
"Ma, nanti selepas ashar aku mau ke rumah Lani ya?" izin Tania sembari menutup pintu belakang mobil saat semua barang sudah dipastikan masuk ke dalam rumah.
"Iya tapi sebelum magrib kamu udah harus pulang" sahut Irma sembari menerima estafet koper dari Tia ART yang bekerja di rumah mereka tapi tidak ikut tinggal bersama Tania dan Irma karena jarak rumah mereka cukup dekat.
"Okey ma,"
"Ngomong-ngomong kamu ngga marahan sama nak Zesya kan?" tanya Irma sambil mengeluarkan baju-baju dari dalam koper.
"Ngga" Tania menjawab cepat.
"Yakin?"selidik Irma
"Iya mah, seratus persen yakin, orang semalam aja kan kita masih main gitaran sama Deliza di pinggir kolam renang sampe jam sepuluh"
"Ya sudah, tapi kalian ada masalah apa gitu, cerita sama mama ya?" ucap Irma melirik anaknya yang seolah acuh tak acuh.
"Tumben mama seantusias ini?"
" Ya ngga apa-apa" Irma mencoba menyembunyikan maksud hatinya yang sebenarnya.
Tia tiba-tiba datang ke kamar Irma sambil tergopoh-gopoh.
"Anu permisi neng, itu di depan ada yang nyari Tania" kata Tia sembari menunjuk ke arah ruang depan dengan ibu jarinya. Tania dan Irma saling bertatapan karena mereka saling tidak merasa ada janji temu dengan siapapun hari itu.
"Siapa katanya mbak?" tanya Irma mendongak ke arah Tia berdiri.
"Anu,, hehehehe,, anu tadi saya lupa tanya bu, habisnya terkesima sama mukanya yang ganteng bu" Tia salah tingkah. Tania merengut tersenyum lantas segera beranjak dari tempat duduknya untuk menemui orang katanya ganteng menurut Tia.
Tania agak sedikit terkejut dan hampir saja tidak bisa mengendalikan perasaannya begitu melihat seseorang yang sudah mulai Tania kenali meski hanya melihat dari lebar punggung orang itu. Hatinya langsung melonjak bersorak kegirangan ternyata orang yang mencarinya adalah benar-benar Zesya, pemuda tampan yang ia cari keberadaan sejak tadi pagi hingga Tania dan Irma meninggalkan rumah Hasya. "Ini sih lebih dari ganteng" gumam Tania sebelum ia menyapa pemuda itu. Gadis itu pun melangkah lebih mendekati Zesya yang sedang berjongkok karena tertarik melihat-lihat tanaman bunga dandelion yang belum mekar di dalam pot warna warni.
"Lho ? Zes? " suara Tania sedikit membuat Zesya tertegun sesaat. Pemuda itu pun berdiri lalu berbalik menghadap Tania yang baru saja menegurnya.
"H_Hai.. " sapa Zesya terbata sembari mengangkat tangan kanannya yang terlihat kaku menyapa lalu menurunkannya kembali karena mungkin ia sendiri merasa hal itu malah makin memperlihatkan dirinya yang sedang gugup, Tania mengernyit melihat tingkah Zesya yang tidak seperti biasanya. Tapi justru Tania justru merasa jika sikap Zesya itu malah menggemaskan. Gadis itu membalasnya dengan menunjukan senyuman hangat paling manis kepada Zesya
"Duduk lah, Zes,," Tania mempersilahkan Zesya duduk di kursi teras. Mereka lalu duduk hampir bersamaan, mereka duduk bersebelahan menghadap ke area taman.
"Ah mau minum apa?" tawar Tania.
"Apa aja, yang penting air mateng"
"Hhpptt" Tania terkekeh kecil saat mendengar jawaban Zesya.
__ADS_1
"Ya udah bentar ya" ucap Tania lalu masuk kembali ke dalam rumah. Tidak berapa lama kemudian Tania kembali dengan membawa nampan berisikan segelas sirup jeruk yang tadi sekalian Tania beli di alfam*t.
"Minumlah, ini ngga pake es kok cuma air dingin aja dari kulkas aja" kata Tania saat meletakan gelas sirup itu di meja kecil yang memisahkan tempat duduk mereka. Zesya cukup terkesan karena Tania bisa tahu hal yang menjadi kebiasaannya.
