The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 47


__ADS_3

Selang beberapa minggu kemudian


Om Zehan !!" teriak Zesya saat melihat Zehan melambaikan tangan dari kejauhan, Zesya yang begitu girang segera berhambur keluar gerbang sekolahnya, tanpa melihat kiri dan kanan ia berlari menyabrang jalan begitu saja. Zehan yang melihat hal itu segera memberi aba-aba agar Zesya menunggunya namun percuma anak itu sudah berlari menyebrangin setengah badan jalan.


"ckiiittt !!"


"Zesyaaaaa !!!" Zehan mematung saat melihat mobil itu berdecit keras saat harus mengerem mendadak saat melihat Zesya berlari menyebrang jalan. Dengan perasaan bercampur aduk Zehan segera memeriksa keadaan anak itu. Zehan menghela nafas lega saat melihat anak itu terduduk ,kedua tangannya menahan tubuhnya doyong ke belakangan mungkin karena terkejut hingga membuatnya terduduk dalam posisi setengah terlentang seperti itu.


Cepat-cepat Zehan meraup dan memeluk tubuh kecil Zesya dengan perasaan lega.


"Kamu ngga apa-apa kan Nak? Ada yang luka? Mana? Mana yang sakit?" Zehan dengan panik memeriksa tiap bagian tubuh Zesya takut-takut ada yang luka karena terjatuh tadi.


"Sing ati-ati atuh jang mun nyebrang teh !" omel supir colt dolak yang memuat sayuran. Zesya menunduk terdiam karena merasa bersalah atas kecerobohannya tadi.


"Tolong maafkan anak saya. Anak saya memang kadang suka ceroboh"


"Euh !! Bagaimana kalo tadi ketabrak pak? Untung rem mobil saya pakem, coba kalo tidak saya pasti yang disalahkan ?! hadeeuuh ah ieu mah !!" sewot bapak supir dengan logat sundanya.


"Muhun pak, Zesya minta maaf, Zesya teu luak lieuk! Hampura nya pak" ungkap Zesya setelah bisa menenangkan dirinya. Lalu tanpa di suru ia segera mencium punggung tangan pak supir itu dengan takzim. Pak supir pun hanya membuang nafas gusarnya begitu saja, toh anaknya juga tidak kenapa-napa, justru sekarang ia merasa kagum dengan keberanian dan sopan santun Zesya saat meminta maaf atas kecerobohannya itu.


"Pokona ke deui sing ati-ati nya jang," kata pak supir sambil membelai pucuk kepala Zesya.


"Pak,, maaf ini untuk bensin bapak" sodor Zehan kepada pak supir.


"Ah wios pak, nami na ge budak, cuma lain waktu sing ati-ati tong ngantosan budak sakola di sebrang jalan kieu. Bahaya" nasehat pak supir.


"Iya pak, lain kali saya akan lebih berhati-hati." kata Zehan saat bersalaman dengan pak supir dan tetap memaksa pak supir mau menerima beberapa lembar uang pada pak supir itu meski pun sudah ditolak,


"Pami kitu nuhun atuh nya pak, kaleresan saya mau beli pupuk." ungkap pak supir pada akhirnya karena Zehan terus memaksanya.


Bu guru datang dengan nafas terengah-engah,


"Zesya.. kamu ngga apa-apa kan Nak?" tanya gurunya sambil memeriksa tubuh anak itu, Zesya hanya menggeleng menunduk sambil mengerucutkan bibirnya.


"Ya ampun Ze, ibu tadi kaget sampe lemes pas di kasih tau Silvi kalo kamu ketabrak mobil.


"Maafin Zesya ya bu, Zesya tadi kurang hati-hati,"

__ADS_1


"Ya udah ngga apa-apa, lain kali kalo mau nyebrang minta tolong sama satpam atau sama guru-guru yang kalo kebetulan ibu guru lagi ngga ada ya" nasehat Riana, guru wali kelas Zesya. Beberapa saat kemudian Riana mengingat sosok Zehan yang sedang menlihat ke arah mereka berdua.


"Mmm.. maaf bapak ini siapa ya?" namun seketika itu juga Riana merasa canggung atas pertanyaanya, saat melihat Zehan dan Zesya bergantian, mau di lihat dari sisi manapun wajah pria itu mirip sekali dengan Zesya, yang artinya dia pasti adalah papanya dari muridnya itu.


"Ini papa Zesya bu guru" ujar Zesya dengan lantang.


"oh, maafkan saya pak", sambut Riana mengajak bersalaman pada Zehan yang juga terlihat canggung.


"Saya soalnya baru pertama kali bertemu dengan papanya Zesya, karena selama ini Ibu Lia selalu mengantar jemputnya sendiri."


"Deg !" bola mata Zehan membulat sempurna sekaligus bergetar dengan mulut sedikit terbuka saat Riana menyebutkan nama belakang Hasya, dan itu makin menguatkan dugaannya selama ini.


"Aahh.. i..iya maaf bu, saya sedikit sibuk, karena bekerja di Jakarta jadi memang jarang bisa untuk mengantar atau menjemput Zesya. Dan kebetulan hari ini saya sedang cuti jadi bisa menjemput Zesya di sekolah." jelas Zehan.


"Pah, Zesya laper" seru Zesya setalah ia melihat jam tangannya yang menunjukan beberapa menit lagi Hasya pasti datang menjemputnya dan ia tidak memiliki kesempatan untuk mengeetahuia kebenaran langsung.


