The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 94


__ADS_3

Keesokan harinya, Zesya terlihat duduk tenang memperhatikan guru yang sedang menerangkan materi mata pelajaran matematika. Seperti biasanya Zssya memang seperti itu anteng dan husyuk kalau sudah menyangkut pelajaran. Meski ia sesekali ekor matanya menoleh ke arah samping samping kanan belakangnya, dimana Sultan tengah duduk menetap punggung Zesya dengan tatapan dingin.


flashback


"kalo begitu kami pamit bu, sebentar lagi mau magrib juga. " cukup lama mereka mengobrol ngalor ngidul, sedang anak-anak mereka "bermain" di halaman belakang.


Di halaman belakang Zesya kembali ke mode kakunya, begitupun Deliza kembali memasang wajah judesnya.


"Cih,, di depan orang tua kalian bersikap sok menggemaskan. Sebenarnya kalian mau apa datang ke sini? hah?" geram Sultan.


Zesya menghembuskan nafasnya sembari menutup matanya, berusaha menahan emosi yang siap meledak kapan saja. Namun ia masih ingat kata-kata papanya waktu di mobil "Seekor serigala tidak suka menggong-gong, namun sekalinya serigala itu melolong siapapun akan bergetar ketakutan.


"Tenanglah, kami datang ke sini untuk menjenguk mu, meski aku tidak terima kamu mencium adikku sembarangan, kali ini ku maafkan, tapi lain kali ku pastikan kamu tidak akan bisa lagi melihat ibumu" kata Zesya seraya berdiri tepat di depan Sultan dengan jarak kurang dari satu meter. Lalu kemudian mereka hanya duduk di samping orang tua masing-masing dengan wajah yang dipaksakan untuk terlihat ramah satu sama lain. Begitulah hari kunjungan keluarga Zesya untuk Sultan berlalu begitu saja.


flashback off


Zesya menggelengkan kepalanya, mencoba tidak mempedulikan sikap Sultan yang mencoba memprovokasinya. Saat guru mulai membereskan buku-bukunya saat bell istihaat berbunyi. Zesya masih duduk dengan tenang sambil membereskan buku-buku dan alat tulisnya ke dalam tasnya dan masukanny kembali tas itu ke kolong mejanya baru kemudian ia bergegas menuju kantin sekolah dengan membawa tas bekalnya.


Di kantin ia segera menghampiri Deliza dan Salma. "Lho Salma,, mana bekal mu?" yang tentu saja pertanyaan Zesya membuat Salma terkejut, Sebenarnya ia membawa bekal tapi ia masih simpan karena malu bekal yang dibawanya kali kini hanya nasi dan mie goreng sebagai lauknya, itupun bentuknya sudah kotak mengikuti tempatnya karena terlalu lama di simpan.



bekal Deliza

__ADS_1



bekal Zesya


Salma pun mengeluarkan bekalnya dengan raut sedih. Deliza yang sejatinya dia adalah orang dewasa yang terperangkap dalam tubuh anak kecil cukup peka dengan keadaan Salma.


"Wah mie goreng," seru Deliza kegirangan. Salma cukup terkejut dengan ekspresi Deliza.


"Sal, boleh ya aku minta sebagian" pinta Deliza memelas.


"Tapi ini cuma mie goreng yang udah dingin dan juga belum tentu higienis" tolak Salma ragu. Buru-buru Deliza merebut kotak bekal makan Salma lalu memotong mie tersebut dengan sendoknya, kemudian memindahkannya ke tempat makannya. Tak lupa ia pun mengambil bagian dari bekal yang dibawanya lalu dimasukan ke dalam kotak bekal milik Salma.


"Ah kata siapa ngga higienis, orang tempatnya bersih begini" ujar Deliza tersenyum lebar.


"Makasih Del, A Zesya" ucap Salma tersenyum, ada perasaan hangat menjalar terutama di bagian wajah dan telinganya.


"Lain kali, kalo kamu mau bawa mie goreng lagi bilang dulu ya, biar aku ngga bawa nasi, biar aku yang bawa lauknya, dan Aa yang bawa buah-buahan serta cemilannya"


"Kalian kenapa baik banget sama aku? Padahal anak-anak yang lain pada ngejauh gara-gara baju ku bau sampah katanya" ungkap Salma sedikit histeris tidak kuat lagi menahan perih ditenggorokannya. Deliza yang duduk disebelahnya langsung memeluk Salma seraya menenangkannya.


