
Zesya terlihat santai menikmati kripik singkong, meski sesekali matanya tertuju pada bidak-bidak papan catur di depannya.
"Buruan jalan opa?" seru Zesya pada Paman Yohan.
"Sabar dulu cucuku" Zehan yang baru keluar dari ruang kerjanya sedikt penasaran apa yang membuat paman Yohan nambak begitu serius. Begitu ia mendekatinya iapun tersenyum mengejek saat melihat bidak-bidak di papan catur tersebut, karena satu langkah saja salah langkah maka bidak catur paman Yohan pasti skakmat.
"Apa kamu senyum-senyum begitu?" tanya Paman Yohan sedikit kesal saat menangkap raut mengece dari keponakannya itu.
"Ngga apa-apa kalian lanjutkan aja main caturnya sampai subuh, aku mau main catur sama istriku " ucap Zehan seraya setengah berlari saat menaiki anak tangga.
"Papa aneh, mama kan ngga bisa main catur" kata Zesya polos.
"Mama kamu memang tidak bisa, tapi tak mereka bisa main kuda-kudaan" Zesya yang meski tergolong anak yang jenius namun tetap saja dia adalah anak kecil yang terkadang menunjukan sisi polosnya. Otaknya langsung mencerna dan membayangkan mamanya ditunggangi oleh ayahnya. Lantas secepat kilat ia berlari menuju kamar papanya.
"Emang enak digangguin anak sendiri" gumam paman Yohan tersenyum puas, karena Zesya sudah pasti akan merusak moment indah Zehan malam ini.
Benar saja baru juga Zehan akan melakukan pemanasan, dari luar kamar putranya mulai membuat kegaduhan "duk duk duk" pintu kamar tidur digedor dengan keras oleh Zesya.
"Pah buka pintunya pa" seru Zesya terdengar seperti orang panik. Namun Zehan seolah tidak mau mendengar suara berisik gedoran pintu itu.
"Mas itu Zesya kenapa? bukain dulu?" Zehan yang sudah mulai naik tentu merasa gusar.
"Udah biarin aja, paling mau ngadu dia kalah catur ngelawan papa." tapi sayangnya suara gedoran dari luar itu tetap tidak berhenti malah semakin kencang dan semakin sering. Zehan pun akhirnya bangkit dengan perasaan kesal. Dengan malas iapun beranjak lalu membuka sedikit pintu yang hanya memperlihatkan setengah wajahnya saja.
__ADS_1
"Kamu kenapa Zes?" keluh papanya.
"Malam ini Zesya mau bobo sama mama" rengek Zesya.
"Ngga ngga, kamu udah gede, biasa juga tidur sendirian" tolak Zehan mentah-mentah. Kemudian Zesyapun mengeluarkan jurus andalannya.
"Mama... huaaaaaaaa huaaaa.. Zesya pengen tidur sama mama... hiikksss huaaaaaa" tiba-tiba saja Zesya menangis dengan kencang karena papanya bersikeras menyuruhnya tidur dikamarnya seperti biasa.
Zia, dan yang lainnya yang kebetulan sedang menginap keluar dari kamar masing-masing. Hasya yang mendengar putranya menangis tentu saja langsung membuka pintu kamarnya lebar setelah adu isyarat dengan Zehan yang tetap tidak ingin membiarkan Zesya tidur bersama mereka. Suasana semakin heboh ketika bibi Lyn menghampiri Zesya yang sudah banjir air mata.
"Kamu kenapa nak, ada yang sakit? coba bilang sama Oma?" kata bibi Lyn sembari memeriksa keadaan Zesya takut-takut Zesya merasa tidak enak badan. Zesya menggelengkan kepalanya meski ia sudah tidak histeris lagi namun masih menyisakan senggukan.
"Terus Zesya mau apa Nak, besok tante belikan?" tanya Zia. Tetap saja anak itu menggelengkan kepalanya sambil menggisik-gisik matanya. Hasya yang sudah berdebat dengan Zehan dengan hasil kekalahan telak suaminya langsung membuka pintu, Zesya yang melihat mamanya sudah berdiri di lawang pintu segera berhambur memeluk mamanya.
"Zesya ngga mau apa-apa, Zesya juga ngga sakit tapi Zesya cuma pengen bobo bareng mama, tapi papa ngga bolehin" ungkap Zesya dengan mengisak. Bibi Lyn yang mendengar aduan cucunya itu langsung memeloti Zehan dan dengan lincah menjewer telinga Zehan.
"Kirain apaan, ternyata anak dan papa berebut lahan" cibir Zia meledek kakaknya.
