The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 28


__ADS_3

"Kasian si Kevin ya Mas,, padahal kan selama bertahun-tahun dia udah suka sama si Hasya.."ucap Marsya sendu saat melihat punggung Kevin menjauhi mereka.


"Namanya juga jodoh, itu perkara Tuhan saja yang tahu. Kita doakan saja yang terbaik buat dia, moga dia segera mendapatkan perempuan yang tepat untuknya.


"Iya mas Aamiin..." sambung Marsya.


......................


Kevin melenggang mendekati pasangan pengantin baru itu.


"Sya.." sapa Kevin dari samping belakang Hasya dengan tersenyum lebar. Yang tentu saja membuat banyak pasang mata menatap ke arah mereka. Kevin dengan perawakan nampak gagah tinggi tinggi ideal serta wajah yang juga tidak kalah tampan dengan Zehan seketika menjadi buah bibir beberapa tamu undangan. Dengan bumbu-bumbu membandingkan keadaan Zehan yang duduk di kursi roda.


"Eh Vin, udah dateng.." sambut Hasya tersenyum sumbringah.


"Selamat ya," ucap Kevin sembari memberikan sebuah paperbag kado pernikahan untuk Hasya dan Zehan.


"Iya Vin, makasih,, lho apa nih??"


"Masa kamu nikah aku ngga bawa hadiah, moga kalian suka sama kado pernikahan dari ku ya"


"Iih kamu dateng aja udah seneng bnaget lho." Kevin tersenyum hangat pada Hasya. Beberapa menit kemudian sudut matanya menangkap kilatan kecemburuan dari Zehan yang melihat keakraban dirinya dengan Hasya. Dengan memasukan satu tangannya ke saku celana kirinya kemudian ia menghampiri Zehan yang jelas memasang wajah tidak suka. Kevin meraihkan tangan Zehan untuk menyalaminya lalu sedikit membungkuk lalu berbisik pada Zehan.


"Jaga dia baik-baik, jika tidak aku tidak segan untuk membawanya pergi dari sisimu selamanya" ucap Kevin dengan nada sinis mengancam Zehan.


"Tenang saja. Aku tidak akan membiarkan Hasya menderita karena aku tahu dia bukan wanita yang bisa aku tinggalkan sendirian walau hanya sedetik, sedikit aku lengah srigala-srigala sepertimu akan langsung mengincarnya."


"Baguslah kalo kamu tahu akan hal itu tuan Zehan" ucap Kevin sembari menepuk-nepuk bahu Zehan.


"Aku sampai kaget lho Sya" ucap Kevin dengan wajah kemali ceria dan hangat setelah menjauhkan tubuhnya dari Zehan.


"Dasar srigala bermuka dua" umpat Zehan lirih.

__ADS_1


"Iya, Vin. Mau gimana lagi takut jadi fitnah kalo kita tinggal di Indonesia mah, lagian biar nggga kehasut saiton, hahahaha" canda Hasya.


"Eeh ada Nak Kevin, " sapa ibu Desi saat melihat sosok Kevin tengah bercengkrama dengan putrinya.


"Iya tante, tante apa kabar?" Kevin menerima sambutan hangat dari ibu Desi.


" Al hamdulillah baik, kamu sih udah beberapa tahun ngga pernah main ke sini, sejak Hasya kerja ke luar negeri. Tante kira kamu udah lupain kami"


"Ngga lah tante, aku di pindah tugas ke luar negeri juga, ini baru 2 minggu aku di sini tante" jelas Kevin


"O iya? Kok tante ngga tau ya, eh mana anak istrimu? Ngga di ajak?"


"Kevin masih jomblo bu" ucap Hasya usil.


"Eeh, masa pemuda seganteng ini masih jomblo?" ucap ibu Desi.


"Ya gimana tante, gadis yang saya suka sudah menikah dengan orang lain,, heheh" sahut Kevin seraya mencuri pandang pada Hasya, yang tentu saja makin membuat Zehan tidak suka padanya.


"Andai tante tau, gadis yang sangat ingin aku nikahi itu adalah Hasya, putri kesayangan tante" ucap Kevin dalam hati.


...----------------...


