The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 82


__ADS_3

Tanpa terasa empat tahun sejak acara hajatan Zesya waktu itu berlalu. Zesya sudah kelas lima, dan Deliza baru kelas tiga, meski ia terlambat masuk tahun ajaran sekolah tapi anak itu ternyata juga sangat cerdas hingga bisa menyusul ketertinggalannya. Siang itu Hasya sedang sibuk merapikan pot-pot bunga di tokonya. Diana sekarang sudah ia tunjuk sebagai penanggungjawab usahanya itu juga kelak Hasya harus kembali ke Jakarta. Ya bagaimana pun pendidikan anak-anak mereka harus tetap ia pikirkan, bukan karena sekolah di daerah kurang, namun tetap saja ada banyak perbedaan yang signifikan. Terutama, disaat Hasya menerima keluhan mengenai anak-anakny yang selalu bertanya dalam segala hal dan itu membuat beberapa guru harus ekstra menambah kapasitas kualitasnya sebagai pengajar, bagus namun tetap saja ada beban tersendiri bagi mereka, karena rasa keingintahuan Zesya dan Deliza terkadang ada diluar perkiraan mereka.


Ketika ia sedang sibuk-sibuknya, tiba-tiba ia mencium aroma yang cukup mengganggu indra penciumannya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri sambil mengendus-endus mencari asal aroma tersebut.


"Dian, kamu makan apa sih kok baunya gitu amat ??" tanya Hasya merengut sambil menutup hidungnya.


"Hah?? Makan?? Aah mungkin maksud ibu cilok daging yang aku makan tadi, tapi..." (snif sniff) Diana menciumi tangannya.


"hehehe baunya masih agak nempel ditangan saya bu" ungkap Diana cengir kuda.


"udah sana cuci tangan, bau ihh" usir Hasya. Cepat-cepat Diana pun menuju ke kamar mandi dibelakang. Hasya pun kembali melanjutkan pekerjaannya.


Di kantor, Zehan terlihat sedang memperhatikan layar monitor komputernya sambil sesekali mencocokan dengan berkas laporan yang di buat Nadia kemarin sore. Namun tiba-tiba saja ia merasa sangat ingin makan sesuatu yang gurih, pedas, manis. Tanpa berpikir panjang ia keluar ruangannya begitu saja. Karena terkejut dua sekertarisnya sontak berdiri dengan panik ketika Zehan melewati meja mereka. Zehan turun ke lobi dengan menggunakan lift karyawan, yang tentu saja membuat beberapa karyawan agak dibuat terkejut saat melihat Zehan dengan santainya masuk ke dalam lift tersebut. Suasana dalam lift seperti biasa agak sibuk dengan karyawan yang lalu lalang. Hingga di lantai empat masuklah seorang karyawati penampilannya normal saja seperti karyawati pada umumnya.


"Tunggu kamu ikut lift lain saja, " cegah Zehan saat karyawati itu akan memasuki lift.


"Ah.. Maaf,, saya pak?" tanya karyawati itu bingung


"Iya kamu. Kamu abis dari dukun mana sih bau parfume kamu nyengat bau kembang begini" kata Zehan terdengar kasar, sontak semua orang kaget dengan apa yang dikatakan oleh Zehan barusan, karena tidak biasanya Zehan terlihat kesal seperti itu. Perempuan itu lalu berjalan mundur beberapa langkah sambil menunduk, terlihat jelas wajahnya terlihat merah padam karena menahan malu.


"Bau kembang?? Dukun?? Dasar boss gila !!" umpat perempuan itu setelah pintu lifnya tertutup. Orang-orang yang kebetulan tidak sengaja melihat kejadian tersebut tentu saja langsung menjadinya gossip terpanas saat itu juga.


Tiba waktu istirahat perempuan itu bergegas keluar dengan dua sahabatnya pergi ke kafe dekat kantor mereka untuk makan siang.


"Mel, napa muka lu butek amat !!" tanya seorang temannya yang memang belum mendapatkan gossip hot hari ini, karena dia baru saja kembali dari meeting bersama perusahaan yang lain.


"Hahahhaa,, Lu ketinggalan berita San.." sahut yang satu sambil menyuruput jus nanasnya.


"Diem lu !!" kata Melinda menyolot. Bagaimana tidak? Dia adalah perempuan yang kena semprot Zehan perkara bau parfumenya yang katany seperti habis dari dukun.


"hahahahahhaha " Desi makin terbahak melihat kekesalan sahabatnya itu.


"Bahagia lu yee, gue dibikin malu sama si iceberg itu!" Melinda makin menekukan wajahnya.

__ADS_1


"Apaan sih gua kagak paham dah.."kata Santi mengulum senyum namun dengan raut kebingungan.


