The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 107


__ADS_3

Keni segera berlari ke arah ruang operasi, namun sayangnya petugas medis tidak mengizinkannya masuk.


"Tuan Keni.. Maaf kami sudah lalai saat bertugas hingga kami kecolongan." ucap salah satu pengawal yang berpakaian stelan rapi serba hitam.


"Sudahlah ! Kalian cepat menyelamatkan tuan Zehan dengan segera melarikannya ke rumah sakit saja aku sudah sangat merasa bersyukur. Setidaknya kalian masih bertindak waras dengan segera membawanya ke sini. Yang terpenting sekarang kita harus segera menemukan Nyonya sesegara mungkin, keadaannya yang sedang hamil tua itu lebih berbahaya bagi nyawanya" kata Keni terlihat sangat gusar, marah, cemas bercampur aduk. Selang beberapa menit Joon Woon, Deliza dan Zesya sudah sampai di rumah sakit.


"Om, siapa yang di dalem??" tanya Deliza sambil mengisak.


"Yang berada di dalam sana Tuan Zehan, nona."


"Mama!! Mama di mana Om??!!" pekik Zesya memotong kalimat Keni.


"Maaf tuan muda, sepertinya nyonya Hasya diculik seseorang, kami sudah melakukan investigasi motif untuk mencari tau siapa dalang dibalik insiden ini, sekaligus berusaha keras mencari keberadaan nyonya Hasya, karena bagaimana pun keadaan Nyonya Hasya saat ini sangat menbahayakan. Kami akan mengerahkan seluruh tenaga kami untuk dan melakukan segala cara untuk mencari kebaradaan nyonya. Tolong percayakan semuanya pada kami" kata Keni lugas dengan wajah tertunduk ke lantai. Ia sama sekali tak mamou menunjukan wajahnya pada Zesya.


Zesya hanya terdiam, tangannya terkepal kuat, air matanya mengalir deras memikirkan segara kemungkinan terburuk yang mumgkin terjadi pada kedua orang tuanya.


"A, mama baik-baik aja kan A.. hiks...??" kata Deliza makin deras menangis.


"Bang Joon tetap disini temani Deliza, kakek dan nenek, dan mungkin juga bersama Om Hejun mungkin dalam satu jam mereka sudah berada di sini" kata Zesya setelah menenangkan dirinya sembari melihat pada arlojinya tanpa menjawab pertanyaan adik perempuannya. Joon Woon mengangguk sembari memeluk Deliza untuk menenangkan gadis kecil itu. Dalam situasi ini hanya hal inilah yang bisa Joon Woon lakukan.


"Om keni, ikut aku. Banyak yang harus kita kerjakan." kata Zesya setelah bisa berpikir jernih. Keni hanya mengangguk tanpa menyahuti kemudian segera mengikuti langkah Zesya.


"Joona,, papa dan mama hiikss pasti... pasti baik-baik aja kan Joon" rintih Deliza.

__ADS_1


"Percayalah pada tuan muda Liz, kamu tau dia bukan anak sembarangan kan?" kata Joon Woon mencoba menenangkan Deliza yang masih belum bisa menguasai emosinya hingga terus menangis.


"Tapi Joon, mama lagi hamil, kalo kenapa-kenapa sama mam,gimana? Hikkkss"


"Berdoalah Liz, dan Percaya Tuhan akan menjaga dan melinndungi mereka" Deliza tidak lagi menjawab namun ia tetap tidak bisa menghentikan air matanya untuk terus mengalis.


...----------------...


Di sebuah kamar, Hasya terhenyak dari tersadar pingsan efek obat bius yang dihirupnya tadi. Kepalanya berdenyut ia perlahan bisa membuka kelopak matanya. Samar-samar ia bisa mendengar percakapan dari seseorang entah siapa. Matanya mengerjap beberapa kali agar manik matanya bisa terbiasa dengan cahaya di sekitarnya. Ia cukup terkejut juga heran. Jelas-jelas ia diculik namun keadaan kamarnya saat ini terlalu nyaman, rapi dan mewah untuk dijadikan tempat menyembunyikan seseorang.


Pintu tiba-tiba terbuka, munculah dua orang pria dan dan satu orang wanita dari pintu balik pintu tersebut. Dua diantaranya Hasya tidak mengenalnya namun dari apa yang mereka bawa dan apa yang mereka kerjaan saat ini pada Hasya sepertinya mereka seorang dokter dan perawat. Sedang pria satunya lagi dia adalah Faruq. Teman suaminya.