"Oh iya, ak_aku minum ya?" Tania menggangguk menyilakan. Setelah beberapa tegukan Zesya menaruh kembali gelas sirupnya ke tempatnya semula.
"Tadi pagi kemana?" Tania mencoba mencairkan suasana
"Tadi ada urusan sama teman, kebetulan ngajak ketemunya pagi-pagi gitu"
"Oh gitu.."
"Ngomong-ngomong aku baru tau kalo kamu suka tanaman dandelion ?" Zehan mengalihkan topik.
"Oh bunga itu, kenapa aneh ya?"
"Ngga kok, tapi kan biasanya cewek itu sukanya sama bunga mawar, lili, anggrek,tulip terus carnation. Yang sejenis itulah pokoknya"
"Wah kamu ternyata tau banyak jenis bunga ya?"
"Ya kan mamaku punya kebun dan toko bunga di Ciwidey"
"Oh Iya aku lupa padahal waktu itu Deliza pernah cerita soal itu."
"hmm kenapa ya? Mungkin karena bunga itu unik"
"Unik?"
"Iya unik, karena dalam hidupnya ia memiliki tiga siklus hidup yang masing dari setiap fasenya memiliki makna yang berbeda. Tapi biar begitu ia tetap memilih untuk jadi bunga yang sederhana"
"Kalau begitu apa kamu bisa merawat aku seperti bunga dandelion itu?" ucap Zesya tiba-tiba. Tania menoleh dengan raut yang sulit dijabarkan.
"Aku tau ini terlalu terburu-buru, sejujurnya tadi pagi aku memang sengaja menghilang. Aku takut aku malah menunjukan sisi ku yang egois. Padahal kita tidak memiliki hubungan sedekat itu." ucap Zesya terdengar melankolis.
" Padahal aku cuma pindah lagi ke rumah lama,tiap hari di sekolah juga bakal tetep ketemu kan?" Tania berusaha bersikap tenang
"Iya, tapi itu akan terasa berbeda kan? Karena biasanya hampir setiap waktu aku bisa melihat kamu kapan pun"
"Ya kamu tinggal main ke sini, rumah ini kan juga bisa kamu anggap rumah ke dua, sama seperti aku yang diperbolehkan menganggap rumah mu sebagai tujuan untuk pulang."
"Aku maunya ngga cuma seperti itu,"
__ADS_1
"Jadi ?"
"Beberapa bulan lagi kita ujian, lalu kelulusan. Jauh sebelum kamu hadir dalam hidupku, aku sudah berencana untuk melanjutkan kuliah di luar negeri, pilihannya antara Oxford atau Harvard. Tapi setelah kamu hadir jujur aku jadi bimbang untuk tetap ke sana atau tidak."
"Kenapa begitu?" Tania menjadi agakk sedikit bingung.
"Karena jika aku tetap memilih kuliah di sana, mau tidak mau aku harus meninggalkan kamu Tan," Zesya menghela nafas panjang dan terdengar berat.
"Aku takut, ketika aku kembali ke sini kamu malah menjadi milik orang lain. Tapi di satu sisi aku juga ingin tetap mengejar mimpi dan cita-cita ku. Karena itu lah tadi aku menghilang sebentar agar aku bisa berpikir jernih."
"Lalu apa kamu menemukan jawabannya dari keraguan kamu itu?" tanya Taniaa agak ragu sebenarnya, takut jika malah apapun yang diungkapkan Zesya membuat hatinya sedikit terluka karena memang ia sudah sejak awal perkenalan mereka Tania sudah jatuh hati pada Zesya, dan semakin ia mengenal pemuda itu makin lama perasaannya pun makin bertumbuh meski tanpa mampu ia utarakan langsung. Baginya bisa tetap berada dalam edaran Zesya saja sudah cukup.
Zesya beranjak dari tempat duduknya kemudian ia bersimpuh di depan Tania.
"Tania Rie Hashimoto, mau ngga nikah sama aku?" saking terkejutnya Tania hampir saja mengeluarkan bola matanya.
"Tapi Zes,.."
"Aku ngga mau pacaran Tania, aku mau kita nikah. Aku ini mendadak. Tapi itu cara yang bisa aku pikirkan. Soal nafkah lahir kamu ngga perlu khawatir kita bergantung pada orang tua kita, aku sudah memiliki usaha mandiri memang belum sebesar milik papa, tapi aku yakin itu cukup kok buat handle kebutuhan kita. Atau kamu ngga percaya aku ngga bisa kasih nafkah batin sama kamu?"
