The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 84


__ADS_3

Tepat adzan maghrib berkumandang Zehan mematikan deru mesin mobil yang ia kendarai sendiri ketika sudah terparkir di halaman rumah. Zehan lalu mengambil beberapa paperbag dan beberapa kantong plastik putih dari bentuknya sepertinya jajanan yang ia beli dari tempat yang tidak terlalu jauh. Hasya sudah bersiap untuk melaksanakan sholat magrib,entah kenapa perasaannya mengatakan bahwa ada seseorang di luar pintu, bergegas sebelum ia ke tempat yang biasa dijadikan mushola ia menuju pintu depan terlebih dahulu, tepat saat Zehan akan menginjakan kakinya ke teras rumah Hasya membuka pintu. Seperti adegan romantis pada umumnya mereka saling mematung, membeku saling bertatapan, dengan tersipu malu Hasya memalingkan wajahnya, padahal mereka sudah menikah bertahun-tahun berlalu namun perasaan berdebar saat melihat Zehan setelah beberapa hari tidak bertemu tetap saja membuatnya wajahnya merona seperti tomat, salah tingkah, ekspresi yang sama seperti mereka baru pertama kali jatuh cinta.


"Apa kamu hanya akan memandangi wajah tampan suami mu saja Sya?" goda Zehan, yang tentu saja membuat Hasya makin tersipu malu.


"Diih PD !" sanggah Hasya sambil mengambil semua tentengan plastik yang di bawa Zehan. Ia tertarik dengan plastik itu karena mencium bau martabak dari sana. Lalu masuk ke dalam diikuti oleh Zeha. Belum berapa langkah Deliza dan Zesya langsung berhamburan memburu Zehan yang baru saja datang. Hasya tersenyum bahagia melihat semua itu, hatinya terasa hangat dan penuh dengan cinta kasih keluarga kecilnya itu.


"Oiya mas mau sholat magrib bareng?" Zehan memalingkan wajahnya ke arah Hasya yang baru ia sadari Hasya sudah memakai mukena, bukannya langsung menjawab pertanyaan istrinya ia malah terpesona saat melihat Hasya berbalut mukena, padahal bukan kali pertama tapi entah kenapa auranya terlihat lebih anggun dan lebih bercahaya.


"Ayo anak-anak kita sholat berjamaah" ajak Zehan seraya memangku kedua anaknya dikiri-kanan tangannya.


"Mas ngga mau mandi dulu?" tanya Hasya.


"Mas langsung wudhu aja biar ngga buang waktu, lagian ngga kotor-kotor banget kok, tapi tolong kamu siapin sarung aja, celana mas tadi ketumpahan kopi soalnya, mandi nanti aja setelah magrib biar ngga keburu-buru." Hasya kemudian langsung menuju kamar untuk mengambil keperluan sholat Zehan. Sementara itu Zehan dan Deliza bersiap mengambil wudhu sedang Zesya langsung ke ruangan yang biasa mereka jadikan ruang ibadah.



Selepas sholat magrib, Hasya kemudian melipat mukenanya dan menaruh di atas sejadah dengan rapi kemudian iapun menarik bagian bawah sejadah hingga menutupi mukenanya, ia tidak langsung menaruhnya tempat mukena karena sekitar kurang lebih tiga puluh menit lagi adzan isya berkumandang.


Zesya dan Deliza nampak akrab di pangkuan Zehan. Melihat hal semanis itu seulas senyuman terlukir dibibir Hasya, ia lalu mendekati ketiga orang yang sedang melepas rasa rindu mereka.


"Gitu ya,, giliran papanya pulang, mamanya langsung dilupain" sela Hasya dari belakang. Zehan dan kedua buah hatinya langsung menoleh sambil tersenyum.

__ADS_1


"Sama papa kan jarang ketemu ma" Deliza menjawab tersenyum tipis seperti bebek.


"Iya sama mama kan tiap hari. suka kangen sih pas di sekolah, tapi kan pulang sekolah langsung ketemu lagi" sambung Zesya. Zehan tersenyum lebar mendengar perlawanan dari keduabocah itu. Sungguh menggemaskan pikirnya.


"Iya deh iya.." Hasya tidak mau berdebat lagi, lalu ia duduk di single sofa di sebelahnya.


"Tapi nak, tolong suruh papa kalian mandi gih, baunya aneh" seru Hasya.