7 bulan berlalu setelah resepsi Zehan dan Hasya, yang dikabarkan menelan biaya hingga 50M. Mau heran tapi mereka adalah keluarga Hirawan yang kekayaannya bersaing dengan keluarga Widjaya. Pagi itu semua berjalan seperti biasa. Sarapan bersama keluarga yang hangat.


"Sayang, pelan-pelan makannya tidak ada yang akan merebutnya dari mu" ujar Gibran saat melihat istrinya makan dengan terburu-buru.


"Kamu ngga suka aku begini?" Zia mulai merengek.


"Ngga sayang, aku cuma ngga mau kamu tersedak. Ya sudah kuah sotonya aku tambahin lagi.. hmm??" bujuk Gibran sembari menyidukan soto buatan Hasya ke mangkuk Zia yang hampir tandas. Gibran dengan sabar berusaha mengikuti semua yang dirasakan atau diinginkan Zia. Karena memang sejak dinyatakan hamil moodswing Zia makin menakutkan sebenarnya. Mudah sekali tersinggung dengan hal-hal kecil. Beruntung saat Zia mengidam itu jauh-jauh dari makanan.


Pernah sekali waktu saat tengah malam Zia merengek hingga menangis sesenggukan hanya karena ingin makan surabi. Dan sekali lagi dengan penuh tanggung jawab dengan sigap Gibran akan berusaha mengabulkannya.

__ADS_1


"Mas, misal aku hamil apa kamu akan bersikap seperti kak Gibran?" tanya Hasya dengan wajah berseri melihat ke arah calon orang tua itu.


"Tentu saja, apapun aku akan lakukan untukmu"ucap Zehan tanpa melihat ke arah Hasya. Netranya tetap tertuju pada m*cbook miliknya. Memperhatikan laju saham pagi itu.


Entah hanya perasaan Hasya atau hanya karena merasa diabaikan, namun yang pasti sudah satu bulan ini bahkan Zehan jarang sekali menyentuhnya. Bisa ia hitung dengan jari berapa kali mereka bermesraan, padahal di awal-awal pernikahan Zehan bisa melakukannya berkali-kali dalam sehari. Dan semakin lama sikap Zehan makin terasa menjauh darinya.


Hasya tetap tersenyum hambar dengan jawaban Zehan. Ia menghela nafas kemudian kembali tersenyum pada pasangan yang ada didepannya.


Manis sekali saat ia membayangkan yang sedang hamil itu adalah dirinya.


...----------------...


Zehan sedang sibuk memeriksa beberapa berkas, setengah mejanya ditumpuki beberapa file yang harus segera ditandatangani. Tiba-tiba matanya melirik pada pintu yang di terobos begitu saja tanpa diketuk diiringi sergahan dari sekertarisnya pada seseorang.


"Bu, bapak sedang sibuk!" cegah Widia namun gagal, Alexa sudah berhasil meraih handle pintu ruang kerja Zehan dan membukanya begitu saja. Zehan yang melihat dengan sinis kejadian itu lalu memberi isyarat melalui anggukan kecil agar membiarkan Alexa masuk keruangannya yang sudah di buka oleh perempuan itu.


"Zehan !! Apa maksudmu hah?!" bentak Alexa dengan emosi berapi-api. Zehan masih menatapnya sinis tanpa menjawab pertanyaan Alexa.


"Apa kamu ingin membuatku jadi janda dan anak ku menjadi anak yatim, hah!!"


"Aku sama sekali tidak mengerti maksud mu Lexa!" ucap Zehan sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi tanpa merubah ekspresi sinisnya.


"Alah, tidak usah berlaga sok tidak tahu. Aku tau kamu pasti masih dendam dengan perbuatan kami di masa lalu. Tapi apa perlu kamu menyuruh orang untuk menabrak suami hah??!!"


"Hah?! Apa maksudmu Lexa!" Zehan tercekat begitu mendengar Deren mengalami kecelakaan tunggal seperti dirinya dulu. Namun ia benar-benar tidak mengerti kenapa Alexa secara membabi buta menuduhnya melakukan hal tersebut, meski memang saat ia masih di Hongkong ia pernah terbersit untuk melakukan balas dendam pada mereka. Namun bukan dengan cara yang sama seperti apa yang Deren lakukan padanya di masa lalu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2