
Setelah beberapa menit berlalu senyum sumringah terbit dari bibir bu Bidan. Sedang Zehan dan Hasya masih menutup mata mereka sambil berdoa dengan harapan mereka yang sama.
"Selamat Pak, Ibu Hasya positif hamil " ungkapnya riang. Zehan berkedip beberapa kali, raut wajah yang terperangah cengo menggambar dirinya masih ngang ngong dengan apa yang diungkapkan oleh bu Bidan barusan. Sedang Hasya ia hanya bisa menitikan air mata kebahagian tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun darinya.
"Ibu serius? Benara?" Zehan memastikannya lagi, dan Bu Bidan mengangguk sambil menyerahkan alat testpack kepada Zehan. Dua garis merah terpampang nyata di sana. Zehan segera meraih tubuh Hasya, iapun menangis haru dalam sambil memeluk tubuh istrinya,sedang masih syok hingga ia bingung harus apa. Namun kemudian tersenyum lalu membalas pelukan Zehan, meski dalam hatinya ada timbul pertanyaan apakah Zehan akan bereaksi hal yang sama atau tidak saat ia hamil Zesya dulu.
Esok harinya,
"Hoooeeekk ! Hoeekk !!" setelah sarapan Hasya kembali terduduk di hadapan kloset, dan memuntahkan kembali apa yang telah dimakannya pagi itu. Rasa mualnya dipicu bukan karena bau makanan seperti pada umunnya ibu hamil rasakan, namun karena ia mencium parfume yang digunakan oleh Zehan.
"Mas jauh jauh dari aku!!" kata Hasya sambil mendorong tubuh suaminya dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada.
"Mas cuma mau bantu kamu Sya.."
"Iya.. tapi bau mas itu bikin aku mual,, "
__ADS_1
"Bau?? Bau apa sih Sya? Mas kan cuma pake parfume yang kamu beliin lho"
"Bodo amat !! POKOKNYA JAUH-JAUH DARI AKU MAS!!" teriak Hasya hingga membuat semua orang menuju kamar Hasya, Bi Rani yang melihat dari luar hanya geleng-geleng kepala seraya menahan tawanya.
"Bi, tolong bantu aku ke tempat tidur bi" pinta Hasya, tergopoh-gopoh bi Rani membantu Hasya berdiri lalu memapahnya hingga bibir tempat tidur. Sambil membantu peletakan bantal supaya Hasya bisa bersandar dengan nyaman ia melihat Zehan yang tertunduk lesu lantas ia pun mendekatinya.
"Maaf pak, kan semalam saya sudah kasih tau, kalo bapak mau deket-deket ibu, bapak jangan pakai parfume"
"Saya lupa bi, udah biasaan kan kalo habis mandi itu pakai, deodorant, lotion dan parfume."
"Ya sudah bapak, mandi lagi saja sekarang, mungkin wangi parfumenya berkurang, cukup lotion dan deodorant saja pak, kaya semalam, kan ibu anteng-anteng aja deket bapak"
Sementara Zehan mandi, Zesya dan Deliza masih memijat kaki kanan kiri milik Hasya dengan telaten tak lupa dengan raut mereka yang nampak kasihan dengan keadaan Hasya yang akhir-akhir ini nampak lebih kurus karena apapun yang ia makan pasti keluar lagi.
"Ma, apa mama kandung aku juga kayak mama pas hamil aku" tanya Deliza tertunduk sedih
__ADS_1
"Setau mama hampir semua ibu diawal kehamilan pasti mengalami ini, tapi karena kesulitan-kesulitan inilah yang membuat kasih seorang ibu bertahan karena tahu ada yang berharga sedang tumbuh dalam dirinya"
"Kalo memang seperti itu ..." Hasya yang memahami situasinya ia lantas melebarkan kedua tangannya.
"Kemarilah kalian berdua sayang" pinta Hasya. Zesya pun lalu menarik tangan Deliza dan berhamburan memeluk Hasya.
"Dengar baik-baik sayang, hampir semua mama itu pasti menyayangi anak-anaknya, hanya saja kadang keadaan memaksa untuk mereka melakukan hal diluar nalar mereka sendiri. Jadi, mama minta kamu Zes, jika suatu saat kamu memiliki istri, sayangi dia sepenuh hati, kamu juga harus setia dan bertanggungjawab atas dirinya karena kamu anak papa dan mama, paham?" Zesya mengangguk
"Dan kamu putri kedua mama yang imut, tolong simpan baik-baik semua kenangan buruk itu jika memang masih ada yang tersisa di sana. Tolong dimaafkan ya? Simpan semua itu bukan sebagai luka, tapi sebagai pengingat agar kamu menjadi seorang gadis yang akan menjaga harga diri juga kehormatan keluarga mu saat ini. Terbukalah segala hal dengan pasanganmu kelak. Dan jika ada masalah ceritakanlah pada mertuamu dahulu. Jika mertuamu lebih condong pada suami barulah kamu mengadu pada kami. Kamu paham nak?" sambung Hasya, sembari menyentuh lembut pipi Deliza yang selembut marshmellow.
"Huaaangg..hikkss. Deliza sayang mama"
"Sama papa ngga sayang?" Deliza langsung menoleh pada Zehan yang sudah berdiri di sisi lain tempat.
"Sayang dong," kata Zesya sambil berdiri lalu berhambur pada Zehan yang sudah bersiap menyambut mereka dengan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Melihat hal itu, Deliza tidak langsung berdiri tapi ia menatap ke arah Hasya seolah meminta izin padanya, barulah setelah Hasya menggangguk ia beranjak dan berhambur kepada Zehan yang sudah ada Zesya terlebih dulu memeluk papanya.
__ADS_1
"Ya Allah, hampir saja aku menjadi orang yang sangat menyesal, hampir saja aku kehilangan hal berharga dalam hidupku, mereka semua adalah bagian terpenting yang membuatku menjadi orang yang paling beruntung di dunia ini. Terima kasih ya Allah, engkau masih memberiku kesempatan agar bisa memperbaiki dan menjaga semua yang aku miliki saat ini, dan nanti" batin Zehan penuh keharuan seraya memeluk kedua buah hatinya, erat dan hangat.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