"Oh " Zehan melirik pada Zesya dan mengerti maksud Zesya.


"Bailah bu, senang berkenalan dengan ibu. Kalau begitu kami pamit pulang, sepertinya Zesya sudah rindu masakan mamanya. Mari bu" pamit Zehan sambil sedikit membungkukan tubuhnya. Riana pun membalasnya dengan anggukan kecil.


Satu jam berselang barulah Hasya datang menjemput dengan sepedanya.


"Selamat siang Bu, maaf bisa minta tolong panggilkan Zesya bu" tanya Hasya sambil memarkirkan sepedanya.


"Lho, Zesya kan udah pulang dari satu jam yang lalu, memang suami ibu ngga bilang kalo mau jemput Zesya?" tubuh Hasya bergetar hebat saat mendengar penuturan gurunya Zesya.


"Suami? Maksud ibu?" ucap Hasya dengan raut tak kalah kaget dari ekspresi keterkejutannya Riana.


...***************...


"Tapi Zesya yang bilang sendiri kalo orang itu papanya Zesya bu, makanya saya percaya aja, orang mukanya juga mirip banget" terang bu Riana yang melihat ekspresi Hasya yang begitu terkejut saat mendengar anaknya sudah di jemput pria asing yang diakui Zesya adalah papanya. Hasya membuang nafas kecewa dengan kecerobohan guru Zesya yang dengan mudah saja memberikan Zesya pada orang yang tidak dikenal.


"Tapi kan harusnya ibu menghubungi saya dulu untuk memastikannya, ia kalo itu benar suami saya, kalo bukan bagaimana?"


"Maafkan saya bu, saya ceroboh" ucap Riana merasa bersalah. Hasya benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi.


"Tapi kayanya tadi Zesya bilang kalo dia mau langsung pulang karena kangen masakan ibu, coba cek dulu ke rumah ibu, kalo tidak ada saya akan langsung lapor polisi"

__ADS_1


"Sudah tidak apa-apa saya tau siapa yang membawanya" ketus Hasya kemudian berlalu pulang dengan mengayuh sepedanya.


...****************...


Zehan memperhatikan dengan seksama wajah Zesya dengan wajah anak yang ada di ponselnya, saat Zesya sedang sibuk dengan makannya, meski agak heboh tetap anak itu berusaha menjaga tatakrama di meja makan dengan rapi. Begitu Ia memandangi wajah anak itu, yang semakin ia perhatikan, semakin ia yakin anak itu memang benar-benar mirip dengannya semasa kecil seperti yang apa dikatakan bibi Lyn tempo hari. Selain bentuk wajah, Zesya juga memiliki warna rambut yang juga coklat gelap seperti dirinya. Kulitnya juga lebih pucat jika dibandingkan dengan orang Indonesia kebanyakan. Namun itu wajar saja, karena baik Zehan maupun Hasya memang memiliki darah campuran orang Korea.


Sesaat Zesya meliriknya sekilas, buru-buru Zehan mengalihkan penglihatannya ke arah lain meski ia sudah ketahuan oleh Zesya. Anak itu lalu menaruh sendok dan garpunya di atas piring yang masih menyisakan makanan miliknya. Lalu ia menyandarkan dirinya pada sandaran kursi, melipat tangan didadanya, raut wajahnya yang datar cukup mengintimidasi Zehan yang curi-curi pandang padanya.


"Ada yang mau om tanyakan?"


"Kata-kata mu seperti seseorang yang sudah mengetahui segalanya."


"Bukankah memang sudah jelas?" ucap Zesya ketus. Kemudian ia mengambil tasnya. Zehan memperhatikan Zesya yang sibuk mencari sesuatu dalam tasnya.


Zehan menghela nafas sekaligus menelan salivanya guna mengurangi sedikit ketegangan dalam dirinya.


"Hei nak, bukankah usiamu baru 6 tahun tapi kenapa sikapmu seperti orang dewasa?"


"Bukankah wajar jika buah jatuh tidak jauh dari pohonnya?" Zehan mengernyih sambil menggeleng, dia benar-benar dibuat terkejut dengan sikap dingin anak itu.


"Sejak kapan kamu tau, jika aku ini adalah papamu?"


"Zesya yakin bahkan orang tau rabun pun akan tetap mengira kita ayah dan anak, tanpa perlu test DNA, sekilas saja bukankah wajah kita ini memang mirip" lagi-lagi Zehan dibuat tidak bisa berkata apa-apa lagi dengan jawaban Zesya yang tepat sasaran. Zesya menahan nafasnya lalu menghembuskannya dengan perlahan. Lantas ia memberikan foto pernikahan Zehan dengan Hasya.



Bola mata Zehan seakan akan ingin keluar dari tempatnya begitu melihat foto pernikahannya dengan Zesya. Manik matanya bergetar, dengan air mata yang menganak dipelupuk matanya.


"Apa ibu mu sudah tau, sniiiff..?"


"Belum, tapi sebentar lagi ia pasti akan tau" ucap Zesya datar.


"Hei nak, bisakah kamu ke mode anak-anak seperti tadi di sekolah , sniiff?" ucap Zehan menahan gelak tawanya.


"Baiklah" sahut Zesya dengan masih dengan ekspresi yang sama, Zehan pun terkekeh tidak percaya dengan sikap tengil anak itu lalu mengambil segelas air bening yang berada dihadapannya dengan frustasi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2