sop iga sapi. Gibran menggeleng-gelengkan kepalanya sambil bertahan mengulum tawanya agar jangan sampai terbahak, akibatnya akan fatal. Alasannya ia tidak ingin menjadi penggganti sosok Sangkuriang yang digetok kepalanya dengan centong nasi.
"Baiklah, tapi jangan besok, lusa saja. Minimal aku ada persiapan menyiapkan dekorasi dan gaun untuk Kakak ipar. Pck !! Issh !! Nyebelin!!" ucap Zia kemudian setelah ia menghabiskan 2 mangkuk sup iga buatan Hasya.
"Kakak ingin besok, Zi" ucap Zehan setelah melap mulutnya.
"Lusa atau 2 sesuai rencana awal ?!" Zia tidak mau kalah kali ini.
"Tuan Nyonya.." sambut Hasya.
"Hasya sayang, panggil kami dengan panggilan Papa dan mama nak, kamu ini menantu kami sayang" ralat Lynn sembari mencium pipi Hasya bergantian.
"Maaf ma, masih belum terbiasa," ringis Hasya.
"Mama dan papa kok ngga bilang mau kemari tiba-tiba?!" tanya Zia sembari bergantian menyambut kedua orang tua itu.
"Kakakmu mau menikah masa kami tidak hadir?!" ucap Yohan.
"Nyebelin ih,,!" pekik Zia lagi.
"Lho lho ada apa ini nak?" tanya Lynn yang masih bingung dengan situasinya.
__ADS_1
"Ini lho Tuan nyon eh, pah, mah," ucapan Gibran terpotong seketika ketika mendapat tatapan tajam dari sepasang tua itu.
" Heheee jadi gini, Zia maunya tuan Zehan menikah sesuai rencana yaitu 7 minggu lagi, tapi tuan muda mendesak agar pernikahannya dimajukan jadi besok saja" terang Gibran sembari menahan tawa.
"Hmm.. Lalu mereka berdebat begitu?" timpal Yohan.
"Iya pah, tapi akhirnya Zia mau mengalah dengan mengadakannya lusa saja agar ada sedikit persiapan."
"hhhh,,, " Yohan menghela nafas.
"kamu tidak sedang hamil kan Sya, hingga Zehan ingin buru-buru menikah?" Hasya menggelengkan kepalanya dengan cepat dengan bola mata membulat begitu mendengar pertanyaan dari Yohan.
"Justru karena aku ingin segera menghamilinya makanya aku majukan tanggal pernikahan pah. Coba papah bayangkan tersiksanya aku setiap malam ketika kepala atas dan bawah tidak sehaluan?!" Yohan menaruh satu tangannya di atas dad*nya sedang yang satu lagi seolah sedang memijat pilipisnya.
"Ya itu kan salah kakak, kenapa Kakak ipar ngga boleh pulang ke Bandung dulu sampai tanggal pernikahan ya pasti si imin bakal kuat iman" celetuk Zia yang masih kesal. Zehan menatap sinis pada adiknya itu dan dengan posesif merangkul pinggang rampingnya Hasya. "Kyaaaaa" pekik Hasya kaget.
"Sudah - sudah.. Memang ada baiknya mereka berdua segera menikah, tapi kamu Zehan juga harus sedikit mengalah,, masa tidak bisa menunggu hingga lusa, yang namanya pernikahan tetap butuh persiapan, jangan grasa grusu terlalu bernafsu begitu. Meski ini adalah niat baik namun jika tanpa persiapan sama sekali tetap tidak baik Ze" lerai Lynn.
"Ya sudah lusa saja tidak apa-apa." sungut Zehan pada akhirnya.
"Kalo begitu aku bawa kakak ipar ke Bandung sekarang!" ucap Zia sembari menarik tangan Hasya dari Zehan.
"Lho kok gitu?" Zehan kebingungan.
"Iya lah, tetap di pingit walau cuma 2 malam, ayo kak kita bersiap." ucap Zia sembari menarik tangan Zia menuju kamarnya.
" Ze,, mau kemana?" hardik Yohan. Gibran benar-benar menahan tawanya agar tidak pecah melihat pertengkaran kedua kakak beradik itu, karena perkara imin tidak kuat iman.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...