"Bau apa ma? Ngga kok, papa wangi kaya biasanya" sanggah Deliza yang menyandar di dada bidang papanya. Zehan sendiri langsung membaui dirinya menoleh ke kanan dan ke kiri takut-takut jika memang ada bau tidak sedap dari dirinya. Tapi seperti yang dikatakan Deliza, ia hanya mencium sisa wangi parfume tadi siang, ah mungkin saja bau kopi yang tertumpah pada celananya, tapi kan sekarang ia sudah pakai sarung, meski agak bingung, ia lantas berpikir mungkin saat ini penciuman Hasya sedang sensitif saja.


"Tapi beneran iih bau papa kalian tuh aneh." Hasya mulai uring-uringan, melihat gelagat istrinya akan mulai mengomel lantas ia memberi isyarat pada anak-anak agar turun dulu dari lahunannya. Namun sebelum ia beranjak ke kamar ia terlebih dulu mendekati istrinya, tentu saja Hasya sedikit memundurkan tubuhnya hingga benar-benar mentok pada sandaran sofanya, menatap Zehan dengan tatapan tidak suka. Saat Zehan makin mendekatinya tiba-tiba saja Hasya melonjak dan mendorong tubuh Zehan, ia segera berlari ke washtafel dapur.


"Yah.. Mama muntah lagi kak" kata Deliza seraya mencomot satu potongan martabak lalu memakannya tanpa ada perasaan jijik, mendengar mamanya muntah di washtafel.


"Mama kalian sejak kapan sering muntah-muntah begini Zes?" teriak Zehan dari dapur.


"Sejak papa berangkat ke Jakarta" jawab Zesyan singkat kemudian ia turun dan menyodorkan air hangat yang sedang dipegangi oleh Bi Rani yang juga terlihat panik.


"Udah pernah diperiksa ke dokter belum? takutnya asam lambung mama kamu naik kan bahaya kalo dibiarin terus"kata Zehan sambil terus mengusap punggung dan memijat tengkuk Hasya.


"Anu pak, kemarin sudah saya ajak ke klinik tapi ibu bilang pengen ke kliniknya ditemenin bapak" sahut bi Rani.

__ADS_1


"Ya udah kita ke dokter sekarang ya?" kata Zehan sambil terus membantu istrinya namun Hasya malah berusaha mendorongnya meski ia merasa lemas karena habis memuntahkan isi perutnya.


"Ngga mau, masnya bau! bau mas aneh!!" rengek Hasya menolak ajakan Zehan sambil terus meronta-ronta agar Zehan tidak dekat-dekat dengannya. Bi Rani yang mulai memahami situasi terkekeh melihat tingkah majikannya itu.


"Mas nya sana,,, jauh - jauh dari aku... hoooeek !!"


"Iya Sya, mas cuma mau bantu kamu aja"


"Sana... iihh.. Mas bauu....Hoooekkk!!"


"Pak maaf baiknya bapak mandi dulu, saran saya bapak jangan pake parfume dan nanti periksa ibu ke bidan aja, sambil jalan-jalan, dekat kok sekitar sepuluh menit jalan kaki" kata Bi Rani menunduk menyembunyikan senyum bahagianya.


"Hah.. Ya sudah bibi jagain ibu dulu, saya mandi sebentar kita langsung ke sana" Zehan pun menyerahkan tubuh istrinya pada Bi Rani, perempuan sekitar awal empatpuluhan itu pun mengangguk lantas dengan sigap memapah istri tuannya menuju ruang keluarga, lalu menaruh Hasya dengan perlahan. Zesya lalu memijat lengan mamanya. Deliza yang tadi nampak acuh ia pun mengambilkan tissu untuk Hasya lalu dengan penuh perhatian melap keringat dingin yang membanjiri kening dan sekitaran wajah Hasya.


"Ma, mama jangan sakit, Dede janji ga nakal lagi, tapi mama jangan sakit, dede sayang mama" ungkap Deliza lalu memeluk menyandar pada bahu kanan Hasya.


"Iya ma, jangan sakit lagi. Zesya janji ngga bakal jadi kakak yang baik buat Deliza, jadi anak yang lebih penurut lagi ma" rengek Zesya sambil merangkul Hasya dari sebelah kiri. Hasya tersenyum bangga dan bahagai mendengar ungkapan cinta kasih dari keduahatinya itu. Lantas ia mencium satu persatu puncak kepala kedua anaknya dengan penuh kelembutan, lalu mengusap lembut pipi chubby dua bocah kematian itu.



maaf telat updatenya(¬_¬)ノ

__ADS_1


__ADS_2