
Zehan membantu Hasya kembali berbaring di tempat tidurnya, meletakan dengan lembut hingga membuat Hasya nyaman dipembaringannya. Tiba-tiba saja Zehan mencium bibir Hasya dengan lembut. Hasya yang mendapat perlakuan demikian hanya merengut terkejut dengan mata terbelalak.
"Sya, aku tau, aku bukan suami yang baik, bukan suami yang sempurna, bahkan mungkin kemarin aku juga sudah membuatmu kembali kecewa saat aku mengajak makan malam gadis itu. Tapi aku bersumpah Sya, aku hanya mengajaknya makan malam sebagai hadiah kejujurannya karena mengembalikan dompetku. Tidak lebih" kening Hasya makin berkerut tidak mengerti kenapa suaminya tiba-tiba saja seperti sedang melakukan mengakuan dosa.
"Aku minta maaf Sya, meski aku memang ingin membuatmu cemburu, tapi aku lebih ketakutan jika harus kehilanganmu lagi. Aku mohon padamu Sya tetaplah bersamaku, dan tetaplah jadi istriku selamanya Sya" ungkap Zehan lagi kali ini air matanya mulai meleleh dipipinya. Namun tetap saja Hasya tidak bergeming justru makin merasa heran kenapa suaminya tiba-tiba histeris seperti ini.
"Aku janji Sya, setelah kamu sembuh aku akan lebih sering di rumah, aku akan lebih sering menemani kalian, lebih sering mendengarkan segala keluh kesahmu tentang putra kita, atau jika perlu aku akan melimpahkan pekerjaan ku pada Hejun dan Gibran supaya aku bisa lebih fokus pada kalian berdua, tapi aku mohon jangan berpikir untuk meninggalku lagi Sya, aku benar-benar bisa gila jika harus kehilangan kalian lagi" Zehan makin histeris dan emosional. Hasya yang mendengar semua itupun perlahan menjadi iba kepada suaminya itu.
"Ya Allah bisakah aku percaya padanya kali ini, bahwa ia benar-benar tidak akan menyakiti ku lagi dengan sikap curiganya? Bisakah aku percaya bahwa ia benar-benar tidaj ingin kehilangan ku" guman Hasya dalam hati. Perempuan itu lantas menghela nafas panjang, kemudian kedua tangannya meraih wajah suaminya yang membenam di antara rongga perut dan dan dad*nya.
"Mas.." Zehan lalu mengikuti gerak tangan istrinya itu.
"Aku ngga akan kemana-mana, aku di sini dan akan selalu di sini" ucap Hasya sembari tersenyum lalu mengecup kening suaminya dengan perlahan dan penuh kelembutan serta kehangatan kasih sayang.
"Aku memberimu kesempetan sekali lagi untuk kita bahagia" sambung Hasya lagi, tanpa kata-kata lagi Zehan berhambur memeluk Hasya dengan erat sambil terus menumpahkan air matanya dibahu istrinya. Hasyapun menyambutnya dengan kelegaan sambil menepuk nepuk punggung suaminya seperti ia sedang menenangkan Zesya ketika sedang tantrum di saat masi bayi. Satu hal yang bisa Hasya tautkan adalah Zehan seperti ini mungkin karena pertemuannya dengan Kevin barusan, rasa ketidakpercayaandirinya lah yang membuat Zehan akhirnya bersikap seperti sekarang. Meski Hasya agak risih karena jadi harus menenangkan bayi besar yang tantrum, namun ia juga bahagia karena pada akhirnya ia bisa memiliki kepercayaan lagi kepada suaminya itu.
__ADS_1
...----------------...
Hasya sudah bersiap untuk memasuki ruang operasi, para dokter tengah memeriksa ulang keadaannya memastikan bahwa semua sudah sesuai prosedur. Hasya masih sempat tersenyum saat akan dibawa ke ruang operasi namun ketika blankar Hasya akan di bawa masuk ke ruang operasi entah kenapa perasaan Zehan malah menjadi tidak karuan saat melihat senyuman perempuan itu.
"Ze, gimana keadaan Hasya?" tanya bibi Lyn yang sekarang sudah berada di rumah Hasya.
"Dia masih ruang operasi mah" jawab Zehan lesu.