"Sal lihat aku, kamu ngga bau sampah tapi mereka yang bau sampah, ngerti !!" tegas Deliza dengan wajah polosnya. Salma mengangguk sambil masih menyisakan sedikit isaknya.


" Kasihan kamu Sal, masih kecil tapi sudah harus menerima banyak tekanan" batin Deliza menatap iba Salma sambil mengusap sisa lelehan air mata yang masih membekas dipipinya.

__ADS_1


"Udah-udaah ya.. Sekarang kita makan, bentar lagi jam istirahat kita habis" imbuh Zesya sambil memasukan potongam semangka dalam mulutnya. Deliza dan Salma pun segera menyantap lahap bekal makan mereka tidak lama kemudian tandas tanpa bersisa.


Dari kejauhan Deliza melihat Joon Woon yang terus memperhatikan mereka, dan itu sudah bukan hal aneh meski awalnya pihak sekolah ada pertentangan takutnya dianggp menganak emaskan Zesya dan Deliza namun lama-kelamaan kehadiran Joon Woon di sekolah menjadi hal biasa, toh dia juga hanya mengawasi dari jauh. Ya anggap saja sekuriti gratis tambahan untuk keamanan anak-anak. Di samping itu kehadiran Joon cukup menarik minat anak-anak remaja gadis yang mulai puber jadi lebih semangat berangkat ke sekolah. Pun dengan beberapa guru wanita yang masih jomblo ada juga yang berusaha menunjukan perhatiannya secara terang-terangan pada Joon Woon. Namun Joon Woon tetap Joon Woon ketika sedang mode bodyguard maka perhatiannya hanya tertuju pada anak-anak bossnya, terutama Deliza, gadis kecil yang selalu terlihat ceria namun peka dengan sekitarnya.


"Halo, boleh aku duduk di sini?" sapa Sultan datang entah dari mana. Deliza menoleh kemudian kembali fokus pada potongan buah mangganya. Pun begitu dengan Zesya dia acuh tak acuh saja dengan kehadiran Sultan. Meski mereka sudah saling memaafkan tapi tetap hati mereka kesal dengan kelakuan Sultan tempo hari.


Tepat ketika Sultan duduk di depan Deliza, tiba-tiba perasaan menekan itu muncul lagi, perasaan seakan-akan ada yang ingin menarik dirinya keluarga dari dalam tubuhnya. Ia menatap tajam pada Sultan, netranya terbelalak ketika melihat sesosok mahkluk hitam tinggi besar berdiri di belakang Sultan dan matanya yang merah menatap tajam pada Deliza.


"Tepat dugaanku kamu adalah roh yang lolos waktu itu" kata makhluk itu dengan suara aneh yang menggema.


"Del.. Deliza..." panggil Zesya sambil menggoyang-goyangkan tangan adiknya saat melihat sorot mata Deliza menjadi seperti tengah ketakutan tepat ketika Sultan duduk di sampingnya.


" Ah iya A, kenapa?" dengan nafas memburu dan suara bergetar. jelas ia seperti melihat sesuatu tapi apa.


"Maneh naon sih diuk didieu? (Kamu ngapain sih duduk di sini)" tanya Zesya ketus menatap tajam pada Sultan yang sedang menyedot susu kotak rasa coklatnya.


"Nya teu nanaon hayang we" ( ya ngga apa- apa pengen aja)


"Cih" ketus Zesya.


" Mending maneh indit gih, bisi garpuh ieu nyolok mata maneh" (Mending kamu pergi gih, daripada garpu ini nyolok mata kamu) ancam Zesya.


"Iya iya.. dasar pelit " kata Sultan kemudian beranjak dari tempat duduknya dengan gaya yang tengil. Setelah Sultan pergi baru kemudian Zesya kembali fokus pada adiknya, wajah pucatnya kini perlahan mulai terisi darah kembali dan itu cukup membuat rasa penasaran Zesya kembali timbul setelah sekian lama.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2