
Meski Hejun tidak tahu jika Melinda ternyata seorang gadis sederhana, yang tinggal dan hidup di lingkungan perkampungan pinggir kota. Bahkan ketika Melinda mulai bekerja di perusahaan Zehan saja, sebenarnya suatu yang tidak disengaja apalagi bagi seseorang yang hanya lulusan D1 bisa masuk ke Genesis itu merupakan sebuah keberuntungan. Saat itu awalnya ia hanya menemani sahabatnya Tania, gadis berhijab yang menyela obrolan Keni dan Joon Woon untuk mengikuti tes penerimaan karyawan baru di Perusahaan tersebut. Berkat bujuk rayuan maut dari sang sahabat merekapun akhirnya mengikuti serangkaian test seperti test seperti test penerimaan pegawai baru pada umumnya. Bersama-sama mereka mengikuti psykotes, test keahlian sesuai minat pilihan minat mereka yang disediakan perusahaan, test bahasa dan yang terakhir setelah melalui penyeleksian barulah interview secara tatap muka dengan perwakilan humas dan kepala bagian masing-masing departement. Dan siapa sangka Melinda malah lulus dengan hasil nilai pengujian yang lumayan tinggi dibandinhmg dengan lulusan sarjana.
"Aku ini cuma gadis biasa Jun, tapi kenapa begitu banyak kemuliaan yang kamu berikan untuk ku Jun?" ungkap Melinda sambil mengisak.
"Aku hanya mengikuti arahan mereka sayang, aku hanya menuruti kemauan mereka yang sudah merawatku dari kecil. Bukan kamu yang beruntung,, tapi aku. Aku beruntung karena kmu mau menerima padahal aku ini berasal dari panti asuhan." kata Hejun sambil memeluk tubuh gadis itu
"Anggap saja ini permintaan maaf dari Tuan Zehan karena sudah menempatmu pada posisi sulit selama beberapa waktu ini"
"hahhahaa,," Melinda tiba-tiba terkekeh, Hejun menilik wajah Melinda bingung sambil menahan bibirnya.
"Maaf, aku tiba-tiba tertawa. Tapi apa orang-orang itu tidak bisa membedakanmu dan Pak Zehan. Padahal perbedaan kalian cukup mencolok meski gaya pakaian kalian hampir sama saat di kantor, tapi tetap saja bagitu itu lucu" jelas Melinda sambil menyeka air mata yang keluar karena tawanya.
"Entahlah aku juga bingung" Hejun menghedikan bahunya, ikut terkekeh geli mengingat beberapa hal lucu mengenai kesalahpahaman itu. Merekapun kembali tenang saat saling berpelukan. Hangat dan damai.
__ADS_1
Flashback off
"Ya Allah Bu Hasna, dari awal mulai acara saya ngga berhenti mengucap Masya Allah, ini mah bener-bener gelaran pernikahan paling mewah yang pernah saya datangi"kata salah satu ibu-ibu PKK, ibu Ida namanya.
"Ah ibu bisa aja, ya juga al hamdullilah atas semua berkah ini, silahkan bu nikmati hidangannya. Kalo mau bawa pulang bilang aja sama para pelayannya. Ngga usah sungkan" kata Melinda menyahuti yang tanpa sengaja mendengar obrolan ibu-ibu itu.
"Wah beneran ibu Hasna?" tanya ibu-ibu dibelakang Bu Ida melihat pada Bu Hasna, Bu Hasna na pun tersenyum dengan agak terpaksa , raut wajahnya seolah berkata "kamu ini apa-apaan Mel?" bukan apa-apa Bu Hasna hanya merasa tidak enak hati pada keluarga besan karena sudah menghandle semuanya. Kalau sampai harus menyediakan "buah tangan" lagi buat undangan mereka, rasanya seperti aji mumpung.
"Iya bu, kalo mau bawa pulang boleh, dari pada nanti makannya mubadzir kalo tidak habis" Hejun ikut-ikutan seolah memahami kerisauan ibu mertuanya itu. Manik-manik ibu Hasna lagi-lagi bekaca-kaca. Ia benar-benar sudah hilang kata-kata untuk mensyukuri semua keberkahan ini. Meski keluarga Akhilendra adalah bukan orang sembarangan namun sikap dan sifat mereka sungguh-sungguh tulus, bersahaja , ramah dan sederhana.
"Iya nih bu, peletnya Melinda kuat banget, makanya saya buru-buru nikahin dia takut magis peletnya keburu ilang" sahut Hejun. mendengar hal itu,perempuan berusia sekitar mendekati 40an itu menjadi terdiam sambil tersenyum kecut.
