
"Kamu kenapa Zes?" Zesya terkejut saat tantenya itu tiba-tiba muncul dari belakang.
"Ah onty mah bikin kaget aja" oceh Zesya mendumel.
"Yee ni bocah"
"Onty.. "
"Ya...?"
"Cara orang dewasa baikan itu gimana sih?"
"Maksudnya?"
"Onty lihat senyum dan tawa yang dipaksakan oleh mama." lantai Zia menoleh ke arah Hasya.
"Aku takut, mama dan papa cerai, onty. Zesya ngga mau punya papa dan mama tiri." kesah Zesya. Zia melirik Zesya dengan tatapan bingung kenapa anak ini bisa mudah sekali berubah karakter. Kadang seperti ceria dan jahil seperti anak seusianya, kadang acah sedingin es, kadang dewasa.
"Sejujurnya semua yang terjadi belakangan ini masih seperti mimpi untuk Zesya, onty. Zesya tiba-tiba jadi punya papa, tiba-tiba punya onty dan uncle, tiba-tiba punya adek tapi umurnya lebih tua dari Zesya, tiba-tiba punya 2 pasang kakek dan nenek" ucap Zesya, Zia mendengarkan dengan seksama. Terdengar getir saat Zia dan Zesya mulai mengobrol namun lebih mengarah ke "deep talk". Zia memang sudah mendengar dari Zehan, jika pemikiran Zesya sebenarnya sudah sangat dewasa jauh dari teman seusianya, entah itu anugrah entah sebaliknya. Karena dengan keadaan yang seperti itu tidak jarang Zesya mengeluarkan kata-kata yang sadis dan meski penuturannya kalimatnya sangat halus. Zia pun menjadi iba pada keponakannya itu, sungguh anak ini terlalu kecil untuk menanggung beban dan mengerti masalah orang dewasa.
" Zesya terkadang masih takut jika Zesya tiba-tiba bangun dari semua ini, lalu kembali ke kehidupan nyata, tanpa papa tanpa judis tanpa kalian semua, dan hanya tinggal Zesya dan mama aja."
"Aaaakkk aaah sakit Onty, kok onty malah jewer Zesya" pekik Zesya kesakitan saat Zia menjewer telinga Zesya hingga memerah. lalu setelah itu Zia menangkup pipi Zesya dengan gemas.
"Iiihh..ss.sst gemesshh banget siihh ponakanku ini" Zesya mengerjapkan matanya yang terlihat seperti mata rusa itu beberapa kali saat wajahnya diarahkan berhadapan dengan Zia.
"Sakit ya, onty jewer... Nah itu artinya kamu ngga mimpi sayang" Zesya masih menatap namun kini ditambah dengan bibir manyun karena terhimpit oleh tangan Zia. Kini Zia malah memeluknya dan membenamkan Zia di dad"nya seperti sedang memeluk boneka.
__ADS_1
"Sayang, onty tau keresahan kamu, tapi percayalah papamu tidak akan membiarkan semua itu. Buktinya papamu bisa menemukan keberadaan kalian. Jadi tolong sekali lagi percaya pada papamu ya, doakan supaya mamamu cepat memaafkan papa, dengan begitu kalian akan bersama selamanya.." pinta Zia. Zesya hanya diam saja saat Zia mengatakan itu. Mungkin benar apa yang dikatakan ontynya itu, ia hanya harus percaya pada papanya, suatu saat pasti bisa meluluhkan mamanya lagi.
"Tapi onty" Zehan akhirnya melepaskan dekapan ontynya.
"kenapa?"
"Prosesnya pasti lama banget. Mama itu orangnya keras kepala, sedang Zesya udah pengen punya adek biar ada yang jadi temen main Zesya."
"Jadi apa kamu ada rencana"
"Hmmm.. apa onty bisa memberikan obat ********** untuk mama. Biar cepet aja Zesya punya adenya"
"hiiiihh??? " Zia seketika melongo dongo mendengar rencana Zesya yang di luar perkiraan BMKG.
...****************...
"Sudah kewajiban saya mah, ini juga berkah doa kalian semua, saya sekarang bisa berkumpul kembali dengan Hasya dan bonus Zesya bersama kami. Meski sejujurnya Zehan masih ada sesal mah, karena terlambat menemukan mereka, hingga melewatkan banyak moment penting terutama pada saat kelahiran Zesya" ucap Zehan sedikit murung, merasa tersindir Hasya mengalihkan perhatiannya kembali pada ayam yang sedang dibakarnya.
"Bikin ade bayi lagi aja pah, nanti mama lahiran kan papa bisa nemenin" celetuk Zesya enteng bicara. Mendengar hal itu semua orang menoleh ke arahnya, terutama Hasya langsung mendelik tajam dengan bibir makin mengerucut.
