
Sore itu Zehan mengantar Hasya memeriksakan kandungannya. Al Hamdulillah semua baik-baik dan sehat semua. Namun mereka menolak untuk mengetahui jenis kelamin anak mereka. Karena mereka sudah membuat taruhan siapa yang kalah harus memenuhi satu permintaan yang menang, ya padahal itu tidaklah baik, namun toh itu hanya sekedar goyunan suami istri saja.
"Ngobrol apa tadi?" tanya Zehan datar sekembalinya dari toilet klinik, tepat saat Hasya dan dokter Firman terlihat sedang membicarakan sesuatu. Padahal mereka hanya mengobrol ringan saja sekedar berbasa basi menemani Hasya yang sedang menunggu Zehan di toilet tadi, namun Zehan sudah menatap tajam dokter Firman dari kejauhan.
"Ngga ngobrol apa-apa mas, cuma ngingetin lagi untuk lebih banyak makan makanan yang tinggi potasium dalam sayuran, rempah, dan buah-buahan seperti pisang, alpukat, pepaya, bayam, selada, daun bawang, seledri, kubis, juga kentang, buat nguragin kaki bengkak di usia kandunganku yang makin besar. Itu aja kok" jelas Hasya.
"Cuma ngasih ngingetin soal makanan kok ketawa-ketawa kayak orang yang paling bahagia begitu?" sungut Zehan, Hasya mengernyitkan heran dahinya.
"Beneran kok mas, cuma memang tadi beliau sempat ada cerita lucu, ya jadinya ketawa, emang salah?" cicit Hasya yang belum menangkap signal kecemburuan dari Zehan.
"Iya lah salah, kamu itu udah punya suami, ngapain coba genit-genit begitu sama pria lain?"____ Apa? Genit?!! Jelas kata-kata Zehan itu membuat Hasya sedikit tersinggung,tanpa menjawab lagi Hasya langsung pergi menuju arah parkiran meninggalkan Zehan yang tengah cemburu. Namun belum seberapa jauh Zehan sudah lebih dulu mencekal tangan Hasya guna menghentikan langkah Hasya yang tergesa-gera.
"Lepasin mas!!" kata Hasya berontak.
" Maaf" kata Zehan lirih
"Maaf??" ulang Hasya
__ADS_1
"Iya aku minta maaf, lagian suruh siapa kamu kegenitan sama dokter itu" kata Zehan dengan wajah cemberut sambil menunduk ngambek, dan membuat ekspresi Hasya makin mengerengut mengerutkan dahinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak habis pikir dengan tingkah kekanakan suaminya itu.
"Mas ngga lagi cemburu kan?" tanya Hasya sedikit emosi
"Pake tanya lagi " Zehan tidak kalah sewot.
"Mas, ngga usah ngadi-ngadi deh !! Lagian mana mungkin dokter itu mau sama perempuan yang lagi hamil kayak aku" Hasya makin emosi.
"Kenapa ngga? kamu masih muda, cantik, kulit kamu putih bersih, penampilan modis, mandiri, pekerja keras, kalo boleh aku jujur kamu terlalu sempurna buat jadi perempuan biasa!" Zehan makin berapi-api. Hasya sampai menganga kehabisan kata-kata untuk mendebat suaminya.
"Udah ah, aku capek, kaki ku udah pegel juga pengen selonjoran. Toh buktinya kalo aku niat ganti suami udah aku lakuin pas Kevin ngelamar aku dulu pas lagi sembunyi dari kamu, faktanya aku masih nunggu kamu, karena aku cuma mau kamu yang jadi pertama dan terakhir jadi suami aku!" pungkas Hasya seraya berbalik badan dan melangkah dengan tergesa-gesa menuju parkiran, sedang Zehan masih terkejut sendiri dengan apa yang di ungkapkan Hasya barusan, iapun segera setengah berlari dan menyusul Hasya yang sudah beberapa meter menjauh dari darinya.
"Kyaaaa !!" jerit Hasya saat tiba-tiba Zehan memangku dirinya ala-ala pengantin.
