
Malam pun tiba, semua sudah bersiap untuk istirahat dan masuk ke kamar yang sudah dibersihkan Bi Rani. Rumah Haysa tidak terlalu besar. bangunan minimalis 1 lantai, memiliki 4 kamar tidur,ruang keluarga, ruang tamu, musala mini, teras luas serba guna karena biasanya juga digunakan vendor atau kang dekor untuk briefing, juga memiliki garasi serta halaman yang luas.
Rumah sudah sepi saat Zehan menutup pintu kamar anaknya yang sudah terlelap bersama Judis, sedang yang lainnya sudah di kamar masing-masing. Zehan menghela nafas sebelum ia segera membuka pintu kamar Hasya untuk pertama kalinya. "Cleklek" ia membuka pintu kamar tersebut dengan sangat hati-hati ia takut kalau-kalau si mpunya kamar tersebut sudah terlelap. Baru saja akan melangkah indra penciuman Zehan menangkap wangi aroma yang bersih dan menyegarkan antara aroma jasmine, gardenia, menimbulkan kesan aroma laut berpadu dengan white musk yang lembut. Namun ia cukup kecewa karena ternyata hanya tidak ada di tempat tidurnya. Lantas iapun melanjutkan roomtournya di ruangan tersebut. Baru beberapa langkar terdengar samar nyanyian kecil dari ruangan sebelah dengan suara nyala keran dari kamar mandi. Zehan berpikir mungkin Hasya sedang mencuci wajahnya karena Hasya memiliki kebiasaan meski sedang sangat malas ia akan tetap mencuci wajahnya serta menggosok gigi sebelum ia pergi tidur. Zehan perlahan makin masuk ke dalam kamar Hasya yang berpulas dominan Cat berwarna soft beige itu. Meski tidak terlalu banyak furnitur namun kesan hangat dan nyaman sangat jelas terasa menenangkan. Kemudian langkahnya terhenti di depan layar tivi yang tertempel di dinding, netranya langsung terarah pada deretan pajangan pigura foto dirinya dengan Hasya sewaktu masih di Hongkong dan di saat mereka bulan madu. Zehan tersenyum manis melihat semua itu.
"Lho!? Mas ngapain di sini?!" tegur Hasya yang terdengar ketus otomatis membuyarkan semua lamunan Zehan yang sedang menjelajah masa lalu manis mereka.
" Ya mau tidur di sini, apa lagi?" sahut Zehan acuh sembari menempatkan bok*ngnya dengan nyaman di bibir tempat tidur.
"Kan mas biasa tidur di kamar Zesya, kenapa tiba-tiba mau tidur di sini?!" Hasya makin menyolot menunjukan reaksi tidak suka dengan kehadiran Zehan dikamarnya. Apalagi harus berbagi tempat tidur dengan Zehan. Tidak ia belum siap dengan semua itu. Sekarang saja jantungnya sudah seperti ingin melompat tidak karuan saat melihat Zehan berdiri memandangi foto-foto mereka.
" Semua kamar penuh Sya.. Zesya tidur sama Judis, tempat tidurnya tidak cukup untuk bertiga. Papa mamah, Zia dan Gibran jelas tidak akan mengizinkan aku tidur bersama mereka" terang Zehan sambil memasang wajah polos dan memelas. "Pck!! iihhh!!" Hasya menghentakan kakinya kesal. Meski ia merasa dongkol tapi ia tetap mengizinkan Zehan tidur di kamarnya.
Dengan perasaan masygul lantas ia mengambil bantal extra untuk Zehan dan guling extra menjadi pemisah mereka. Zehan tersenyum simpul ketika melihat apa yang sedang dilakukan istrinya itu.
"Mas boleh tidur di sini, tapi jangan lewati batas guling ini, dan jangan coba-coba mencari kesempatan dalam kesempitan !!" ancamnya.
"Yang sempit-sempit itu enak lho Sya!" seketika rona di wajah Hasya makin memerah seperti tomat. Zehan makin tersenyum senang melihat reaksi malu malu mau dari istrinya yang terlihat lebih menggemaskan saat cemberut juga disertai tatapan maut yang makin menggoda iman Zehan.
"Kalo mas ngga mau tidur di teras lebih baik Mas kendalikan adik kecil mas itu !" ucap Hasya dengan suara tertahan lirih.
"Ini kan reaksi wajar Sya, mana bisa aku tahan." Zehan makin gencar menggoda Hasya.
