The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 70


__ADS_3

"Yojeum naneun eotteon jul ani (Apa kau tahu bagaimana aku akhir-akhir ini? Pyeonhi jameul jal sudo (Aku bahkan tak bisa tertidur) Mwol samkyeonael sudo eopseo (Aku bahkan tak bisa menelan apapun) Neol baraboda (Apa kau tahu) Jeomjeom manggajyeo ganeun nal algin halkka (Bahwa aku menjadi lebih hancur Saat aku melihat padamu?) Jugeul geot gatado (Aku merasa seperti sekarat) Neon naege olli eopdaedo (Meskipun tak ada jalan kau akan datang padaku) Ttan gotman boneun neoran geol arado (Meskipun aku tahu kau meihat ke tempat lain) Geureon neoreul nan (Aku tak berpikir) Noeul sun eopseul geot gata (Aku bisa melepaskanmu)


🎶 If is it you- Jung Seung Hwang🎶 ( Lagu ini tidak direkomendasikan untuk orang-orang yang sedang patah hati)


...----------------...


Malam itu Zehan kembali duduk disamping tempat tidur Hasya, sambil memegang dengan perlahan tangan Hasya yang terpasang jarum infus, setelah ia akhirnya jujur kepada Zesya mengenai keadaan ibunya yang tengah koma setelah mengalami kritis akibat hipotensi akut yang mengakibatkan syok pada saat Hasya masih menjalani operasi.


"Sya, kapan kamu bangun sayang, kamu tidur sudah terlalu lama" ucap Zehan lirih. Ia terus menatap sendu wajah istrinya yang tengah terbaring hingga iapun akhirnya tertidur dengan posisi terduduk di bibir tempat tidur Hasya. Padahal di sebelahnya terdapat tempat tidur lainnya yang memang disediakan pihak rumah sakit untuk keluarga pasien yang menginap di sana.


__ADS_1


Entah bagaimana Hasya tiba-tiba terbangun di sebuah taman bunga yang begitu indah dengan memakai baju berwarna . Segala jenis bunga yang berwarna warni terhampar luas sesekali batang mereka bergoyang oleh tiupan angin sepoi-sepoi yang sejuk. Hasya berputar mengedar ke sekililingnya. Ia merengut kebingungan bukankah tadi ia masih berada di rumah sakit tapi kenapa tiba-tiba ada di sana.


"Sya bangun sayang.." suara Zehan mengusik Hasya yang sedang terlelap. Di balik kelopak matanya yang tertutup bola mata Hasya bergerak ke sana kemanri berusaha untuk membuka matanya. Perlahan sedikit demi sedikit iapun bisa membuka mata namun cahaya yang terlalu terang tiba-tiba masuk ke mata membuatnya reflex mengangkat tangan untuk menghalangi silau yang mengenai matanya, baru setelah dirasa cukup terbiasa ia menurunkan tangannya yang ia gunakan untuk menghalau cahaya yang menerangi sekitarnya. Namun Hasya begitu terkejut ketika melihat ke keadaan sekitarnya. Sebuah tanah lapang hijau dengan bunga-bunga bertebaran dimana-mana. Hasya pun berdiri lantar ia memendarkan netranya untuk melihat ke semua temoat itu. "Halooo apa ada orang??" teriaknya namun tidak ada yang menjawabnya. "Apa aku ...?" Hasya cepat-cepat membuang pikirannya mengenai hal itu.


Di tengah kebingungan tersebut kemudian ia pun mulai berjalan tak tentu arah ia, segala pemikiran buruk tentang dirinya berkecamuk dalam pikirannya, sampai pada akhirnya ia berjongkok sambil meraung keras. "Apa aku benar-benar sudah mati hiksss.. ??" ucapnya. Tepat ketika ia benar-benar merasa putus asa samar suara terdengar sedang bersolawat, ia langsung mengangkat kepalanya celingak celinguk mencari sumber suara tersebut lantas iapun kembali berdiri dan kembali berjalan sambil menegaskan pendengaran mencari tahu dari mana letak orang itu sedang bersolawat. Lama ia berjalan hingga ia sampai di sebuah tepian sungai dengan air yang sangat jernih, berbagai ikan sungai berenang dengan tenang. "Kecipak kecipuk" Hasya berbalik ketika mendengar seperti baru saja ada seseorang yang melewati sungai tersebut. Hasya dengan hati-hati lantas turun melintasi sungai tersebut yang ternyata kedalamanya hanya merendam tiga perempat kakinya. Begitu sampai di sebrang sungai itu, Hasya melihat sosok anak perempuan tengah bermain ayunan yang terayam dari akar-akar pohon di sana.