"Syukurlah keadaan istri bapak baik-baik saja. Tapi seharusnya beliau diperiksa menyeluruh untuk memastikan keadaab bayinya juga pak. Untuk sementara saya resepkan dulu vitamin ini mengingat usia kandungan istri bapak sudah mendekati HPL. Diusahakan jangan stress stres pak" nasehat dokter itu. Sedang si perawat yang sedang memeriksa tekanan darah Hasya sedikit curiga dengan keadaan Hasya yang seperti baru terbangun bukan dari pingsan biasa namun pingsan karena hal lain. Terlebih ia juga curiga dengan dengan gerak gerik mata Hasya seperti ia mengarahkan pada sesuatu. Perawat itu berkerut kening saat melihat gerak tangan Hasya yang sedang dipasangi Sphygmomanometer atau tensimeter bergerak berulang seperti sedang memberi kode atau tanda isyarat.



"Dok, Dokter bahaya dok, ibunya kejang-kejang," segera dokter memeriksa keadaan Hasya.


"Pak kira harus membawa istri bapak ke rumah sakit, jika tidak istri bapak bisa mengalami koma. Faruq yang bingung dengan situasi tersebut segera mengiyakan apa yang diminta oleh dokter tersebut. Karena tujuannya menculik Hasya hanya karena ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang istri yang sedang hamil namun ia tidak bermaksud untuk mencelakai Hasya. Dalam keadaan panik ia membopong Hasya yang masih kejang-kejang ke dalam mobil Alpardnya, diikuti beberapa orang pengawalnya.


"pak, baiknya kita ke klinik terdekat dulu, setelah memungkinkan baru membawa ibu ke rumah sakit bersalin." pinta si perawat.


"Tapi saya tidak tau klinik terdekat di sini" kata supirnya.

__ADS_1


"Saya tau pak, jarak 10 menit dari sini ada puskesmas. kita bisa ke sana dulu untuk menenangkan kejang ibu, karena disana sudah pasti ada obatnya." ekor mata si supir melirik cemas pada Faruq yang sedang memagku tubuh Hasya, dari gerik manik matanya Faruq memerintahkan untuk mengikuti arahan si perawat itu.


Benar saja, tidak jauh dari Villa mereka ternyata memang ada sebuah puskesmas. Beberapa perawat dan dokter jaga segera bergegas menangangi Hasya. Beberapa menit berlalu Hasya mulai tenang dan terlihat seperti tertidur setelah si perawat seperti menyuntikan sesuatua pada lengan Hasya.


...----------------...


"Ky, SOS ini Erina, tolong segera siapkan sebuah bangsal, dan tolong siapkan suntikan vitamin B1.SOS !!" ketik Erina sesaat sebel ia masuk ke dalam mobil yang membawa Hasya.


Rizky sempat terkejut melihat keadaan pasien hamil yang sedang mengalami kejang. Ia pun segera mengarahkan ke bangsal yang sudah ia siapakan. Namun yang membuatnya heran kenapa Erina malah memberinya suntikan vitamin B1.Bukan memberikan hydralazine, labetalol, atau nifedipine untuk menurunkan tekanan darahnya. Dan ajaibnya setelah disuntik tubuh wanita hamil itu perlahan melemas dan mulai berhenti kejang.


"Er.."


"Wah untung dokter Rizky yang jaga, sempat khawatir saya" ucap Erina tersenyum dipaksakan pada Rizky, sambil membelakangi dokter dan Faruq yang sedang memeriksa keadaan Hasya yang sudah tenang, sembari mengangkat tangannya dan memberi isyarat seperti Hasya tadi.


"Ada apa?" ucap Rizky tanpa bersuara ketika langsung memahaminya arti dari isyarat yang dilakukan oleh Erina. Sedang Erina hanya menggeleng kecil tapi sering menandakan jangan banyak tanya aku juga tidak tahu.


"Istri saya bagaimana dok?" tanya Faruq terlihat cemas.


"Al hamdulillah istri Bapak sudah kembali tenang, namun kita harus segera membawanya ke rumah sakit bersalin. Karena biasanya pasien ibu hamil yang mengalami gejala eklampsia harus segera dilakukan persiapan persalinan. Karena jika tidak bisa membahayakan nyawa ibu dan anak dalam kandungannya" jelas Dokter Hendra.


"Baiklah dok, lakukan yang terbaik untuk istri saya" kata Faruq tertunduk lemas dan terlihat sangat menyesali semua perbuatannya terhadap Hasya. Hanya karena obsesinya terhadap kehamilan istrinya nyawa Hasya malah dalam bahaya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2