__ADS_1
"Ya udah kalo gitu biar aku nginep di rumah bi Rani aja malem ini"
"Ok ok.. kita bobo aku pastikan kamu tidur nyenyak malam ini" ucap Zehan cepat-cepat menahan istrinya agar tidak kabur lagi.
"tidur nyenyak kepalamu" umpat Hasya dalam hati. Dengan perasaan yang masih bercampur aduk Hasya lalu masuk ke dalam bedcover tebalnya lalu menata guling di dalamnya, sedang Zehan kembali terpaku melihat foto foto mereka. Tanpa aba-aba Hasya mematikan lampu utama dan menyisakan lampu kamar yang remang-remang temaram.
...****************...
Suara adzan subuh dan kokok ayam jantan mulai saling bersahutan. Perlahan Hasya mulai menggeliat pertanda alerm butuhnya sudah menyuruhnya untuk segera terjaga. Namun subuh itu entah kenapa ia merasakan sesuatu yang berbeda. Tangannya sepertinya menyentuh sesuatu yang keras di bawah sana. Seketika ia pun terbangun sambil berteriak histeris saat melihat Zehan tidur dengan tanpa mengenakan atasan.
"KYAAAAA!!!" jerit Hasya sambil mendorong tubuh Zehan agar menjauh darinya, iapun berjengit bangun dari tempat tidurnya. Zehan yang sedang pulas akhirnya ikut bangun "Apa sih Sya, subuh-subuh begini teriak-teriak" ucap Zehan meremas rambutnya yang berantakan serayasambil menguap dan menggeliat meregangkan tubuhnya agar tidak terasa kaku.
"Mas yang apa-apaan tidur ngga pake baju begitu, mau ambil kesempatan, gitu ?!" tuduh Hasya mencak-mencak. Zehan membuang nafasnya, lalu ia mengulur tangannya mencoba meraih Hasya, namun perempuan itu berhasil mengelaknya.
"Makanya jadi orang jangan suka ngambil kesempatan dalam kesempitan !!" omel Hasya.
"tok tok Sayang,, kamu kenapa nak,, ??" terdengar suara bibi Lyn bersamaan suara ketukan. Dengan mata yang masih mendelik tajam Hasya segera menuju pintu yang terus digedor dengan panik oleh bibi Lyn.
"Mama?" Sapa Hasya memasang wajah seolah bingung dengan kehadiran semua orang termasuk Zesya dengan muka bantal mereka.
"Kamu ngga apa -apa kan nak, tadi mama denger kamu teriak kenceng makanya mama langsung cek ke sini" ungkap bibi Lyn sambil menerebos masuk diikuti oleh yang lain, Hasya hanya bisa pasrah dengan hal itu.
"Ini apaan sih ah rame rame begini?" tanya Zehan bersamaan dengan mulutnya yang menguap lebar.
__ADS_1
"Kakak yang habis ngapain Kak Hasya sampe jerit histeris kayak tadi?"
"Ah kamu kayak ngga paham aja"
"Papa kok ngga pake baju? Emang ngga dingin?" tanya Zesya polos. Semua orang dewasa di sana saling menoleh satu dengan yang lain. Mencari jawaban yang tepat untuk Zesya.
"Ngga apa-apa Zes, baju papa tadi basah, jadinya di lepas biar ngga masuk angin" terang Hasya.
"Emang Om mandi ngga lepas baju?" tanya Judis namun tatapannya mengarah pada Hasya.
"Tante belum siram om kamu ya Dis," sanggah Hasya.
"Udah-udah," ucap Zehan membuang selimutnya lalu menggiring semua orang kecuali Hasya keluar dari kamar.
"Ze,, kamu ini iih" pekik bibi Lyn.
"udah sana siap - siap solat subuh."sahut Zehan seraya mengusir semua orang. lantas menutup kembali pintu kamar setelah semua pergi.
"Kamu mau ngapain mas ngunci pintu segala?" geram Hasya bertolak pinggang.
"Bobo lagi yuk" ajak Zehan manja. Hati Hasya kembali berdesir saat Zehan meletakan kepalanya di bahu kanannya. Perutnya seolah terasa penuh oleh ribuan kupu-kupu, sesaat ia hampir saja terbuai hampir berciuman dengan Zehan jika saja suara ayam jantan tetangga yang kembali berkokok kencang membuyarkan moment manis di pagi itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1