"Euhh apa kamu yang tadi bersolawat nak?." tegur Hasya ragu-ragu, namun anak itu hanya tersenyum lalu kembali berayun-ayun seolah mengacuhkannya. Hasya menelan salivanya, terpana saat melihat rupa anak perempuan itu, begitu cantik, matanya besar seperti mata rusa, kulitnya begitu putih seperti lobak, rambutnya sedikit bergelombang hitam namun agak kecoklatan, dan tercium aroma wangi segar saat ia mengayunkan ayunannya.


Entah sudah berapa lama Hasya duduk di dekat pohon tempat anak perempuan itu bermain ayunan. Namun anehnya ia sama sekali tidak merasa lapar ataupun kehausan padahal sejak Hasya terbangun tadi sepertinya sudah cukup lama. Dan anak perempuan itu pun tetap duduk anteng bermain ayunan dengan kecepatan sedang. Hasya menghela nafas, dia bingung harus apa, sedang anak itu juga sepertinya enggan berbicara padanya itulah yang membuat Hasya duduk saja di bawah pohon dekat anak itu sedang bermain ayunan. Seperti ia sedang menunggui anaknya bermain hingga anak itu puas dengan kesenengannya. Dalam keheningan itu tiba-tiba ayunan anak itu berhenti, yang tentu saja membuat Hasya sedikit terkejut. Dengan mata yang berkedip-kedip Hanya perlahan bangun dari tempatnya duduk sejak tadi sambil menatap punggung gadis kecil itu dengan awas. Perlahan gadis itu menoleh ke arah Hasya. Aahhh Masya Allah wajah anak itu begitu menggemaskan, hingga rasanya Hasya ingin menyentuh pipi anak itu dan menguyel-nguyelnya seperti saat dulu ia senang memainkan pipi Zesya yang chubby ketika bayi, namun tentu hasratnya itu harus ia tahan sebisa mungkin meski jiwa keibuan meronta menginginkannya.


"Eeih,, Ma. Mama?" dengan raut yang sulit dikondisikan. "Hah?? Mama?? Aku?? kapan aku melahirkan anak itu?" batin Hasya. Anak itu lantas turun dari ayunannya lantas berjalan mendekati Hasya yang berdiri dengan segala kebingungannya. Sekarang anak itu berdiri tepat berhadapan dengan Hasya dengan jarak yang cukup dekat hingga Hasya bisa melihat dengan jelas rupa cantik anak itu. Jika diperhatikan lagi sepertinya anak itu mungkin berusia 12tahunan pikir Hasya. Anak itu membuang nafasnya saat melihat Hasya menatapnya keheranan.

__ADS_1


"Iya Mama,, kamu itu mama aku, kenapa Mama ngga mau punya anak kayak aku?" tanya anak itu lagi namun dengan nada sinis persis seperti Zehan. Kali ini sudut bibir Hanya sedikit menyungging agak kesal mengingat sifat Zehan yang demikia.


"Bb..bukan begitu..A..hh.. aku bingung? Aku sendiri bahkan tidak tahu tempat apa ini, dan bagaimana bisa ada di tempat ini juga aku tidak tahu." ungkap Hasya tanpa menghilangkan kerut di antara kedua alisnya. Anak gadis itu lalu kembali melangkah lebih mendekati Hasya.


" Ma, apa mama masih belum bisa memaafkan papa?" mata Hasya menyipit saat anak itu mulai berkata-kata seperti Zesya tempo hari.


"Bukan begitu.. Hanya saja.. Aku masih takut ia seperti dulu lagi." ungkap Hasy menunduk lemas melempar pandangannya ke arah lain, berusaha menyembunyikan suasana hatinya yang tiba-tiba terasa tertohok.


"Jika mama masih belum bisa menerima papa seutuhnya bagaimana aku bisa lahir?" tanya anak itu. Lagi-lagi Hasya mengernyih dengan bingung kepada anak itu.


Gadis itu melambaikan tangannya meminta Hasya untuk merunduk lalu dengan lembut anak itu menarik Hasya agar berdiri di atas lututnya agar bisa menyamakan tinggi mereka. Anak itu lantas memeluk Hasya, meski Hasya sempat bingung harus berbuat apa, namun kemudian ada perasaan hangat mengalir dalam dirinya, perlahan keduatangan Hasyapun memeluk tubuh mungil gadis kecil itu.

__ADS_1


"Ma, aku tau perasaan mama seperti apa. Aku juga tau mama sedang berusaha memberi papa kesempatan kan? Mama juga sangat mencintai papa, karena itu tolong hilangkan keinginan untuk menjauh dari papa" tiba-tiba saja air mata Hasya mulai mengalir, tergorokannya terasa panas tercekat saat anak itu mengusap-usap punggung Hasya dengan lembut dan hangat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2