"Udah sayang, masuk kamar sana udah malem, mama kamu juga masih perlu banyak istirahat, papa kamu biar oma yang urus" seru bibi Lyn, Hasya hanya bisa meringis iba pada Zehan, seolah-olah ia bisa ikut merasakan panas telinga Zehan yang masih dijewer bibi Lyn.
"Mah.. lepasin .. Nanti telinga Zehan putus mah" rengek Zehan, ia merasakan telinganya panas karena dipelintir oleh tangan sakti bibi Lyn. Namun meski begitu ia tetap merasa bahagia karena sekilas ia seperti kembali ke masa lalunya, saat ia masih bangku SMA, tangan bibi Lyn dengan ganas memelintir telinga Zehan saat guru BPnya mengadukan bahwa Zehan ketahuan merok*k ketika jam pelajaran masih berlangsung.
Zehan memang bukan anak nakal atau begajulan, tergolong anak yang aktif dalam berbagai kegiatan di sekolah. Di setiap mata pelajaran pun ia termasuk pintar karena selalu bertahan di ranking satu dua dan tiga, jarang sekali melakukan kenakalan yang berlebihan. Makanya sekalinya dia membadung Zehan langsung menjadi sorotan pihak sekolah. Begitu sampai ke telinga bibi Lyn tentu saja, bibi Lyn langsung menambahi hukuman Zehan, sejak saat itulah Zehan kapok tidak pernah melakukan kenalan di luar batasannya sebagai remaja.
__ADS_1
Dan malam ini, Zehan kembali mendapatkan jepitan mematikan jari jemari bibi karena aduan putra semata wayangnya. Akhirnya ia hanya bisa pasrah saja, mau bagaimana lagi, jika ia terus bersikukuh maka bibi Lyn tidak akan melepaskan jewerannya. Zesya dengan manja mengajak mamanya masuk ke dalam kamar. Namun sebelum itu ia terlebih dahulu menjulurkan lidahnya ke arah papanya.
"Iiish dasar bocah nakal" ucap Zehan menggerutu begitu mendapatkan ejekan dari putranya itu.
"Ma udah ya mah, kan Zesyanya udah masuk ke kamar Zehan." dengan ketus bibi Lyn kemudian melepaskan jewerannya dari telinga Zehan yang sudah memerah.
"Kamu ini kapan dewasanya sih Ze, masa rebutan sama anak sendiri" omel bibi Lyn.
"Zehan cuma mau bikin dede bayi doang kok" oceh Zehan sembarangan.
"Pckckckck,, gagal main kuda-kudaan ya" ledek paman Yohan begitu sampai di tangga terakhir.
"Ini pasti gara-gara papa kan ngomong macem-macem sama Zesya.?" tegur Zehan kesal.
"Suudzon aja kamu mah Ze, lagian wajar kan kalo Zesya mau tidur sama mamanya, kan mereka baru ketemu juga" bantah Paman Yohan membela diri. Zehan masih tidak terima dengan alasan paman Yohan, belum lagi tingkah paman Yohan yang mencurigakan.
"Ma, papa ngantuk bobo yuk" ucap paman Yohan sembari menarik tangan istrinya untuk menuruni tangga.
"Tapi pah,.."
"udah ah, ayo si kobra pengen main katanya" ucap paman Yohan mengejek Zehan. Yang tentu saja menbuat Zehan kembali gusar dan mencak-mencak karena dia gagal mempertemukan King dengan pujaannya. Zia yang memahami situasi juga malah ikut-ikutan menggoda Zehan.
"Sayang,, malam ini mau gaya apa aku ladenin" ujar Zia sambil menarik tali kimono suaminya dengan gerakan sedikit er*t*s tepat di depan Zehan yang sedang frustasi, sedang Gibran yang terkadang kurang peka dengan situasi malah langsung mengikuti Zia seperti kerbau dicocok hidungnya. Tinggalah Zehan yang kesal. Dengan kasar ia mengacak acak rambutnya, kemudian dengan bertolak pinggang ia masuk ke dalam kamarnya dan menemukan Hasya sudah tertidur pulas dengan memeluk Zesya.
__ADS_1
"Pck !! Ahh sudah lah masih ada malam lainnya." gumam Zehan putus asa. Pada akhirnya semua kekeselannya pun lenyap begitu melihat istri dan anaknya tertidur tenang seperti malaikat, dengan lembut ia membetulkan bedcover yang menyelimuti mereka, lalu menyesuaikan suhu AC dan mematikan lampu dan hanya menyisakan cahaya temaram dari lampu tidur, satu tangannya bertemu dengan tangan Hasya yang sedang merangkul tubuh Zesya kemudian iapun menyusul mereka yang sudah terlelap.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...