Jeglek !! lampu ruangan tiba-tiba mati, kemudian sebuah sorotan berasal dari proyektor mengarah ke sebuah layar besar yang entah kapan layar itu di turunkan, lalu di sebelah kanan sisi layar terdapat seorang pria berdiri di sana.
__ADS_1
"Cek cek... satu dua tiga..Ok ! Assalamualaikum wr. Wr..Maaf sebelumnya kepada para hadirin saya mau mengganggu sebentar. Hmm saya di sini hanya mau sekedar klarifikasi beberapa hal yang meskipun sebenarnya sudah tidak perlu lagi tapi mengingat ini adalah mengenai nama baik seseorang maka tetap harus saya lakukan." kata Zehan berdiri di tengah-tengah panggung semua orang pun mengalihkan perhatian ke arahnya.
"Baik tanpa berbasa basi lagi, yang pertama saya ingin menyampaikan dari awal saya tidak pernah berhubungan dengan Melinda di luar urusan pekerjaan, seperti yang bapak ibu ketahui istri saya sedang mengandung anak kami yang ketiga, sungguh bukan pria sejati jika saya sampai berselingkuh apalagi berniatan menduakan istri saya ketika istri saya sedang memperjuangkan anak kami. Yang sering bapak ibu lihat ini adalah Hejun" kata Zehan sambil mempersembahkan beberapa poto Hejun dan Melinda yang tengah bersama baik itu pulang kantor , sedang meeting bersama, bahkan sedang kencan di mall.
"Tuan Zehan dapat dari mana foto-foto itu Jun" bisik Melinda pada suaminya.
"Kamu meremehkan Tuan Zehan, Lin?" Hejun malah balik bertanya pada Melinda, meski tidak menjawab pertanyaan Melinda dengan kalimat seperti itu Melinda makin paham bagaimana keluarga barunya ini. "Mereka cukup berbahaya untuk beberapa orang" pikirnya dalam hati, ia berpikir seperti itu sebagai seseorang pegawai yang paham bagaimana cara kerja korporat bisa berdiri tegak dengan memiliki kekuaasan yang kuat. Merekapun kembali menyimak apa yang akan dikatakan atau akan dilakukan oleh Zehan.
"Kemarilah istri ku" panggil Zehan. Perlahan Hasya naik ke panggung. Segera kilatan dari kamera para pemburu berita saling berlomba untuk mendapatkan moment langka tersebut. Bagaimana tidak Hasya adalah salah satu seorang istri konglomerat yang sangat jarang terlihat di media, mau itu media elektronik, media sosial internet atau media cetak. Sempat beberapa kali muncul itupun hanya di awal pernikahan mereka sekitar duabelas tahunan yang lalu. Namun satu tatapan tajam Zehan segera menghentikan itu semua.
"Yang kedua, mungkin bersifat hanya untuk pegawai perusahaan kami. di Bulan depan tepatnya bulan Februari, dari tanggal 1 Februari hingga 1 Maret tahun ini, kami akan mengadakan event "happy married". Apa saja keuntungan bagi mereka yang mengikuti event ini. Satu akan ada insentiv biaya pernikahan sebesar dua puluh lima juta rupiah!!" sontak menbuat banyak keriuhan sorak sorai dan tepuk tangan bergemuruh riang, terutama bagi para pegawai perusahaan yang berada di sana. Memang tidak semua hadir karena Zehan membatasinya dengan hanya perwakilan masing departement, terutama orang-orang tim kreatif yang benar mengenal Melinda.
"Kalian senangkan, karena bisa sedikit berhemat karena sebagian biaya resepsinya sudah di insentiv oleh perusahaan?" goda Zehan, yang tentu saja membuat orang-orang bergemuruh tertawa.
__ADS_1
"Yang kedua, bagi mereka yang mengikuti event "Happy married" akan diberikan cuti selama sepuluh hari. Yang ketiga voucher bulan madu dan akomodasi uang saku sebesar satu juta rupiah di beberapa tempat yang sudah kami tentukan selama tiga hari dua malam. Pilihan tempatnya nanti akan disampaikam pada saat kalian mendaftar karena terlalu banyak jika saya harus menyebutkan satu bersatu. Yang ke empat di sebelah sana ada outlett dari salah satu departement store kami, silahkan bagi yang suka berbelanja ada voucher belanja sebesar satu juta rupiah yang berlaku hingga akhir Desember tahun ini. Jadi yang mau belanja ngga udaha khawatir vouchernya hanyus jika tidak bulan ini tidak sempat belanja. Masing orang hanya boleh mengambil satu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...