
Hari-hari berlalu begitu saja, tidak terasa Zesya sudah tumbuh menjadi pemuda jangkung dengan tinggi 189cm melebihi Zehan yang hanya 185cm, tubuhnya tegap berisi dengan otot-otot kencang membingkai indah berkat latihannya selama bertahun-tahun, namun sayang pahatan indah itu sering ia sembunyikan dibalik pakaiannya yang longgar. Zesya Akhilendra Hirawan putra pertama dari pada Zehan Akhilendra Hirawan dan Jung Hasya Ophelia kini benar-benar menjelma menjadi seorang pemuda tampan idola para gadis di sekolahnya, di tahun ini dia sudah duduk kelas XI atau kelas dua SMA dengan sangat populer berkat segudang prestasi juga tentu saja ketampanannya. Sebagai ketua OSIS, ketua ekskul Sipala atau siswa pecinta alam, ia juga ketua team basket, ia juga sering membantu pembimbing melatih anak taekwondo yang sudah sabuk umgu dan karate dasar untuk anak-anak sekolah tingkat SMP. , selain itu ia juga aktif di ekskul sains dan programer. Saking sibuknya bahkan dihari minggu pun ia kerap jarang ada di rumah, Meski begitu komunikasi dengan keluarga tetap terjaga baik. Ia sangat mencintai keluarganya, meski diluar ia memang terlihat cuek tapi dalam beberapa kesempatan ia juga bisa menunjukan kepekaan dan perhatiannya kepada keluarganya. Ia juga terbilang cukup protektif pada adik-adiknya. Apalagi pada Zefanya yang sekarang sudah mau masuk kelas playground, bukan ia kurang peduli pada Deliza namun disamping gadis itu sudah ada pengawal setia yang akan menemani gadis itu 24 jam/7, itulah kenapa ia tidak terlalu protektif. Joon Woon sudah sangat possesif jika ia menunjukan sikap yang sama ia khawatir Deliza malah akan berontak dan malah menjauh darinya juga keluarga karena merasa terbebani.
"Pagi ma, pa, kak" sapa Deliza sambil memasang wajah cerah seperti biasanya.
"Agi ete" sahut Zefanya yang terlihat sibuk dengan makanannya yang belepotan di sana sini.
"Iiihh ade kakak yang cantik ini gemesin banget siiihh" kata Deliza gemas menguyel-uyel pipi berlemak milik adik bungsunya itu.
"Akit eteee" kata Zefanya dengan bibir mengerucut, malah makin membuat Deliza makin gemas melihat.
"teteh udah atuh, kasian itu adeknya sampe ngerengut tertekan gitu." hardik mamanya Hasya yang kebetulan hari itu sedang datang berkunjung.
"Liza cuma gemes aja liat pipi chubbynya ini.. Masyaallah iihh" sekali lagi Deliza menguyel-uyel pipi adiknya itu.
"Udah sayang kasian adek-nya udah bete banget, tar nangis" kini Hasya yang menghardik Deliza yang baru saja datang dari dapur dengan membawa semangkuk besar nasi goreng kuning. Karena saat menggorengnya memang menggunakan kunyit yang di iris tipis-titip bukan kecap manis seperti abang tukang nasgor.
"Wiih,, mantap nih, mih aku minta buat di bawa bekal makan siang ya" kata Deliza dengan mata berbinar saat melihat nasi goreng kunyit kesukaannya.
"Udah mama siapin tuh tinggal kamu bawa aja tas bekalnya."
"Mama emang paling the best" kata Deliza kegirangan sambil memeluk Hasya dari samping juga menempelkan pipinya pada Hasya.
"Zes, kamu besok kamu libur kan ngga ada acara kemana-mana??" tanya Hasya seraya menyidukan nasi goreng kunyit itu untuk Zehan. Zesya hanya mengangguk sebagai jawaban pada Hasya.
"Kalo gitu sepulang sekolah nanti temenin mama dan nenek ke Bogor ya?" kata Hasya sambil meminum air dalam gelasnya.
"Emang mama mau ngapain ke sana?" lirik Zesya melirik mamanya penasaran.
"Saudaranya mama ada ngadain tasyakuran, ngga enak kalo ngga dateng"
__ADS_1
"Papa ngga di ajak? Tumben? biasanya kan mama dan papa pasti satu paket"
"Papa hari ini harus ke Italy, hari Senin malam baru pulang" sahut Zehan sambil menyeruput teh melatinya.
"Duo bocil ini ngga di bawa?" tanya sambil mendelik mengejek pada Deliza.