"Ehh,,,?? Maksudnya apa kamu bilang begitu?" ucap Tania memalingkan wajahnya, karena merasa merinding saat terlintas saat Zesya di kolam renang beberapa waktu lalu.
"Ya takutnya kamu ngga percaya aku bisa jadi suami yang baik dan bertanggungjawab sama dunia akhirat kamu"
"Kamu yakin Zes?" Tania seolah ragu.
"Kamu takut suatu saat aku merasa bosan? Lalu selingkuh?" Tania tidk menjawab dengan kata-kata, tapi dari gerak geriknya Zesya sudah bisa menerka apa yang adi dalam benak gadis itu.
"Dengar satu hal ini, aku mungkin tidak akan berjanji untuk menjadi munafik. Tapi jika suatu saat aku menyakiti hati mu, Percayalah orang tuaku pasti akan membunhku" ucap Zesya dengan sorot mata penuh keyakinan, namun juga terlihat ada teduh.
"Zes, bisa kasih aku waktu untuk berpikir, biar bagaimanapun pernikahan itu harus dipikirkan dengan matang bukan karena berlandaskan atas ketakutan dan kecemasan. Tetap di sana kita harus memiliki komitment yang menjadi dasar. Kita masih ada waktu sekitar kurang dari lima bulan. Dan selama itu bisakah kamu bersabar?" pinta Tania sungguh-sungguh. Zesya nampak berpikir sejenak, namun Zesya juga sudah memperhitungkan jawaban Tania yang seperti ini.
Sesuai dugaannya Tania bukanlah perempuan yang akan silau dengan kelimpahan harta orang tuanya, karena jika gadis lain mungkin akan langsung mengiyakan Zesya. Tapi Tania lebih memilih untuk sedikit bersabar untuk mempertimbangkannya dengan matang, meski dari raut wajahnya sudah tergambar jelas apa yang sedang terjadi dalam hatinya. Tania tetap berusaha untuk tenang padahal isi perutnya terasa sangat penuh oleh kupu-kupu yang beterbangan ke sana kemari karena luapan emosinya.
"Baiklah aku akan menunggu jawaban mu hingga hari pengumuan kelulusan kita, dan aku harap apapun yang menjadi keputusanmu nanti bukan sesuatu yang akan menjadi penyesalan seumur hidup kita." Tania mengangguk tersenyum hangat. Ah rasanya pemuda itu mencium bibir gadis yang duduk dihadapannya kini, Namun segera ia buang jauh-jauh pikiran itu.
"Dan selama itu, bisa kah kita tidak usah bertemu sama sekali, anggap saja itu sebagai ujianku dari mu. Bisa?"
"Baiklah jika itu yang kamu inginkan. Hingga hari kelulusan kita aku akan berusaha untuk tidak terlihat olehmu. Kalau begitu aku pulang ya?" ucap Zesya terdengar agak sedih. Zesya pun beranjak dari tempatnya bersimpuh, tapi sebelum ia benar-benar beranjak Tania menarik lengannya lalu "cuupp" bibir Tania menempel sempurna di bibir Zesya. Zesya yang terhenyak kaget hanya bisa mematung terdiam dengan bola mata yang melotot disertai perasaan yang bercampur aduk.
"Anggap saja itu sebagai segel supaya kamu tidak memikirkan gadis lain saat kita tidak saling bertemu nanti" ucap Tania lantas kabur meninggalkan Zesya yang masih syok dengan kejadian barusan.
__ADS_1
Begitu akan melangkah masuk ke dalam rumah langkah Tania terhenti saat melihat Tia dan mamanya ternyata sedari tadi melihat mengawasi mereka karena penasaran. Namun yang membuat netra Tania tercengang adalah saat ia menyadari semua hal yang terjadi tadi juga di lihat oleh keluarga Zesya yang menyaksikan semunya melalui sambungan video calls. Mulut Tania ternganga selama beberapa detik kemudian berubah menjadi ekpresi ringisan. Mungkin jika di sana ada galian sumur Tania pasti akan lebih memilih masuk ke dalam galian sumur itu karena saking malunya. "Ya Tuhan muka gue" ringisnya sambil menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya dengan tangannya juga. Melihat tingkah dua orng itu kedua belah pihak keluarga malah tertawa terbahak-bahak. Menertawakan tingkah menggemaskan sepasang muda mudi yang baru lamaran itu.