"Wah ide bagus tuh A, Ama dan Apa Judis juga lagi program dedek bayi, biar Judis ada temen main" Judis semangat jadi kompor. Dan tentu saja makin membuat kerutan di dahi Hasya makin dalam. Sedang para orang tua cuma cengengesan saja mendengarkan celotehan dua bocah tersebut.
"Ngga ngga,, ngga program bayi.." tolak Hasya mentah-mentah.
"Ah mama ngga asik nih !! " gantian Zesya yang menggerutu sambil mengerucutkan bibirnya disertai melipat tangannya.
"Di kira bikin bayi itu gampang apa?!" Hasya tetap tidak mau kalah. Zehan tersenyum seolah meminta maaf atasa keributan anak dan emak tersebut pada mama mertuanya. Mama Vera hanya mengangguk tersenyum sambil menepuk nepuk punggung tangan Zehan, mengisyaratkan tidak apa-apa. Zehan kemudia mengambil botol air meneral lalu meminumnya.
__ADS_1
"Gampanglah mama dan papa bikin dikamar sama seperti proses pembuatan Zesya dulu" "PUAAAHH!!!" Zehan kembali menyemburkan air mineral yang sedang ia minum.
"Ma, emang cara bikin dede bayi gimana, kapan-kapan Judis boleh ikutan bikinnya ngga?" ucap Judis polos. Zia mengernyih bingung harus menjawab apa.
"Kak Zehan, jangan bilang anak mu itu sudah paham biologi" Zehan melirik sembari menyeka sisa air yang membasahi dagunya.
"Waah daebak! Hwahahahhaaahaa.. " Zia kontan tertawa setelah mengerti bahwa Zesya memang benar-benar memiliki kepekaan jauh di atas rata-rata anak seumurannya.
"Kalian tau, bahkan saat aku ingin memastikan benar atau tidak dia adalah anak ku, dia mengatakan bahwa orang yang matanya rabunpun pasti akan tetap mengatakan aku adalah ayahnya, tanpa perlu melakukan tes DNA "
"Huahahahahha gimana rasanya digobl*kin anak sendiri kak hahhahahhahahaa" Zia makin terpingkal hingga berguling-guling di atas rumput Jepang. Gibran juga sebenernya ingin itu terbahak namun tatapan mata elang dari Zehan sudah keburu menyambarnya, jadinya ia berusaha keras mengulum bibirnya, meski beberapa kali ia tetap tidak bisa menahan tawanya."pfftt pfftt"...
"Aku jadi penarasan bagaimana kak Hasya menangani Zesya selama ini?" tiba-tiba Zia menghentikan tawanya.
"Mudah " jawab Hasya singkat.
"Caranya?" Zia makin bingung.
"Sebelum usia 2 tahun Zesya sudah bawel bicara meskipun masih agak cadel-cadel dan terbalik balik. Tapi ya mungkin karena Allah memberi dia extra kecerdasan dia makin sering banyak bertanya hal-hal yang kadang aku sendiri kurang paham, dan karena saking bawelnya makanya aku mulai mengenal huruf dan angka, dan siapa sangka dalam waktu kurang dari 3 bulan dia sudah mulai bisa membaca kosa kata, dan berhitung 1-100. Makin hari keingintahuannya akan segala hal makin membuatku kewalahan. Akhirnya karena makin kewalahan menjawab semua pertanyaan Zesya aku mengakalinya dengan selalu memberikannya buku-buku ensiklopedia, buku gambar dan pensil warna sebagai pengalihan perhatiannya. Aku melakukan itu supaya menjaga kestabilan emosi, kesabaran serta kesehatan otak dan mental pastinya. Akhirnya sekarang jika ia ingin tahu sesuatu ya pastinya dia akan membeli buku yang dia butuhkan, di waktu senggang ia bisa belajar menggambar dan melukis dan hasilnya cukup efektif." Zia memperhatikan dengan serius sambil memakan jagung bakar yang sudah matang.
"Ya meski begitu tetap aku awasi kok, cuma ya itu ucapannya kadang bisa setajam silet kalo sudah sarkas. Sebenarnya sempat khawatir karena dia bersikap menjadi terlalu cuek dengan sekitarnya jika sudah tenggelam dalam buku yang dia baca atau ketika sedang menggambar, tapi setelah diperhatikan lagi Zesya justru memiliki toleransi yang baik, rendah hati, bicara blak-blakan tentunya bisa diandalkan, ia mampu menerapkan semua teori yang ia baca untuk kehidupannya, ia tumbuh menjadi sosok yang santun, beretika dan beradab kepada semua orang, itu yang terpenting" Hasya sembari memeluk anak semata wayangnya itu.
"Wah ternyata repot ya punya anak super cerdas itu" Hasya tersenyum saat melihat ekspresi takjub di wajah Zia.
"Meski repot, Tapi aku sangat bersyukur Zi, setidaknya anakku lebih peka dibanding bapaknya!" pungkas Hasya. Pria itu hanya bisa mengernyih saat Hasya menyindirnya dengan kata-kata yang cukup menohok uluh hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1