The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 77


__ADS_3

Akhirnya keluarga kecil Zehan kembali ke Ciwidey, karena Zesya sebentar lagi akan mengikuti UAS kenaikan kelas, meski Zesya tetap bisa mengikutinya dengan hasil yang baik tetap saja ia tidak rela jika memiliki banyak absend di buku rapornya. Dan hari ini adalah pagi senin yang indah untuk memulai hari yang penuh dengan semangat.


"Sayang, susunya cepat minum" kata Hasya sambil menikmati teh manis hangatnya.


"Cup" sebuah kecupan hangat dan mesra mendarat di pipi Hasya juga di puncak kepala Zesya.


"Pah,, "


"Iya sayang"


"Kapan dede bayi lahir ?"


" Nanti malam papa dan tolong kerja samanya, jangan ganggu ritualnya" Hasya memijat keningnya saat anak dan bapak itu hal yg tidak seharusnya dibicarakan oleh mereka saat sarapan, yang artinya Zesya sudah tidak berada di mode polos lagi setelah memdapat asupan pengetahuan dari buku ensiklopedia mengenai proses pembentukan bayi.


"Ma, pa.. "


"Iya sayang" sahut Hasya, Zehan hanya menoleh sambil menikmati roti selai coklatnya.


"Zesya sudah putuskan. Jika sudah besar Zesya ingin jadi Dokter saja. "


"Kamu yakin tidak ingin jadi seperti papa?" tanya Hasya


"Yakin pah, sepertinya cukup membosankan kalo hanya duduk di kantor, Zesya ingin berpetualang"


"Lalu siapa yang nanti jadi penerus papa?" tanya Zehan dengan raut serius.


"Papa kan sekarang akan memulai produksi adik bayi bersama mama, buat saja 1 lagi anak laki-dan satu anak perempuan. Zesya percaya papa bisa melakukannya dengan baik" ucap Zesya begitu saja.


"Baiklah, kalo begitu.." sahut Zehan tanpa perlawanan.

__ADS_1


"Apanya yang baiklah mas ?!" kata Hasya seraya mendelik tajam pada Zehan yang santai saja menikmati sarapannya.


"Membuatkan adik-adik untuk Zesya, apa lagi?!"


"Dasar ngga tau malu"


"Sayang, anak mu lho yang mulai duluan"


"Sudah ah, Zesya sudah selesai sarapannya. Zesya ke sekolah sendiri saja, di antar Om Hejun." ucap Zesya sembari memakai tas ranselnya kemudian pamit setelah mencium tangan kedua orang tuanya.


"Sayang, sepertinya aku tidak bisa menunggu sampai malam tiba" kata Zehan tiba-tiba.


"Maksudnya?" Zehan lantas beranjak dari kursinya dan mendekati Hasya.


"Kyaaaaa !!" Hasya memekik saat Zehan menggendongnya dengan enteng ala-ala bridal.


"Ayo kita buat adik bayi yang lucu untuk Zesya"kata Zehan sambil menatap manik mata Hasya yang bergetar, senyum Zehan makin terkembang saat melihat Hasya tersipu malu dengan wajah yang memerah.


"Jangan menatapku seperti itu !" seru Hasya memalingkan wajahnya. Namun dengan cepat Zehan mengembalikannya pada posisi semula, di mana netra mereka saling beradu pandang.


"Kenapa? Aku kan hanya menikmati wajah cantik istriku"


"Cih!" dengan sekuat tenaga Hasya berusaha mendorong tubuh Zehan dari atas tubuhnya namun sia-sia saja, karena pria itu sudah berada dalam posisi mengungkungnya.


"cup" satu kecupan kilat mendarat di bibir Hasya. Hasya menatap suaminya dengan bibir sedikit membebek. Satu kecupan lagi agak lebih lama beberapa detik kembali mendarat di bibir Hasya. Meski masih membebek namun faktanya perempuan itu tengah tersipu malu karena suaminya terus saja menggodanya dengan kecupan nakal dibibirnya.


"Bersiaplah sayang, karena sekarang sudah tidak ada lagi yang akan mengganggu kita" Hasya mengulum senyum menatap Zehan dengan binar matanya yang hangat. Kalii ini Zehan mencium bibir Hasya dengan lembut dan lambat. Hasya mengalungkan tangannya pada Zehan dan mengikuti alur permainan Zehan di pagi itu.


...****************...

__ADS_1


"drrtttt nguuunggg drrrrrtt ngguuuungg.." Zehan sedikit tersentak dengan getar ponselnya yang tergelatak di nakas dekat tempat tidurnya. Ia melihat sekilas pada Hasya yang masih tertidur sambil memeluk dirinya.


"Pck, siapa sih?" gerutu Zehan saat akan merogoh ponselnya. "Derren ?? Tumben??"


"sayang, sebentar aku angkat telepon dulu" kata Zehan sambil dengan perlahan melepaskan rangkulan istrinya.


"Euh" sahut Hasya lantas beralih memeluk guling di sampingnya.


"Halo, kenapa Ren?"


"Halo Ze, bisakah kamu mengecek link yang aku kirim padamu ?" kata Derren dari seberang sambungan telepon.


"Belum, memang ada apa?"


"Coba cek dulu aku tidak bisa menjelaskannya secara rinci"


"Baiklah, aku cek sekarang. Tut." Zehan yang masih bertelanj*ng bulat duduk di samping istrinya yang masih terlelap. Netra Zehan membola, ia cukup terkejut dengan isi folder yang dikirim oleh Derren.


"Sayang kenapa?" tanya Hasya sambil menggelondoti lengan suaminya.


"Ada sedikit masalah dengan cabang di Surabaya."


"Jadi mas harus ke Surabaya?" tanya Hasya sambil menatap suaminya. Terlihat sekali dari wajah pria itu semacam kekhahawatiran akan sesuatu.


"Mas, kalo mas memang harus ke sana ya berangkat aja" kata Hasya dengan bibir yang mengembang manis.


"Nanti mas lihat dulu situasinya, se-urgent apa hingga mas harus turun tangan sendiri menangani masalah di sana" ucap Zehan sambil membalas senyuman pada istrinya, lantas tangannya kanannya berputar merangkul pinggang Hasya, lantas mengecup bibir istrinya dengan gemas berkali-kali.


"Mas udah ah, udah siang bentar lagi Zesya pulang lho" kata Hasya kegelian karena dihujani ciuman oleh suaminya itu.

__ADS_1


"Muuach ya udah kita mandi bareng ya?" kata Zehan, dengan sigap ia kembali membopong istrinya ke kamar mandi dan melanjutkan kemesraan mereka untuk kesekian kalinya di pagi menjelang siang itu. Hari itu seperti tidak ada puasnya Zehan melepaskan semua kerinduannya terhadap Hasya. Terus menerus ia mencumbu istrinya dengan penuh cinta dan gairah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2