"ekhem.. Jadi gini San, tadi kan lu sama pak Pram pergi meeting kan?? " Desi mulai bercerita tanpa memperdulikan kekesalan Melinda sahabatnya, dan Santi menyimaknya. Meski begitu Melinda juga tidak benar-benar melarang atau mencegah Desi menceritakan lagi kejadian yang menimpanya satu jam sebelum jam makan siang. Toh ditutup-tutupi juga percuma semua orang satu gedung itu sudah tahu berita tentangnya.


"Nah tadi, si Melinda disuruh pak Hanif buat ngasih laporan presentasi kan.."


"Terus??" tanya Santi masih tetap bingung.


"Nah pas mau masuk lift, ni bocah ketemu sama si bigboss, dan lu tau apa kejadian selanjutnya?"


"Ya kan gua kagak di kantor, gimana sih lu?"Santi menautkan kedua alisnya.


"Gue lanjut ya,, Gue juga bingung, tapi yang pasti o


semua orang gaduh perkara si Melinda dicegah masuk ke dalam lift yang sama si boss cuma perkara bau parfumenya, mana dikata-katain bau parfume dari dukun.. hahahhahahahaa" Desi kembali terbahak ketika mengingat kejadian itu karena kebetulan Desi juga berada di dalam lift yang sama saat itu.


"Hah?? Serius ??" Santi terperangah tidak percaya dengan apa yang diceritakan Desi barusan.


"Yeeh, gua ada di situ San, padahal ya seinget gua sebelum si Melinda mau masuk lift ada kok yang pake parfumenya lebih kuat tapi hidungnya Pak Zehan damai-damai aja. Itu sih yang bikin gue heran.. " kekeh Desi.


"Tau tuh !! Mau balik ngata-ngatain beliau tapi gue masih butuh kerjaan.. AARRRRGGHH SEBEL GUE !!" oceh Melinda mengomel sendiri.


Kembali ke kantor, Zehan baru saja masuk ke lobi sambil membawa beberapa bungkus jajanan hasil perburuanya, karena ia hanya berjalan kaki jadi dia hanya membeli yamg ada di sekitaran daerah kantornya. Zehan cukup beruntung karena du area perkantorannya terdapat banyak jajanan, wajahnya begitu sumbringan saat menenteng beberapa kantong kresek yang berisikan rujakan, pentol krikil, cilok isi daging, siomay, telur gulung, donat jadul (donat yang biasanya ditaburi gula halus), cimol, seblak kering sambal ijo.


"Siang pak," sapa resepsionis kantor.


"Siang juga.." jawab Zehan ramah.


"Oiya.." Zehan berhenti setelah beberapa langkah dari meja lobi kemudian kembali ke meja resepsionis. Dengan sigap tiga orang wanita yang berada di belakang meja resepsionis pun langsung berdiri sembari mengembangkan senyum terbaik mereka.


"Ada yang bisa kami bantu pak?" tanya salah satu dari mereka.


"Itu kue rangi kamu beli di mana? Tadi perasaan saya ngga lihat ada yang jual" tanya Zehan berbinar.

__ADS_1


"Oh ini saya tadi dikasih temen pak" kata si pemilik kue sambil terus memperhatikan Zehan yang terus menatap pada kue rangi itu.


"Boleh saya minta ngga?" tanya Zehan agak ragu.


"Tapi udah saya poteh pak "


"Dipotek doang kan? Ngga kamu gigit?" tanya Zehan penasaran.


"Ngga sih pak cuma di potek aja biar gampamg saya makannya"


"Ya udah, kue ranginya saya beli, boleh?" kata Zehan tersenyum lebar.


"Ngga usah pak, kalo memang mau mah bapak bawa aja, tapi ya itu udah saya potek-potek persekatnya." kata si resepsionis yang sepertinya paham dengan gelagat Zehan.


"Eh jangan kan itu punya kamu" tolak Zehan.


"Ngga apa -apa pak, ambil aja lagian kan saya juga dapet di kasih temen." jawab si pemilik rangi.


"Beneran..?" tanya Zehan dengan tatapan tidak percaya.


"Iya pak, ini untuk bapak, dan saya doakan moga istri bapak dan dede bayinya sehat ya pak" kata si resepsionis itu tersenyum lebar sambil memberikan kue rangi miliknya.


"hah?" Zehan menghah bingung dengan kata-kata si resepsionis.


"Ngga apa-apa pak, saya cuma nebak-nebak aja, soalnya bapak persis kaya suami saya pas lagi hamil anak ketiga" Zehan merengut makin tidak paham.


"Maksud saya, kayaknya bapak lagi ngidam"


"Ngidam??" Zehan makin dalam menautkan alisnya. Sedang si resepsionis itu hanya mengangguk sambil tetap tersenyum.


"Masih kurang paham sih, tapi makasih ya kue ranginya, kapan saya ganti kuenya"


"Sama-sama pak,"

__ADS_1


" Wah selama ya pak kalo ibu beneran isi?" sahut yang satunya kegirangan. Zehan hanya mengernyit seraya tersenyum lalu menuju lift menuju kembali ke ruangannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2