"Ya mereka di bawa juga, udah kamu ikut aja"
"Ya udah. Ngga nginep kan?"
"Nginep semalem doang, minggu sore kita udah di Jakarta lagi. Kenapa kamu ada janji?"
"Ngga sih, tadinya Zesya mau latihan band sama anak-anak"
"ah ngga latihan sekali mah atuh ngga apa-apa A, kan jarang-jarang bisa jalan sama nenek" mamanya Hasya ikut nibrung.
"Ya udah kalo gitu" Zesya pun melanjutkan kembali sesi sarapannya dengan lahap.
"Aku berangkat ma pah, nek kakek.. dadah Aya" pamitnya pada semua orang seraya mengusap pucuk kepala adik bungsunya.
"Del, kamu sama Bang Joon apa sama aku?"
"Sama Aa aja, bang Joon mau di suruh papa katanya" kata Deliza kemudian meminum susunya dengan terburu-buru lalu menyusul Zesya setelah berpamitan pada semua orang yang masih berada di meja makan itu.
Zesya memang sudah diperbolehkan mengendarai mobil sendiri, tapi terkadang ia juga menggunakan si kuda besi Ducati Panigale V4 Superleggera kesayangannya, motor sport yang hanya ada 500 unit di seluruh dunia. Ia memilikinya sebagai hadiah sewaktu ia sudah mendapatkan secara resmi EKTP-nya.
Setelah mengantarkan adiknya iapun segera melajukan kembali mobilnya menerobos jalanan ibu kota yang mulai macet, beruntung Zesya sudah mengetahui jalan alternatif hingga semacet apapun ia tidak pernah kesiangan datang ke sekolahnya dengan alasan macet.
Tas punggungnya ia simpaikan di bahu kanannya saat ia mengunci mobilnya. Lantas ia pun berjalan menuju ruang kelasnya. Di sana sudah ada beberapa anak yang sibuk sendiri.
__ADS_1
Tepat ketika ia menyimpan tasnya terdengar "ZESYA !!" suara seorang gadis memanggil namanya dengan suara lantang hingga membuat anak-anak yang berada di sana mendadak hening bersamaan dengan semua mata tertuju kepadanya. Dengan canggung ia menggangguk angguk tanda ia meminta maaf, perlahan gadis itu masuk ke dalam kelas, anak-anak di kelas itu pun masih bergeming memperhatikannya yang menuju tempat Zesya berdiri yang jyga menyorot gadis itu dengan tatapan selidik.
"Hallo, salam kenal saya Tania." ucap gadis itu memperkenalkan diri seraya menyodorkan tangannya yang lentik kepada Zesya. Zesya masih diam dengan alis nyaris bertautan.
"Ya Tuhan dia ganteng banget" histerisnya dalam hati.
"Zesya" sahut Zesya singkat seraya menyambut uluran tangan gadis itu untuk berjabatan perkenalan.
"Maaf, ganggu ya?" tanya Tania canggung.
"Tergantung"
"Maksudnya?"
"Ya tergantung keperluan kamu apa?" jawab Zesya ketus.
"Maaf kalo saya sudah kurang sopan, saya cuma .."
"TEEEEEEEEEEEETTT !!! " ucapan Tania terpotong karena suara bell menandakan jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Tania terlihat kecewa karena apa yang menjadi maksudnya belum tersampaikan melihat hal itu Zesyapun menghela nafas panjang.
"Temui aku di kantin saat jam istirahat kalo memang sangat penting" kata Zesya seraya duduk di kursinya. Memang terdengar dingin namun raut wajah gadis itu kembali berseri akan hal itu.
"Baiklah, jam istirahat pertama di kantin." gadis itu pun segera keluar kelas Zesya lalu berlari menuju kelasnya dengan perasaan riang gembira, karena Zesya masih memberinya kesempatan untuk berbicara dengannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
mohon maaf untuk semuanya, sebenarnya sejak beberapa minggu kemarin tangan author sakit, maklum author mengetik masih menggunakan ponsel,tapi hari demi hari sakit disendi-sendi jari autor makin parahnya beberapa hari kemarin benar-benar kaku dan sakit,tidak bisa digerakan sama sekali, kata dokter cedera otot, apesnya author tidak tidak ada stok update. mohon maafkan author ya, ini benar-benar di luar kendali author. 🙇🏻♀🙇🏻♀🙇🏻♀
untuk kedepannya author akan berusaha update tepat waktu.
__ADS_1
doakan author cepat sembuh ya, bye bye.. ❤❤