"Kenapa ? Katanya pegel" kata Zehan menahan diri karena salah tingkah mengingat kata-kata Hasya tadi. Hasya hanya tersenyum sambil menatap wajah tampan Zehan dengan banyak arti.
"Tapi,, bukan berarti mas suka kamu deket-deket atau terlalu akrab sama laki-laki lain. Kamu itu cuma milik mas, selamanya akan jadi istri mas, karena kamu yang pertama dan yang terakhir dalam hidup mas" kata Zehan lebih lembut dan hangat. Hasya tersenyum lebar, sambil mengalungkangkan tangannya dan membenamkan dirinya dalam dada bidang pria yang sedang mengggendongnya.
__ADS_1
...****************...
Setelah acara hajatan tujuh bulanan Hasya berlangsung tidak kalaha meriang meriah dan spektakuler seperti acara hajatan yang biasa Keluarga Zehan adakan, berbeda dengan acara empat bulanan, acara kali ini Zehan mengadakan wayang golei selama 7 malam berturut-turut dengan dalang yang berdeba setiap malamnya, dan di malam ke tujuh, tujuh dalang wayang golek itu berkolaraborasi semalam suntuk dari selepas isya hingga dini hari. Acara berlangsung lancar dan tentunya karena acara digelar secara terbuka tentu juga meningkatkan produktifitas ekonomi masyarakat sekitarnya juga.
Hari ini untuk pertama kalinya Hasya datang berkunjung ke kantor Zehan, dia penasaran dengan pujasera yang sering Zehan bicarakan. Pujasera yang dibangun karena Zehan mengidam dengan jajanan kaki lima. Semu orang menatap takjub dengan pesona Hasya yang meski tengah berbadan dua namun tetap cantik malah auranya makin terpancar. Zesya dan Deliza juga tidak kalah imut dan lucu dengan setelan casual cocok dengan umur mereka yang masih anak-anak. Di belakang mereka tentu saja ada Joon Woon yang bodyguard muda berbakat, yang sudah seperti idol terkenal jika ia kemana-mana pasti jadi pusat perhatian padahal ia sering memakai masker namun tetap saja aura tampannya tetap menarik perhatian, dan tidak jarang membuat Deliza merasa cemburu. Zehan dan Hasya tidak bisa menekan Deliza dengan hal itu, karena biar bagaimana pun mereka tau bahwa sejatinya Deliza sudah cukup dewasa. Di ketahui ketika Deliza pertama kali terperangkap dalam tubuh anak itu ketika Deliza sudah berusia 14tahun, ya kalo normalnya Deliza harusnya sudah berusia delapan belas tahun, sudah usia remaja yang tengah puber. Beruntungnya anak itu tidak suka dandan berlebihan dan berusaha ingat jika ia sekarang hanya anak berusia 10tahun.
"Maaf bu, ibu mau bertemu siapa?" tanya seorang resepsionis yang buru-buru keluar dari meja resepsionis menghadang Hasya yang langsung menuju lift.
"Ah maaf, saya mau ke kantornya pak Direktur."
"Maaf bu, apa ibu sudah aja janji sebelumnya..?"
"Kakak !!" teriak Zia seraya berhambur memeluk Hasya yang tengah hamil, yang tentu langsung membuat resepsionis itu terdiam dengan berbagai pertanyaan dalam pikirannya. Sedangkan Hasya tersenyum seraya menerima pelukan membalas cipika cipiki dari Zia.
"Ayo kak kita ke ruangan aku dulu, nanti aku antar ke ruanganna kak Zehan, kak Zehan masih ada meeting soalnya sama suami aku" jelas Zia sambil menarik tangan Hasya yang masih tertegun, ia tahu Zia adalah orang yang begitu, tapi kalau di depan umum seperti ini kadang ia masih agak sungkan untuk menerimanya. Sisi rendah dirinya sebagai seorang "pembantu" di masa lalunya kadang masih suka muncul, makanya Hasya lebih suka tinggal di desa dari pada di kota.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1