"Ya sudah kalo ada apa-apa kabari mama ya Ze"
"Iya ma" Zehan pun segera mematikan sambungan telponennya. Di ruang tunggu ia benar-benar merasa gelisah. Di tengah kegelisahannya itu tiba-tiba seorang perawat keluar dengan langkah tergesa-gesa dan juga raut wajah yang cukup panik
"Kenapa?"
"Ada masalah dok, Dokter Erva sedang menangani pasien fibroid kista dan myom tapi pasien mengalami pendarahan, mengalami sesak nafas serta mengalami kejang-kejang," mendengar hal itu Dokter Henry segera berlari masuk ke dalam ruangan instalasi sedang si perawat berlari entah kemana. Beberapa menit kemudian dia datang kembali namun jantung Zehan berdetak berkali-kali lebih cepat saat ia melihat perawat tersebut sedang membawa rolling dengan sejumlah kantong darah dan diikuti beberapa dua orang dokter yang juga berjalan cepat mengikutinya. Tubuhnya bergetar, namun lututnya terasa lemas membayangkan kemungkinan terburuk yang terjadi pada Hasya, terlebih ia tadi juga sempat mendengar jika pasien mengalami pendarahan.
__ADS_1
hampir satu jam lebih sejak kejadian tadi tidak ada lagi seorangpun yang keluar dari ruang operasi tersebut. Zehan terus menunggu dengan perasaan cemas, ia benar-benar risau karena tak ada seorangpun yang bisa ia tanyai mengenai keadaan Hasya didalam sana.
"Brak" pintu terbuka di pimpin seorang perawat pria yang membuka pintu ruang operasi tersebut, namum betapa terkejutnya Zehan ketika melihat keadaan istrinya yang sangat berbeda dengan keadaan ketika dia masuk ruang operasi tadi. Zehan sempat mematung ketika rombongan dokter yang membawa Hasya keluar dengan berbagai peralatan terpasang ditubuhnya, bahkan nebulator pernafasan Hasya juga berganti menjadi vertilator, sebuah alat atau mesin yang dapat membantu pasien yang mengalami kesulitan bernapas sendiri. Alat bantu pernafasan yang biasanya digunakan ketika pasien menjalani operasi atau tidak bisa bernapas sendiri karena keadaan pasien kritis. Seorang dokter yang melihat Zehan mematung saat melihat rombongan perawat dan dokter yang membawa Hasya ke ruang ICU untuk monitoring.
"Maaf, Tuan wali dari pasien itu?"
"Ah.. I..iya dok, saya suaminya, ada apa dengan istri saya? Kenapa dia menjadi seperti itu?" Zehan balik bertanya setelah tersadar.
"Euh...mari ikut saya" ajak dokter itu untuk duduk di kursi tunggu yang ada di sana, dan membiarkan rombongan yang membawa blankar Hasya segera menuju ruang ICU. Tautan alis Zehan makin dalam saat menangkap raut gelisah dari dokter tersebut.
"dokter tersebut.
" Saya Henry, saya tadi sempat membantu operasi pasien. Begini Tuan, awalnya operasi berjalan lancara, pengangkatan fibroid kista dan Myom dari rahim pasien juga sesuai prosedur. Tapi ..."
"Tapi..??" jantung Zehan makin berdetak lebih kencang ia benar-benar takut jika mendengar sesuatu yang burui menimpa Hasya saat menjalani operasi.
__ADS_1
"Pasien situasi yang tidak terduga, saat kami akan menyelesaikan operasi tersebut, tiba-tiba pasien mengalami pendarahan yang seharusnya tidak terjadi, pasien mengalami kejang serta gagal pernasafan, kesimpulannya meski tadi sudah melewati masa pasien kritis, namun belum karena pasien sempat mengalami gagal pernafasan, istri Tuan saat ini mengalami koma, dan kami... benar-benar minta maaf karena belum bisa memastikan kapan pasien akan siuman. Untuk itu kami sekarang memindahkan istri tuan ke ruang ICU, untuk saat ini itulah yang bisa kami terangkan kepada Tuan mengenai kondisi pasien" terang dokter Henry dengan sangat hati-hati menerangkan kondisi Hasya saat ini, meski iapun hanya menerangkan secara gamblang garis beras kondisi pasien, tanpa terlalu banyak menggunakan berbagai istilah medis yang mungkin hanya akan membuat wali atau keluarga pasien malah akan kebingungan tanpa mengerti apa yang diterangkannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...